Astaga nak, pelan-pelan saja, kamu bikin aku kesakitan."
Pulau Nangka di bawah kelap kelip bintang malam, buaya yang sedang beristirahat di rawa, angin malam yang menghembuskan ombak kecil menghantam dermaga kayu, tapi suara dua orang di bawah cahaya lampu neon yang redup justru lebih jelas terdengar.
"Maaf Mbak, aku kan badan kuatnya banyak..."
"Kuat? Apanya kuat? Seberapa banyak sih? Kasih aku liat dong."
Suara wanita itu keras tapi mengandung daya tarik yang membuat hati berdebar.
"Mbak jangan dong ngocok-ngocok, aku bilang tenagaku aja yang kuat. Ayo tidur aja dan diam, nanti aku pijetin kamu yang nyaman." Rio menghela napas pelan sambil menggeleng kepala, melihat seniornya Maya Sari yang sedang berbaring di kursi bambu di tepi pantai, diam-diam menekan rasa gelisahnya.
Gaun panjang warna ungu muda yang tipis hampir tidak bisa menyembunyikan bentuk tubuhnya. Di bawah cahaya redup, lekuk tubuhnya terlihat semakin menarik.
Maya sedikit mengangkat wajahnya, parasnya sung
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mar Dani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Restoran Hotpot "66", restoran hotpot legendaris di Kota Perak. Sudah berdiri selama 40 tahun lebih dan menjadi favorit banyak orang.
Restoran ini terletak di dekat tembok kota tua. Tempatnya memang tidak terlalu besar dan meja-meja hotpot banyak yang ditempatkan di bawah pohon-pohon besar untuk menampung pelanggan. Terlihat sederhana, tapi setiap pukul tujuh malam, pengunjungnya selalu ramai berdatangan.
Untungnya malam ini tidak terlalu banyak orang. Kiki dan Rio hanya perlu antri sekitar 20 menit untuk mendapatkan tempat duduk. Tapi tempatnya di area umum, tidak begitu privat.
"Rio, kamu suka makan apa? Biar aku yang pesan."
Kiki memegang daftar menu dan merapikan rambutnya ke belakang telinga. Matanya yang bersinar memancarkan kasih sayang yang tulus.
"Aku ikut saja. Apa saja boleh..."
"Kak, kenapa kamu bisa ada di sini?"
Namun, belum sempat Rio menyelesaikan kalimatnya, seseorang memanggil Kiki dari belakang.
"Clara? Kamu juga mau makan di sini?"
Kiki langsung berdiri untuk menyapa. Tapi wajahnya langsung berubah pucat saat melihat tiga orang yang berdiri di belakang Clara.
Ibu Kiki, Ibu Ratih dan Bibinya, Bu Ratmi datang. Bersamaan dengan mereka, juga ada pacar Clara, yaitu Dimas Adiro.
"Ibu, Bibi... Kebetulan sekali."
Kiki merasa sedikit gelisah dan tanpa sadar kedua tangannya mencengkram roknya. Dia tidak menyangka mereka akan datang ke restoran yang sama malam ini. Bagaimana dengan Rio? Apa yang akan mereka katakan nanti?
"Kak, ini pacarmu ya?"
Clara menatap Rio dengan rasa ingin tahu. Tatapan mengejek terpancar jelas dari mata indahnya. Pria yang ada di depannya ini mengenakan kaos hijau army yang sudah pudar warnanya, celana jeans, dan sepatu kets yang terlihat sudah agak menguning. Penampilannya lumayan oke, tapi gaya berpakaiannya terlalu biasa. Berdiri di samping Kiki yang terlihat seperti peri, dia seperti itik buruk rupa.
"Kiki, kenapa kamu ada di sini? Bukannya kamu harus lembur malam ini?"
Pada saat yang sama, Ibu Ratih datang dengan wajah datar. Dia melirik Rio yang sedang duduk berhadapan dengan Kiki dan wajahnya semakin terlihat tidak senang.
"Bibi, halo. Saya..." Rio langsung tersenyum dan menyapa dengan sopan.
"Apa aku bicara sama kamu?"
Tanpa disangka, Ibu Ratih membalas dengan tatapan tajam dan suara yang ketus. "Aku bicara dengan anakku! Apa hakmu ikut campur?"
Rio tersenyum canggung dan dalam hati menghela napas. Sepertinya calon ibu mertuanya ini memang galak.
"Ibu..."
"Aku tanya sama kamu – dia siapa?" Ibu Ratih bertanya dengan nada memaksa dan menatap Kiki dengan dingin.
"D-dia pacarku Bu. Namanya Rio!"
Kiki menggigit bibir merahnya. Dia membalas tatapan tidak suka dari ibunya dan dengan berani menggandeng lengan Rio. Meskipun seluruh dunia menentang, dia tetap ingin bersamanya. Kali ini, tidak ada yang bisa menghentikannya.
"Pacar? Ck! Apa aku pernah menyetujui kamu punya pacar?"
Mendengar kata-kata Kiki, Ibu Ratih semakin marah. Terutama saat melihat putrinya menggandeng erat lengan Rio, dia benar-benar tidak tahu harus melampiaskan amarahnya ke mana.
Malam ini seharusnya keponakannya, Clara, dan Dimas, pacarnya, yang mentraktirnya makan malam. Sekalian ingin meminta pendapatnya tentang Dimas. Tapi kenyataannya, mereka hanya ingin pamer dan membuatnya iri.
Dimas adalah seorang pegawai negeri sipil golongan rendah yang bekerja di Dinas Pelayanan Masyarakat. Gajinya memang tidak terlalu besar, tapi dia sangat dihormati karena jabatannya. Singkatnya, seorang staf biasa dari Dinas Pelayanan Masyarakat dengan gaji 6 juta rupiah mungkin tidak akan melirik seorang pekerja kantoran dengan gaji 60 juta rupiah. Dinas Pelayanan Masyarakat – tiga kata ini sudah cukup untuk membuka semua pintu.
Apalagi Dimas masih muda dan punya potensi untuk naik jabatan.
Membandingkan dengan itu, pilihan Kiki jauh dari kata ideal. Kulitnya gelap, wajahnya lumayan oke tapi terlalu biasa. Di zaman sekarang siapa yang masih pakai sepatu kets butut? Kaos army-nya bahkan sudah pudar warnanya karena terlalu sering dicuci. Ibu Ratih merasa wajahnya memanas dan malu. Benar-benar memalukan!
"Apa pekerjaanmu? Apa yang bisa kamu berikan untuk putriku?" Ibu Ratih mengarahkan pandangannya ke Rio, seperti pisau yang siap menggorok lehernya. Nada bicaranya penuh dengan kesombongan dan meremehkan.
"Tante, saya dan Kiki..."
"Rio? Nama ini terasa familiar."
Tiba-tiba Dimas menyela pembicaraan itu. "Apa kamu Rio yang tinggal di Perumahan Damai Indah? Ayahmu namanya Pak Anwar dan ibumu namanya Bu Sarah kan?"
Rio menoleh dan menatap Dimas. Dia yakin belum pernah bertemu orang ini sebelumnya. Bagaimana dia tahu tentang dirinya?
"Saya tidak mengenal Anda."
Mendengar jawaban Rio, Dimas tertawa dengan nada yang aneh dan meremehkan.
"Mas Dimas kenal dia?"
Clara bertanya dengan rasa ingin tahu dan semua orang langsung menatap Dimas dengan penuh perhatian.
"Sebenarnya saya tidak terlalu kenal. Tapi karena pekerjaan saya, saya jadi tahu sedikit tentang dia."
Setelah berhasil menarik perhatian semua orang, Dimas mengangguk dengan puas dan berkata, "Dia ini mantan narapidana. Tiga tahun lalu dia dipenjara karena kasus penganiayaan. Kak Kiki memang kurang beruntung ya..."
"Apa? Mantan narapidana?"
"Dia pernah dipenjara?"
Mendengar berita itu, Ibu Ratih merasa dunia berputar dan hampir pingsan.
"Kiki, putusin dia sekarang juga! Atau jangan harap bisa menginjakkan kaki di rumah ini lagi!" Ibu Ratih benar-benar marah. Tidak masalah kalau pacarnya miskin, tapi ternyata dia juga pernah dipenjara? Bagaimana dia bisa mengangkat wajahnya di depan teman-teman arisannya nanti?
"Ibu, Rio tidak seperti yang ibu kira. Dia bukan orang jahat!" Kiki merasa panik dan air matanya mulai mengalir. Secara keseluruhan, dia dan Rio baru resmi pacaran belum 24 jam dan sudah ada panggilan putus? Dia sudah menunggu selama tujuh tahun hanya untuk mendengar kata-kata itu? Tidak! Dia tidak mau!
Sementara itu, Rio menepuk bahu Kiki dengan lembut – wajahnya tetap tenang tanpa menunjukkan emosi apa pun. Dia melirik ke arah Dimas dengan rasa ingin tahu. Dia penasaran bagaimana bisa orang itu tahu tentang keluarganya.
"Kiki, apapun alasannya, itu tidak bisa mengubah fakta bahwa dia pernah dipenjara. Dengar kata bibi. Putusin dia sekarang dan nanti bibi akan kenalkan dengan pria yang lebih baik." Bu Ratmi juga ikut menasihati dengan nada yang lembut, tapi di dalam hatinya dia merasa sangat senang.
Tidak diragukan lagi, Kiki adalah anggota keluarga yang paling sukses. Dia cantik, punya karir yang bagus, dan juga seorang dokter. Tapi apa gunanya semua itu kalau ternyata dia malah memilih seorang mantan narapidana sebagai pacar? Benar-benar memalukan!
"Benar kak. Dia memang tidak pantas untukmu." Clara juga ikut memanas-manasi suasana dan dengan semangat menghina Rio.
"Kiki, dengar kata ibumu. Segera tinggalkan dia. Kamu punya banyak penggemar kok. Semalam saja ada yang nganterin kamu pulang pakai Mercedes G, orangnya baik banget." Ibu Ratih berusaha keras membujuknya. "Kamu dengar kata ibumu ya. Aku dan ayahmu hanya punya kamu satu-satunya anak perempuan. Ini semua demi kebaikan kamu. Apa mungkin kami mau mencelakaimu?"
"Ibu... yang mengendarai Mercedes G semalam adalah Rio." Kiki tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia tahu ibunya selalu melihat segalanya dari sudut pandang keuntungan.
"Ah, benarkah?" Ibu Ratih terdiam. Seorang mantan narapidana bisa naik Mercedes G?
"Memangnya kenapa kalau dia naik Mercedes G? Apakah mobil mewah bisa menutupi fakta bahwa dia seorang narapidana?" Bu Ratmi merasa tidak senang karena calon menantunya, Dimas, hanya mengendarai mobil Toyota Avanza yang harganya tidak seberapa dibandingkan dengan Mercedes G.
Mendengar itu, cahaya yang baru saja muncul di mata Ibu Ratih kembali meredup.