Seribu tahun setelah Era Kegelapan yang hampir menghancurkan tatanan alam semesta, Yun Tianxing—kultivator tertinggi dan penjaga keseimbangan antara Dunia Bawah dan Dunia Dewa—menemukan dua artefak legendaris: Darah Phoenix Abadi dan Jantung Naga Suci. Dalam upaya untuk memperkuat diri agar bisa mengantisipasi ancaman tersembunyi, ia memakan jantung naga dan meminum darah phoenix. Namun, kombinasi kekuatan kedua makhluk mistik tersebut terlalu besar untuk tubuhnya, menyebabkan guncangan hebat yang mengancam nyawanya. Sebelum meninggal, ia menciptakan sebuah benih ajaib, memasukkan seluruh energi Qi dan pengetahuan kultivasinya ke dalamnya.
Benih itu jatuh ke Dunia Fana dan memasuki tubuh Haouyu, putra mahkota Kekaisaran Lian yang baru lahir. Tak lama kemudian, kekaisaran keluarga Lian runtuh akibat peperangan besar dengan klan musuh. Untuk menyelamatkannya, ibunya menyerahkan dia kepada seseorang untuk membawanya meninggalkan istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 TAHUN-TAHUN DAMAI DAN KEPERGIAN KAKEK CHEN
Tiga tahun telah berlalu sejak Haouyu tiba di desa kecil di tengah hutan bambu. Usianya kini mencapai sepuluh tahun, dan dia telah tumbuh menjadi anak lelaki yang cerdas, kuat, dan penuh kasih sayang. Kehidupannya di desa penuh kedamaian dan kedekatan dengan alam—setiap hari diisi dengan pelatihan kultivasi bersama Kakek Chen, bermain bersama Yu Zhu (teman gadis yang selalu menemaniinya), dan membantu penduduk desa dengan pekerjaan sehari-hari.
Yu Zhu adalah anak yang lincah dan cerdas, dengan senyum yang selalu bisa menghangatkan hati Haouyu. Mereka sering menghabiskan waktu bersama—bermain di tepi sungai, mencari jamur dan buah di hutan, atau belajar membaca naskah kuno yang diberikan Kakek Chen. Yu Zhu tidak memiliki bakat kultivasi khusus, namun dia sangat pandai dalam mengingat cerita dan memberikan pandangan yang bijak kepada Haouyu ketika dia menghadapi kesulitan dalam pelatihan.
“Kenapa kamu selalu bisa menemukan cara yang lebih mudah untuk memahami hal-hal sulit, Yu Zhu?” tanya Haouyu suatu sore saat mereka sedang duduk di bawah pohon bambu besar, membicarakan teknik kultivasi yang baru saja diajarkan Kakek Chen.
Yu Zhu tertawa lembut. “Karena kamu terlalu fokus pada kekuatan dan tekniknya, Haouyu,” jawabnya dengan senyum. “Kadang-kadang kita perlu melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda untuk benar-benar memahaminya.”
Haouyu mengangguk dengan terpikir-pikir. Kata-kata Yu Zhu selalu membuatnya melihat hal-hal dengan cara yang baru. Dia merasa bersyukur memiliki teman seperti Yu Zhu di sisinya—siapa yang selalu ada untuknya dalam suka dan duka.
Selama tiga tahun itu, kemampuan kultivasi Haouyu berkembang dengan pesat. Dia telah menguasai sebagian besar teknik dasar yang diajarkan Kakek Chen dan mulai bisa merasakan keberadaan energi alam dengan lebih jelas. Kadang-kadang, ketika dia sedang dalam kondisi tenang dan fokus, dia bisa merasakan keberadaan Yun Tianxing yang ada di dalam dirinya—seolah-olah kultivator hebat itu sedang membimbingnya dengan lembut melalui setiap langkah perjalanannya.
Namun seiring berjalannya waktu, kesehatan Kakek Chen mulai memburuk. Wajahnya yang dulu kuat dan penuh semangat kini tampak lebih kurus dan lelah. Haouyu dan Yu Zhu sering membantu dia dengan pekerjaan rumah tangga dan kebun, berusaha sebaik mungkin untuk meringankan beban kerjanya.
Suatu pagi yang dingin, Kakek Chen memanggil Haouyu ke kamarnya. Ruangan itu penuh dengan aroma herbal yang menyengat, dan Kakek Chen terbaring di atas tempat tidur dengan wajah yang pucat namun mata yang tetap tajam.
“Haouyu, anakku,” ucap Kakek Chen dengan suara yang lemah namun jelas. “Waktuku sudah hampir tiba. Ada beberapa hal penting yang perlu kuberi kepadamu sebelum aku pergi.”
Haouyu merasa hatinya seperti tertusuk oleh jarum. Ia meraih tangan Kakek Chen dengan erat, menahan air mata yang ingin keluar. “Jangan bilang begitu, Kakek,” katanya dengan suara bergetar. “Kamu akan sembuh dan kita akan terus berlatih bersama seperti dulu.”
Kakek Chen tersenyum lembut dan menyentuh pipi Haouyu dengan lembut. “Semua orang memiliki waktunya sendiri di dunia ini, anakku,” jawabnya dengan lembut. “Aku telah hidup cukup lama dan melihat banyak hal. Sekarang sudah waktuku untuk pergi dan bergabung dengan mereka yang telah pergi sebelum ku.”
Ia kemudian mengambil sebuah kotak kayu kecil dari bawah bantalnya dan memberikannya kepada Haouyu. “Di dalam kotak ini ada barang-barang penting yang akan membantumu di masa depan,” ucapnya dengan suara yang semakin lembut. “Ada surat dari ibumu, Permaisuri Lin Meiying—dia menulisnya sebelum kekaisaran runtuh. Ada juga gelang keluarga kerajaan Lian dan buku catatan pribadiku tentang kultivasi yang mungkin akan berguna bagimu.”
Haouyu menerima kotak dengan hati yang berat. Ia merasakan betapa besarnya cinta dan perhatian yang diberikan Kakek Chen padanya selama ini.
“Selain itu, ada satu hal lagi yang perlu ku tunjukkan padamu,” lanjut Kakek Chen, dengan susah payah berdiri dan membimbing Haouyu ke belakang pondok. Di sana, ada sebuah ruang bawah tanah kecil yang tersembunyi di balik rak kayu. Di dalam ruangan itu, ada sebuah batu nisan dengan tulisan yang tidak dikenal Haouyu.
“Ini adalah makam kultivator hebat yang dulu tinggal di pondok ini,” jelas Kakek Chen. “Dia adalah murid dari Yun Tianxing sendiri. Dia menyimpan banyak pengetahuan tentang kultivasi tingkat tinggi di dalam gua tersembunyi di belakang bukit bambu. Kamu bisa menemukannya ketika kamu merasa siap untuk belajar lebih banyak.”
Kakek Chen kemudian duduk di atas batu besar di depan makam, dengan Haouyu berdiri di sisinya. Ia melihat ke arah hamparan bambu yang luas dengan mata penuh kenangan. “Haouyu, kamu adalah anak yang sangat luar biasa,” ucapnya dengan suara penuh cinta dan bangga. “Jangan pernah melupakan siapa kamu dan tujuan kamu di dunia ini. Gunakan kekuatanmu dengan bijak dan selalu ingat untuk melindungi mereka yang lemah.”
Pada malam hari yang sama, Kakek Chen Long meninggal dengan damai di dalam kamarnya, dengan Haouyu dan Yu Zhu yang menjaganya di sisinya. Seluruh desa berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir kepada lelaki tua yang baik hati itu. Mereka menguburkannya di dekat makam kultivator hebat, di bawah pohon bambu yang selalu menjadi tempat favoritnya untuk duduk dan merenung.
Setelah pemakaman, Haouyu sendirian di kamar Kakek Chen. Ia membuka kotak kayu kecil yang diberikan kepadanya dan membaca surat dari ibunya. Di dalam surat itu, Lin Meiying menceritakan tentang cinta yang dia miliki untuk anaknya, tentang sejarah Kekaisaran Lian, dan tentang harapannya agar Haouyu bisa menjadi orang yang baik dan kuat. Ia juga menjelaskan tentang asal-usul kekuatan yang ada di dalam dirinya dan tentang ancaman yang mungkin akan dia hadapi di masa depan.
Haouyu menangis sambil membaca surat itu, merasakan rasa rindu yang mendalam kepada orang tuanya yang belum pernah dia kenal dengan baik. Namun di tengah kesedihannya, ada juga tekad yang semakin menguat di dalam hatinya. Ia akan memenuhi harapan Kakek Chen dan ibunya—ia akan menjadi kultivator yang kuat, membangun kembali Kekaisaran Lian, dan menghentikan kekuatan gelap yang mengancam dunia.
Yu Zhu masuk ke kamar dan duduk di sisinya, memberikan dukungan dengan diam-diam. “Kamu tidak sendirian, Haouyu,” katanya dengan lembut. “Saya akan selalu ada di sini untuk membantu kamu.”
Haouyu melihat ke arah teman baiknya dengan mata yang penuh rasa syukur. Ia tahu bahwa perjalanannya akan penuh dengan rintangan dan bahaya, namun dengan kekuatan yang ada di dalam dirinya, pengetahuan dari Kakek Chen, dan dukungan dari Yu Zhu, ia siap menghadapi segala sesuatu yang ada di depannya.
Pada keesokan paginya, Haouyu pergi ke belakang bukit bambu seperti yang dikatakan Kakek Chen. Setelah beberapa jam mencari, ia menemukan sebuah gua kecil yang tersembunyi di balik reruntuhan tembok bambu. Di pintu gua, ada tulisan besar yang terbakar pada batu: “Hanya mereka yang memiliki hati yang murni dan tekad yang kuat yang bisa memasuki sini.”
Haouyu mengambil napas dalam-dalam dan menginjakkan kaki pertama kali ke dalam gua. Cahaya keemasan muncul di dahinya dengan terang, seolah-olah mengenali tempat yang penuh dengan kekuatan Yun Tianxing. Di dalam gua, ia menemukan banyak buku kultivasi kuno, artefak-artefak ajaib, dan sebuah batu besar dengan pola yang sama seperti yang pernah dia lihat di rumah Kakek Chen.
Saat dia menyentuh batu itu, energi yang kuat mengalir ke dalam tubuhnya. Ia merasakan benih kekuatan Yun Tianxing di dalam dirinya mulai terbuka lebih lebar, melepaskan kekuatan dan pengetahuan yang lebih besar. Haouyu mengetahui bahwa masa damai yang dia nikmati selama ini telah berakhir—waktunya telah tiba untuk memulai perjalanan yang sebenarnya dan menghadapi takdir yang telah ditentukan untuknya.
...~BERSAMBUNG~...