"Mencintai Pak Alkan itu ibarat looping tanpa break condition. Melelahkan, tapi nggak bisa berhenti"
Sasya tahu, secara statistik, peluang mahasiswi "random" sepertinya untuk bersanding dengan Alkan Malik Al-Azhar—dosen jenius dengan standar moral setinggi menara BTS—adalah mendekati nol. Aris adalah definisi green flag berjalan yang terbungkus kemeja rapi dan bahasa yang sangat formal. Bagi Aris, cinta itu harus logis; dan jatuh cinta pada mahasiswa sendiri sama sekali tidak logis.
Tapi, bagaimana jika "jalur langit" mulai mengintervensi logika?
Akankah hubungan ini berakhir di pelaminan, atau justru terhenti di meja sidang sebagai skandal kampus paling memilukan? Saat doa dua pertiga malam beradu dengan aturan dunia nyata, siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatin fatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 21
Rumah yang biasanya terasa hangat kini sunyi, hanya menyisakan bunyi detak jam dinding yang seolah menghitung setiap detik kecanggungan. Sasya sudah diperbolehkan pulang, namun ia kembali bukan sebagai istri yang ceria, melainkan sebagai pasien yang rapuh.
Alkan membopong Sasya dari mobil ke kamar dengan gerakan yang sangat lembut, seolah-olah Sasya adalah porselen retak yang bisa hancur kapan saja. Ia tidak banyak bicara. Tatapannya penuh dengan penyesalan yang belum tuntas.
"Mas... aku bisa jalan sendiri pelan-pelan," bisik Sasya saat Alkan menyelimutinya di tempat tidur.
"Dokter bilang bed rest total, Sya. Jangan membantah untuk yang satu ini," jawab Alkan datar, namun ada nada memohon di balik suaranya. Ia segera berbalik untuk mengambilkan air minum, menghindari kontak mata yang terlalu lama.
Selama tiga hari pertama, Alkan berubah menjadi "pelayan" yang sempurna namun robotik. Ia menyiapkan makanan, menyuapi Sasya, memastikan obat diminum tepat waktu, tapi ia kehilangan suaranya. Tidak ada lagi gurauan tentang algoritma, tidak ada lagi diskusi jurnal.
Sasya merasa seperti sedang tinggal bersama orang asing yang sangat baik hati, bukan dengan suaminya.
"Mas," panggil Sasya saat Alkan hendak keluar kamar untuk bekerja di ruang sebelah. "Mas marah ya karena aku bikin bayi kita bahaya?"
Alkan berhenti di ambang pintu. Bahunya menegang. Ia berbalik, menatap Sasya dengan mata yang kemerahan. "Saya tidak marah padamu, Sasya. Saya marah pada diri saya sendiri. Setiap kali saya melihat wajahmu, saya melihat monster yang membentak istrinya yang sedang hamil sampai masuk rumah sakit. Saya... saya sedang mencoba memaafkan diri saya, tapi tidak bisa."
"Tapi Mas menjauh dariku. Itu malah bikin aku stres, Mas," suara Sasya mulai bergetar. "Aku butuh suami aku, bukan cuma perawat yang sedia 24 jam."
Alkan pun mendekap Sasya yang menangis.
Malam itu, hujan turun dengan deras, mendinginkan udara namun menghangatkan suasana di dalam kamar. Alkan masuk ke kamar setelah menyelesaikan pekerjaannya. Ia melihat Sasya masih terjaga, menatap rintik hujan di balik jendela.
Alkan mendekat, lalu duduk di tepi tempat tidur. Kali ini ia tidak langsung berdiri. Ia memberanikan diri menyentuh jemari Sasya.
"Sasya... mari kita bicara. Tanpa ego, tanpa rumus," ujar Alkan lembut.
Sasya menoleh, air matanya jatuh. "Mas, aku minta maaf karena nggak nurut. Aku cuma mau merasa normal sebentar aja. Aku nggak mau dipenjara dalam ketakutan Mas."
Alkan menarik napas panjang, lalu perlahan ia naik ke tempat tidur dan menarik Sasya ke dalam pelukannya. Sangat hati-hati, seolah takut menyakiti perut Sasya yang menjadi pusat kekhawatiran mereka.
"Mas yang salah, Sya. Mas terlalu fokus melindungi kamu dari luar, sampai Mas lupa kalau Mas justru melukai kamu dari dalam. Mas janji, tidak akan ada lagi bentakan. Mas akan belajar percaya kalau Allah yang menjaga kalian, bukan cuma keamanan buatan Mas."
Alkan mencium kening Sasya lama sekali. Kehangatan itu mulai mencairkan kekakuan di antara mereka. Tangan Alkan beralih mengusap perut Sasya yang kini terasa tenang, tidak lagi kencang seperti saat di rumah sakit.
Di bawah selimut yang hangat, Alkan tidak lagi menjaga jarak. Ia memeluk Sasya erat, memberikan panas tubuhnya untuk mengusir kedinginan yang sempat membeku di antara mereka. Ciuman Alkan malam ini bukan tentang gairah yang menuntut, melainkan tentang permohonan ampun dan pemulihan.
Sentuhan Alkan terasa sangat emosional. Ia menciumi pundak Sasya, membisikkan kata-kata cinta yang selama beberapa hari ini tertahan di tenggorokan. Sasya menyambutnya dengan isak tangis yang perlahan mereda, merasakan suaminya telah "kembali".
Penyatuan mereka malam itu adalah sebuah healing session. Setiap sentuhan adalah cara mereka saling memaafkan. Alkan memperlakukan Sasya dengan kelembutan yang luar biasa, memastikan setiap gerakannya membawa kenyamanan. "Udah y,kamu harus istirahat sayang"
"Kita mulai dari nol lagi ya, Mas?" bisik Sasya di dada Alkan.
"Bukan dari nol, Sya. Kita mulai dari versi yang lebih stabil. Versi yang lebih mengerti arti sabar," jawab Alkan sambil mendekap Sasya hingga keduanya tertidur lelap.
Keesokan paginya, kondisi Sasya jauh lebih segar. Namun, sebuah paket misterius tiba di depan rumah. Bukan ancaman, melainkan sebuah undangan dari sebuah Universitas di Inggris untuk Alkan: Gelar Profesor Kehormatan dan Riset Bersama selama 1 tahun.
Ini adalah impian setiap dosen. Namun, itu berarti Alkan harus memboyong Sasya yang sedang hamil ke luar negeri, atau meninggalkan istrinya dalam kondisi pemulihan.
"Mas... ini kesempatan sekali seumur hidup," ujar Sasya saat membaca surat itu.
Alkan menatap Sasya, lalu menatap surat itu. "Saya tidak akan pergi kalau itu artinya membahayakan kamu lagi. Tapi kalau kita pergi berdua... apakah kamu siap untuk pindah ikut ke London?"