NovelToon NovelToon
Tiba-Tiba Nikahin Sahabat!

Tiba-Tiba Nikahin Sahabat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cinta setelah menikah / Persahabatan / Perjodohan / Gadis nakal
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Siapa sangka hubungan persahabatan sejak kecil mengantarkan Viona dan Noah ke jenjang yang lebih serius?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tanda yang Memuaskan

Noah terhenti di ambang pintu. Jantungnya berdenyut nyeri melihat Viona yang tertidur dengan posisi meringkuk kedinginan tanpa selimut. Ada dorongan kuat di batinnya untuk mengangkat tubuh kecil itu, membawanya ke kamar, dan mendekapnya erat. Namun, Noah segera mengeraskan hatinya.

Jika gue luluh sekarang, lo nggak akan pernah sadar kalau lo butuh gue, Vio, batin Noah pahit.

Viona yang menyadari kehadiran Noah langsung terduduk tegak. Rasa kantuknya hilang seketika, digantikan oleh emosi yang sudah ia bendung semalaman.

"Noah! Lo ke mana aja?! Kenapa nggak pulang?!" teriak Viona. Suaranya serak, matanya yang sembab menatap Noah dengan penuh tuntutan.

Noah tidak membalas teriakan itu dengan emosi yang sama. Ia justru melangkah tenang menuju dapur, seolah keberadaan Viona di sana tidak memengaruhinya sama sekali. "Gue tidur di kantor," jawabnya singkat dan datar.

Viona bangkit, mengikuti langkah Noah dengan langkah cepat yang sedikit sempoyongan. "Kenapa? Lo anti sama gue? Lo segitu nggak sudinya satu atap sama gue cuma gara-gara omongan gue kemarin?" tanya Viona, suaranya mulai bergetar antara marah dan ingin menangis.

Noah menghentikan gerakannya yang sedang menuangkan air mineral ke gelas. Ia berbalik, menatap Viona dengan tatapan kosong, tatapan yang jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan.

"Suka-suka gue dong mau tidur di mana," jawab Noah dingin. "Gue punya pekerjaan yang lebih penting daripada sekadar berdebat soal lokasi tidur. Bukannya ini yang lo mau? 'Seperti biasa'? Kita nggak perlu saling lapor urusan pribadi, kan?"

Viona terdiam, dadanya naik turun menahan sesak. Kata-katanya sendiri kini menyerangnya balik seperti bumerang. "Tapi bukan berarti lo nggak pulang tanpa kabar, Noah! Gue nungguin lo semalaman!"

Noah meletakkan gelasnya dengan denting yang cukup keras di atas meja granit. Ia mendekat ke arah Viona, mengikis jarak hingga Viona bisa merasakan hawa dingin yang menguar dari tubuh suaminya.

"Kenapa nungguin gue?" tanya Noah rendah, matanya mengunci mata Viona. "Sebagai sahabat? Sahabat nggak bakal nungguin sampai jam 6 pagi di sofa kalau temannya nggak pulang. Jadi, lo nungguin gue dalam kapasitas apa, Viona?"

Viona kehilangan kata-kata. Lidahnya kelu. Ia ingin bilang bahwa ia khawatir, ia ingin bilang bahwa ia kesepian, tapi ego dan label "sahabat" yang ia agung-agungkan kemarin seolah menjerat lehernya sendiri.

"Nggak tahu, kan?" Noah tersenyum pahit, sebuah senyum yang tidak sampai ke mata.

"Kalau lo sendiri belum tahu posisi gue di hidup lo itu apa, jangan protes kalau gue mulai narik diri. Gue capek jadi satu-satunya orang yang berjuang di pernikahan yang lo anggap beban ini."

Ketegangan di ruang tamu tadi belum mereda, namun Noah sudah bergerak seolah-olah percakapan emosional itu tidak pernah terjadi. Ia melangkah masuk ke kamar, tidak mengetuk, hanya berdiri di ambang pintu dengan postur tegak yang terasa asing bagi Viona.

"Siap-siap cepet. Berangkat ke kampus sekalian gue anter," kata Noah. Suaranya dingin, datar, dan mengandung perintah yang tidak bisa diganggu gugat.

Viona yang masih dilingkupi rasa sesak di dada menoleh tajam. "Gak usah!" teriaknya spontan. Ia merasa belum siap untuk terjebak di ruang sempit yang sama dengan Noah setelah perdebatan tadi.

Noah tidak bergeming. Ia menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu, menatap Viona dengan tatapan yang sulit diartikan. "Lo mau naik apa? Mobil lo masih di bengkel, dan gue nggak mau sekretaris gue atau taksi online jemput lo lagi. Gue bilang, gue antar."

Viona ingin membalas, ingin membantah, tapi ia tahu Noah dalam mode ini adalah Noah yang tidak akan menerima kata "tidak". Dengan perasaan dongkol, ia bersiap secepat kilat. Ia mengambil tasnya dan menyusul Noah ke mobil tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Di dalam SUV yang biasanya penuh dengan obrolan atau perdebatan kecil itu, kini hanya ada keheningan yang mencekam. Viona membuang muka ke arah jendela, namun pikirannya justru tertuju pada sosok pria di sampingnya.

Secara tidak sadar, mata Viona melirik ke arah leher Noah. Ia mencari sesuatu yang biasanya selalu ada di sana. Noah memang jarang memakai cincin pernikahan mereka di jari karena alasan profesional di kampus, jadi ia selalu mengalungkannya di leher, tersembunyi di balik kemeja.

Viona memastikan sekali lagi. Kalung rantai perak itu masih melingkar di leher Noah, tapi... bagian tengahnya kosong. Cincin pernikahan mereka yang biasanya bertengger di sana tidak terlihat.

Jantung Viona seolah berhenti berdetak sesaat. Darahnya berdesir hebat.

Mana cincinnya? teriaknya dalam hati.

"Noah..." panggil Viona pelan, hampir tidak terdengar.

Noah tetap fokus menatap jalanan, satu tangannya berada di kemudi dengan santai.

"Apa?"

Viona ingin bertanya langsung, tapi lidahnya mendadak kelu. Ia takut mendengar jawabannya. Apakah Noah benar-benar sudah melepasnya? Apakah ini cara Noah untuk mengatakan bahwa ia benar-benar menyerah pada pernikahan ini, persis seperti yang Viona minta kemarin?

"Enggak, nggak jadi," lirih Viona. Ia kembali memandang keluar jendela, namun kali ini dengan mata yang memanas.

Ternyata, melihat cincin itu hilang dari leher Noah jauh lebih menyakitkan daripada melihat Noah makan siang dengan Miss Clara. Tanpa sadar, Viona meremas ujung kemejanya sendiri. Ia menyadari satu hal: Noah tidak hanya menarik diri secara fisik, tapi ia mulai menghapus jejak Viona dari identitasnya.

———

Lantai halaman kampus yang biasanya tenang mendadak riuh rendah. Kerumunan mahasiswa berkumpul di depan papan pengumuman besar, menciptakan kegaduhan yang bisa terdengar hingga ke area parkir. Noah, yang baru saja turun dari mobil, langsung melangkah lebar menembus kerumunan dengan raut wajah yang mengeras.

Di pusat keramaian itu, Miss Clara berdiri dengan wajah pucat dan tangan yang sedikit gemetar. Ia menunjuk ke arah papan pengumuman.

"Ada apa?" tanya Noah tegas, suaranya menginstruksikan kerumunan untuk sedikit memberi ruang.

"Di papan pengumuman ada foto kita, Noah," kata Clara sembari menunjukkan selebaran foto yang diambil dari sudut angle yang sangat manipulatif. Di foto itu, saat mereka mengobrol di kantin kemarin, posisi kepala Noah yang sedang membungkuk terlihat seolah-olah sedang mencium Clara dengan mesra.

Seketika, sorakan "cie" dan siulan dari para mahasiswa pecah.

"Ciee... ternyata Miss Clara selama ini yang jadi pemenang hati Pak Dosen!" goda salah satu mahasiswa pria di barisan depan.

Noah tidak memedulikan godaan itu. Hal pertama yang ia lakukan justru menoleh ke belakang, matanya dengan panik mencari satu sosok di antara kerumunan. Ia mencari Viona. Ia tidak ingin istrinya salah paham, meski hubungan mereka sedang di ujung tanduk.

Tepat saat itu, kerumunan terbelah.

Viona muncul. Namun, ia tidak datang dengan air mata atau wajah hancur seperti yang Noah takutkan. Viona melangkah dengan dagu terangkat, ekspresinya sangat tenang namun mematikan, sebuah aura "Nyonya Willey" yang sesungguhnya akhirnya keluar. Ia menatap foto di papan itu dengan kilat mata yang tajam, lalu beralih menatap Noah yang masih mematung.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun untuk memaki Clara atau membela diri, Viona melangkah lurus ke arah Noah.

Srett!

Viona menarik kerah kemeja Noah dengan satu sentakan kuat, memaksa tubuh pria yang lebih tinggi darinya itu berputar menghadapnya. Belum sempat Noah memprotes atau menjelaskan apa pun, Viona berjinjit dan menyatukan bibir mereka di hadapan ratusan pasang mata mahasiswa.

Ciuman itu singkat, namun penuh dengan penekanan dan otoritas. Sebuah klaim mutlak yang membungkam seluruh area halaman kampus dalam hitungan detik. Suasana yang tadinya bising mendadak senyap, hanya menyisakan suara angin yang berhembus.

Viona melepaskan tautan bibir mereka, namun tangannya masih mencengkeram kerah kemeja Noah. Ia menoleh ke arah kerumunan, lalu ke arah Clara dengan tatapan dingin yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya.

"Foto palsu itu nggak akan pernah bisa menandingi yang asli," ucap Viona dengan suara yang cukup lantang hingga semua orang bisa mendengarnya.

Ia kemudian beralih menatap Noah yang masih syok dengan tindakan impulsif istrinya.

"Dan buat lo, Noah Sebastian... jangan pernah lepas cincin itu dari dompet lo lagi kalau lo nggak mau gue ngelakuin yang lebih nekat dari ini di depan rektor."

Ternyata, cincin itu tidak hilang. Noah menyimpannya di dompet karena takut rantai kalungnya putus, tapi Viona lebih memilih untuk memberikan "tanda" yang jauh lebih permanen siang itu.

1
deeRa
haii... I found ur story, accidentally 😊
Vha Evha
karya yg bagus porsi nya pas cwe nya gk trlalu lebay dan menye" dan cwo nya meskipun bucin tpi gk kehilangan cool nya, smoga panjang crita nya
Nihayatuz Zain
lanjut kk
Nihayatuz Zain
wah karya bagus kok nggk ketauan pembaca ya
kurang promosi nih
atau judulnya kurang bar bar kk, biyar pada penasaran terus mmpir baca
Sunshine: Wahh makasihh ya kak udah suka karya aku❤️ maybe aku pikirkan dulu judul yg menarik lagi, terima kasih sarannya kak❤️❤️
total 1 replies
Nihayatuz Zain
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!