Karena orang tua serta para keluarga selalu mendesak untuk menikah. Akhirnya Adelia Aurellia nekat menikahi seorang anak magang yang jarak usianya sepuluh tahun dibawahnya. Hal itu malah membuat orang tua Aurel menjadi murka. Pasalnya orang tua sang supir yang bernama Adam Ashraf adalah seorang pengkhianat bagi keluarganya Aurel.
Padahal itu hanya fitnah, yang ingin merenggangkan persahabatan antara Ayahnya Aurel dan juga Ayahnya Adam. Makanya Adam sengaja bekerja pada mereka, karena ingin memulihkan nama baik sang Ayah. Dan karena tujuan itu, ia pun langsung menerima tawaran dari Aurel, untuk menikahinya.
Akankah, Adam berhasil membersihkan nama baik sang Ayah? Dan Akankah mereka mendapatkan restu dari keluarga Aurel? Yuk ikuti karya Ramanda, jangan lupa berikan dukungannya juga ya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DRAMA DIATAS POHON BUNI
Mobil mewah yang dikemudikan Ansel melaju sangat pelan, nyaris merayap, saat memasuki kompleks perumahan elite tempat rumah baru Adam berada. Setiap ada polisi tidur, Ansel menginjak rem dengan sangat hati-hati, seolah ia sedang membawa telur raksasa yang mudah pecah.
"Pelan-pelan, Ansel. Jangan sampai perut istrimu terguncang," tegur Adam dari kursi belakang sambil memeluk bahu Aurel yang baru saja keluar dari rumah sakit.
Ansel melirik dari spion tengah, wajahnya tampak sangat serius. "Tenang saja, Pak Bos. Aku sudah memasang mode 'Sopir Teladan'. Tidak akan ada guncangan sedikit pun bagi keponakan tersayangku."
Namun, saat mobil baru saja melewati sebuah polisi tidur dengan sangat halus, tiba-tiba Aurel memekik. "BERHENTI! ANSEL, BERHENTI SEKARANG!"
CIIIIIIITTTT!
Ansel menginjak rem secara mendadak hingga bunyi decit ban menyayat keheningan kompleks. Tubuh Adam dan Aurel terdorong ke depan. Wajah Adam seketika merah padam karena panik.
"Ansel! Apa-apaan kau ini?! Kenapa berhenti mendadak begitu?" bentak Adam sambil memeriksa perut Aurel. "Sayang, ada yang sakit? Mana yang terasa tidak enak?"
Aurel tidak menjawab. Matanya tidak menatap Adam, melainkan menatap keluar jendela dengan binar yang luar biasa. Jemarinya menunjuk ke sebuah halaman rumah mewah di seberang jalan.
"Adam... lihat itu! Pohon itu!" suara Aurel bergetar penuh gairah.
Adam dan Ansel mengikuti arah pandangan Aurel. Di halaman sebuah rumah elite yang bergaya klasik, tumbuh sebuah pohon yang rindang. Buahnya bergantungan dalam tandan kecil, berwarna merah cerah hingga hitam keunguan.
"Itu... buah buni?" gumam Adam heran. "Bagaimana bisa ada pohon kampung di perumahan elite seperti ini?"
"Aku mau itu, Adam... aku ingin sekali buah buni yang hitam itu. Rasanya pasti asam-manis segar. Kalau aku tidak makan itu sekarang, anak kita pasti nanti ileran," rengek Aurel sambil mengguncang lengan Adam.
Ansel yang tadinya tegang langsung lemas. "Astaga, Kak! Aku pikir ada pendarahan atau apa. Ternyata demi buah yang di kampung saja buat pakan burung?"
"Jangan menghina, Ansel! Cepat ambilkan untukku!" perintah Aurel dengan wajah yang mulai cemberut.
Misi Pengintaian di Rumah "Bule"
Demi sang buah hati yang masih dalam kandungan, dua pria tangguh itu turun dari mobil. Mereka berdiri di depan pagar tinggi rumah tersebut. Ansel, dengan gaya sok keren, maju paling depan.
"Biar aku yang bicara. Aku kan punya karisma internasional," ucap Ansel percaya diri. Ia memencet bel berkali-kali. "Sepeda! Eh, Spada! Permisi! Anybody home?"
Tak lama kemudian, seorang wanita cantik dengan wajah campuran Indo-Eropa keluar dari pintu utama. Ia mengenakan pakaian santai namun terlihat berkelas. Ansel langsung memasang aksi.
"Excuse me, Madam. We are very sorry to disturb your morning. My sister is pregnant, and she is craving for your berries... oh, I mean, that Buni fruit over there. Can we buy it?" tanya Ansel dengan aksen Inggris yang dibuat-buat.
Wanita itu menatap Ansel dari bawah ke atas, lalu menjawab dengan nada datar. "Oalah, Mas... sampeyan niku ngomong nopo toh? Ngomong Jowo mawon, kulo mboten pati mudeng boso Inggris." (Oalah, Mas... kamu itu bicara apa? Pakai bahasa Jawa saja, saya tidak begitu paham bahasa Inggris.)
Ansel langsung mematung. Tangannya yang tadinya bergaya ditaruh di saku, kini berpindah untuk menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Eh... Mbaknya bisa bahasa Jawa?"
Adam menahan tawa, lalu maju menggantikan Ansel. "Maaf, Mbak. Maksud adik saya, istri saya sedang ngidam berat melihat buah buni di halaman Mbak. Kalau boleh, saya ingin membelinya sedikit."
Wanita itu tersenyum ramah. "Oh, ngidam toh? Jangan dibeli, Mas. Ambil saja sendiri, saya juga tidak tahu mau diapakan buah itu. Silakan masuk."
Tragedi dan Komedi di Bawah Pohon
Setelah diizinkan, Ansel dengan semangat empat lima langsung memanjat pohon buni tersebut. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya adalah paman yang bisa diandalkan. Sementara Adam, pergi ke samping rumah untuk mengambil galah bambu yang disediakan pemilik rumah.
"Lihat ini, Adam! Aku seperti ninja!" seru Ansel sambil duduk di dahan pohon.
Namun, kegembiraan itu hanya bertahan lima detik. Tiba-tiba, dari arah belakang rumah, seekor anjing Labrador hitam besar berlari keluar dan langsung berdiri di bawah pohon.
"GUK! GUK! GUK!"
Ansel yang sedang asyik memetik buah langsung pucat pasi. Tubuhnya gemetar hebat melihat taring anjing itu. "HUAWAAA! MAMA! TOLONG ANSEL! ADA GUNG-GUNG, MAMA!" teriak Ansel histeris sambil memeluk batang pohon dengan sangat erat.
Adam yang baru saja membawa galah langsung meledak tawanya. Ia tertawa terpingkal-pingkal melihat adiknya yang biasanya sombong kini menangis ketakutan di atas pohon. "Hahaha! Ansel! Katanya ninja? Kenapa jadi monyet ketakutan begitu?"
Mendengar tawa Adam yang menggelegar, si anjing hitam—Blackie—merasa tertantang. Ia berbalik dan mulai mengejar Adam yang berdiri di dekat pagar.
"GUK! GUK! GUK!"
"Eh?! Hei! Blackie, diam! Aku temannya Mbakmu!" Adam mulai panik saat anjing itu berlari ke arahnya. "EMAAAK! TOLONGIN ADAM!"
Sekarang giliran Adam yang lari tunggang langgang mengelilingi pohon buni. Ia berlari berputar-putar dengan galah di tangan, sementara anjing itu terus menyalak di belakang bokongnya.
Melihat Adam dikejar-kejar anjing, ketakutan Ansel mendadak hilang digantikan rasa geli yang luar biasa. Ia tertawa terpingkal-pingkal di atas pohon. "WAHAHAHA! Kalau wartawan tahu ini pasti jadi headline utama! 'CEO A-Games Dikejar Anjing Gara-Gara Ngidam Buni!' Wah, rekor ini! Hahaha!"
Saking asyiknya tertawa, Ansel berjingkrak di atas dahan yang ia pijak. Ia tidak menyadari bahwa dahan itu cukup kecil untuk menopang berat badannya.
KRAAAK!
"EH?! ALLAHU AKBAR!"
Dahan itu patah. Tubuh Ansel terjatuh, namun untungnya tangannya sempat menyambar ranting yang lebih kuat di atasnya. Kini, Ansel bergelantungan di udara dengan kaki menendang-nendang kosong.
"ADAM! TOLONG! TANGANKU LICIN! AKU TIDAK MAU JADI MAKANAN ANJING!" jerit Ansel lagi.
Adam, yang sudah berhasil melompat keluar pagar dan menutup pintu pagar dari luar, berdiri terengah-engah. Ia melihat ke arah pohon dan kembali tertawa hingga perutnya sakit. "Wah... Direktur Operasional kita benar-benar sedang bergelayut seperti monyet sirkus! Foto dulu, ah!"
"JANGAN FOTO, ADAM! TOLONG!"
Di saat bersamaan, pemilik rumah keluar sambil membawa semangkuk biskuit anjing. "Blackie, duduk!" perintahnya tegas.
Si anjing hitam langsung duduk manis dengan lidah menjulur, seolah tidak terjadi apa-apa. Sementara Ansel masih bergelantungan di atas sambil menangis sesenggukan, dan Aurel di dalam mobil hanya bisa menutup wajahnya karena malu melihat kelakuan suami dan adiknya