NovelToon NovelToon
Penguasa Terakhir

Penguasa Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Dunia Lain / Romansa Fantasi / Epik Petualangan / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: Kon Aja

Zoran Shihai adalah pemuda 19 tahun dari Bumi yang hidup sebagai perampok jalanan. Ia mencuri bukan karena rakus, melainkan demi bertahan hidup. Namun satu kesalahan fatal yakni merampok keluarga kaya yang terhubung dengan dunia gelap membuat hidupnya berubah selamanya.

Dikejar para pembunuh bayaran, Zoran terjebak dalam pelarian putus asa yang berakhir pada sebuah retakan ruang misterius. Ketika ia membuka mata, ia tidak lagi berada di Bumi, melainkan di Dunia Pendekar, sebuah dunia kejam tempat kekuatan menentukan segalanya.

Terlempar ke Hutan Angin dan Salju, Zoran harus bertahan dari cuaca ekstrem, binatang buas, manusia berkuasa, dan kelaparan tanpa ampun. Di dunia ini, uang Bumi tak berarti, belas kasihan adalah kelemahan, dan bahkan seorang pemilik kedai tua bisa memiliki kekuatan mengerikan.

Tanpa bakat luar biasa, tanpa guru, dan tanpa sistem,

Ini adalah kisah tentang bertahan hidup, ironi, dan kebangkitan seorang manusia biasa di dunia yang tidak memberi ampun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kon Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apa kamu mau menolak kebaikanku lagi?

Setengah jam berlalu.

Entah apa yang Zoran lakukan, atau lebih tepatnya, entah apa yang terjadi pada dirinya, namun dia masih berdiri di tempat yang sama.

Tubuhnya tegak, matanya terbuka, tetapi pandangannya kosong. Seolah jiwanya tertinggal di medan pertempuran tadi.

Satu jam berlalu.

Zoran tampak seperti patung manusia. Salju turun perlahan, menempel di rambutnya, di bahunya, di luka-luka terbuka yang belum mengering. Namun dia tidak bergerak sedikit pun. Tidak berkedip. Tidak bernapas dengan jelas.

Dua jam kemudian,

Langkah kaki pelan terdengar di tengah salju.

Seorang gadis berjalan mendekat, menatap sosok Zoran yang berdiri diam dengan ekspresi heran. Dia berhenti beberapa langkah di depannya, lalu tersenyum riang.

“Halo,” sapa gadis itu ringan.

Tidak ada jawaban.

Zoran tidak menoleh. Tidak bereaksi. Tatapannya masih kosong, seolah dunia di sekitarnya tidak lagi ada.

“Halo, tuan,” ulang gadis itu, kali ini sedikit lebih keras, namun senyumnya tetap terpasang.

Tetap tidak ada respons.

Gadis itu mengerutkan kening. Senyum riangnya perlahan memudar, digantikan rasa kesal. Diabaikan seperti ini jelas bukan hal yang menyenangkan.

Dia mendekat dan menggoyang-goyangkan tubuh Zoran beberapa kali.

“Halo!” katanya. Bahkan dia berteriak di dekat telinga Zoran.

Tiba-tiba,

Zoran tersentak. Matanya berkedip cepat, tubuhnya sedikit terhuyung seolah baru saja kembali dari tempat yang sangat jauh. Dia menoleh dan langsung terkejut melihat sosok di depannya.

Itu dia.

Gadis yang sama.

Gadis yang pernah menamparnya sampai pingsan. Gadis yang memberinya roti. Gadis yang meninggalkan obor.

“Kamu…?” Zoran menatapnya heran. “Ada apa kamu ke sini?”

Gadis itu tersenyum riang, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. “Tentu saja untuk mengobatimu,” jawabnya santai. “Kenapa? Apa kamu mau menolak kebaikanku lagi?”

Zoran tertegun. Untuk sesaat, kata-kata gadis itu tidak langsung masuk ke kepalanya. Matanya justru terpaku pada wajah gadis itu.

Rambut hitam panjangnya terurai rapi, berkilau tertimpa cahaya pucat. Kulitnya putih seperti salju yang baru turun, bersih dan alami. Senyum di bibirnya lembut, hangat, dan… jujur.

Tubuhnya proporsional, tidak kurus, tidak berlebihan. Kaki jenjangnya terlihat jelas meski tertutup pakaian sederhana. Tidak ada riasan, tidak ada perhiasan mencolok.

Namun justru karena itulah, dia terlihat cantik.

Cantik yang tidak dibuat-buat.

Cantik yang terasa nyata.

Zoran tersadar bahwa untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini, dia melihat sesuatu yang tidak berbahaya.

“Apa dia pingsan karena tidak tahan dengan rasa sakitnya?” pikir gadis itu dengan bingung, melihat Zoran kembali terdiam tanpa bereaksi.

Zoran tersentak ringan. Matanya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya dia menggeleng pelan. Tanpa menjawab, dia berbalik dan berjalan tertatih ke arah tendanya, atau lebih tepatnya, sisa-sisa tenda yang sudah hancur.

Dia mengambil obor yang tergeletak di tanah, lalu mulai menyalakan api.

Gadis itu menatapnya dengan ekspresi semakin bingung.

Dalam kondisi tubuh seperti ini, penuh luka, darah mengering, dan napas tidak stabil, Zoran justru sibuk membuat api. Dia membakar telur yang dilapisi tanah, lalu memanaskan salju menggunakan batu berlubang sampai mencair.

Setelah itu, dia mengambil beberapa bunga merah-oranye dan memasukkannya ke dalam air panas.

Gadis itu mendekat, matanya mengikuti setiap gerakan Zoran. Namun begitu melihat bunga yang dimasukkan ke dalam air, wajah gadis itu langsung berubah. Matanya membelalak. “Teratai Salju Api Merah,” serunya tanpa sadar.

Zoran berhenti sejenak, tapi tidak menoleh.

Gadis itu menatap bunga-bunga itu dengan ekspresi sulit dijelaskan, antara terkejut, ngeri, dan tidak percaya.

Teratai Salju Api Merah adalah tanaman langka yang hanya tumbuh di tempat dengan es abadi, wilayah yang saljunya tidak pernah mencair, bahkan di siang hari.

Hutan Angin dan Salju adalah salah satu dari sedikit tempat di dunia ini yang memungkinkan bunga itu tumbuh.

Anehnya, meski hidup di lingkungan sedingin ini, kelopak bunganya justru berwarna merah darah bercampur oranye menyala. Seolah ada api yang membeku di tengah dingin. Putiknya ramping dan memancarkan cahaya samar, indah namun menyesatkan.

Keindahannya begitu mencolok hingga membuat siapa pun yang melihatnya lupa akan kewaspadaan.

Tanpa sadar, mereka mendekat.

Dan tanpa sadar pula, mereka mati.

Saat dikonsumsi, racun Teratai Salju Api Merah tidak menyerang dari perut seperti racun biasa. Panasnya menyebar langsung dari jantung, merambat ke seluruh tubuh.

Korban akan merasakan sensasi terbakar dari dalam, meskipun kulit mereka tetap dingin membeku. Rasa haus ekstrem muncul, disertai ilusi api dan cahaya merah yang menari di penglihatan mereka.

Pada akhirnya, mereka mati bukan karena luka fisik. Melainkan karena jiwa mereka terbakar habis.

Yang paling mengerikan,

Banyak korban ditemukan dengan senyum di wajah mereka. Seolah merasa hangat dan nyaman, meski tubuh mereka membeku di tengah badai salju.

Karena itulah, sebagian orang menyebutnya dengan nama lain, yakni Bunga Cantik yang Membunuh dengan Kehangatan.

“Apa kamu mengatakan sesuatu?” tanya Zoran heran sambil mengangkat wadah batu berisi air rebusan bunga itu, berniat meminumnya.

Melihat tindakan bodoh itu, wajah gadis tersebut langsung berubah.

“Jangan, !!”

Plak!

Tangan gadis itu menampar tangan Zoran dengan keras. Wadah batu terlepas, air panas bercampur bunga itu tumpah ke tanah bersalju, menguap perlahan sebelum lenyap.

Zoran terkejut. Matanya melebar, lalu berubah dingin. Dia menoleh menatap gadis itu dengan ekspresi tidak senang.

Namun sebelum dia sempat membuka mulut...

“Apa kamu bodoh sampai-sampai mau meminum racun seperti itu?” gadis itu sudah lebih dulu bicara.

Nada suaranya tajam. Tatapannya menusuk, benar-benar seperti sedang menatap orang bodoh yang tidak bisa ditolong.

Zoran mengerutkan kening. Raut wajahnya jelas tidak senang. “Apa maksudmu?” tanyanya kesal.

Dia benar-benar tidak tahu.

Gadis itu menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala. “Kamu ini benar-benar bodoh, ya,” katanya tanpa basa-basi. “Apa kamu tidak tahu kalau bunga itu adalah racun?”

Zoran terkejut. Namun keterkejutannya hanya berlangsung sesaat. Dia teringat bahwa sebelumnya dia memakan bunga itu, bahkan meminumnya, dan tidak terjadi apa-apa. Tidak ada rasa panas berlebihan, tidak ada ilusi, tidak ada tanda-tanda sekarat.

“Sudah, sudah,” katanya sambil mengibaskan tangan, berusaha menutupi kebingungannya. “Ada apa kamu menemuiku sebenarnya?” tanyanya, sengaja mengalihkan topik.

Gadis itu menatapnya beberapa detik, lalu terkekeh kecil. Dia ikut duduk di dekat api unggun, seolah sama sekali tidak terganggu oleh sikap Zoran.

“Bukankah aku sudah bilang?” katanya santai. “Aku ke sini karena ingin mengobatimu.”

Zoran meliriknya dari atas ke bawah. Tubuh gadis itu terlihat ramping, bersih, dan terlalu… rapi. Sulit membayangkan seseorang seperti itu bisa mengobati luka separah miliknya.

“Memangnya kamu bisa?” tanya Zoran ragu. “Lihat lukaku. Ini bukan luka kecil.”

Gadis itu tersenyum tipis. “Tentu saja bisa.” Sambil berkata demikian, dia mengangkat tangannya.

Cahaya samar berkilat.

Di udara, beberapa benda tiba-tiba muncul satu per satu, jatuh dengan rapi ke tanah di sampingnya, botol kecil berisi cairan bening, kain pembalut, jarum tipis, dan beberapa ramuan kering.

Semuanya keluar dari sebuah cincin yang melingkar di jarinya.

Zoran membeku. Matanya menatap cincin itu tanpa berkedip. “Cincin penyimpanan?” gumamnya pelan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!