Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.
Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".
Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.
Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Teh di Antara Dua Waktu
Adrian cuma bisa melongo ngelihat sosok yang ada di depannya. Gila, rasanya kayak lagi ngaca tapi versi sepuluh atau dua puluh tahun ke depan. Adrian "Masa Depan" itu kelihatan jauh lebih tenang, nggak ada raut panik atau capek kayak yang lagi dirasain Adrian sekarang. Jasnya rapi, warnanya perak metalik yang kayaknya bahannya dari serat optik, dan gerakannya pas lagi nuang teh itu luwes banget, seolah-olah dia punya semua waktu di alam semesta.
"Minum, Adrian. Di sini tehnya nggak bakal pernah dingin, sama kayak memori yang kita punya," ucap sosok itu sambil nyodorin cangkir porselen putih kecil.
Adrian nerima cangkir itu dengan tangan gemeter. Anehnya, pas dia nyentuh cangkirnya, dia nggak ngerasa panas atau dingin. Dia cuma ngerasa ada aliran data yang masuk lewat ujung jarinya. "Lu... lu beneran gua? Atau lu cuma AI yang pinter akting?"
Adrian perak itu senyum tipis. "Gua adalah lu yang udah milih buat tinggal. Gua adalah akumulasi dari semua kemungkinan yang lu ambil pas lu mutusin buat nyuntikkin cairan itu ke nadi lu. Secara teknis, gua adalah backup kesadaran lu yang disimpen di 'awan' Malabar."
"Berarti gua udah mati?" Adrian nanya, jantungnya (atau apa pun yang ada di dimensi ini) berdegup kenceng. "Belum. Tapi tubuh fisik lu di kapal selam Sekar lagi ada di ambang batas. Air udah masuk ke paru-paru lu, dan kalau lu nggak mutusin buat balik dalam dua menit, gua bakal jadi satu-satunya versi Adrian yang tersisa." Sosok itu nunjuk ke salah satu layar raksasa di belakangnya.
Di layar itu, Adrian bisa ngelihat Sekar lagi teriak-teriak manggil namanya sambil nyoba nyumbat kebocoran di kapal selam pake busa darurat. Wajah Sekar penuh luka, dan air laut udah setinggi pinggang. Pemandangan itu bikin hati Adrian perih.
"Kenapa lu nggak bantu gua?" tanya Adrian kesel. "Lu kan punya akses ke seluruh jaringan! Matiin satelitnya! Hancurin drone di Malabar!"
"Gua nggak bisa, Adrian. Gua cuma 'catatan'. Yang punya otoritas buat ngerubah realitas itu cuma lu yang masih punya raga," jawab Adrian perak itu dengan nada datar. "Sistem Malabar ini kayak pedang bermata dua. Kalau lu pake emosi buat nyerang, sistem bakal nganggep lu virus dan nghapus lu. Tapi kalau lu pake logika murni, lu bakal kehilangan kemanusiaan lu kayak gua sekarang."
Adrian ngelihat ke arah tehnya. "Terus apa yang harus gua lakuin? Warga desa bakal mati, Sekar bakal tenggelam, dan gua cuma duduk di sini ngobrol sama bayangan?"
"Ada opsi ketiga," Adrian perak itu berdiri, matanya yang perak nyala lebih terang. "Jangan lawan sistemnya. Jadi sistemnya. Jangan anggep data itu sebagai musuh, tapi anggep sebagai bagian dari raga lu. Malabar itu bukan cuma kebun teh, Adrian. Malabar itu sirkuit organik. Lu harus 'bernafas' lewat jaringan itu."
Tiba-tiba, ruangan putih itu bergetar hebat. Layar-layar mulai glitch dan muncul wajah Aris yang kelihatan lagi marah besar. "Adrian! Keluar dari sub-sektor itu sekarang! Kau merusak integritas server kami!"
Adrian perak itu narik tangan Adrian. "Waktu lu abis. Inget, Adrian... jangan cuma liat kodenya, tapi rasain 'rasa' tehnya. Itu kuncinya."
ZRRRRAAAAAP!
Kesadaran Adrian ditarik paksa lagi. Dia ngerasa paru-parunya perih luar biasa. Dia tersedak air laut yang dingin dan bau solar. Dia balik ke dunia nyata, ke dalem kabin kapal selam yang udah hampir tenggelam total.
"ADRIAN! BANGUN!" Sekar teriak sambil narik kerah bajunya, nyoba bawa Adrian ke lubang palka darurat.
Adrian ngebuka matanya. Tapi kali ini, matanya nggak cuma kedip-kedip perak. Pupil matanya berubah jadi lingkaran digital yang terus muter. Dia nggak lagi ngelihat air sebagai musuh. Dia bisa ngelihat molekul air, dia bisa ngelihat arus listrik yang bocor dari panel instrumen kapal selam.
"Sekar... lepasin gua," bisik Adrian. Suaranya udah nggak kedengeran kayak suara manusia, lebih kayak suara ribuan frekuensi radio yang digabung jadi satu.
"Lu gila?! Kita harus keluar!"
Adrian nggak dengerin. Dia nempelasin telapak tangannya ke air yang udah ngerendem lantai kapal. Dia fokus. Dia bayangin seluruh kapal selam ini adalah bagian dari tangannya. Dia bayangin laser orbital yang lagi ngunci mereka adalah bagian dari matanya.
Seketika, cahaya putih bening meledak dari tubuh Adrian. Air yang masuk ke kapal selam mendadak berhenti bergerak, seolah-olah membeku di udara tapi tetep cair. Sinyal radar yang tadinya bunyi tit-tit-tit kenceng banget, tiba-tiba berubah jadi suara musik klasik yang tenang.
Di luar sana, satelit militer yang tadinya mau nembakin laser tiba-tiba dapet perintah override. Lensa lasernya muter balik dan nembakin sinyal komunikasi ke seluruh dunia. Drone-drone di desa Malabar yang tadinya mau ngebantai warga, tiba-tiba mati dan jatuh ke tanah kayak lalat yang disemprot obat nyamuk.
"Apa yang lu lakuin, Adrian?" Sekar mundur ketakutan, ngelihat tubuh Adrian yang sekarang hampir transparan, dipenuhi barisan kode perak yang ngalir di kulitnya.
"Gua cuma... 'bernafas', Kar," jawab Adrian. Dia ngangkat tangannya ke arah atas, dan kapal selam itu melesat naik ke permukaan air dengan kecepatan yang nggak masuk akal, tapi tanpa bikin mereka ngerasa guncangan sedikit pun.
Pas mereka nyampe ke permukaan, air laut di sekitar mereka mendadak tenang banget, kayak cermin. Langit yang tadi malem udah mulai berubah jadi fajar. Tapi fajar ini warnanya bukan oranye, tapi ungu keperakan.
Adrian keluar dari palka, berdiri di atas lambung kapal selam yang masih ngambang. Dia ngelihat ke arah ufuk timur. Dia bisa ngerasain Aris lagi ngamuk di markasnya. Dia bisa ngerasain bokapnya lagi nunggu di suatu tempat di bawah gunung berapi. Dan dia bisa ngerasain ribuan orang di dunia yang baru aja dapet 'bisikan' aneh di dalem kepala mereka.
"Sistemnya... udah ganti tuan, Kar," gumam Adrian.
Sekar keluar, berdiri di sampingnya dengan napas terengah-engah. Dia megang pistolnya, tapi tangannya gemeteran. "Adrian... lu masih temen gua kan? Lu bukan... mesin itu kan?"
Adrian noleh ke Sekar. Lingkaran digital di matanya pelan-pelan ilang, ganti jadi mata cokelatnya yang biasa, tapi tetep ada sisa kilauan perak di sudutnya. Dia senyum, senyum yang tulus banget, tapi ada kesedihan yang dalem di sana.
"Gua masih Adrian, Kar. Tapi gua nggak bisa balik lagi ke Jakarta. Gua nggak bisa jadi CEO lagi."
Tiba-tiba, permukaan air laut di depan mereka retak. Bukan karena kendaraan Aris, tapi karena ada sesuatu yang sangat besar mulai muncul dari bawah laut. Sebuah menara raksasa yang mirip sama menara di puncak Malabar, tapi ukurannya sepuluh kali lebih gede dan terbuat dari bahan yang kelihatan kayak batu giok bening.
Menara itu ngeluarin frekuensi rendah yang bikin seluruh permukaan laut bergetar ritmik. Di puncak menara itu, ada sebuah kursi kosong yang dikelilingi ribuan kabel optik yang mirip akar pohon teh.
"Itu tempat lu sekarang, kan?" tanya Sekar pelan.
"Itu adalah singgasana yang bokap gua bangun buat gua," Adrian natap menara itu dengan ngeri. "Tapi kalau gua duduk di sana, gua bakal kehilangan diri gua selamanya buat jagain keseimbangan dunia."
Baru aja Adrian mau ngambil langkah, sebuah transmisi suara masuk lagi lewat jaringan di otaknya. Kali ini suaranya bukan dari Aris atau bokapnya.
Suara itu adalah suara jutaan orang yang lagi nangis, lagi teriak, lagi minta tolong. Jaringan Malabar ternyata nggak cuma bawa energi, tapi juga bawa beban emosi semua orang yang udah terkoneksi. Adrian ngerasa dadanya sesak. Dia jatuh berlutut di atas kapal selam, megangin kepalanya.
"Terlalu banyak, Kar... suaranya terlalu banyak!" teriak Adrian.
Di saat yang sama, helikopter hitam milik Aris muncul lagi di langit, kali ini jumlahnya nggak cuma satu, tapi selusin. Mereka ngepung kapal selam itu dari segala arah.
"Adrian Dirgantara!" Suara Aris terdengar lewat pengeras suara yang sangat kenceng. "Kau pikir kau sudah menang? Kau baru saja mengaktifkan protokol 'Kiamat Organik'. Jika kau tidak segera duduk di kursi itu dan menstabilkan jaringan, semua orang yang terhubung akan mengalami kematian otak dalam lima menit!"
Adrian melotot. "Apa?! Lu bohong, Aris!"
"Tanya pada dirimu sendiri, Adrian! Kau bisa merasakan denyut mereka yang mulai melemah, kan? Itu adalah harga dari kebebasan yang kau berikan!"
Adrian fokus lagi ke jaringan. Bener. Denyut jantung warga Malabar mulai melambat. Detak jantung Sekar di sampingnya juga mulai nggak beraturan.
Sekar jatuh tersungkur, megangin dadanya. "Adrian... rasanya... sakit..."
Adrian berdiri dengan mata penuh amarah. Dia ngelihat ke arah menara giok di depannya, lalu ke arah helikopter Aris. Dia tahu Aris sengaja ngebajak protokolnya buat maksa Adrian menyerah.
"Gua bakal duduk di sana," kata Adrian dengan suara yang dingin banget sampai bikin air laut di sekitarnya membeku. "Tapi bukan buat jadi budak lu, Aris. Gua bakal duduk di sana buat nghapus lu dari sejarah."
Adrian melompat dari kapal selam, tapi bukannya jatuh ke air, dia seolah-olah jalan di atas udara, tiap langkahnya ninggalin jejak cahaya perak. Dia menuju ke arah menara raksasa itu.
Pas dia udah nyampe di depan kursi "Akar" itu, dia ngelihat ada satu pesan kecil yang ditulis pake tangan, ditempelin di sandaran kursi. Tulisan tangan ibunya.
Satu rahasia terakhir: Kursinya hanya bisa aktif kalau ada dua orang. Satu sebagai penggerak, satu sebagai pengikat kemanusiaan.
Adrian noleh ke belakang, ke arah Sekar yang udah hampir pingsan di kapal selam. Dia sadar, dia nggak bisa ngelakuin ini sendirian. Dia butuh Sekar buat jadi "sauh"-nya supaya dia nggak tenggelam jadi mesin sepenuhnya.
Tapi kalau dia bawa Sekar, Sekar juga bakal terjebak selamanya di menara itu.
"Kar! Lu percaya sama gua?!" teriak Adrian. Sekar ngangkat kepalanya pelan, matanya sayu tapi dia tetep nyoba buat senyum. "Dari awal... gua emang udah ditugasin buat jagain lu sampai akhir, kan?"
Apakah Adrian akan nekat membawa Sekar bersamanya ke dalam sistem yang akan menyerap kemanusiaan mereka berdua demi menyelamatkan dunia? Dan apa sebenarnya protokol "Kiamat Organik" yang diaktifkan Aris apakah itu gertakan sambal ataukah bencana nyata yang tak bisa dihentikan? Sementara itu, dari balik bayang-bayang menara, sebuah sosok baru muncul, seseorang yang wajahnya tertutup topeng lili perak tapi memiliki aura yang sangat dikenal oleh Adrian.
semangat update terus tor..