Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...
Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?
Baca ceritanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penipu Ulung
Kesesatan berpikir sering kali menjadi kawan akrab bagi mereka yang sedang terjepit. Pagi itu, Bimo tidak lagi peduli dengan dering telepon dari kantornya. Panggilan dari Pak Hendra maupun pesan ketus dari Diana diabaikannya mentah-mentah. Fokusnya hanya satu: alamat sebuah "Padepokan Penyembuh Segala Kutukan" yang ia temukan di sebuah forum internet tersembunyi. Deskripsinya sangat meyakinkan, penuh dengan testimoni orang-orang yang mengklaim sembuh dari santet tingkat tinggi.
Dengan sisa tenaga dan harapan yang membuncah, Bimo memacu motor matic-nya satu-satunya aset berharga yang tersisa menuju pinggiran kota yang gersang. Ia tidak menyadari bahwa di belakangnya, sebuah motor ojek yang ditumpangi wanita berjaket hitam terus menjaga jarak, mengawasinya seperti elang mengintai mangsa.
Perangkap Sang Dukun Gadungan
Tempat itu bernama "Griya Rahayu". Alih-alih terlihat mistis dan berwibawa seperti rumah Abah Kamad, tempat ini justru tampak mencolok dengan spanduk-spanduk besar. Sang dukun, yang menyebut dirinya Ki Jagad Bhuana, menyambut Bimo dengan pakaian serba hitam yang terlalu baru dan cincin batu akik yang memenuhi seluruh jarinya.
"Penyakitmu ini berat, Anak Muda," ujar Ki Jagad dengan suara yang dibuat-buat berat, setelah Bimo menceritakan keluhannya. "Ini kiriman dari jin penjaga gunung. Tapi tenang, di tanganku, jin itu akan sujud."
Bimo yang sudah haus akan kesembuhan langsung merasa menemukan oase. "Tolong, Mbah. Apa pun syaratnya akan saya penuhi."
Ki Jagad tersenyum licik. "Syaratnya berat. Aku butuh mahar untuk membeli minyak seribu jin. Harganya dua puluh juta rupiah. Karena kamu tidak bawa uang tunai sebanyak itu..." Mata Ki Jagad melirik ke arah motor Bimo yang terparkir di depan. "Motor itu bisa jadi jaminan. Tinggalkan surat-suratnya di sini, besok setelah ritual jarak jauh selesai, kamu bisa ambil motor ini kembali beserta kesembuhanmu."
Logika Bimo sudah lumpuh. Di kepalanya, motor itu tidak ada artinya dibanding rasa sakit yang selama ini menghantui selangkangannya. Tanpa berpikir panjang, ia menyerahkan kunci dan STNK motornya. Ia menandatangani selembar kertas yang ia pikir adalah "perjanjian pengobatan", padahal itu adalah kuitansi jual beli kosong.
"Pulanglah dengan tenang. Malam ini, saat kamu tidur, aku akan menarik semua ulat itu keluar," ucap Ki Jagad meyakinkan.
Bimo keluar dari tempat itu dengan langkah ringan. Ia merasa seolah beban seberat satu ton telah diangkat dari pundaknya. Ia tidak peduli harus pulang naik angkot; baginya, hari kiamat telah berlalu. Ia merasa telah mengakali Ratih. Ia merasa telah menang tanpa harus meminta maaf.
Pesta di Atas Jurang
Sore harinya, Bimo mendatangi kontrakan Fajar dengan wajah berseri-seri. Ia tertawa lebar, sesuatu yang sudah lama tidak ia lakukan.
"Jar! Gue bebas! Gue udah ketemu dukun yang lebih sakti dari Abah Kamad pilihan lu!" seru Bimo sambil memukul bahu Fajar.
Fajar yang sedang menghitung uang hasil judinya mengernyitkan dahi. "Lho, motor lu mana, Bim? Kok naik angkot?"
Bimo menceritakan semuanya dengan penuh semangat. Tentang Ki Jagad Bhuana, tentang ritual minyak seribu jin, dan tentang motornya yang dijadikan jaminan. Mendengar itu, wajah Fajar yang tadinya bingung berubah menjadi tegang.
"Bim, lu bego atau gimana?!" bentak Fajar. "Gue tahu daerah tempat dukun itu. Itu mah sindikat penipuan berkedok pengobatan! Mana ada dukun beneran minta motor sebagai jaminan di hari pertama? Lu ketipu, Bim!"
Bimo justru tertawa terbahak-bahak, tawanya terdengar sedikit gila. "Lu sirik aja, Jar. Lu nggak ngerasain apa yang gue rasain. Begitu gue keluar dari sana, badan gue rasanya enteng. Nggak ada gatal, nggak ada panas. Abah Kamad lu itu cuma mau nakut-nakutin gue supaya gue sujud sama si babu Ratih!"
"Bim, dengerin gue," Fajar memegang pundak Bimo dengan serius. "Mending sekarang kita balik ke sana, ambil motor lu mumpung belum dijual. Terus kita cari ustadz atau dokter yang bener. Gue ngeri liat lu kayak gini."
"Halah! Udahlah, Jar. Jangan ngerusak suasana hati gue yang lagi bagus," Bimo menepis tangan Fajar. Ia mengambil sebotol minuman keras dari atas meja dan membukanya. "Malam ini kita pesta! Gue yang bayar pake sisa duit gue. Kita mabok sampe pagi buat ngerayain kemenangan gue!"
Fajar hanya bisa menggeleng. Ia melihat Bimo bukan lagi sebagai teman, melainkan sebagai orang yang sedang berjalan dengan mata tertutup menuju jurang. Namun, karena dasar sifatnya yang juga suka maksiat, Fajar akhirnya ikut menuangkan minuman.
Malam Terakhir dalam Ilusi
Malam itu, Bimo benar-benar berpesta. Ia meminum alkohol lebih banyak dari biasanya. Dalam keadaan mabuk berat, ia mulai sesumbar.
"Ratih... Ratih... lu pikir lu bisa hancurin gue?" igau Bimo sambil menenggak wiski langsung dari botolnya. "Liat nih! Gue masih bisa mabok, gue masih bisa ketawa! Dukun gue lebih hebat dari dukun lu!"
Anehnya, malam itu ulat-ulat sengkolo benar-benar diam. Mereka tetap dalam mode pasif, seolah-olah sedang memberikan Bimo kesempatan untuk menikmati "kebahagiaan" terakhirnya. Ketenangan ini justru membuat Bimo semakin yakin bahwa Ki Jagad Bhuana benar-benar sakti. Ia tidak tahu bahwa ulat-ulat itu sedang mengumpulkan tenaga, bersiap untuk sebuah ledakan yang akan menghancurkan sistem saraf Bimo untuk selamanya.
Di luar, hujan turun rintik-rintik. Ratih berdiri di bawah pohon di depan kontrakan Fajar. Ia melihat melalui jendela yang terbuka bagaimana Bimo tertawa-tawa sambil memegang botol minuman.
"Tertawalah, Bimo. Tertawalah sampai paru-parumu sesak," bisik Ratih. "Kamu memberikan motormu pada penipu? Bagus. Karena sebentar lagi, kamu tidak akan butuh motor untuk pergi ke mana-mana. Kamu hanya butuh keranda."
Kenyataan yang Menikam
Minggu pagi datang dengan rasa sakit kepala yang luar biasa bagi Bimo. Namun, bukan itu yang membuatnya panik. Saat ia terbangun di lantai kontrakan Fajar, ia mendapati sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya dari nomor tidak dikenal.
“Terima kasih atas motornya, Mas. Lain kali jangan mudah percaya sama orang di internet. Motor sudah pindah tangan. Semoga sembuh!”
Bimo terduduk lemas. Jantungnya serasa berhenti. Ia mencoba menelepon nomor itu, namun sudah tidak aktif. Ia mencoba membuka situs "Griya Rahayu", dan situs itu sudah menghilang, menyisakan pesan "Error 404".
"Jar... Jar, bangun!" Bimo mengguncang tubuh Fajar. "Motor gue, Jar! Dukun itu... dukun itu beneran nipu!"
Fajar terbangun dengan malas, matanya merah. "Kan udah gue bilang, Bim. Lu yang bego. Udahlah, ikhlasin aja. Sekarang pikirin gimana cara lu sembuh."
Namun, harapan itu hancur berkeping-keping.
"Nggak... nggak mungkin! Dia bilang dia udah narik semua ulatnya!" jerit Bimo.
"Bim! Bau apa ini?! Lu... lu beneran busuk, Bim!" teriak Fajar sambil menutup hidungnya dan mundur ketakutan.
Bimo menatap bayangannya di cermin. Ia melihat dirinya bukan lagi sebagai pria tampan idola kantor, melainkan sebuah inang bagi ribuan parasit gaib yang sedang berpesta. Ia kehilangan motornya, ia kehilangan uangnya, dan kini ia menyadari bahwa ia telah kehilangan satu-satunya kesempatannya untuk sembuh.
"Ratih..." gumam Bimo dengan suara yang nyaris tak terdengar. "Ratih... tolong gue..."
Di luar, matahari Minggu bersinar terang, namun bagi Bimo, kegelapan abadi baru saja dimulai. Ia tidak punya motor untuk kabur, tidak punya uang untuk berobat, dan tidak punya teman yang mau mendekatinya lagi karena bau busuk yang keluar dari pori-porinya.
Ratih, dari kejauhan, melipat payungnya dan berjalan menuju halte. Tugasnya mengawasi sudah hampir selesai. Sekarang, ia tinggal menunggu Bimo datang merangkak kepadanya, atau melihat pria itu berakhir di tanah pemakaman tanpa ada yang sudi menyentuh mayatnya.