Seorang wanita yang dikhianati dan dihancurkan hidupnya kembali ke masa kuliah 6 tahun lalu. Berbekal ingatan masa depan, ia bertransformasi dari si "Memey" yang naif menjadi Odelyn yang predator, demi menghancurkan pria yang pernah menghamilinya dan meninggalkannya begitu saja. Memiliki misi Glow Up dan pola hidup sehat secara ekstrem buat balas dendam. Tapi dia malah terjebak di tengah konflik keluarga konglomerat yang misterius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Kendali Vandermere
Di dalam ruang bawah tanah kediaman Hediva, Odelyn berdiri di depan deretan layar monitor raksasa yang menampilkan peta digital London secara real-time. Hediva memberikan akses penuh pada satelit Vandermere Group.
"Gavin sudah berada di dalam mobil asisten saya. Mereka sedang menuju safe house di pinggiran Camden," ucap Hediva sambil menunjuk titik biru yang bergerak cepat.
Odelyn menatap layar itu dengan rahang yang mengeras. Ia tidak boleh terlihat goyah. "Bagus. Beri tahu asisten kamu untuk mematikan semua perangkat elektronik Gavin kecuali jam tangan yang saya berikan. Sinyal satelit kamu lebih aman."
"Lalu apa rencana kamu selanjutnya, Odelyn?" tanya Hediva.
"Baron pasti akan mencari tahu siapa yang membantu Gavin."
Odelyn berbalik, matanya berkilat tajam.
"Kita akan mempercepat peluncuran proyek satelit kita. Besok pagi, saya akan mengadakan konferensi pers besar di Singapura.
Saya akan mengumumkan bahwa G-Corp dan Vandermere Group resmi melakukan merger untuk proyek ini."
Hediva mengangkat alis, terkejut dengan keberanian Odelyn.
"Kamu mau memancing Baron keluar?"
"Tepat. Dengan pengumuman itu, fokus Baron akan beralih ke saya dan kamu di Singapura.
Dia akan mengira Gavin hanyalah pion kecil yang dikirim untuk mengalihkan perhatian, sementara 'perang' sebenarnya ada di sini. Itu akan memberi Gavin ruang napas untuk masuk kembali ke markas Baron saat mereka lengah.
"Pagi harinya, Odelyn muncul di hadapan ratusan jurnalis di Marina Bay Sands. Tidak ada jejak air mata di wajahnya. Ia tampak sangat mempesona dengan setelan blazer putih tulang yang elegan, berdiri berdampingan dengan Hediva.
"Kerja sama ini adalah masa depan teknologi Asia dan Eropa," ucap Odelyn dengan nada bicara yang sangat stabil di depan puluhan kamera.
Di sela-sela kilatan lampu flash, ponsel di saku Odelyn bergetar pelan. Sebuah pesan kode masuk dari alat monitornya.
Gavin: "Gue aman. Berita lo udah sampe ke sini. Baron ngamuk di klubnya karena ngerasa 'kecolongan' fokus. Gue bakal masuk ke ruang arsip malem ini saat dia sibuk nelpon partner-partnernya di Asia. Makasih udah jadi pengalih yang paling cantik, Lyn."
Odelyn tersenyum sangat tipis—sebuah senyum yang diartikan jurnalis sebagai kepuasan bisnis, padahal itu adalah senyum kelegaan seorang kekasih.
Setelah konferensi pers selesai, Hediva mengajak Odelyn minum kopi di lounge eksklusif.
"Kamu hebat, Odelyn. Kamu mempertaruhkan reputasi perusahaan kamu hanya untuk memberi dia waktu," ucap Hediva sambil mengaduk kopinya.
"Apa dia bener-bener sepadan dengan semua risiko ini?"
Odelyn menatap Hediva datar.
"Ini bukan soal sepadan atau enggak, Hediva. Ini soal menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Saya nggak suka ada urusan yang menggantung, baik itu bisnis... maupun perasaan."
"Lalu gimana kalau dia berhasil?" tanya Hediva lagi, suaranya sedikit merendah.
"Kalau dia balik membawa kemenangan, apa kamu akan benar-benar kembali ke pelukannya dan ninggalin semua peluang yang bisa saya kasih?"
Odelyn meletakkan cangkirnya perlahan.
"Hediva, kamu adalah partner bisnis yang luar biasa. Tapi jangan pernah samakan angka-angka di saham dengan detak jantung. Gavin adalah orang yang memegang detak jantung saya, mau saya akui atau tidak."
Hediva terdiam, merasakan kekalahan telak untuk kesekian kalinya. Di saat yang sama, layar di tablet Odelyn menunjukkan bahwa titik biru Gavin sudah mulai bergerak kembali menuju koordinat jantung pertahanan Baron Vandermere.
....
Seminggu telah berlalu sejak konferensi pers. Odelyn sengaja memperlambat ritme. Di layar monitornya, titik biru Gavin terlihat statis di sebuah pinggiran kota London, seolah-olah ia sedang bersembunyi atau bahkan sudah menyerah. Ini adalah instruksi Odelyn: Diam dan jangan bergerak sampai Baron menganggapmu bukan lagi ancaman.
Untuk mendukung narasi itu, Odelyn mulai tampil lebih sering di hadapan publik bersama Hediva. Malam ini, mereka menghadiri makan malam amal di Victoria Theatre.
"Tersenyumlah sedikit, Odelyn," bisik Hediva sambil menawarkan lengannya saat mereka menaiki tangga karpet merah.
"Dunia harus melihat bahwa kamu sedang merayakan kesuksesan baru, bukan sedang mencemaskan seorang pria di London."
Odelyn melingkarkan tangannya di lengan Hediva. Ia memulas senyum paling menawan yang pernah ia miliki.
"Saya sedang tersenyum, Hediva. Hanya saja mata saya tidak bisa berbohong sesempurna bibir saya."
Di dalam aula, mereka menjadi pusat perhatian. Hediva bersikap sangat manis, sesekali membisikkan sesuatu di telinga Odelyn yang membuat Odelyn tertawa kecil—semuanya hanyalah akting yang dirancang Odelyn untuk tertangkap kamera paparazzi.
"Kamu tahu, Baron sudah mulai menghubungi ayah saya," ucap Hediva saat mereka berdansa perlahan di tengah ruangan.
"Dia bertanya apakah hubungan kita serius. Dia merasa kalau kamu benar-benar bersama saya, maka pria bernama Gavin itu hanyalah sampah masa lalu yang sudah kamu buang."
Odelyn mengikuti langkah dansa Hediva dengan anggun.
"Itu tujuannya. Biarkan Baron merasa menang. Biarkan dia menurunkan penjagaannya di ruang arsip karena dia pikir 'mata-mata' yang saya kirim sudah kehilangan dukungan finansial dan emosional dari saya."
Hediva menatap mata Odelyn, mencoba mencari celah.
"Tapi sampai kapan, Lyn? Kamu menggunakanku sebagai tameng, dan aku membiarkannya. Tapi terkadang, aku berharap sandiwara ini menjadi kenyataan."
Odelyn tidak menjawab. Ia justru menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Hediva, sebuah gestur yang sangat intim bagi siapa pun yang melihat dari jauh. Namun, di balik pundak Hediva, mata Odelyn tetap dingin, menatap lurus ke arah jam tangannya yang terhubung dengan notifikasi enkripsi dari London.
Setelah acara selesai, Hediva mengantar Odelyn pulang. Kali ini, mereka tidak langsung masuk ke ruang kendali. Mereka berdiri di balkon apartemen Odelyn, melihat pemandangan Singapura yang tenang.
"Berita tentang kita sudah sampai di London," ucap Hediva sambil menunjukkan tabletnya. Headline berita pagi London menampilkan foto mereka berdua dengan judul: “The New Power Couple of Asia.”
Odelyn mengambil tablet itu, jemarinya bergetar sedikit.
"Baron akan membaca ini. Dia akan merasa aman sekarang. Dia akan berpikir Gavin hanyalah orang buangan yang sedang sekarat di suatu tempat di Camden."
"Dan Gavin?" tanya Hediva.
"Bagaimana kalau dia melihat berita ini? Bagaimana kalau dia mengira kamu benar-benar meninggalkannya?"
Odelyn terdiam. Ia teringat janji Gavin di bandara. Ia tahu ia sedang menyakiti perasaan Gavin jika pria itu melihat berita ini tanpa tahu rencananya. Tapi ini adalah satu-satunya cara.
"Gavin tahu saya," jawab Odelyn lirih. "Dia tahu kalau saya adalah orang yang paling tega di dunia demi mencapai tujuan. Dan tujuan saya sekarang adalah membawa dia pulang dengan selamat, apa pun harganya... termasuk kebenciannya pada saya."
Malam itu, Odelyn kembali duduk di depan monitornya. Titik biru Gavin masih diam. Tak ada suara. Tak ada pesan. Hanya kesunyian yang mencekam antara dua benua.