Maxime Brixtone adalah seorang mafia yang sepanjang hidupnya terjebak dalam perselisihan kelam dengan ibu tirinya. Di tengah hidupnya yang penuh duri dan misteri tentang bagaimana konflik itu akan berakhir, Max berada di ambang kematian akibat rencana pembunuhan yang dirancang oleh sang ibu tiri.
Tak disangka, hidupnya di selamatkan oleh seorang wanita yang telah bersuami. Max bersembunyi di kediaman wanita tersebut, hingga mereka tanpa sengaja menyaksikan sang suami melakukan perselingkuhan.
Dari titik itu, batas antara rasa terima kasih, kemarahan, dan obsesi kepada wanita penyelamat hidupnya mulai kabur.
Max pun memiliki sebuah ide gila untuk menjadikan wanita yang telah menyelamatkan nyawanya menjadi seorang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 34
Drake tidak lagi peduli pada penolakan dan teriakan Zayna. Ia menindih tubuh Zayna di tempat tidur dengan seluruh berat badannya, mengunci kedua tangan istrinya di atas kepala.
“Kalau kau bisa melayani mereka demi uang, maka layani aku sekarang karena itu kewajibanmu!” desis Drake tepat di depan bibir Zayna.
“Drake, kumohon... jangan...” suara Zayna parau, namun Drake sudah menutup telinganya.
Setiap rontaan Zayna justru dianggap Drake sebagai bentuk perlawanan yang menantang egonya. Ia menciumi bekas merah di leher Zayna dengan kasar, seolah ingin menghapus jejak "pria lain" dengan kekerasannya sendiri. Di timpa dengan bekas merah yang lebih baru.
Tidak ada kelembutan, tidak ada cinta; yang ada hanyalah kemarahan yang disalurkan melalui gairah yang menghancurkan.
Di bawah dominasi Drake yang membabi buta, Zayna akhirnya berhenti melawan. Tubuhnya menjadi kaku, matanya menatap kosong ke arah langit-langit sementara Drake memaksakan kehendaknya. Zayna kehilangan energi dan tenaga. Drake pria yang memiliki tubuh kekar dan tinggi 180cm, jelas pria itu jauh lebih kuat.
Dengan cepat Drake membuka celana dan pakaiannya, memaksa memasukkan benda kepemilikannya pada milik Zayna.
Sekali dorongan dan masuk. Drake bergerak liar, kasar dan menumpahkan semua gairahnya pada Zayna.
Saat itu Zayna hanya seperti manusia tak bernyawa. Tatapannya kosong. Dia di perkosaaa oleh suaminya sendiri.
Drake melakukannya tanpa jeda, membiarkan gairahnya meluap seperti singa yang lapar. Membuat akal sehatnya hilang di gantikan kerakusannya melihat tubuh molek istri nya yang telah lama ia abaikan. Berbeda dengan Ezme tubuh Zayna memang lebih menggoda, padat, dan memiliki payudaraa yang lebih besar.
Beberapa kali kenikmatan yang Drake rasakan belum juga membuatnya puas. Secara kasar Drake membolak balikkan tubuh Zayna sesuai kemauannya. Hingga beberapa lengannya membiru karena cengkraman kuat tangan Drake.
Drake tidak menyadari—atau mungkin menolak untuk peduli—bahwa dia sendiri telah berselingkuh. Dan kini seolah menolak harga dirinya jatuh bahwa Zayna sudah menjadi wanita yang mulai bangkit, Drake mencoba meruntuhkannya lagi.
Zayna hanyalah seorang wanita yang telah di khianati. Dan Drake tidak pernah benar-benar peduli pada perasaan Zayna. Drake hanya mau mengikuti ego nya.
Setelah semuanya berakhir, Drake bangkit dengan perasaan muak yang luar biasa—pada Zayna, dan pada dirinya sendiri. Ia meraih kemejanya, membuang muka dari sosok Zayna yang hancur di atas tempat tidur.
“Kau menjijikkan,” ucap Drake dingin sambil memungut map biru di lantai.
“Besok, aku akan memastikan surat cerai ini sampai ke pengadilan. Aku tidak butuh barang rongsokan yang sudah dipakai orang lain.”
Drake melangkah keluar dan membanting pintu kamar, meninggalkan Zayna dalam kehampaan yang mematikan. Meninggalkan tubuh Zayna dalam ketelanjaangan yang di penuhi sprem miliknya.
Keheningan yang menyusul setelah bantingan pintu itu terasa lebih memekakkan telinga daripada teriakan Drake tadi. Zayna tetap bergeming, tubuhnya yang kaku seolah telah kehilangan koneksi dengan jiwanya.
Di atas ranjang yang kini berantakan, ia merasa seperti rongsokan yang baru saja digilas. Angin malam menyelinap masuk dari celah jendela, menerpa kulitnya yang terekspos, namun rasa dingin itu tak sebanding dengan kekosongan yang menjalar di dadanya.
Air mata Zayna mengalir tanpa suara, membasahi bantal yang kini berbau parfum Drake yang bercampur dengan aroma kemarahan. Gaun indah yang ia beli dengan sisa tabungan terakhirnya—sebuah upaya kecil untuk merasa menjadi manusia kembali—kini hanyalah tumpukan kain robek yang tak berharga di lantai.
Ia memandangi bekas-bekas merah di tubuhnya. Drake menganggapnya noda pengkhianatan, lalu bagaimana dengan dia yang terang-terangan berselingkuh dengan wanita lain.
Zayna tertawa kecil, suara yang lebih mirip sedu sedan yang pecah.
“Dia pikir aku menjual diri...” bisiknya lirih pada kesunyian.
Dunia Zayna runtuh bukan karena Drake mengambil paksa haknya, tapi karena Drake bahkan tidak memberinya kesempatan untuk menjadi manusia di matanya. Drake datang sebagai hakim, jaksa, sekaligus algojo dalam satu waktu.
Map biru itu sudah dibawa pergi. Besok, Drake mungkin akan menyerahkannya pada pengadilan dengan rasa puas, merasa dirinya adalah korban pengkhianatan yang suci.
Zayna perlahan menekuk lututnya, memeluk dirinya sendiri di tengah ranjang yang luas itu. Ia merasa kotor, bukan karena apa yang Drake tuduhkan, tapi karena ia menyadari bahwa selama ini ia mencintai pria yang sanggup menghancurkannya sedalam ini.
Setelah waktu yang terasa seperti selamanya, Zayna bergerak. Dengan sisa tenaga yang ada, ia menyeret tubuhnya menuju kamar mandi. Ia menyalakan pancuran air dingin, membiarkan air menghapus jejak sentuhan Drake yang masih terasa membakar kulitnya.
Di bawah guyuran air, tatapan matanya yang tadi kosong mulai menajam. Ada sesuatu yang patah di dalam sana, namun ada sesuatu yang lain yang mulai mengeras.
Jika Drake ingin kehancurannya, maka Drake tidak akan mendapatkannya. Jika Drake ingin perceraian itu, Zayna akan memberikannya—bukan sebagai pihak yang kalah, tapi sebagai pihak yang akhirnya terbebas dari monster.
————
Kenji menahan napas di balik kemudi saat Drake melintas cukup dekat dengan persembunyiannya. Kaca jendela mobil yang sedikit terbuka memungkinkan Kenji menangkap gumaman lirih yang keluar dari mulut Drake—sebuah pengakuan yang membuat darah Kenji berdesir dingin.
“Sialan, Zayna masih sangat sempit dan justru semakin membuatku ketagihan. Aku akan datang lagi sebelum perceraian ini benar-benar selesai. Aku ingin lagi… Dia jauh lebih memuaskan daripada Ezme. Tapi sayangnya, jika aku tidak menceraikannya maka semua pencapaianku akan sia-sia.”
Drake masuk ke mobilnya, membanting pintu, dan memacu mesin dengan kasar, meninggalkan debu yang berterbangan di jalanan sepi itu.
Tangan Kenji gemetar saat ia menekan nomor khusus. Sambungan langsung ke Bleiz, pria yang selama ini memerintahkannya untuk menjaga Zayna dari kejauhan.
“Tuan Bleiz, maaf.” suara Kenji rendah, penuh ketegangan.
Hening.
Tak ada napas. Tak ada suara latar. Hanya kesunyian yang terasa semakin menekan.
Bleiz tidak segera menjawab.
Beberapa detik yang terasa jauh lebih lama dari seharusnya.
Di dalam mobilnya, Kenji bisa merasakan bahwa keheningan itu bukan sekadar diam—melainkan pertanda bahwa sesuatu sedang dipertimbangkan.
Akhirnya, suara Bleiz terdengar lagi. Lebih pelan. Lebih terkendali.
“Tuan Max akan segera datang.”
Nada itu bukan sekadar informasi. Itu keputusan.
“Tetap di sana sampai kami tiba. Pastikan Zayna aman.”
Satu detik hening, lalu perintah berikutnya turun seperti bilah tajam.
“Setelah itu, kau ikuti Drake. Jangan sampai ia sadar. Laporkan setiap pergerakannya.”
“Baik, Tuan. Saya mengerti.”
Sambungan terputus.
Kenji menatap rumah itu lagi.
Tirai jendela kini tertutup rapat.
Tak ada tanda gerakan dari dalam.
Namun entah mengapa, udara di sekitar rumah itu terasa berbeda—lebih berat. Lebih tegang.
Di tempat lain, Max baru saja menerima laporan singkat dari Bleiz.
Nama Drake kini bukan sekadar nama yang akan di tenggelamkan oleh Max namun juga akan di binasakan.
Ia telah melewati batas yang tidak ia sadari.
Dan jika benar Drake berniat kembali—
Maka yang akan ia hadapi bukan lagi wanita yang ia anggap lemah.
Melainkan seseorang yang kini berada dalam perlindungan pria yang jauh lebih berbahaya daripada yang pernah ia bayangkan.
Bersambung
di satu sisi ok. tapi disisi Laen, kebebasan terampas.
Tapi salut sama Darwin. Dia berani dan lantang. gak kek bapaknya, yang gampang takut 🫣
tuan nelson hrs pnjng umur dlu biar dia bsa jelsin ke max yg sbnar.a
aku mencintaimu zayna, mari kita mulai semua dari awal. lupakan masalalu dan sambutlah masa depan denganku. gimana tanggapan Zayna nanti🤣
astaga zayna 🤐
diboongin lgii perihal hp 🙊 moga kdpan.a pasangan ni bsa sling jjur dlm kmunikasi 😁
Dari awal baca, bletz itu ku pikir perempuan 😂. ternyata lelaki. karna tmnku juga namanya bleitz tapi cewek✋