Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Kembali ke Neraka
Rasa duka di hati Lunaris masih basah, namun dunia seolah tidak peduli. Realitas menyeretnya paksa untuk kembali berputar.
Pagi itu, dengan mata yang masih terasa berat, Lunaris bersiap untuk kembali ke sekolah —tempat yang bagi dirinya tak ubahnya sebuah neraka.
Lunaris berdiri di depan cermin kecil yang sudah agak buram di kamarnya. Ia merapikan kerah seragam lamanya yang sudah mulai menguning di bagian tepinya.
Seragam itu terasa sedikit lebih longgar dari biasanya, mungkin karena berat badannya yang turun drastis dalam tiga hari terakhir.
Tangannya gemetar saat mengancingkan kemeja itu satu per satu. Ia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia harus sekolah. Ia harus tetap hidup, karena itulah satu-satunya hal yang diinginkan ibunya.
Namun, saat ia melangkah keluar dari kamar, langkahnya terhenti.
Rumah itu menyambutnya dengan kesunyian yang mencekik. Biasanya, jam segini dapur sudah dipenuhi aroma nasi goreng mentega yang harum atau bau asap tipis dari kompor yang susah dinyalakan.
Biasanya, telinganya akan terganggu oleh suara TV butut mereka —benda tua yang sering bersemut namun tetap dinyalakan ibunya untuk sekadar memecah sepi.
Kini, tidak ada suara denting spatula. Tidak ada suara berita pagi dari TV yang kritis itu. Tidak ada suara Nova, ibunya yang mengomel agar ia cepat-cepat segera sarapan dan berangkat sebelum halte penuh.
Lunaris berdiri mematung di tengah ruang tamu yang remang-remang. Kesadaran itu menghantamnya lebih keras dari sebelumnya: Dia benar-benar sendirian sekarang.
Tidak ada lagi siapa pun di rumah ini yang menunggunya pulang atau mencemaskan keberangkatannya. Rumah ini bukan lagi tempat berteduh, melainkan hanya kotak beton berisi kenangan yang menyakitkan.
Ia menyeka air mata yang nyaris jatuh dengan punggung tangannya, lalu bergegas keluar sebelum keberaniannya runtuh sepenuhnya.
Lunaris menarik napas panjang, menguatkan hati sebelum memutar kunci pintu rumahnya.
Namun, saat pintu kayu itu baru saja terbuka sedikit, ia tersentak. Sosok Nyonya Lyn sudah berdiri di sana, tangannya terangkat di udara—tampaknya baru saja hendak mengetuk pintu, tapi urung saat pintu lebih dulu terbuka.
Nyonya Lyn sedikit terkejut, namun senyum tulus segera merekah di wajah tuanya yang teduh. Di tangannya, ia menjinjing sebuah wadah makanan yang masih mengeluarkan uap tipis, menyebarkan aroma sup hangat yang kontras dengan udara pagi yang dingin.
"Eoh, Luna... sudah mau berangkat, Nak?" tanya Nyonya Lyn lembut.
Lunaris mengerjapkan mata, sedikit bingung. "Nyonya Lyn? Kenapa nyonya sudah di sini pagi-pagi sekali?"
"Aku tahu kamu pasti tidak sempat menyentuh dapur pagi ini," Ucap Nyonya Lyn sambil menyodorkan wadah makanan itu ke tangan Lunaris. "Makanlah, setidaknya saat istirahat nanti perutmu tidak boleh kosong, apalagi setelah semua yang terjadi. Kamu butuh tenaga untuk menghadapi hari."
Lunaris menerima wadah itu dengan perasaan campur aduk. Kehangatan yang menjalar dari plastik makanan itu seolah menyentuh hatinya yang sedang membeku. "Terima kasih, Nyonya. Seharusnya Nyonya tidak perlu repot-repot begini. Nyonya Lyn sudah banyak membantuku kemarin."
"Jangan sungkan begitu, nak." Nyonya Lyn tidak langsung pergi. Ia menatap wajah Lunaris yang masih pucat, lalu meraih jemari gadis itu. "Luna, apa kamu yakin tidak mau tinggal di rumahku saja? Kamar tamuku kosong, kamu misa menempatinya. Atau setidaknya sampai perasaanmu lebih baik. Aku sangat khawatir membiarkanmu sendirian di rumah ini, Nak. Sunyinya rumah ini bisa lebih menyakitkan daripada luka apa pun."
Tatapannya penuh permohonan, seperti seorang ibu yang enggan membiarkan anaknya berjalan di kegelapan sendirian.
Lunaris terdiam sejenak. Ia menoleh ke dalam rumahnya yang gelap dan sunyi, lalu kembali menatap Nyonya Lyn. Ia tersenyum tipis—senyum paling sedih yang pernah dilihat Nyonya Lyn.
"Aku nggak apa-apa, Nyonya," Jawabnya pelan namun tegas. "Nyonya Lyn gak perlu khawatir. Aku harus belajar mandiri. Lagipula... di sini banyak kenangan tentang Ibu. Kalau aku pergi, rumah ini akan benar-benar mati. Aku ingin menjaganya sebisa mungkin."
Mendengar keras kepalanya Lunaris, Nyonya Lyn hanya bisa mendesah pasrah. Ia mengusap bahu Lunaris dengan sayang. "Baiklah, aku tidak akan memaksa. Tapi berjanjilah, kalau ada apa-apa, sekecil apa pun itu, segera lari ke rumahku. Pintu rumahku selalu terbuka untukmu."
"Baik dan terimakasih karena nyonya Lyn sudah mengkhawatirkan aku. Dan mungkin aku harus segera berangkat sekolah. Aku akan memakan ini di sekolah nanti. Sekali lagi terima kasih nyonya."
Setelah berpamitan, Lunaris mulai melangkahkan kakinya meninggalkan pekarangan.
Karena kakiny yang bengkak dan sakit, langkah Lunaris cukup pelan dan pincang. Namun, perjalanan menuju halte hari itu terasa sangat tidak biasa.
Suasana lingkungan tempat tinggalnya terasa jauh lebih mencekam daripada kemarin.
Di sepanjang jalan, Lunaris merasa seolah ribuan mata sedang mengawasinya dari ketinggian.
Puluhan burung gagak hitam pekat hinggap dengan tenang di kabel listrik yang melintang, di pagar-pagar rumah warga yang berkarat, hingga di dahan pohon yang tak berdaun.
Anehnya, mereka tidak terbang menjauh saat Lunaris lewat. Mereka justru diam mematung, hanya memutar leher mereka mengikuti arah gerak Lunaris.
Kaaak! Kaaak!
Suara lengkingan parau itu terdengar bersahut-sahutan di udara, nadanya ganjil dan tidak biasa, seolah mereka sedang saling memberi sinyal bahwa "target" mereka baru saja melintas.
Lunaris merapatkan jaketnya, merasa bulu kuduknya meremang. Ia menundukkan kepala, mempercepat jalannya menuju halte meski pergelangan kakinya masih berdenyut nyeri.
Ia merasa seperti mangsa yang sedang dikawal oleh sekumpulan malaikat maut menuju pintu gerbang neraka yang ia sebut sekolah.
.
.
.
Sesampainya di gerbang sekolah, harapan Lunaris untuk memulai hari dengan tenang langsung hancur. Lunaris berharap kedatangannya ke sekolah tidak menarik perhatian dari siapapun.
Lunaris berharap jika dia akan diabadikan seperti biasanya. Tapi harapan Lunaris untuk menyelinap masuk ke sekolah tanpa menarik perhatian hancur berantakan tepat di depan gerbang utama.
Langkahnya yang pincang terhenti saat melihat tiga sosok yang seolah menjadi penjaga gerbang neraka.
Bracia berdiri di tengah, mengenakan seragam yang disesuaikan sempurna dengan tren terbaru, kontras dengan Lunaris yang tampak kusam.
"Wah, lihat siapa yang memutuskan untuk kembali ke peradaban," Ejek Bracia dengan suara nyaring, sengaja menarik perhatian para siswa yang baru turun dari bus sekolah.
Lunaris menunduk, mencoba mengabaikan tatapan-tatapan penasaran di sekelilingnya. Namun, Bracia justru melangkah maju, mempersempit jarak hingga Lunaris bisa mencium aroma parfum mahal yang kini terasa memuakkan.
"Gue denger nyokap lo meninggal kemarin. Dan lo tau apa artinya? Itu artinya bahkan ibu lo udah muak tinggal bareng pembawa sial kaya lo. Makanya dia lebih milih mati daripada kelamaan tinggal sama lo."
"Bracia, lo udah keterlaluan!"
Bracia tertawa kecil, seolah-olah apa yang baru dikatakan Lunaris adalah sebuah lelucon. "Bagian mananya yang keterlaluan? Yang gue bilang itu fakta, buktinya nyokap lo mati, dan itu karena lo adalah pembawa sial."
"Bracia, lo—"
"Gimana rasanya ditinggal mati ibu tercinta, Naris? Sepi, ya? Kasihan banget," Potong Bracia menyeringai, matanya berkilat penuh kemenangan. "Pasti sekarang rumah lo makin bau amis dan busuk karena nggak ada lagi si tukang cuci yang ngurus. Oh, atau jangan-jangan baunya berasal dari lo sendiri karena terlalu lama memeluk mayat nyokap lo?"
Kalimat itu seperti sembilu yang menyayat luka yang baru saja mengering.
Lunaris mengepalkan tangannya kuat-kuat di sisi tubuh hingga kuku-kukunya memutih dan menancap di telapak tangan. Dadanya sesak, napasnya memburu menahan gelombang kemarahan dan kesedihan yang nyaris meledak.
Ia ingin berteriak, ia ingin membalas, tapi lidahnya terasa kelu.
Sebelum Bracia sempat membuka mulut untuk melontarkan hinaan yang lebih keji, sebuah bayangan tinggi menyelimuti mereka. Atmosfer di sekitar gerbang itu mendadak turun beberapa derajat.
Sebuah tangan kekar dengan urat-urat yang menonjol tiba-tiba meraih bahu Lunaris, menarik gadis itu mundur dengan satu gerakan protektif namun tegas.
Aaron membawa tubuh Lunaris dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya yang tinggi menjulang.
"Cukup, Bracia." Suara Aaron terdengar rendah, berat, dan mengandung ancaman yang tak terbantahkan.
Bracia tersentak, suaranya tercekat di kerongkongan saat matanya bertemu dengan tatapan Aaron yang setajam silet.
Aaron berdiri di sana dengan aura yang begitu dingin, rahangnya mengeras, dan mata gelapnya seolah sedang menguliti keberanian Bracia.
"Aaron... aku cuma—" Bracia mencoba membela diri, namun suaranya menciut.
Tanpa memedulikan penjelasan apa pun, Aaron membalikkan tubuh Lunaris. Ia tidak bertanya apakah Lunaris baik-baik saja; ia hanya mencengkeram pergelangan tangan gadis itu—sedikit terlalu erat karena emosi yang tertahan—dan menariknya menjauh dari kerumunan yang mulai berbisik.
Aaron membawa Lunaris melewati koridor-koridor panjang, menembus lorong laboratorium yang sepi, hingga mereka tiba di taman belakang sekolah.
Tempat itu adalah sudut mati yang terlupakan, hanya ada deretan pohon akasia tua dan bangku semen yang sudah berlumut. Sunyi, tersembunyi, dan jauh dari mata-mata haus drama.
Aaron akhirnya melepaskan pegangannya. Ia berbalik, menatap Lunaris yang masih menunduk dengan napas yang belum teratur. Keheningan di antara mereka terasa berat, hanya diiringi suara dedaunan kering yang bergesekan ditiup angin pagi yang tidak ramah.
Aaron memperhatikan Lunaris dari atas ke bawah, dan keningnya berkerut dalam saat menyadari sesuatu yang membuatnya merasa dongkol sekaligus khawatir.
"Kenapa lo nggak pakai seragam yang gue kasih?" tanya Aaron, suaranya sedikit meninggi karena frustrasi. "Kenapa lo masih pakai baju rongsok ini, tas ini, dan sepatu yang bahkan sudah nggak layak disebut sepatu?"
Lunaris mengangkat kepalanya, mendongak membalas tatapan Aaron dengan binar mata yang mati. "Emangnya kenapa? Seragam ini masih bagus. Lagipula... tanggung kalau pakai yang baru hari ini. Besok sudah Sabtu, sekolah libur. Gue pikir lebih baik pakai yang lama aja dulu, cuma dipakai sehari juga."
Aaron membuang muka, tangannya meraup rambutnya dengan kasar. Ia tidak habis pikir.
Di saat ia mencoba memberikan "perisai" berupa kemewahan agar orang-orang seperti Bracia tidak lagi merendahkannya, Lunaris justru memilih untuk tetap menjadi target yang mudah dengan kesederhanaannya yang keras kepala.
"Kalau nggak ada yang mau lo omongin lagi, gue mau ke kelas sekarang," Ucap Lunaris dingin sembari berbalik, namun suara Aaron menahan langkahnya.
"Luna, apa lo benar-benar mau jauhin gue?" tanya Aaron, suaranya terdengar pecah antara amarah dan luka. "Haruskah lo sebegininya ngejauh dari gue?"
Lunaris menghela napas berat, matanya terpejam sejenak. "Apa omongan gue waktu itu masih belum jelas?"
"Setelah semua yang gue lakuin buat lo?" Sela Aaron cepat, langkahnya mendekat hingga ia berada tepat di belakang Lunaris. "Gue nggak minta balasan, Luna. Gue cuma minta lo jangan dorong gue sejauh ini. Gue cuma pertemanan kita tetap sama kaya dulu."
Lunaris membalikkan badannya perlahan, menatap mata Aaron yang menuntut penjelasan. "Aaron, gue mengucapkan banyak terima kasih buat apa yang lo lakuin buat gue. Makasih udah bantu gue kemarin ngurus proses kremasi ibu gue. Saking banyaknya yang udah lo lakuin buat gue, gue sampe bingung mau balesnya kaya gimana."
Lunaris menjeda kalimatnya, tenggorokannya terasa tercekat. "Tapi Aaron... setiap kali lo ada di dekat gue, gue merasa sesak. Lo itu kayak oksigen yang bercampur racun buat gue. Dekat sama lo cuma bikin gue kesakitan. Bukan cuma karena fisik gue yang hancur dihajar Bracia dan antek-anteknya tiap kali mereka lihat kita bareng, tapi mental gue juga capek."
"Gue bakal lindungin lo, Luna! Gue nggak bakal biarin Bracia—"
"Lo nggak bisa ada di samping gue 24 jam, Aaron!" Potong Lunaris dengan nada yang mulai meninggi, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Percuma lo selamatin gue kalau setelah lo pergi, mereka bakal nyeret gue ke gudang yang lebih gelap. Gue cuma mau tenang. Gue baru aja kehilangan Ibu, Aaron. Dunia gue udah runtuh. Gue nggak punya energi lagi buat perang sama Bracia cuma gara-gara lo."
Lunaris melangkah mundur, menjaga jarak yang seolah menjadi jurang di antara mereka.
"Jadi, tolong. Kalau lo emang peduli sama gue, jauhin gue. Biarkan gue dapat sedikit ketenangan di sekolah ini tanpa perlu merasa was-was setiap kali gue lewat koridor. Biarkan gue sembuh sendirian, tanpa bayang-bayang lo yang justru jadi pemicu luka baru buat gue."
Aaron mematung. Kata-kata Lunaris menghantamnya lebih keras daripada pukulan apa pun. Ia melihat gadis di depannya bukan lagi Lunaris yang ceria, melainkan jiwa yang sudah terlalu lelah untuk berjuang.
Tanpa menunggu reaksi Aaron lebih lanjut, Lunaris berbalik dan berjalan pergi. Ia menyeret kakinya yang sakit dengan tegak, meninggalkan Aaron yang berdiri sendirian di tengah taman yang sunyi, sementara dari kejauhan, suara gagak kembali terdengar—seolah sedang menertawakan perpisahan mereka.
Dan ditempat lain, di balik pilar gedung kelas yang menghadap ke taman, Bracia, Emmeline, Tessa sedang mengamati mereka dengan napas tertahan.
"Dia benar-benar nggak dengar peringatan gue kemarin," Desis Bracia dengan gigi gemeretak.
Emmeline, yang berdiri di sampingnya, mulai menuangkan minyak ke dalam api. "Gue bilang juga apa, Cia. Lunaris itu licik. Lihat deh, dia sengaja tampil kumel dan menyedihkan biar Aaron kasihan. Kayaknya dia gunain kematian ibunya sebagai senjata buat narik perhatian Aaron lagi."
Mendengar itu, kemarahan Bracia mencapai puncaknya. Matanya berkilat kejam saat menatap punggung Lunaris.
"Emmeline bener. Cia, lo harus segera ngambil tindakan. Kalo enggak Lunaris bisa makin berani buat deketin Aaron. Lo tahu sendiri cewek murahan kaya Lunaris itu jago buat narik simpati dari Aaron. Dia pake cara liciknya buat narik ulur Aaron, sok-sokan nyuruh Aaron buat ngejauh, taunya itu malah trik dia biar Aaron bisa terus dalam cengkeraman dia." Tambah Tessa.
Bracia mengepalkan tinjunya hingga gemetar. Cemburu dan amarah membakar akal sehatnya. "Kalau dia pikir kematian ibunya bisa jadi tameng, dia salah besar," ucap Bracia dingin. "Gue bakal kasih dia pelajaran yang jauh lebih hebat dari sekadar jatuh di tangga. Lunaris harus tahu rasa sakit yang sebenarnya."