Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"
Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keinginan Kecil
Malam itu berakhir dengan tenang.
Kami tertidur di ruang tengah, film masih berjalan tanpa suara, layar memantulkan cahaya pucat ke dinding. Aku terbangun lebih dulu, entah karena mimpi atau karena tubuhku belum sepenuhnya terbiasa tidur terlalu lelap. Arven masih terlelap, napasnya teratur, lengannya melingkar ringan di pinggangku.
Aku tidak bergerak.
Aku menutup mata lagi, membiarkan diriku tenggelam dalam perasaan itu.
Beberapa hari setelahnya, sesuatu berubah.
Arven mulai bangun lebih pagi. Ia menyiapkan sarapan sebelum aku keluar kamar, bahkan sebelum aku sempat bilang lapar. Piring selalu sudah tersaji, air minum selalu ada di sampingku.
"Minum dulu," katanya hampir refleks.
Aku menurut. Ia mulai mengingatkanku hal-hal kecil. Terlalu kecil, bahkan.
"Jangan lupa pakai jaket, AC dingin."
"Jangan lama-lama di balkon, anginnya kencang."
"Obatmu nanti siang ya, aku siapin."
Nada suaranya tetap lembut. Kalau aku tidak tahu konteksnya, mungkin aku akan menyebutnya perhatian.
Suatu siang, aku berdiri di depan pintu apartemen sambil mengenakan sepatu. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku melakukannya.
Hanya ingin turun sebentar, mungkin membeli sesuatu di minimarket. Mungkin sekadar melihat orang lalu-lalang.
Arven muncul di belakangku.
"Mau ke mana?" tanyanya santai.
"Ke bawah sebentar," jawabku. "Beli minum."
Ia mendekat, meraih kunci dari tanganku tanpa benar-benar mengambilnya. "Aku aja yang beli."
"Aku bisa sendiri."
Ia tersenyum, tapi ada sesuatu di matanya yang berubah bukan marah, bukan panik. Lebih seperti waspada.
"Kamu belum stabil," katanya pelan. "Nanti capek."
Aku ingin membuka mulut untuk membantah, lalu menutupnya lagi. Aku memang masih sering pusing dan aku memang belum benar-benar pulih.
"Oke," kataku akhirnya.
Ia tampak lega, meski ia berusaha menyembunyikannya.
Aku kembali ke sofa, memeluk bantal. Dari sana aku melihat Arven mengenakan jaket dan keluar. Pintu tertutup dengan bunyi klik yang pelan.
Aku menunggu.
Saat ia kembali, aku mengucapkan terima kasih seperti biasa. Ia mengusap kepalaku seperti biasa.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang sama
Jam bangunku teratur, jam makanku teratur, bahkan jam tidurku mulai bisa ditebak. Arven mengingat semuanya atau bisa dibilang dia seperti mengaturnya, aku tidak tahu mana yang benar.
Ponselku lebih sering berada di meja. Aku jarang membukanya. Kadang aku ingin mencari sesuatu seperti tempat kerja, apa pun tentang diriku tapi entah kenapa dorongan itu selalu menguap sebelum sempat aku lakukan.
Kalau aku menatap layar terlalu lama, Arven akan bertanya, "Capek?"
Kalau aku menghela napas panjang, ia akan bilang,
"Tidur aja dulu."
Suatu sore aku berdiri di depan jendela, menatap jalan di bawah. Orang-orang terlihat kecil dari atas sini. Bergerak cepat, Pergi ke suatu tempat.
"Aku kayaknya pengen keluar besok," kataku tanpa menoleh.
Arven diam sebentar di belakangku.
"Kita bisa nonton di rumah," katanya.
"Aku cuma pengen jalan," balasku ringan. "Nggak lama."
Ia mendekat, berdiri tepat di belakangku. Tangannya bertumpu di pinggangku, seperti pelukan yang setengah jadi.
"Nanti," katanya pelan. "Sekarang kamu nikmatin dulu yang ada."
Aku mengangguk lagi, diskusi ku dengannya berakhir begitu saja.
Malam itu, sebelum tidur, Arven duduk di tepi ranjang. Ia merapikan selimutku, memastikan lampu sudah redup.
"Kamu aman di sini," katanya tiba-tiba.
Aku menatapnya. "Aku tahu."
Ia tersenyum kecil, lalu mengusap rambutku dengan gerakan yang lebih lama dari biasanya.
"Aku cuma nggak mau kamu kenapa-kenapa," tambahnya.
Aku menarik selimut sampai ke dada. "Aku tahu kok."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Dan untuk sesaat, hanya sesaat matanya tampak gelap seolah menyimpan sesuatu yang tidak ia ucapkan.
Lalu ia tersenyum lagi.
"Tidur ya," katanya.
Lampu dimatikan.
Aku mengangguk waktu itu. Membiarkan malam menutup pembicaraan kami dengan tenang.
Tapi pikiran itu tidak pergi.
Keesokan harinya, saat matahari sudah naik dan apartemen kembali dipenuhi cahaya, perasaan itu muncul lagi. Seperti dorongan kecil yang terus mengetuk dari dalam dadaku.
Aku ingin keluar.
Bukan jauh, tidak lama. Hanya keluar saja.
Arven sedang di dapur, membuat kopi. Aku duduk di kursi bar, memperhatikannya beberapa detik sebelum akhirnya bicara.
"Ven," kataku hati-hati, "hari ini cerah."
"Iya," jawabnya tanpa menoleh.
"Kita bisa jalan sebentar, kan?"
Tangannya berhenti. Hanya sepersekian detik, tapi aku melihatnya.
"Seren," katanya pelan, "kita sudah bahas ini."
"Aku tahu," jawabku cepat. "Tapi aku baik-baik aja. Aku nggak pusing, nggak capek. Aku cuma mau lihat luar sebentar."
Ia menghela napas, punggungnya masih membelakangiku. "Nggak perlu."
Aku turun dari kursi. Mendekat.
"Kenapa sih selalu nggak perlu?" suaraku mulai naik, tanpa kusadari. "Aku nggak rapuh, Ven. Aku hidup! aku kuat! bahkan kecoak juga mungkin takut jika dia lihat aku!"
Ia berbalik. Tatapannya tajam, seperti menahan sesuatu.
"Kamu nggak ngerti," katanya.
"Ya jelasin ke aku," balasku, lebih keras. "Jangan cuma nolak. Jangan cuma mutusin sendiri."
Hening menggantung.
"Seren,"
"Kenapa aku harus selalu di dalam?" potongku. Dadaku naik turun. "Kenapa kamu bertindak seolah dunia itu cuma berbahaya buat aku, tapi aman buat kamu?"
Dan saat itu,
"Karena aku nggak mau kehilangan kamu!"
Suara Arven meledak di ruangan itu. Suaranya terdengar Keras dan kasar. Jauh dari nada lembut yang biasa ia pakai.
Aku membeku.
Tubuhku bereaksi lebih cepat dari pikiranku. Tanganku gemetar, nafasku terputus-putus. Dunia seperti menyempit tiba-tiba, dan aku mundur selangkah tanpa sadar.
Arven juga membeku. Matanya melebar begitu melihat reaksiku.
"Seren.." suaranya langsung turun, panik.
Aku tidak menjawab. Kakiku terasa lemas, jantungku berdetak terlalu cepat.
Dalam dua langkah, Arven sudah di depanku. Tangannya memelukku erat, sangat erat, seolah takut aku menghilang kalau ia melepasnya.
"Maaf....maaf, maaf," katanya berulang-ulang, suaranya bergetar di dekat telingaku. "Aku nggak maksud teriak. Aku sumpah nggak maksud."
Aku menutup mata. Tanganku perlahan mencengkeram bajunya, mencari pegangan.
"Napas, ya," katanya lembut sekarang. "Ikutin aku. Pelan-pelan."
Ia mengusap punggungku, ritmenya teratur, itu membantuku untuk tenang. Seperti yang selalu ia lakukan.
"Maaf," ulangnya lagi. "Aku cuma...takut."
Aku menelan ludah. "Takut apa?"
Ia terdiam cukup lama. Tetapi pelukannya tidak mengendur.
"Ada hal-hal yang belum kamu ingat," katanya akhirnya.
"Dan ada orang-orang di luar sana...yang tahu kamu sebelum kamu tahu dirimu sendiri."
"Aku nggak bisa biarin kamu keluar sendirian," lanjutnya pelan. "Bukan karena aku mau ngurung kamu. Tapi karena kalau sesuatu terjadi....aku nggak akan sanggup."
Aku mengangkat wajahku sedikit. "Kamu nggak percaya aku?"
"Bukan itu," jawabnya cepat.
Arven tidak melanjutkan perkataannya.
Dia menghela napas panjang, seolah mengambil keputusan yang sulit. Pelukannya mengendur sedikit, cukup untuk menatapku.
"Baiklah," katanya akhirnya. "Kamu boleh keluar."
Aku menatapnya, terkejut.
"Tapi," lanjutnya, suaranya kembali tegas tapi lembut, "syaratnya satu."
"Apa?" kataku antusias.
"Kamu cuma keluar sama aku."
Aku terdiam dan mencoba menimbang. Ada bagian dalam diriku yang ingin protes.
"Oke," jawabku akhirnya.
Ia tersenyum kecil.
"Terima kasih," katanya pelan, lalu kembali memelukku.
Aku membalas pelukannya.