NovelToon NovelToon
Cahaya Abadi Shatila

Cahaya Abadi Shatila

Status: tamat
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Cinta setelah menikah / Romansa / Tamat
Popularitas:385
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Mentari sore di Pantai Santa Monica, California, mulai turun ke peraduan. Langit yang semula biru cerah kini berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang cantik. Di antara kerumunan turis dan peselancar, dua pria muda berjalan beriringan dengan langkah tenang. Salah satunya adalah Muhammad Hannan, atau yang akrab disapa Hannan, seorang ustadz muda yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika.
​"Hannan, lihatlah. Kadang aku berpikir, bumi Allah itu begitu luas. Di sini senjanya sama indahnya dengan di pesantren dulu, ya?" celetuk Gus Malik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
​Hannan tersenyum tipis. "Benar, Gus. Keindahan ini pengingat bahwa di mana pun kita berpijak, kita tetap berada di bawah langit yang sama."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Pilihan yang Menghancurkan Jiwa

Hannan mengerem mobilnya dengan kasar tepat di depan lobi instalasi gawat darurat (IGD). Tanpa mematikan mesin, ia melompat keluar dan berteriak sekuat tenaga meminta bantuan. Beberapa perawat dengan sigap mendorong brankar ke arah mobil.

Hannan dengan hati-hati memindahkan tubuh Amara yang masih tak sadarkan diri ke atas tandu tersebut.

"Pendarahan, Sus! Dia sedang hamil!" suara Hannan bergetar hebat. Ia melihat noda darah yang mulai membasahi bagian bawah gamis Amara, membuat warna gelap pakaian itu menjadi semakin pekat dan mengerikan.

Amara langsung dilarikan ke ruang tindakan khusus. Hannan mencoba mengekor, namun seorang perawat menahannya di depan pintu kaca. "Maaf, Bapak tunggu di luar. Tim dokter akan melakukan pemeriksaan USG dan observasi segera."

Hannan berdiri mematung di koridor yang beraroma antiseptik itu. Tangannya yang masih menyisakan bekas darah Amara gemetar hebat. Ia jatuh terduduk di kursi tunggu, menangkup wajahnya, dan menangis dalam diam. "Ya Allah... jangan ambil mereka. Jangan hukum hamba dengan cara seperti ini..."

Satu jam yang terasa seperti satu abad berlalu. Seorang dokter wanita paruh baya keluar dari ruangan dengan gurat wajah yang sangat serius. Hannan langsung berdiri menyongsongnya.

"Dokter, bagaimana istri saya? Bagaimana anak kami?" tanya Hannan dengan napas memburu.

Dokter itu menghela napas panjang, menatap Hannan dengan tatapan prihatin. "Bapak suaminya? Saya harus bicara jujur. Kondisi istri Bapak sangat lemah. Dia mengalami malnutrisi kronis dan kelelahan fisik yang luar biasa. Pendarahan yang terjadi sangat hebat karena ada pelepasan sebagian plasenta."

Dokter itu menjeda sejenak, membuat jantung Hannan seolah berhenti berdetak.

"Istri Bapak sedang mengalami syok hipovolemik karena kehilangan banyak darah. Saat ini, kami berada dalam posisi yang sangat sulit. Jika kami fokus menyelamatkan janinnya dengan obat-obatan dosis tinggi, itu akan memperberat kerja jantung ibunya yang sudah sangat lemah.

Namun, jika kami mengutamakan keselamatan ibunya, kemungkinan besar janin itu tidak akan bertahan karena kami harus melakukan tindakan medis yang berisiko bagi kehamilan."

Dunia Hannan seolah runtuh. Kalimat yang paling ditakuti oleh setiap suami di dunia ini kini harus ia dengar.

"Jika kondisi memburuk dalam beberapa menit ke depan dan kami hanya bisa memilih salah satu... mana yang harus kami prioritaskan? Ibunya atau anaknya?"

Lutut Hannan lemas. Ia bersandar pada dinding rumah sakit agar tidak jatuh. Pilihan itu seperti pisau yang menghujam tepat di ulu hatinya. Di satu sisi, ia sangat merindukan Amara dan tidak bisa hidup tanpa istrinya. Di sisi lain, janin itu adalah bukti cinta mereka, harapan baru yang dibawa Amara di tengah kesunyiannya.

"Dok... tolong... jangan minta saya memilih," rintih Hannan dengan suara yang nyaris hilang.

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka sedikit. Seorang perawat keluar dengan terburu-buru. "Dok, pasien sadar sebentar dan terus mengigau!"

Hannan menerobos masuk tanpa bisa ditahan lagi. Di dalam sana, Amara terbaring lemah dengan selang oksigen di hidungnya. Matanya terbuka sedikit, sayu dan kosong. Saat melihat bayangan Hannan, bibirnya yang pucat bergerak.

Hannan mendekat, menggenggam tangan Amara yang terasa sedingin es. "Mas di sini, Sayang. Mas di sini..."

Amara menarik napas dengan susah payah. Ia rupanya mendengar sayup-sayup pembicaraan dokter tadi dari balik tirai. Dengan sisa tenaganya, Amara mencengkeram tangan Hannan.

"Mas... hiks... selamatkan... selamatkan anak kita,"

bisik Amara, air mata mengalir dari sudut matanya, membasahi kain cadar yang sudah disingkap sebagian. "Biarkan dia hidup... Dia adalah

pemberianmu... Jangan biarkan dia pergi karenaku..."

"Tidak, Amara! Tidak!" Hannan menggeleng kuat-kuat.

"Mas butuh kamu! Mas tidak bisa membesarkannya sendirian tanpa kamu!"

"Janji, Mas... selamatkan dia..." Amara mengerang kesakitan, monitor jantung di sampingnya mulai berbunyi dengan tempo yang tidak teratur (tachycardia). "Aku mencintaimu... bawa dia... ke Abah..."

Setelah mengatakan itu, mata Amara kembali terpejam. Kesadarannya hilang. Dokter segera menarik Hannan menjauh. "Gus! Kami harus mengambil tindakan sekarang! Keputusannya?!"

Hannan berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh hiruk-pikuk medis. Ia teringat pengorbanan Amara selama ini. Ia teringat bagaimana Amara lebih memilih pergi demi kebaikannya. Dan sekarang, wanita itu kembali ingin mengorbankan nyawanya demi anak mereka.

Hannan menengadahkan wajahnya ke langit-langit, air matanya tumpah. "Dokter..." suaranya kini terdengar sangat rendah namun penuh keyakinan di tengah tangisnya.

"Selamatkan istri saya. Saya mohon... selamatkan Amara. Jika Allah berkehendak mengambil janin kami, itu adalah takdir yang akan kami pikul bersama. Tapi jangan ambil nyawa ibunya. Saya tidak bisa membiarkannya pergi dalam keadaan mengorbankan diri lagi."

Hannan tahu, keputusannya mungkin akan membuat Amara sangat sedih jika ia bangun nanti. Namun, bagi Hannan, tidak ada harta di dunia ini yang lebih berharga daripada kehadiran Amara di sisinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!