Kisah Pencinta Yang Asing
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detik Detik Yang Menakutkan
Di usia kehamilannya yang menginjak enam bulan, Guzzel harus menghadapi kenyataan bahwa kekuatannya memiliki batas.
Sore itu, di perpustakaan kediaman Dante, Guzzel tiba-tiba merasakan kram yang luar biasa di perut bagian bawahnya. Pandangannya mengabur, dan keringat dingin membanjiri keningnya. Sebelum ia sempat memanggil pelayan, Guzzel jatuh pingsan di atas karpet Persia.
Kabar itu sampai ke telinga Max seperti petir di siang bolong. Tanpa memedulikan lampu merah atau keselamatannya sendiri, Max memacu mobilnya menuju rumah sakit swasta keluarga Dante. Di sana, ia dihadang oleh Mr. Dante di depan ruang perawatan intensif.
Wajah Mr. Dante tampak keras, namun ada sisa kesedihan di matanya. Max langsung berlutut di depan pria tua itu, mengabaikan martabatnya sebagai seorang Vance.
"Maafkan aku, Sir. Ini semua karena aku. Biarkan aku melihatnya," pinta Max dengan suara parau.
Mr. Dante menghela napas panjang, lalu membimbing Max duduk di kursi tunggu. "Max, aku melihat apa yang kau lakukan di media. Aku tahu kau mencintai putriku. Tapi sebagai seorang ayah, aku tidak bisa membiarkan Guzzel terus-menerus menjadi sasaran antara kau, ayahmu, dan wanita Belanda itu.
Guzzel mengalami kontraksi dini karena stres berlebihan. Nyawanya dan nyawa cucuku terancam."
Max menunduk, air matanya jatuh ke lantai rumah sakit. "Aku akan melakukan apa pun, Sir."
"Dengar, Max," lanjut Mr. Dante dengan nada yang lebih melunak. "Aku tidak akan melarangmu menemuinya. Bahkan, aku ingin kau ada di sisinya karena hanya kau yang ia cari saat ia mengigau tadi. Tapi, aku tidak akan menikahkanmu dengan Guzzel sampai kau menyelesaikan masalah dengan ayahmu sepenuhnya. Aku tidak ingin putriku masuk ke keluarga Vance sebagai korban. Bersihkan namamu, hancurkan pengaruh Chelsea, dan jemput Guzzel sebagai pria yang merdeka. Sampai saat itu tiba, jadilah pelindungnya, bukan suaminya."
Max mendongak, matanya penuh tekad. "Terima kasih, Sir. Aku berjanji, saat aku memakaikan cincin pernikahan di jarinya, tidak akan ada satu orang pun di dunia ini yang berani menghinanya lagi."
Max masuk ke kamar rawat Guzzel dengan langkah sangat pelan. Guzzel terbaring lemah dengan berbagai alat pemantau di perutnya. Saat melihat Max, air mata Guzzel luruh. Benteng yang ia bangun selama berhari-hari runtuh seketika saat melihat pria yang paling ia cintai ada di depannya.
Max duduk di sisi tempat tidur, mengambil tangan Guzzel dan menciumnya berkali-kali. "Maafkan aku, Lia... Maafkan aku."
Guzzel menggeleng lemah. "Dia... dia bergerak sangat kuat tadi, Max. Aku sangat takut."
Max perlahan mengulurkan tangannya, meletakkannya di atas perut Guzzel yang kini sudah membuncit nyata di balik gaun rumah sakit.
Tiba-tiba, ia merasakan sebuah dorongan kecil namun tegas dari dalam. Sebuah tendangan.
Mata Max membelalak. Senyum pertama yang tulus setelah sekian lama muncul di wajahnya. "Dia menendang, Guzzel. Dia menyapaku."
Guzzel tersenyum di tengah tangisnya, tangannya menangkup tangan Max yang ada di perutnya. "Dia tahu ayahnya ada di sini. Dia tahu kau sedang menjaganya."
"Dia sangat kuat, persis sepertimu," bisik Max, mendekatkan wajahnya ke perut Guzzel dan mengecupnya dengan penuh pemujaan. "Dengar, jagoan kecil. Maafkan Daddy karena membuat Mommymu sedih. Daddy sedang membangun kerajaan yang aman untukmu. Jangan nakal di dalam sana, oke? Jaga Mommymu untukku."
Guzzel mengelus rambut Max, merasakan kehangatan yang selama ini ia rindukan. Segala keraguan tentang "terapi seksual" atau kata-kata Chelsea seolah menguap saat ia melihat betapa tulusnya Max berinteraksi dengan janin di rahimnya.
Malam itu, dalam kesunyian kamar rumah sakit, Max mendekap Guzzel dengan sangat hati-hati. Mereka tidak melakukan penyatuan yang panas seperti biasanya, melainkan sebuah pelukan jiwa yang jauh lebih dalam.
"Max," panggil Guzzel pelan.
"Hmm?"
"Ayahku bilang kau tidak boleh menikahiku sampai semuanya selesai."
Max mengangguk, ia mencium kening Guzzel. "Ayahmu benar. Aku tidak ingin kau menyandang nama Vance saat nama itu masih dikotori oleh ambisi busuk ayahku. Tapi aku ingin kau memegang janjiku ini."
Max mengambil sebuah kotak beludru dari sakunya, cincin emerald itu lagi. Ia menyematkannya di jari manis Guzzel, namun kali ini ia tidak membiarkannya lepas.
"Begitu bayi kita lahir, dan begitu aku berhasil meruntuhkan takhta ayahku, aku akan membawamu ke altar. Tidak akan ada pesta media, tidak ada kepentingan bisnis. Hanya kita berdua, bayi kita, dan sumpahku untuk mencintaimu sampai napas terakhirku.
Kita akan menikah di pondok yang aku beli di pedesaan, seperti yang kita bicarakan di Veloce dulu."
Guzzel menatap cincin itu, lalu menatap Max. "Aku akan menunggumu, V. Selesaikan perangmu, dan kembalilah padaku sebagai pria yang utuh."
"Aku akan kembali, Lia. Selalu."
Max menghabiskan malam itu dengan membisikkan rencana-rencana indah di telinga Guzzel, tentang bagaimana warna kamar bayi mereka nanti, dan bagaimana ia akan mengajari anak mereka bermain piano. Guzzel tertidur dalam dekapan Max, merasa benar-benar basah oleh kasih sayang, bukan oleh air mata kepedihan lagi.
Sementara di luar sana, Max tahu Chelsea dan ayahnya sedang merencanakan serangan terakhir, tapi kali ini Max tidak takut. Ia memiliki alasan terkuat untuk menang, seorang istri yang menantinya dan seorang anak yang baru saja memberinya tendangan kehidupan.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
happy reading 🥰😍