Di balik megahnya SMA elit, Satria Bumi Aksara adalah anomali yang dipaksa bertahan dalam kepungan hinaan. Sebagai anak buruh lumpuh yang masuk lewat jalur prestasi, ia menjadi sasaran empuk perundungan; tasnya compang-camping, seragamnya memudar, dan kakinya lecet berjalan kiloan meter. Namun, luka fisiknya tak sebanding dengan remuknya hati saat melihat sang ayah terbaring tanpa daya dan ibunya mencuci puluhan kilo pakaian hingga tangannya pecah-pecah.
Dunia Satria runtuh saat tahu beasiswa impiannya dikorupsi oleh orang-orang serakah. Di titik nadir itulah, ia menemukan "sinar" pada empat sahabat yang sama-sama terluka. Bersama Vanya, Arjuna, Nareswari, dan Adrian, Satria mempertaruhkan nyawa membongkar busuknya institusi, meski ia harus berlari tanpa alas kaki membawa ibunya yang sekarat ke puskesmas.
Keteguhan Satria adalah bukti bahwa kemiskinan hanyalah tempaan bagi jiwa yang hebat. Setelah satu dekade penuh air mata, peluh, dan waktu tidur yang terenggut, Satria kembali sebag
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 14: ARJUNA MEMBUAT PILIHAN
Arjuna pulang ke rumah dengan hati berat.
Langit udah gelap. Jam delapan malam. Terlambat dari biasanya.
Rumahnya besar. Dua lantai. Cat putih bersih. Pagar tinggi. Taman yang rapi. Mobil mewah parkir di garasi.
Dari luar, rumah ini sempurna.
Tapi Arjuna tau. Di dalam rumah ini ada neraka yang gak kelihatan.
Dia buka pagar. Dia jalan pelan ke pintu depan. Dia buka kunci. Dia masuk.
Ruang tamu gelap. Cuma lampu redup di sudut yang nyala.
Tiba-tiba lampu utama nyala. Terang banget. Bikin mata Arjuna silau.
Di tengah ruang tamu berdiri seorang wanita.
Cantik. Muda. Sekitar tiga puluhan. Rambut panjang lurus. Makeup menor. Baju tidur sutra mahal.
Ibu tirinya. Ratih.
Wajahnya... wajahnya marah.
"Kamu dari mana?"
Suaranya dingin. Tajam.
Arjuna nunduk. "Aku... aku dari perpustakaan. Belajar kelompok."
"Bohong."
PLAK!
Tamparan keras di pipi kiri Arjuna.
Kepalanya miring. Pipinya panas. Perih.
"Jangan bohong sama aku! Kamu pikir aku bodoh?! Perpustakaan tutup jam lima! Sekarang jam delapan! Kamu dari mana?!"
Arjuna pegang pipinya yang sakit. "Aku... aku beneran dari perpustakaan. Terus aku ke rumah temen sebentar..."
PLAK!
Tamparan lagi. Kali ini lebih keras.
Arjuna jatuh ke lantai. Bibir bawahnya pecah. Ada darah.
"Sialan kamu! Dasar anak durhaka! Kamu bikin malu ayahmu! Kamu bikin malu keluarga ini!"
Ratih tendang perut Arjuna.
BUK!
Arjuna melipat. Napasnya hilang.
"Kamu itu anak yang gak berguna! Kamu hanya penghalang kebahagiaanku sama ayahmu! Seharusnya kamu ikut ibumu yang udah mati itu!"
Arjuna gak bisa jawab. Cuma bisa nahan sakit.
Ratih ambil kunci kamar Arjuna dari meja. "Masuk kamarmu sekarang! Dan jangan keluar sampai besok pagi! Gak ada makan malam buat kamu!"
Arjuna bangkit pelan. Kakinya gemetar. Dia jalan ke kamarnya di lantai dua.
Pintu ditutup dari luar. Dikunci.
Klik.
Arjuna sendirian di kamar.
Kamar yang besar. Ranjang empuk. Meja belajar. Lemari besar. AC dingin.
Tapi semua itu gak berarti apa-apa.
Karena dia terkunci. Kayak tahanan.
***
Arjuna duduk di pinggir ranjang.
Dia pegang pipinya yang masih panas. Dia lap darah di bibir pake ujung baju.
Dia liat sekeliling kamar. Mata berhenti di meja belajar.
Di sana ada foto kecil dalam bingkai kayu. Foto satu-satunya yang dia simpan.
Foto ibunya.
Ibu kandungnya yang diusir dua tahun lalu.
Arjuna berdiri. Dia jalan ke meja. Dia ambil foto itu.
Di foto, ibunya senyum. Senyum yang hangat. Lembut. Matanya penuh cinta.
Arjuna duduk di kursi. Dia pegang foto itu erat.
"Bu..."
Suaranya serak. Gemetar.
"Maafin aku, Bu. Selama ini aku pengecut. Aku... aku diem aja waktu Ayah usir Ibu. Aku gak bela Ibu. Aku... aku takut."
Air matanya jatuh. Tetes di kaca foto.
"Ibu bilang... Ibu bilang aku harus jadi orang yang berani. Jangan jadi orang yang diam saat ada ketidakadilan. Tapi aku... aku gak dengerin Ibu. Aku cuma... aku cuma mikirin diri sendiri. Aku takut dibuang kayak Ibu."
Dia nangis. Keras. Isakannya keluar.
"Tapi sekarang aku sadar, Bu. Aku sadar... diem itu bukan jalan keluar. Diem itu sama aja kayak... kayak ngebiarkan kejahatan menang. Dan aku... aku gak mau jadi kayak Ayah. Aku gak mau jadi orang yang cuma mikirin uang dan kekuasaan."
Dia lap air matanya.
"Ibu pernah bilang... keberanian itu bukan tidak takut. Tapi tetap bertindak meski takut. Aku... aku akan bertindak, Bu. Aku akan bantuin Satria dan teman-temannya. Aku akan bongkar korupsi beasiswa itu. Meskipun... meskipun aku takut."
Dia cium foto ibunya. "Doain aku, Bu. Doain aku kuat."
Dia taruh foto itu balik di meja.
Dia berbaring di ranjang. Natap langit-langit kamar.
"Ya Allah... berilah aku keberanian. Aku tau aku selama ini pengecut. Tapi kumohon... kumohon beri aku kesempatan jadi orang yang berguna. Meskipun cuma sekali. Aamiin."
Doanya pelan. Tapi penuh tekad.
Dia tutup mata. Tidur dengan keputusan yang udah bulat.
***
Pagi itu, aku lagi duduk di luar rumah.
Skors aku masih dua hari lagi. Jadi aku gak bisa ke sekolah.
Tapi Vanya, Adrian, sama Nareswari janji bakal dateng ke rumahku siang ini. Buat bahas rencana selanjutnya.
Jam sepuluh pagi, mereka datang. Bertiga.
Tapi ada satu orang lagi.
Arjuna.
Cowok tinggi, putih, ganteng. Rambut rapi. Seragam bersih. Tapi mukanya... mukanya ada lebam di pipi kiri. Bibir bawah pecah.
Aku langsung berdiri. "Jun? Kamu... kamu kenapa? Mukamu kenapa?"
Arjuna senyum tipis. "Gak papa. Cuma kejatuhan pintu tadi pagi."
Bohong. Aku tau dia bohong. Tapi aku gak nanya lebih jauh.
Mereka semua masuk ke rumahku. Rumah kontrakan yang sempit. Mereka duduk di lantai.
Ayah dari kasur senyum. "Selamat datang, anak-anak. Maaf rumahnya sempit."
Arjuna geleng. "Gak papa, Paman. Terima kasih sudah nerima kami."
Kami duduk melingkar. Aku, Vanya, Adrian, Nareswari, Arjuna.
Lima orang. Lima pejuang.
Arjuna liat kami semua. Dia tarik napas dalam.
"Aku... aku udah mikir semalam. Dan aku... aku udah buat keputusan."
Kami semua diem. Nunggu.
"Aku gabung. Aku akan bantuin kalian. Aku akan kasih kalian akses ke ruang yayasan. Aku akan ambil dokumen asli keuangan dari brankas Pak Bambang."
Jantungku berdetak cepat.
"Jun... kamu serius?"
Arjuna ngangguk. "Aku serius. Aku... aku gak mau jadi pengecut lagi. Aku mau jadi orang yang berguna. Meskipun... meskipun aku takut."
Adrian berdiri. Dia jabat tangan Arjuna. "Lu hebat, Jun. Lu beneran hebat."
Vanya peluk Arjuna dari samping. "Terima kasih, Jun. Terima kasih udah mau bantuin kami."
Nareswari senyum. "Sekarang kita berlima. Kita punya kesempatan menang."
Aku berdiri. Aku jabat tangan Arjuna. "Jun... aku tau ini berat buat kamu. Aku tau kamu ambil resiko besar. Tapi... tapi terima kasih. Terima kasih udah mau berjuang bareng kami."
Arjuna senyum. Senyum yang tulus. "Sama-sama, Sat. Ini... ini yang seharusnya aku lakuin dari dulu."
***
Kami langsung bahas rencana.
Nareswari buka buku catatannya. "Oke. Jadi begini. Minggu depan, tanggal lima Februari, ada rapat besar yayasan. Semua anggota yayasan bakal kumpul di aula. Termasuk Pak Bambang dan Pak Julian. Rapat bakal mulai jam dua siang. Biasanya rapat ini lama. Sampe jam lima sore."
Arjuna ngangguk. "Aku tau rapat itu. Aku biasanya diminta bantuin nyiapin ruangan sama dokumen. Jadi aku punya akses ke ruang yayasan."
Nareswari lanjutin. "Saat rapat berlangsung, semua orang bakal di aula. Ruang yayasan bakal kosong. Itu kesempatan kita."
Aku nanya. "Dokumen yang kita butuhin ada di mana?"
Arjuna jawab. "Di brankas Pak Bambang. Di ruang kerjanya. Brankas besi besar. Terkunci pake kombinasi angka."
Adrian garuk kepala. "Terus gimana kita buka?"
Arjuna senyum tipis. "Aku tau kombinasinya. Aku pernah liat Pak Bambang buka brankas waktu aku disuruh ambil dokumen. Kombinasinya tanggal lahir anaknya. Nol tiga nol enam dua nol satu lima."
Nareswari catat. "Bagus. Jadi rencana kita: saat rapat berlangsung, Arjuna masuk ke ruang Pak Bambang. Buka brankas. Ambil semua dokumen keuangan. Fotokopi di mesin fotokopi ruang TU. Kembalikan dokumen asli ke brankas. Keluar tanpa ketahuan."
Vanya angkat tangan. "Tapi kalau ada yang liat Arjuna masuk ke ruang Pak Bambang? Gimana?"
Arjuna jawab. "Aku punya alasan. Aku bisa bilang aku disuruh Pak Bambang ambil dokumen yang ketinggalan. Biasanya aku sering diminta kayak gitu. Jadi gak akan curiga."
Adrian ngangguk. "Oke. Tapi kita butuh pengalih perhatian. Biar semua orang fokus ke aula. Gak ada yang keluar."
Aku mikir. "Aku bisa bantuin. Meskipun aku masih diskors, aku bisa dateng ke sekolah. Aku tunggu di luar. Kalau ada yang mau keluar dari aula, aku... aku bikin keributan. Biar mereka balik ke aula."
Vanya geleng. "Sat, kamu masih diskors. Kalau kamu ketahuan dateng ke sekolah, kamu bisa dikeluarin permanen."
"Aku gak peduli. Ini lebih penting."
Nareswari ngangguk. "Oke. Jadi Satria jadi pengalih perhatian. Aku sama Vanya sama Adrian bakal nunggu di luar juga. Buat jaga-jaga kalau ada masalah."
Kami semua setuju.
Arjuna liat kami semua. "Kalian... kalian yakin mau lakuin ini? Ini berbahaya. Kalau ketahuan, kita semua bisa kena."
Aku senyum. "Kami yakin. Kami udah terlalu jauh buat mundur sekarang."
Vanya ngangguk. "Aku juga yakin. Aku udah gak punya apa-apa lagi. Jadi aku gak ada yang ditakutin."
Adrian angkat tangan. "Gue juga yakin. Nyokap gue di rumah sakit gara-gara cari uang buat gue. Gue harus buktiin pengorbanan dia gak sia-sia."
Nareswari tutup buku catatannya. "Aku juga yakin. Ayahku meninggal gara-gara mereka. Aku harus balikin keadilan buat ayahku."
Arjuna senyum. "Kalau kalian semua yakin... aku juga yakin."
Kami berlima tempelkan tangan di tengah.
"Tanggal lima Februari. Kita bongkar semuanya."
"Buat keadilan."
"Buat keadilan."
"Buat keadilan."
"Buat keadilan."
"Buat keadilan."
***
Sore itu mereka semua pulang.
Arjuna yang terakhir keluar. Sebelum dia pergi, dia berbalik ke aku.
"Sat... terima kasih udah nerima aku. Aku... aku selama ini ngerasa sendirian. Tapi sekarang... sekarang aku ngerasa punya keluarga."
Aku senyum. "Kita keluarga sekarang, Jun. Keluarga yang terluka. Tapi kita kuat karena kita bareng."
Arjuna senyum. Dia jabat tangan aku. Terus dia pergi.
Aku masuk rumah. Ayah liat aku.
"Satria... kamu yakin mau lakuin ini? Ini berbahaya, Nak."
Aku duduk di sebelah kasur ayah. "Aku yakin, Yah. Ini... ini yang harus aku lakuin. Bukan cuma buat aku. Tapi buat semua anak miskin yang haknya dicuri."
Ayah pegang tangan aku. "Ayah bangga sama kamu, Satria. Kamu... kamu pemberani. Kamu... kamu pahlawan."
Aku geleng. "Aku bukan pahlawan, Yah. Aku cuma... cuma anak yang pengen keadilan."
Ayah senyum. "Justru itu yang bikin kamu pahlawan, Nak."
***
Malam itu aku gak bisa tidur.
Tanggal lima Februari. Tinggal lima hari lagi.
Lima hari untuk persiapan.
Lima hari untuk bersiap menghadapi musuh terbesar kami.
Aku liat langit-langit yang bocor. Tetesan air jatuh ke ember.
Tok. Tok. Tok.
"Ya Allah... lindungi kami semua. Beri kami kekuatan. Beri kami keberanian. Dan... dan semoga keadilan menang. Aamiin."
Doaku terbang ke langit malam yang gelap.
***
*