NovelToon NovelToon
NEGRI TANPA HARAPAN

NEGRI TANPA HARAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Sistem / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:198
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: KEMBALI KE KOTA KELAM

#

Pagi itu mereka turun dari gunung dengan wajah yang beda. Bukan cuma karena tiga bulan latihan yang bikin tubuh Arjuna lebih berotot dan mata Pixel lebih tajam. Tapi karena mereka pakai topeng sekarang. Topeng yang harus mereka jaga sampai misi selesai, atau sampai mereka mati duluan.

Hendrawan kasih mereka dokumen palsu. KTP baru. Paspor baru, SIM baru. Semua dengan nama yang beda.

"Mulai sekarang kau bukan Arjuna Wibowo lagi," kata Hendrawan sambil kasih amplop coklat ke anaknya. "Kau adalah Arka Wicaksono. Investor muda dari Singapura yang baru pulang ke Indonesia untuk cari peluang bisnis. Umur dua puluh delapan. Punya perusahaan teknologi kecil yang lumayan sukses."

Arjuna buka amplop itu. Di dalem ada KTP dengan fotonya tapi nama Arka Wicaksono. Ada juga kartu kredit dengan limit tinggi, kartu nama perusahaan fiktif dan bahkan akun bank dengan saldo ratusan juta.

"Ini semua.. ini semua nyata?" tanyanya tidak percaya.

"Nyata di sistem," jawab Hendrawan. "Ayah punya teman yang kerja di dukcapil. Dia masukin data kau ke sistem pemerintah. Sejauh yang sistem tau, Arka Wicaksono adalah orang yang sudah ada sejak lahir. Punya sejarah pendidikan, punya catatan pajak bahkan punya riwayat medis,"

"Berapa lama kau siapkan ini semua?"

"Bertahun tahun," jawab Hendrawan sambil tersenyum tipis. "Ayah selalu tau suatu hari kita akan butuh identitas palsu. Jadi ayah siapkan jauh-jauh hari."

Pixel juga dapat amplop. Namanya sekarang Raka Pratama. Konsultan keamanan siber yang baru balik dari Amerika setelah kerja di beberapa perusahaan besar di sana.

"Wah, aku orang Amerika sekarang?" Pixel ketawa, tapi ketawanya terdengar gugup. "Tapi aku bahkan gak bisa bahasa inggris dengan baik."

"Makanya kau bilang kau lebih suka pake bahasa Indonesia," kata Hendrawan. "Bilang kau lahir dan besar di Indo, cuma sekolah dan kerja di luar. Orang gak akan terlalu curiga."

"Kalau ada yang test aku ngomong inggris?"

"Jawab pake aksen Indo yang kental terus alihkan pembicaraan. Orang kaya biasanya gak suka ditest, jadi mereka gak akan maksa."

Mereka naik bis yang sama seperti waktu dateng. Tapi kali ini suasananya beda. Kali ini mereka bukan pelarian yang ketakutan. Mereka predator yang mau balik ke sarangnya.

Arjuna duduk di bangku belakang, menatap keluar jendela ke pemandangan yang mulai berubah dari hutan jadi desa, dari desa jadi kota kecil, dari kota kecil jadi.. jadi Kota Kelam yang penuh dengan gedung tinggi dan polusi dan orang-orang yang terlalu sibuk untuk peduli sama orang lain.

Tiga bulan rasanya seperti selamanya. Tiga bulan tanpa tau Sari baik atau tidak. Tanpa tau apa yang Adrian lakukan ke dia. Setiap hari dia pengen langsung serbu mansion itu, tapi ayahnya selalu bilang "belum waktunya. Kau belum siap."

Sekarang dia siap.

Setidaknya secara fisik.

Tapi secara mental? Dia gak tau. Gimana dia bisa tau kalau dia siap untuk bunuh orang? Untuk lihat darah? Untuk mungkin mati?

"Kau mikirin dia kan?" suara Pixel memecah lamunannya.

"Ya," jawab Arjuna jujur. Gak ada gunanya bohong ke Pixel yang sudah kenal dia terlalu baik. "Aku takut kita terlambat. Takut dia sudah.. sudah berubah jadi orang lain."

"Sari kuat," kata Pixel. "Lebih kuat dari yang dia pikir. Dia akan bertahan."

"Tapi berapa lama?" bisik Arjuna. "Berapa lama seseorang bisa bertahan sebelum akhirnya patah?"

Pixel gak bisa jawab itu. Karena dia juga gak tau.

Mereka sampai di terminal bis pukul empat sore. Hendrawan sudah nungguin di sana dengan mobil sedan hitam yang lumayan bagus. Bukan mobil mewah yang terlalu mencolok, tapi juga bukan mobil murah yang bikin orang curiga.

"Naik," katanya singkat.

Mereka naik. Hendrawan bawa mereka ke apartemen di daerah menengah atas. Bukan yang paling mahal tapi cukup bagus untuk investor muda yang baru mulai sukses.

"Ini akan jadi base kita," kata Hendrawan sambil buka pintu apartemen di lantai dua puluh. Di dalem ada ruang tamu yang luas, dua kamar tidur satu kantor kecil. Sederhana tapi nyaman.

"Aku sewa ini setahun lalu pake nama palsu," lanjut Hendrawan. "Tetangga pikir aku businessman yang jarang di rumah. Jadi mereka gak akan terlalu perhatiin kalau tiba-tiba ada orang baru."

Pixel langsung ke kantor kecil itu. Di dalem ada meja besar dengan tiga layar komputer setup yang lumayan canggih. "Wah, ini.. ini bagus. Sangat bagus. Aku bisa kerja dari sini."

"Kau harus kerja dari sini," koreksi Hendrawan. "Dari sekarang sampai misi selesai, kita gak boleh kelihatan bersama di publik. Arjuna akan jalan sendiri sebagai Arka. Pixel akan kerja dari sini sebagai Raka. Dan ayah akan tetap di background koordinasi semuanya."

"Terus gimana kita dapat undangan gala?" tanya Arjuna.

Hendrawan tersenyum. Senyum yang bikin Arjuna ingat kenapa ayahnya dulu bisa jadi partner Adrian yang sukses. "Ayah sudah atur. Besok kau akan 'kebetulan' ketemu dengan Pak Suryo di kafe dekat kantor dia. Pak Suryo adalah koordinator event gala. Dia yang atur semua undangan."

"Dan dia akan kasih aku undangan begitu aja?"

"Tentu tidak," Hendrawan geleng. "Tapi dia punya kelemahan. Dia suka judi. Dan dia sekarang hutang lima ratus juta ke bandar yang.. well, yang bekerja untuk ayah."

"Kau punya bandar judi?" Pixel menatap Hendrawan tidak percaya.

"Ayah punya banyak hal yang kalian gak tau," jawab Hendrawan. "Untuk bertahan hidup sembunyi selama sepuluh tahun, ayah harus punya network di dunia bawah. Dan salah satunya adalah bandar judi yang bernama Ko Liem."

"Jadi rencananya gimana?"

"Ko Liem akan 'kebetulan' datang ke kafe yang sama. Akan tagih hutang Pak Suryo di depan kau. Pak Suryo akan panik. Dan kau akan 'baik hati' nawarin untuk bayar hutangnya. Sebagai gantinya.. dia akan kasih kau undangan gala plus akses backstage."

"Backstage?" Arjuna mengerutkan dahi. "Buat apa?"

"Buat Raka," jawab Hendrawan sambil nunjuk Pixel. "Dia akan masuk sebagai teknisi IT yang disewa untuk backup sistem keamanan gala. Dengan akses backstage, dia bisa pasang device untuk hack sistem keamanan Adrian nanti."

"Tunggu tunggu," Pixel angkat tangan. "Aku harus masuk gala juga? Sebagai teknisi?"

"Kau punya masalah dengan itu?"

"Masalahnya adalah aku gak pernah jadi teknisi beneran! Aku hacker! Aku gak tau cara pasang kabel atau apa lah itu!"

"Maka kau akan belajar," kata Hendrawan dingin. "Mulai besok kau akan belajar basic teknisi IT. Cukup untuk bikin orang percaya kau tau apa yang kau lakukan."

"Dalam seminggu?"

"Kau bisa hack sistem terkompleks di dunia dalam empat menit tapi gak bisa belajar pasang kabel dalam seminggu?" Hendrawan menatapnya tajam. "Aku gak percaya itu."

Pixel menghela napas. "Oke, oke. Aku akan belajar. Tapi kalau aku kesetrum jangan salahkan aku."

Esok harinya Arjuna bangun jam enam pagi. Mandi. Pakai baju jas mahal yang Hendrawan beliin kemarin. Jas hitam dengan kemeja putih dan dasi biru gelap. Sepatu kulit yang mengkilap. Jam tangan mewah yang harganya mungkin seharga motor.

Dia menatap cermin. Orang yang menatap balik hampir gak dia kenal. Ini bukan Arjuna Wibowo si bocah desa yang polos, Ini Arka Wicaksono si investor muda yang percaya diri dan ambisius.

"Kau kelihatan bagus," kata Pixel dari belakang. "Kayak businessman beneran."

"Aku merasa kayak badut," jawab Arjuna sambil tarik dasi yang terasa nyekekin leher.

"Badut yang kaya," koreksi Pixel sambil senyum. "Sekarang ayo. Kau gak mau telat buat pertemuan 'kebetulan' mu."

Arjuna naik taksi ke kafe yang ditentukan. Kafe mewah di lantai dasar gedung perkantoran. Penuh dengan orang-orang berjas yang ngobrol sambil ngopi, ngelihatin laptop sambil pura-pura kerja.

Dia pesan kopi hitam. Duduk di meja deket jendela. Buka laptop yang juga baru dibeli kemarin. Pura-pura baca email padahal matanya terus ngawasin pintu.

Pukul sembilan lewat lima belas menit, seorang pria paruh baya masuk. Kurus. Rambut mulai memutih. Wajah yang keliatan stress. Itu pasti Pak Suryo.

Pria itu duduk di meja pojok. Pesan kopi. Tangannya gemetar saat pegang cangkir.

Sepuluh menit kemudian, pintu kafe terbuka lagi. Masuk seorang pria Tionghoa gemuk dengan jas merah mencolok. Di belakangnya ada dua bodyguard besar yang kelihatan sangar.

Ko Liem.

Pria itu langsung jalan ke meja Pak Suryo. Wajahnya senyum tapi senyum yang menakutkan.

"Pak Suryo," suaranya keras, bikin beberapa orang noleh. "Sudah lama kita gak ketemu. Apa kabar?"

"Ko.. Ko Liem," Pak Suryo berdiri cepat, mukanya pucat. "Saya.. saya gak tau kau akan datang."

"Tentu aja aku datang," Ko Liem duduk tanpa diundang. "Kau pikir aku lupa sama hutang mu? Lima ratus juta itu bukan uang saku, Pak."

"Aku.. aku tau. Aku akan bayar. Cuma butuh waktu sedikit lagi.."

"Waktu?" Ko Liem ketawa, ketawa yang bikin bulu kuduk berdiri. "Sudah setahun aku kasih waktu. Berapa lama lagi? Sampai aku mati?"

"Kumohon, Ko. Jangan di sini. Nanti orang-orang.."

"Orang-orang apa? Orang-orang perlu tau kalau kau penipu!" Ko Liem pukul meja keras. Cangkir kopi Pak Suryo tumpah ke lap. "Kau pikir aku main-main? Kalau kau gak bayar minggu depan, aku akan ambil ginjal mu!"

Beberapa orang di kafe mulai flusterin. Ada yang rekam pake hp. Ini sempurna sesuai rencana.

Arjuna berdiri. Jalan ke meja mereka dengan langkah percaya diri yang dia paksain.

"Permisi," katanya sopan tapi tegas. "Sepertinya ada masalah di sini?"

Ko Liem noleh, mata kecilnya menyipit. "Ini bukan urusanmu, anak muda."

"Mungkin bukan," jawab Arjuna sambil keluarin dompet. "Tapi aku gak suka lihat orang diancam di tempat publik. Berapa hutangnya?"

"Lima ratus juta," jawab Ko Liem sambil lipat tangan. "Kau mau bayar?"

"Kenapa tidak?" Arjuna keluarin kartu kredit. Kartu platinum yang limitnya miliaran. "Anggap ini investasi untuk kenalan baru."

Pak Suryo menatapnya dengan mata hampir keluar. "Anda.. anda serius?"

"Aku selalu serius soal uang," jawab Arjuna dengan senyum tipis yang dia tiru dari ayahnya. "Tapi tentu saja aku harap kita bisa.. bekerjasama di masa depan sebagai bentuk terimakasih."

Ko Liem menatapnya lama. Lalu dia senyum lebar. "Ah, anak muda yang pinter. Oke. Aku terima. Tapi Pak Suryo harus tandatangan surat yang bilang hutangnya sudah lunas dan dia gak bisa tuntut aku nanti."

"Aku akan tandatangan!" Pak Suryo cepat jawab. "Aku akan tandatangan apapun!"

Transaksi selesai di sana juga. Ko Liem terima transfer lima ratus juta ke rekeningnya. Pak Suryo tandatangan surat. Dan Arjuna dapat nomor hp Pak Suryo plus janji "apapun yang anda butuh, saya akan usahakan."

Sempurna.

Dua hari kemudian, Arjuna telepon Pak Suryo. "Saya dengar ada gala amal besar minggu depan. Saya tertarik untuk hadir. Mungkin bisa networking dengan investor lain."

"Gala Axion?" Pak Suryo terdengar ragu. "Itu event eksklusif sekali, Pak. Undangannya terbatas untuk..."

"Untuk orang yang punya koneksi," potong Arjuna. "Dan sekarang Bapak punya koneksi dengan saya. Atau Bapak lupa siapa yang sudah selamatkan Bapak dari Ko Liem?"

Hening. Lalu Pak Suryo menghela napas. "Baik. Saya akan usahakan. Tapi anda harus datang dengan formal. Jas hitam. Dan bawa pasangan kalau bisa. Adrian Mahendra suka tamu yang datang berpasangan."

Pasangan. Arjuna gak punya pasangan. Satu-satunya "pasangan" yang dia mau adalah Sari dan dia gak mungkin bawa Sari sebagai pasangan untuk nyelamatin Sari. Itu gak make sense.

"Saya akan usahakan," jawab Arjuna akhirnya.

Dia telepon Hendrawan ceritain masalahnya. Ayahnya diam sebentar. Terlalu lama.

"Ayah akan carikan," katanya akhirnya. "Ayah kenal seseorang yang bisa jadi pasangan mu. Aktris muda yang butuh uang dan gak akan tanya terlalu banyak."

"Apa dia bisa dipercaya?"

"Untuk satu malam? Ya. Untuk jangka panjang? Tidak. Tapi kita gak butuh jangka panjang."

Tiga hari sebelum gala, undangan datang. Amplop emas dengan tulisan mewah.

"Anda diundang ke Gala Amal Axion Corporation. Dress code: Formal. Pasangan diharapkan."

Di bawahnya ada nama: Tuan Arka Wicaksono dan pasangan.

Arjuna megang undangan itu dengan tangan gemetar. Ini nyata. Ini benar-benar terjadi. Dalam tiga hari, dia akan masuk ke gala itu. Akan berhadapan dengan Adrian untuk pertama kalinya.

Dan mungkin.. mungkin akan bertemu Sari lagi.

Sari yang mungkin sudah gak kenal dia.

Sari yang mungkin sudah berubah.

Sari yang mungkin sudah gak mau diselamatkan.

"Jangan overthink," kata Pixel sambil tepuk bahunya. "Kita punya rencana. Rencana bagus. Kita tinggal eksekusi."

"Dan kalau gagal?"

"Maka kita improvisasi," jawab Pixel dengan senyum yang gak sampai ke mata. "Seperti biasanya."

Malam sebelum gala, mereka duduk bertiga di apartemen. Hendrawan bentangkan peta ballroom hotel di lantai. Nunjukin dimana Arjuna harus berdiri. Dimana Pixel akan pasang device. Dimana titik exit kalau situasi jadi chaos.

"Ini rencana A," katanya. "Kalau semua berjalan lancar, kalian ambil Sari saat dia ke toilet atau ke balkon. Bawa dia ke mobil yang sudah standby. Keluar dari hotel sebelum ada yang sadar."

"Dan kalau gak lancar?" tanya Arjuna.

"Rencana B: kalian buat keributan. Api alarm. Ledakan kecil. Apapun yang bikin orang panik dan evakuasi. Di tengah chaos, kalian ambil Sari."

"Dan kalau itu juga gagal?"

Hendrawan menatapnya serius. Sangat serius. "Rencana C: kalian lari. Tinggalkan Sari. Selamatkan diri kalian sendiri. Karena kalau kalian tertangkap, semua ini sia-sia."

"Aku gak akan tinggalkan dia," kata Arjuna keras. "Gak peduli apa yang terjadi."

"Bahkan kalau itu artinya kau mati?"

"Bahkan kalau itu artinya aku mati."

Hendrawan menatap anaknya lama. Lalu dia mengangguk pelan. Ada sesuatu di matanya yang terlihat seperti bangga dan sedih di saat bersamaan.

"Oke," katanya pelan. "Tapi janji ayah satu hal. Kalau situasi sudah impossible, kalau kau tau kau gak bisa menang.. lari. Hidup untuk berjuang lain hari. Karena pahlawan yang mati adalah pahlawan yang kalah. Mengerti?"

Arjuna gak jawab. Karena dia gak bisa janji sesuatu yang dia gak yakin bisa dia tepatin.

Besok. Besok dia akan lihat Sari lagi.

Dan entah bagaimana, entah dengan cara apa, dia akan bawa dia pulang.

Atau mati mencoba.

Gak ada pilihan lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!