Almira Abimanyu, di hari ia mengetahui kehamilannya, Gilang, suaminya justru membawa Lila, istri kedua yang juga tengah hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 4. Mengamankan Aset
.
“Jadi, maksudmu aku harus masuk ke kamar kalian saat kalian sedang kelon, gitu?!"
Gilang terdiam, wajahnya memerah menahan amarah. Almira benar-benar membuatnya kehilangan kata-kata. Dengan langkah kasar, Gilang meninggalkan ruang makan dan membanting pintu depan dengan keras, membuat Lila terlonjak kaget.
"Dasar pria brengsek!" umpat Almira pelan, menatap kepergian Gilang dengan tatapan jijik. "Selamat menikmati harimu yang menyebalkan, Sayang."
Lila menatap Almira dengan tatapan penuh kebencian. "Sudah puas kamu sekarang, Mbak?" tanya Lila dengan sinis sekaligus kesal.
"Tentu saja aku puas," jawab Almira dengan senyum mengejek. "Kenapa tidak puas? Aku senang melihat Mas Gilang menderita. Aku juga senang melihatmu menderita kelaparan.”
"Kamu benar-benar wanita jahat, Mbak," desis Lila dengan nada geram. "Istri macam apa kamu itu? Tega-teganya membiarkan Mas Gilang pergi kerja dengan dengan perut kosong!"
"Aku memang jahat. Tapi aku tidak sejahat kamu yang merebut suami orang," balas Almira dengan tatapan tajam. "Dan kamu bertanya aku istri macam apa? Ngaca dong! Kamu sendiri istri macam apa? Sana pergi. Ilermu yang sampai kuping bikin aku jijik!"
Tangan Lila terkepal, giginya bergemeletuk. Wanita itu mendengus kesal dan meninggalkan Almira sendirian di ruang tengah.
Almira menghela napas panjang dan menatap langit-langit rumah dengan tatapan kosong. Belum genap 24 jam saja ia sudah merasa lelah dengan drama itu. Padahal ini baru permulaan. Lila pasti akan berusaha menguasai Gilang dan rumah tangganya.
Perkara Gilang ia tak peduli. Namun aset yang mereka miliki harus diselamatkan. Ia tidak ingin Lila ikut menikmati hasil jerih payahnya selama ini. Ia akan memastikan Gilang dan Lila membayar atas semua yang telah mereka lakukan padanya.
Almira beranjak menuju ke kamarnya lalu mengunci pintu dan membuka lemari pakaiannya. Di bagian paling belakang lemari, ia menemukan sebuah kotak brankas kecil yang tersembunyi di balik tumpukan baju. Almira membuka brankas itu dengan kunci yang selalu ia simpan di dompetnya.
Di dalam brankas, terdapat beberapa dokumen penting, seperti sertifikat tanah, surat mobil, surat berharga, surat perhiasan, dan buku tabungan. Almira memeriksa satu per satu dokumen tersebut, memastikan semuanya masih dalam keadaan aman.
“Aku yang menemani kamu mengumpulkan semua ini," gumam Almira sambil mengelus sertifikat tanah yang ia beli dengan uangnya sendiri. “Enak saja wanita itu datang tinggal menikmati.”
Almira kemudian mengambil sebuah tas agak besar untuk memasukkan surat-surat berharga itu.
“Untuk kotak-kotak perhiasan sepertinya aku tak bisa membawanya keluar sekaligus. Aku harus membawa sedikit demi sedikit jika keluar."
Setelah selesai mengamankan dokumen-dokumen penting, Almira meraih ponselnya untuk menghubungi sahabatnya, Sifa, yang sudah lama tidak berjumpa. Almira merasa butuh teman curhat untuk berbagi beban hidupnya.
Almira mencari nama Sifa di kontak ponselnya dan menekan tombol panggil. Beberapa saat kemudian, Sifa mengangkat telepon dengan suara yang bersemangat.
"Halo? Almira? Ya ampun, ini beneran kamu? Ke mana aja sih, Mir? Kok tiba-tiba menghilang tanpa kabar?"
Almira tersenyum mendengar suara heboh Sifa. Ia merindukan sahabatnya itu.
"Hai, Sif. Iya, ini aku. Maaf ya, aku lama gak menghubungi kamu. Banyak hal yang terjadi dalam hidupku," jawab Almira dengan nada sedikit sendu.
"Ya ampun, aku kangen banget sama kamu, Mir," pekik Sifa. “Eh… tunggu! Ada apa? Kok suara kamu kayak sedih gitu? Cerita dong," ucap Sifa dengan nada khawatir.
Almira menghela napas. "Sif, aku gak bisa cerita semuanya lewat telepon. Terlalu panjang dan rumit. Aku pengen ketemu kamu. Bisa gak?" tanya Almira.
"Ketemu? Beneran? Aku seneng banget, Mir! Kapan? Di mana? Aku usahain bisa deh," jawab Sifa dengan antusias.
Almira tersenyum. "Kalau misalnya sekarang bisa gak? Di kafe yang biasa kita datengin dulu? Yang di dekat kampus?" tanya Almira.
"Oke, deal! Aku kangen banget ngobrol sama kamu. Aku siap-siap sekarang, ya," jawab Sifa.
"Oke, Sif. Sampai ketemu di sana," ucap Almira.
Almira menutup telepon dengan perasaan yang lebih baik. Sifa adalah teman yang selama ini sangat baik padanya. Hanya saja sejak menikah dengan Gilang ia jadi jarang keluar. Ia berharap, Sifa bisa memberikan solusi untuk menghadapi masalahnya.
Almira memasukkan ponsel ke dalam tas selempangnya. Lalu segera bersiap. Mengganti daster rumahan dengan gamis modis, lalu berdiri di depan cermin.
"Sudah lama sekali aku tidak bersolek," gumam Almira sambil memoles wajahnya dengan riasan tipis, sekadar menyegarkan penampilan. Selama ini ia terlalu abai dengan penampilan sendiri. Sibuk mengurus rumah hingga tak punya waktu untuk memanjakan diri. Ia pikir dengan ketulusan hatinya ia bisa mengikat kesetiaan gilang. Ternyata tidak. Cinta sejati yang dulu digaungkan oleh pria itu hanyalah bullshit.
Setelah merasa cukup rapi, Almira menyambar kunci mobil yang tergantung di dinding dekat pintu kamarnya. Ia melangkahkan kaki keluar kamar dengan langkah yang lebih ringan. Ada semangat baru yang membara di dalam hatinya. Almira menuruni tangga dengan anggun, langkahnya mantap dan penuh percaya diri.
Saat melewati ruang tengah, ia melihat Lila sedang duduk lesu di salah satu sofa. Wajah Lila tampak pucat dan matanya sembab. Sepertinya, wanita itu masih syok dengan kenyataan yang ia dapat di rumah ini yang tak seindah impiannya. Mungkin tadinya Lila pikir dirinya hanya istri tua yang mudah ditindas. Atau mungkin juga sedang kelaparan. Entahlah, Almira tak peduli.
Lila mendongak saat mendengar suara langkah Almira. Matanya membulat saat melihat Almira yang tampil cantik dan segar. Rasa iri tiba-tiba menyelimuti hatinya.
"Mau ke mana, Mbak?" tanya Lila penasaran.
Almira berhenti sejenak dan menatap Lila dengan tatapan dingin. "Bukan urusanmu," jawab Almira singkat.
"Tapi..." Lila mencoba mencegat Almira.
"Aku butuh hiburan. Setelah suamiku direbut pelakor," potong Almira dengan nada sinis. Ia sengaja menekankan kata "pelakor" untuk menyindir Lila. “Aku juga butuh refreshing. Ini sudah waktunya aku memanjakan diri setelah tiga tahun kerja rodi.”
Lila terdiam, merasa tersindir dengan ucapan Almira. Wanta itu mengepalkan tangannya tanpa mampu membantah. Tapi, apa katanya tadi? Hiburan? Dia juga mau. Kapan lagi dia bisa mendapatkan sesuatu dari kakak madu. Hiburan berarti belanja kan?
"Aku ikut ya, Mbak?" pinta Lila bersemangat, mengabaikan rasa kesal beberapa detik lalu. "Aku juga butuh hiburan. Bayiku juga butuh rileks," tambahnya membanggakan perut buncitnya.
Almira tertawa sinis. "Ikut? No!" tolak Almira tegas dengan dua tangan bersedekah angkuh. "Kayaknya kita gak sedekat itu untuk pergi bareng."
Almira berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar.
“Mbak… tunggu!” Lila mengejar sebelum Almira sampai di pintu. "Aku lapar, di dapur tidak ada makanan. Ikut ya?” pintanya sekali lagi. Kali ini bahkan wanita itu menangkupkan dua telapak tangan dengan tampang memelas.
“Benar-benar tidak punya urat malu," batin Almira. Wanita yang kembali tersenyum sinis. "Kamu lapar?” tanyanya dengan wajah polos.
"Iya, Mbak." Lila mengangguk berkali-kali. Akhirnya kakak madunya luluh. Ternyata gampang. Hanya dengan pasang tampang kasihan Almira langsung termakan. Tapi…
“Terus … hubungannya sama aku apa?”
Wajah Lila mengeras seketika. "Dasar kakak madu laknat,” umpatnya kesal, menatap punggung Almira yang mulai menjauh.
Almira, saat membuka pintu wanita itu sempat menoleh ke belakang dan tersenyum sinis kepada Lila. Ingin jadi ratu? Mimpi! Lapar ya usaha cari makan! Kaya anak kecil saja. Minta dilayani? No.
Di rumah itu bahkan tak memiliki pembantu. Almira mengerjakan segalanya sendiri, hanya sesekali tiga hari sekali memanggil cleaning service. Tadinya karena Almira ingin lebih menjaga privasi dirinya dengan Gilang yang kadang tak tahu tempat jika ingin bermesraan. Sekarang membayangkan semua itu ia merasa jijik.
semangat thor