Arc 1 : Bab 1 — 41 (Dunia Melalui Mata Bayi Ajaib)
Arc 2 : Bab 42 — ... (On-going)
Aku terlahir kembali di dunia kultivasi dengan ingatan utuh dan selera yang sama.
Di sini, kekuatan diukur lewat tingkat kultivasi.
Sedangkan aku? Aku memulainya dari no namun dengan mata yang bisa membaca Qi, meridian, dan potensi wanita sebelum mereka menyadarinya sendiri.
Aku akan membangun kekuatanku, tingkat demi tingkat bersama para wanita yang tak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24 : Jejak di Dalam Kabut.
[PoV 3rd]
Dua li dari sungai, hutan berubah menjadi lorong gelap yang sempit dan lembap.
Lima sosok hitam bergerak cepat di antara batang-batang pohon tua. Jubah mereka menyatu dengan bayangan, kainnya hampir tidak bersuara saat menyapu semak dan akar. Di dada masing-masing, lambang bulan sabit merah tampak kusam, seolah menyerap cahaya pagi yang belum sepenuhnya lahir.
Kabut masih menggantung rendah, menempel di betis dan lutut mereka, dingin dan basah.
Yang berada paling depan tidak pernah ragu melangkah.
Seorang wanita bertubuh ramping, bahunya tegak, langkahnya konsisten. Wajahnya pucat dan tajam, tanpa ekspresi selain fokus yang dingin. Mata biru esnya bergerak cepat, menilai setiap perubahan tanah, setiap ranting patah, setiap gangguan halus di aliran udara.
Di tangannya, sebuah kompas logam berukir simbol kuno bergetar pelan.
Jarumnya tidak menunjuk utara.
Ia berputar, bergetar seperti makhluk hidup yang gelisah, lalu perlahan menetap, condong ke arah selatan.
“Masih jauh,” ucap wanita itu tanpa menoleh. Suaranya datar, nyaris tak terpengaruh oleh napas cepat atau medan yang sulit. “Tapi bergerak.”
Kelompok itu tidak mempertanyakan perintah. Langkah mereka menyesuaikan, ritme dipercepat, jarak antaranggota tetap rapat tapi tidak saling menghalangi.
Salah satu dari mereka, pria muda dengan bekas luka panjang melintang dari pipi ke rahang, melirik kompas itu sekilas sebelum kembali mengawasi belakang. Tangannya menggenggam gagang senjata lebih erat.
“Apakah pasti itu dia, Kapten?” tanyanya pelan, seolah takut suara terlalu keras bisa mengundang sesuatu dari hutan.
Wanita di depan tidak berhenti berjalan.
“Biji Cahaya memancarkan frekuensi yang tidak bisa disalahartikan,” jawabnya. “Dan kompas ini tidak pernah salah.”
Sudut bibirnya terangkat sedikit. Bukan senyum hangat, melainkan lengkungan tipis yang lebih mirip pengakuan diri.
“Bayi dengan warisan Klan Ling,” lanjutnya. “Hadiah yang sangat berharga untuk Tuan.”
Beberapa anggota menelan ludah. Nama klan itu membawa beban tersendiri. Bahkan bagi para pemburu, itu bukan sekadar target biasa.
“Dan yang melindunginya?” tanya anggota lain, suaranya lebih hati-hati.
Kapten Lan mengayunkan tangannya untuk menepis ranting rendah, lalu menjawab tanpa ragu. “Dua wanita. Satu hampir pasti Lin Mei. Pelarian terakhir klan itu.”
Langkahnya melambat sesaat, hanya cukup untuk menegaskan kata berikutnya.
“Yang satu lagi tidak tercatat.”
Pria berwajah luka mengernyit. “Haruskah kita menunggu bala bantuan?”
Kapten Lan berhenti.
Hanya satu langkah. Tapi hutan seolah ikut menahan napas.
Dia berbalik setengah badan, mata birunya menusuk tajam ke arah pembicara. “Mereka lari,” katanya. “Artinya mereka takut. Dan orang yang takut tidak punya waktu untuk menjadi kuat.”
Tangannya yang bebas bergerak ke sabuk.
Ia mengeluarkan sebuah bola kristal hitam seukuran kepalan tangan. Permukaannya bening, tapi di dalamnya, bayangan gelap berputar, menggeliat, menekan dinding kristal seperti asap yang terperangkap.
Udara di sekitarnya langsung terasa lebih berat.
Salah satu anggota mundur setengah langkah tanpa sadar.
“Jiwa terkurung …” bisik pria berwajah luka, suaranya campuran ngeri dan takzim. “Apakah aman digunakan?”
Kapten Lan memutar kristal itu perlahan, membiarkan bayangan di dalamnya bergejolak.
“Aman bagi kita,” katanya dingin. “Tidak bagi mereka.”
Ia menyimpan kembali bola kristal itu. Tekanan di udara sedikit mereda, tapi rasa tidak nyaman tetap tertinggal, seperti bau darah yang belum terlihat.
“Bergerak,” perintahnya lagi. “Sebelum kabut hilang sepenuhnya.”
Tanpa kata tambahan, kelima sosok itu kembali melaju.
Langkah mereka semakin cepat, semakin senyap, menyatu dengan bayangan hutan. Kabut terbelah saat mereka lewat, lalu menutup kembali, seolah tidak pernah ada siapa pun yang melintas.
Di kejauhan, jarum kompas bergetar sekali lagi.
Dan tetap menunjuk ke selatan.