Bagi Araluna, Arsen Sergio adalah kakak tiri paling menyebalkan yang hobi memanggilnya "Bocil". Namun, di balik kejailan Arsen, Luna menyimpan rahasia besar: ia jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Demi menutupi rasa itu, Luna bertingkah menjadi "cegil" yang agresif dan obsesif. Situasi makin gila saat teman-teman Arsen menyangka Luna adalah pacarnya. Luna tidak membantah, ia justru mulai melancarkan taktik untuk menjerat hati sang kakak.
Di antara status saudara dan perasaan yang dilarang, apakah Luna berhasil membuat Arsen berhenti memanggilnya "Bocil" dan berganti menjadi "Sayang"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Malam itu, kamar Arsen yang biasanya sunyi dan tertata rapi kini terasa lebih "hidup"—atau lebih tepatnya, sedikit kacau—karena kehadiran Araluna. Gadis itu duduk bersila di atas ranjang Arsen, sementara sang pemilik kamar sedang duduk di kursi meja belajar, berusaha memfokuskan pikirannya pada laptop meski ia tahu itu usaha yang sia-sia selama Luna ada di sana.
Luna sedang sibuk dengan benda di tangannya: ponsel milik Arsen. Tentu saja, ia merebutnya dengan paksa saat Arsen baru saja meletakkannya untuk mengambil air minum.
"Lagi apa Arsen? Udah makan belum? Besok ada matkul apa aja? Siapa tahu aku bisa bantu?" Luna membacakan pesan-pesan yang masuk dari Clarissa dengan nada bicara yang dibuat-buat, sangat tinggi dan centil.
Luna mendengus kencang, melempar ponsel itu ke atas kasur seolah benda itu beracun. "Wah, dia ini agen FBI atau apa? Perhatian banget sampai jadwal kuliah lo aja ditanyain! Dasar modus!"
Arsen menoleh, membetulkan kacamatanya dengan gerakan kaku yang khas. "Dia cuma berusaha ramah, Lun. Papa yang kasih nomor gue ke dia."
"Ramah itu nanya kabar, kalau ini mah investigasi!" Luna menyambar kembali ponsel itu. Jemarinya bergerak lincah di atas layar. "Gue bales ya. Biar dia tau rasa."
"Araluna, jangan macem-macem—"
Terlambat. Luna sudah mengetikkan balasan dengan senyum licik di wajahnya:
"Kak Arsen udah tidur. Dia kalau tidur diganggu bisa berubah jadi singa. Mending Kakak tidur juga, jangan begadang, nanti matanya jadi kayak panda. Bye!"
"Nah, terkirim!" Luna meletakkan ponsel itu dengan puas. "Biar dia tau kalau lo itu 'aset' yang sudah dijaga ketat."
Sejak kejadian panas di tangga beberapa hari lalu, suasana di antara mereka memang berubah drastis. Ada sebuah kesepakatan tak tertulis bahwa setiap kali Papa dan Bunda sudah masuk ke kamar, Araluna akan menyelinap ke kamar Arsen. Kamar ini menjadi satu-satunya tempat di mana Arsen bisa menanggalkan jubah "kakak tiri yang kaku" dan Luna bisa menjadi dirinya sendiri tanpa perlu akting di depan orang tua.
Luna turun dari ranjang, berjalan perlahan mendekati Arsen. Ia berdiri di belakang kursi cowok itu, lalu melingkarkan tangannya di leher Arsen, menyandarkan dagunya di bahu bidang yang selalu terasa kokoh itu.
"Terus kapan rencana lo nolak Clarissa secara resmi, Kak?" bisik Luna tepat di telinga Arsen. "Dia itu fake tau nggak. Sok manis kayak gulali di depan lo, tapi gue yakin di belakang dia itu tipe cewek yang bakal ngatur-ngatur idup lo."
Arsen terdiam sejenak, merasakan kehangatan tubuh Luna dan wangi parfum stroberi yang mulai memenuhi indra penciumannya. Ia memegang tangan Luna yang melingkar di lehernya, mengusap punggung tangan gadis itu dengan jempolnya.
"Gue nggak bisa langsung nolak, Lun. Papa lagi ada proyek besar sama ayahnya Clarissa. Kalau gue nolak mentah-mentah sekarang, posisi Papa di kantor bisa sulit," jelas Arsen dengan suara rendah. "Gue lagi cari celah. Gue mau dia yang nolak gue duluan."
Luna memutar tubuh kursi Arsen sehingga mereka sekarang berhadapan. Luna duduk di pangkuan Arsen tanpa ragu—tindakan "cegil" yang selalu berhasil membuat napas Arsen tercekat.
"Lama banget kalau nunggu dia yang nolak," keluh Luna sambil memainkan kancing kemeja Arsen. "Gimana kalau gue aja yang bikin dia ilfeel? Gue bisa kok akting jadi adek tiri yang paling gila sedunia biar dia mikir dua kali buat masuk ke keluarga ini."
Arsen menatap Luna dengan tatapan yang sangat dalam. Kekakuannya perlahan mencair, digantikan oleh sorot mata posesif yang hanya ia tunjukkan pada Luna. "Lo nggak perlu akting, Lun. Lo emang udah gila."
"Gila karena siapa? Karena lo!" Luna menarik kerah baju Arsen, mendekatkan wajah mereka. "Lo jangan sampai kemakan omongan manis dia ya. Kalau gue liat lo bales chat dia pake emoji senyum aja, gue bakal bakar buku-buku kuliah lo!"
Arsen terkekeh rendah, suara tawa yang hanya bisa didengar oleh Luna. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Luna, menarik gadis itu lebih dekat hingga tidak ada jarak lagi. Di kamar yang remang ini, hanya diterangi lampu meja belajar, tensi di antara mereka kembali memuncak.
"Gue nggak butuh gulali kalau gue udah punya yang lebih manis di sini," ucap Arsen. Ia menunduk, mencium leher Luna dengan lembut, membuat gadis itu memejamkan mata dan meremas bahu Arsen.
"Janji ya, Kak? Cuma gue," gumam Luna di sela napasnya yang mulai tak beraturan.
"Janji. Hanya lo, Araluna," jawab Arsen mantap.
Sifat kaku Arsen mungkin masih ada saat mereka berada di luar, di depan Papa, Bunda, atau teman-teman kampus. Namun di dalam kamar ini, Arsen Sergio adalah milik Araluna sepenuhnya. Dan bagi Luna, meskipun Clarissa datang membawa seribu perhatian, ia tahu bahwa ia adalah pemenang sejatinya karena ia memiliki sisi Arsen yang tidak pernah dilihat oleh dunia.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di koridor luar. Arsen dan Luna langsung mematung.
"Arsen? Kamu belum tidur? Lampunya masih nyala," suara Papa Arga terdengar dari balik pintu.
Luna dengan sigap melompat turun dan bersembunyi di balik lemari besar Arsen, sementara Arsen segera meraih buku di mejanya.
"Belum, Pa! Sedikit lagi selesai!" jawab Arsen dengan suara yang kembali kaku dan datar, seolah tidak terjadi apa-apa.
Setelah langkah kaki Papa menjauh, Luna mengintip dari balik lemari dengan cengiran lebar. "Nyaris saja! Kayaknya kita emang harus belajar jadi agen mata-mata beneran kalau mau terus begini."
Arsen hanya bisa menggelengkan kepala, namun dalam hati ia bersyukur. Kehadiran Luna, dengan segala kegilaannya, adalah satu-satunya hal yang membuat hidupnya yang kaku terasa jauh lebih berwarna.