NovelToon NovelToon
Nenek Gerandong : Kisah Urban Legend Indonesia

Nenek Gerandong : Kisah Urban Legend Indonesia

Status: tamat
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Horror Thriller-Horror / Hantu / Horor / Tamat
Popularitas:50
Nilai: 5
Nama Author: SARUNG GAME

Kisah ini Terinspirasi dari Lengenda Urban Nenek Gerandong Di Banten Indonesia

Dulu kala Ada Ibu Muda yang sedang menyusui bayi, tiba tiba sosok nenek menyeramkan hadir membuat si ibu muda ketakutan dan pingsan. si nenek seram itu lalu menculik bayinya dan masuk ke dalam hutan dengan cara melayang

Jika bayi Ibu menyusui tak cepat ditemukan apa yang akan terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SARUNG GAME, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Mandi Gembira di Sungai

Hutan di belakang desa tak lagi menakutkan—ia menjadi tempat yang dikasihi, tempat warga datang berdoa di monumen kecil Mbah Saroh, tempat anak-anak bermain petak umpet di antara pohon durian, dan tempat orang-orang dari kota datang mencari kedamaian mistis yang tak lagi membawa dendam.

Di pinggir desa, dekat rumah kecil Sari Wangi dan Daeng Tasi, ada bagian sungai yang sepi, tersembunyi oleh pepohonan pisang dan semak belukar rendah. Airnya mengalir tenang, dangkal dan jernih, cukup untuk membasahi tubuh tanpa membuat orang tenggelam dalam kekhawatiran. Pohon-pohon di tepian membentuk kanopi alami, cahaya matahari sore menyusup melalui celah daun, menciptakan titik-titik emas yang menari di permukaan air seperti bintang kecil yang jatuh ke bumi.

Tempat itu selalu sepi—hanya angin dan gemericik air yang menemani, jauh dari keramaian desa, jauh dari tatapan orang. Tempat itu menjadi rahasia kecil mereka: tempat untuk melupakan, untuk merayakan, untuk hidup kembali.

Sore itu matahari sudah condong ke barat, cahayanya jingga hangat menyinari permukaan sungai seperti lapisan madu cair. Sari Wangi berdiri di tepi air, tangannya melepas kebaya kuning tipis yang dulu sering ia pakai di malam-malam penuh trauma. Kain itu jatuh pelan ke rumput hijau, memperlihatkan tubuhnya yang masih indah meski waktu telah meninggalkan jejak kecil di kulit kuning langsatnya. Payudaranya montok dan penuh, pinggulnya lebar dan lembut, paha mulusnya berkilau karena embun sore yang menempel. Ia tak lagi malu—tubuh itu telah melalui pengorbanan, ketakutan, dan akhirnya kedamaian. Ia melepas jarik batik coklat tuanya, membiarkan angin sore menyentuh kulit telanjangnya dengan lembut, seperti pelukan alam yang tak pernah menghakimi.

Daeng Tasi berdiri di sampingnya, melepas baju kurung merahnya dengan gerakan pelan. Tubuhnya yang kekar dari tahun-tahun melaut kini lebih tenang, otot-ototnya masih tegas tapi tak lagi tegang karena ancaman.

Ia menatap Sari dengan mata penuh cinta yang dalam, mata yang pernah penuh amarah dan ketakutan kini hanya menyimpan syukur. Ia melepas sarung Samarindanya, berdiri telanjang di tepi sungai, kulitnya yang kecokelatan berkilau di bawah cahaya sore. Lilis, yang kini sudah berusia empat tahun, berlari kecil dari belakang rumah, tubuh kecilnya dililit sarung batik, kulitnya cokelat muda seperti ayahnya, rambut hitamnya basah karena baru saja bermain air di ember.

“Ibu ! Ayah! Lilis mau mandi!” seru Lilis dengan suara ceria, tangan kecilnya melambai-lambai.

Sari tertawa lepas—tawa yang dulu jarang terdengar, tapi kini sering menggema di rumah mereka. Ia menggendong Lilis, mencium pipi montok anaknya. “Ayo, sayang... kita mandi bareng Ibu dan Ayah. Hari ini spesial.”

Daeng Tasi mengambil tangan Sari, lalu tangan kecil Lilis. Mereka bertiga melangkah masuk ke air yang sejuk. Air menyentuh betis mereka, lalu naik ke pinggang, dingin tapi menyegarkan, seperti pelukan alam yang membersihkan sisa-sisa trauma yang masih tersisa di hati. Sari melepaskan tangan Daeng Tasi, memercikkan air ke arah suaminya dengan tawa riang. Air menyambar dada Daeng Tasi, membuatnya tertawa keras—tawa yang dalam, yang bebas, yang selama ini tertahan oleh beban malam-malam gelap.

“Daeng! basah semua!” seru Sari, matanya berbinar, pipinya merah karena senang.

Daeng Tasi balas memercikkan air lebih besar, air menyambar tubuh Sari, membuat payudaranya montok bergoyang pelan, tetesan air berkilau di kulit kuning langsatnya seperti permata kecil. “Kau juga, Sari! Basah kuyup!” katanya sambil tertawa, lalu mengangkat Lilis tinggi-tinggi, memercikkan air ke arah anak mereka.

Lilis menjerit kegirangan, tangan kecilnya memercikkan air ke wajah ayah dan ibunya. “Papa! Mama! Lilis menang!” serunya, tertawa sampai terbatuk kecil karena air masuk ke mulut.

Sari menarik Daeng Tasi lebih dekat, tangannya melingkar di leher suaminya, tubuh telanjang mereka saling menempel di air yang sejuk. Ia mencium bibir Daeng Tasi pelan, ciuman yang penuh cinta, penuh syukur, penuh kebebasan. “Daeng... aku tidak percaya kita bisa seperti ini lagi. Dulu aku pikir... aku tidak akan bisa tertawa bebas lagi. Aku pikir trauma itu akan ikut aku selamanya... tapi lihat kita sekarang. Kita di sini... telanjang, bebas, bahagia... dengan Lilis... dengan desa yang damai.”

Daeng Tasi memeluk istrinya lebih erat, tangannya menyusuri punggung Sari yang mulus, merasakan kehangatan kulit yang dulu ia takut tak akan bisa disentuh lagi. “Sari... aku juga. Setiap malam dulu aku bangun karena mimpi de Sari ditarik ke air hitam... aku tak bisa bernapas. Tapi sekarang... aku tidur nyenyak. Aku bangun pagi, lihat de Sari  di sampingku, lihat Lilis tertawa... itu yang bikin aku tahu—kita menang. Kita menang atas dendam itu. Kita menang atas ketakutan itu.”

Lilis berenang kecil di antara mereka, tangan mungilnya memercikkan air ke wajah ayah dan ibunya. “Mama! Papa! Lilis mau lompat!” katanya, lalu melompat kecil dari air, jatuh kembali dengan cipratan besar. Sari dan Daeng Tasi tertawa lepas, memercikkan air ke arah Lilis, membuat anak itu menjerit kegirangan.

Mereka bertiga bermain air seperti anak kecil—Daeng Tasi mengangkat Lilis tinggi-tinggi, memutar tubuh kecil itu di udara, Sari memercikkan air ke suaminya, lalu ke anak mereka. Air sungai jernih menyambar tubuh mereka, tetesan-tetesan berkilau di kulit Sari yang kuning langsat, di dada Daeng Tasi yang kekar, di tubuh kecil Lilis yang lincah. Tawa mereka menggema di sungai yang sepi itu, bergema hingga ke hutan yang kini damai, hingga ke pohon durian yang berbuah lebat, hingga ke monumen kecil di pinggir desa.

Sari berhenti sejenak, berdiri di air yang sebatas pinggang, menatap hutan di belakang mereka. Pohon-pohon durian berdiri tegak, daun-daunnya bergoyang pelan di angin sore, tanpa kabut gelap, tanpa bayang menyeramkan. Hutan itu kini seperti teman lama yang akhirnya berdamai—tempat wisata mistis yang aman, tempat orang datang berdoa, tempat anak-anak bermain tanpa takut.

“Daeng... lihat hutan itu,” bisik Sari, suaranya penuh rasa syukur. “Dulu aku takut sekali lewat di sana. Aku pikir setiap bayang adalah tangan Mbah Saroh yang mau mengambil Lilis... tapi sekarang... hutan itu damai. Sungai ini damai. Kita damai.”

Daeng Tasi memeluk istrinya dari belakang, dagunya bersandar di bahu Sari, tangannya melingkar di pinggang istrinya, merasakan kehangatan tubuh telanjang itu. “Kita sudah lewati semua, Sari. Kita sudah bayar harganya... dengan air mata, dengan pengorbanan, dengan maaf. Sekarang... kita nikmati ini. Kita nikmati hidup yang baru. Lihat Lilis... dia nggak tahu trauma apa pun. Dia cuma tahu tawa, air, dan cinta kita.”

Lilis berenang mendekat, tangan kecilnya memeluk kaki ayah dan ibunya. “Ibu! Ayah! Lilis senang! Air enak!” katanya, tertawa lepas.

Sari dan Daeng Tasi tertawa bersama, memercikkan air lagi ke arah Lilis. Mereka bertiga bermain sampai matahari hampir tenggelam, cahaya jingga sore membalut tubuh mereka seperti selimut emas. Air sungai mengalir tenang di sekitar mereka, mencerminkan dua sosok yang telanjang, bebas, dan bahagia—simbol kebebasan dari trauma masa lalu, simbol kedamaian yang lahir dari pengampunan, simbol kehidupan baru yang tak lagi dibayangi dendam.

Saat senja mulai turun, mereka keluar dari air, tubuh basah berkilau di bawah cahaya terakhir matahari. Sari menggendong Lilis yang mulai mengantuk, mencium kening anaknya pelan. “Pulang yuk, sayang... besok kita mandi lagi.”

Daeng Tasi memeluk istrinya dari samping, tangannya menyentuh pinggang Sari yang masih basah. “Besok... dan lusa... dan seterusnya, Sari. Kita akan terus mandi di sungai ini... terus tertawa... terus hidup.”

Mereka berjalan pulang pelan, tangan saling genggam, Lilis tertidur di gendongan Sari. Hutan di belakang mereka diam, tapi diamnya penuh damai—tanpa bayang dendam lagi, tanpa suara tawa serak, hanya angin yang berbisik lembut seperti doa terakhir dari roh yang telah pulang.

Desa Durian Berduri terus hidup. Anak-anak tumbuh tanpa takut, orang tua tidur nyenyak, dan hutan tetap berdiri sebagai saksi bisu—saksi bahwa pengampunan bisa mengubah kutukan menjadi berkah, bahwa luka bisa sembuh, bahwa cinta dan maaf adalah kekuatan terbesar.

Dan di sungai kecil yang sepi itu, setiap sore, tawa Sari, Daeng Tasi, dan Lilis akan terus bergema—tawa yang bebas, tawa yang damai, tawa yang abadi.

Akhir.

(TAMAT)

1
Pemuja Rahasia 001
baru bab awal tapi bagus penyusunan kata halus , terutama saat deskripsi tentang teh sari
Pemuja Rahasia 001
bab 3 ini bagus penyusunan katanya bagus terutama saat teh sari pingsan di lantai
Pemuja Rahasia 001: bab 3 tentang moster laut bagus
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!