NovelToon NovelToon
Jodohku Mas Duda Jutek

Jodohku Mas Duda Jutek

Status: tamat
Genre:Duda / Pernikahan Kilat / Tamat
Popularitas:8.2M
Nilai: 4.8
Nama Author: Asri Faris

Setelah kepergian istrinya, Hanan Ramahendra menjadi pribadi yang tertutup dan dingin. Hidupnya hanya tentang dirinya dan putrinya. Hingga suatu ketika terusik dengan keberadaan seorang Naima Nahla, pribadi yang begitu sederhana, mampu menggetarkan hatinya hingga kembali terucap kata cinta.

"Berapa uang yang harus aku bayar untuk mengganti waktumu?" Hanan Ramahendra.

"Maaf, ini bukan soal uang, tapi bentuk tanggung jawab, saya tidak bisa." Naima Nahla

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asri Faris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

"Selamat mengajar!" seru Pak Hanan melambaikan tangannya setelah berpamitan. Nahla mengangguk dengan senyuman.

"Cie ... Bu Nahla, pagi Bu!" sapa seorang siswa beramah tamah. Muridnya itu lumayan akrab di kelasnya. Jadi, sedikit menggoda kala melihat guru favoritnya diantar seseorang.

"Pagi Satrio! Kenapa Sat? Masuk!" ujarnya tersenyum.

"Bu, nanti jadi ulangan kah?" tanya Satrio lagi berharap gagal.

"Jadilah ... persiapkan biar nggak mengulang."

Seperti biasa Nahla menghabiskan waktunya setengah hari lebih di sekolahan. Beruntung sekarang tidak lagi menjadi guru private lantaran Hanan memintanya berhenti. Nahla sebenarnya masih cukup menikmati, tetapi sepertinya suaminya itu tidak mau kalau waktunya di luar semakin banyak.

Sesuai mandat, Nahla langsung pulang ke rumah. Masih sore, baru juga pukul tiga. Perempuan itu pulang dengan taksi, sepertinya besok ia berniat membawa motor kesayangannya itu agar bisa pulang pergi sendiri dan tidak terlalu repot. Terutama kalau jam pulang begini, tidak harus menunggu taksi.

Mau ke mana saja juga tidak harus nunggu-nunggu lagi. Seperti sore ini yang berniat singgah sejenak menyampaikan pesanan ibu.

Suara salam jelang sore itu langsung disambut Icha dengan suka cita.

"Mama pulang, ini bawa apa?" tanya Icha menghampiri dengan semangat.

"Owh ini donat, mau sayang?"

Sebelum pulang Nahla tadi sempat mampir ke toko kue langganannya. Menyampaikan pesanan ibu yang minggu depan nanti ingin memesan dalam jumlah banyak. Tentu saja untuk acara resepsi pernikahan dirinya. Sudah mulai disiapkan, begitu pula dengan undangannya. Ibu dan anak itu berkomunikasi lewat telepon.

"Mau Ma, tapi kata papa tidak boleh makan yang manis-manis terlalu banyak. Nanti giginya nggak bagus."

"Kan bisa gosok gigi sayang, harus diimbangi juga nggak pa-pa, lagian ini donat, bukan permen." Sepertinya Hanan menerapkan metode mengasuh yang cukup posesif dan keras. Buktinya bocah yang hampir genap enam tahun itu cukup patuh.

"Berarti ini boleh ya Ma?" ujarnya kegirangan.

"Boleh, ambil saja. Icha sudah makan?" tanya Nahla perhatian.

"Belum, nungguin mama," ujar gadis itu blak-blakan.

"Sore Buk, baru pulang?" sapa art rumahnya ketika Nahla menyambangi belakang.

"Sore Mbok, donat Mbok, di meja ambil saja," tawar Nahla sembari menuang air putih ke dalam gelas. Cukup haus, jadi langsung ke dapur sebelum menyambangi kamar.

"Mbok, nanti sebelum pulang, aku minta tolong beresin cumi dulu ya, sama buatin bumbu ungkep. Aku mau masak buat makan malam," pesan Nahla sedikit merubah kebiasaan suaminya yang lebih sering pesan di luar. Sepertinya kali ini perempuan itu harus menyiapkan dan terbiasa menyediakan makanan home made yang sehat.

"Siap Buk," jawab mbok mengiyakan.

Nahla lebih dulu menyambangi kamarnya. Menukar seragamnya dengan pakaian santai. Ia akan mandi nanti saja setelah bergelut dengan dapur. Sejatinya ia capek, tapi merasa harus bersikap demikian dan merasa bertanggung jawab memperhatikan kebutuhan anak dan suaminya.

Usai menunaikan ibadah ashar lebih dulu, Nahla langsung terjung ke dapur. Dibantu mbok menyiapkan dan mengulek bumbu. Perempuan itu mulai memasak sesuai yang ia bisa dan tahu. Walaupun di rumah masih sering manja dengan ibu, beda cerita setelah menjadi istri orang, Nahla merasa harus melakukan sesuatu.

"Udah sore, terima kasih mbok udah dibantuin, simbok boleh pulang," ujar Nahla setelah tinggal menunggu matang saja.

"Iya Bu, siap," jawabnya dengan senang hati.

Nahla sendiri masih menyelesaikan urusan dapurnya. Perempuan itu menyiapkan semuanya di meja makan, lalu beranjak mandi.

"Hmm ... enak nih Ma, Icha mau makan boleh?"

"Boleh sayang, ambil saja. Mama mau mandi dulu ya," ujar Nahla kembali ke kamar. Bersih-bersih menyambut suaminya pulang sembari rehat sejenak. Rasanya lumayan pegel juga eksekusu dapur sore ini. Belum terbiasa, nanti juga akan terbiasa dan merasa harus melakukan yang terbaik untuk keluarga.

Tanpa sengaja netranya menangkap paper bag yang Hanan berikan tadi pagi. Nahla pun penasaran, sebelum beranjak ke kamar mandi, mengintip isinya lebih dulu.

"Apa ini?" batin Nahla bertanya-tanya.

Baju dinas malam yang cukup seksi? Nahla terperangah, apa itu artinya pria itu menginginkan dirinya nanti malam. Sungguh ini kode yang teramat nyata dan terang-terangan.

"Duh ... kok jadi meriang gini, harus banget pakai ini?" gumam perempuan itu galau sendiri.

Tidak seksi seksi amat, tetapi bagi Nahla yang berhijab tentu gaun malam terusan selutut itu dengan model temali satu berbahan satin terlihat begitu terbuka, terutama bagian atasnya yang jelas tanpa lengan.

Usai mandi, Nahla pun masih menimbang-nimbang untuk mengenakan pakaian tersebut. Alhasil, Nahla memadukan dengan gamis miliknya. Ia akan melepas nanti bila waktunya di kamar saja.

Sepanjang menunggu malam, Nahla sedikit kepikiran. Kepikiran menunggu suaminya pulang, plus tentang lingeri cantik yang saat ini bahkan sudah melekat di tubuhnya.

Sambil menunggu Hanan pulang, Nahla menemani putrinya di kamar sambil belajar. Rupanya benar apa kata pria itu, yang mengatakan pulang sedikit terlambat.

Perempuan itu menemani Icha sampai ketiduran, bahkan melewati makan malam karena menunggu.

Suara deru mesin mobil yang menyambangi garasi rumahnya, membuat Nahla seketika terjaga. Mendadak perempuan itu grogi sendiri dibuatnya. Ia merapihkan selimut Icha lebih dulu, lalu beranjak dari kamar putrinya.

"Baru pulang Mas?" sapa Nahla menyambut suaminya.

"Iya," jawab Hanan terlihat lelah.

"Icha sudah tidur?" tanya pria itu lagi memperhatikan istrinya.

"Baru saja Mas? Aku panasin sayurnya dulu ya, sudah dingin. Pasti belum makan kan?"

"Kamu masak?" tanya Hanan melihat menu di meja.

"Iya, kita makan malam setelah kamu mandi, nanti aku panasin karena sudah dingin." Sebenarnya Hanan sudah makan di luar, tetapi demi menghargai istrinya yang sudah capek-capek menyiapkan untuknya, tentu pria itu mengiyakan.

Hanan langsung masuk ke kamarnya. Sementara Nahla lebih dulu memanasi lauk dan juga menyediakan secangkir kopi. Tanpa diminta, perempuan itu inisiatif sendiri saja.

Sementara Hanan menilik isi paper bag yang tadi diberikan untuk istrinya. Sudah tidak ada di sana, tetapi kenapa Nahla belum juga memakainya. Apakah perempuan itu belum siap menyambutnya malam ini.

"Mas, itu udah aku siapin, mau makan sekarang?" Nahla memanggil ke kamar. Sesungguhnya ia sudah lapar, demi menunggu pria itu Nahla belum makan sedari sore. Hendak mendahului tadi, tetapi merasa kurang sopan.

"Iya sebentar," ujarnya berjalan santai keluar.

Hanan memperhatikan istrinya dari ujung kepala hingga kaki. Lalu tersenyum menyambangi meja makan.

"Aku ambilin Mas," tawar Nahla berbaik hati.

"Boleh, dikit aja," jawab Hanan kali ini tidak menolaknya. Sudah lama sekali dia tidak diperlakukan spesial seperti ini. Perlakuan Nahla mengingatkan pada mendiang istrinya. Hatinya menghangat seketika, merasa diperhatikan kembali. Walau tetap saja masih terbayang sosoknya yang sulit terganti.

"Kamu belum makan?" tanya pria itu di sela meminun kopi.

"Belum Mas, nungguin kamu," jawab Nahla jujur.

"Besok-besok duluan saja, aku suka nggak tentu tiba-tiba pulangnya malam gini."

Nahla mengangguk, walau mungkin tidak minat mencoba. Bukankah makan berdua menunggu pulang kerja itu sangat romantis. Apakah pria itu sejenis manusia kaku yang tidak mengerti makna itu.

1
apajalah
🍁🍂🍃🍃
apajalah
🍃🍂🍁
Siti Saodah
ya yang nama nya jamu pahit. tapi itu bagus untuk kesehatan
Siti Saodah
wah kaya nya Hanan junior bentar lagi hadir
Siti Saodah
semoga Hanan bisa berubah dan melupakan masa lalu nya
Siti Saodah
Hana gak tau aja kalo wanita tuh akan selalu mengingat setiap hal yang menyinggung nya,,meski sudah memaafkan,, kan tapi jika ada kesempatan pasti di ungkut🤣🤣
Siti Saodah
rasain emang enak gak ada nahla,,,tapi si hanan gak bakal sadar diri
Siti Saodah
heran nya si hanan kayak yang gak ada salah gitu
Siti Saodah
bagus nahla cuekin aja cowok kaya gitu,,baik giliran ada maunya
Siti Saodah
jadi aku yang kesel sama si hanan
Siti Saodah
gak tau diri banget sing si hanan udah untung nahla mau sama dia,dia yang maksa ngajakin nikah
Siti Saodah
mungkin hanan tipe pria yang bosenan Ama padangan
Siti Saodah
jadi ikutan senyum senyum🤭
Siti Saodah
waah om duda satset juga
Acih Sukarsih
KB dulu takut kebobolan🤣
Acih Sukarsih
mode pingin kawin
Acih Sukarsih
keburu karatan🤣
Acih Sukarsih
klu anaknya sdh pulas gantian bapaknya pingin di kelonin🤣
Acih Sukarsih
meleleh aku mas duda
Tatik Tabayy
gak punya Asisten rumh tangga kah. ? Apa satpam gitu. ??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!