NovelToon NovelToon
Doa Bersama Cahaya

Doa Bersama Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Wanita Karir / Keluarga / Mantan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora Veganadia

Alea Senandika Kaluna tumbuh dalam keluarga yang utuh, namun tak pernah benar-benar ia rasakan sebagai rumah. Sejak sang ayah menikah lagi, Alea perlahan belajar menyingkir—menjadi anak yang ada, tetapi jarang diperhatikan. Di antara saudara-saudaranya yang mendapat tempat istimewa, Alea memilih bertahan dalam diam.

Sebagai siswi SMA pendiam, Alea menjalani hari-harinya dengan tanggung jawab yang tak sepadan dengan usianya. Sepulang sekolah, ia menjahit payet demi menambah uang saku, bukan untuk mengejar mimpi besar, melainkan agar tak menjadi beban bagi siapa pun. Hidup memaksanya dewasa terlalu cepat, membentuk ketahanan dari kesepian dan luka yang tak pernah ia ucapkan.

Namun di tengah rutinitas yang sunyi, Alea mulai menemukan cahaya—melalui kepercayaan, perhatian sederhana, dan orang-orang yang melihatnya bukan sebagai anak yang terlupakan, melainkan sebagai pribadi yang layak diperjuangkan. Perlahan, ia belajar bahwa bertahan tidak selalu berarti sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang Tanpa Banyak Kata

🕊

Motor Ayu berhenti tepat di depan rumah ketika malam sudah turun sepenuhnya. Lampu teras menyala, terang tapi dingin. Alea turun pelan, melepas helm, lalu berdiri sejenak. Rumah itu masih sama—catnya, pagar besi nya, suara televisi dari ruang tengah—namun rasanya tidak lagi menyambut.

Ayu mematikan motor. “Kalau butuh apa-apa, ketok kamar aku,” katanya pelan. Alea mengangguk. “Makasih, Kak.”

Ayu menatapnya sebentar, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya hanya menepuk bahu Alea ringan sebelum masuk lebih dulu. Alea menarik napas panjang, lalu melangkah masuk.

Begitu pintu dibuka, suasana langsung terasa kaku. Papa duduk di ruang tengah, menonton televisi tanpa benar-benar menonton. Sita ada di dekat meja makan, melipat pakaian dengan gerakan yang sengaja dibuat kasar.

Tatapan Sita langsung terangkat. Sinis. Dingin. Seolah Alea adalah tamu tak diundang. “Masih inget pulang?” suara Sita terdengar datar, tapi tajam.

Alea berhenti melangkah. Dadanya terasa sesak, tapi ia tidak membalas. Capek. Terlalu capek untuk berdebat. Ia hanya mendekat, menunduk, lalu meraih tangan papa lebih dulu. “Assalamualaikum, Pa.”

Papa terkejut sedikit, lalu mengangguk. “Waalaikumsalam.” Alea lalu beralih ke Sita, menyentuh tangannya sekilas. Tidak hangat, tidak juga ditolak. Sekadar formalitas yang dingin.

Setelah itu, Alea berdiri tegak. Pandangannya kembali ke papa. Wajahnya lelah—bukan karena kurang tidur semata, tapi karena terlalu banyak menahan. “Aku pulang, Pa,” katanya pelan tapi jelas. “Bukan untuk menganggur… tapi untuk kerja lagi. Biar dekat keluarga.”

Tidak ada nada menantang. Tidak ada pembelaan panjang. Hanya pernyataan sederhana, seolah ia sedang menjelaskan pada dirinya sendiri. Papa menoleh, hendak berkata sesuatu. Bibirnya terbuka, lalu tertutup lagi. Sita mendengus kecil. “Halah,” Gumamnya. “Alasan.”

Alea mendengarnya. Tapi kali ini, ia tidak bereaksi. Ia menunduk sebentar—bukan karena kalah, tapi karena sudah tidak punya energi untuk membuktikan apapun malam ini.

Tanpa menunggu jawaban papa, Alea berbalik. Langkahnya menuju kamar terasa berat, tapi mantap. Setiap pijakan seperti keputusan kecil: aku memilih diam, agar aku tetap utuh.

Pintu kamar ditutup perlahan. Tidak dibanting. Tidak dramatis.

Begitu sendirian, Alea menyandarkan punggung ke pintu. Bahunya turun. Nafasnya bergetar pelan. Ia menaruh tas di lantai, melepas sepatu, lalu duduk di tepi kasur. Kamar itu sederhana—meja kecil, lemari tua, dan kasur yang sudah lama menemaninya. Tapi setidaknya, ini ruangnya. “Akhirnya pulang juga,” gumamnya lirih pada dirinya sendiri.

Tubuhnya benar-benar lelah. Kepalanya penuh, tapi hatinya kosong. Alea mengganti pakaian dengan cepat, lalu merebahkan diri tanpa sempat merapikan apa pun.

Di luar kamar, suara televisi masih terdengar. Kehidupan berjalan seperti biasa. Seolah kepulangannya tidak mengubah apa pun. Alea menatap langit-langit. Kedua matanya terasa panas. “Besok aku mulai lagi,” batinnya. “Besok aku cari kerja. Besok aku bangun lebih pagi. Besok aku kuat.”

Ia menarik selimut, memeluk bantal, lalu memejamkan mata. Tidak ada doa panjang malam ini. Tidak ada air mata yang jatuh deras. Hanya satu kalimat yang berputar di kepalanya sebelum akhirnya tertidur.

“Aku pulang bukan untuk menyerah. Aku pulang untuk bertahan.”

Dan untuk malam itu, itu sudah cukup.–

Malam itu sunyi, terlalu sunyi. Alea terbangun dengan dada yang terasa sesak, seolah ada sesuatu yang menepuk kesadarannya pelan tapi terus-menerus. Ia mengerjap, menatap langit-langit kamar yang remang. Jarum jam di dinding bergerak perlahan, berhenti tepat di angka 02.00.

Dua dini hari.

Ia menghela napas panjang, lalu duduk. Tubuhnya masih lelah, tapi pikirannya justru terjaga sepenuhnya. Ada keresahan yang tak bisa dijelaskan—bukan takut, bukan sedih, tapi campuran dari kelegaan, kelelahan, dan sesuatu yang belum selesai.

Alea bangkit, melangkah ke kamar mandi dengan kaki telanjang. Lampu dinyalakan pelan. Air wudhu menyentuh kulitnya yang dingin, membuatnya sedikit menggigil. Ia membasuh wajah. “Terlalu banyak yang terjadi,” batinnya.

Tangan. Lengan. Kepala. Kaki. Setiap gerakan terasa seperti menurunkan beban sedikit demi sedikit. Tidak ada yang terburu-buru. Tidak ada yang menuntutnya cepat sembuh atau kuat. Hanya air, hanya niat.

Selesai berwudhu, Alea kembali ke kamar. Ia menggelar sajadah di lantai, mengambil mukena yang terlipat rapi di lemari. Saat mukena itu menutupi tubuhnya, ada rasa aman yang sulit dijelaskan—seperti kembali ke tempat yang tidak menghakimi.

Ia berdiri menghadap kiblat.

Sholat tahajud malam itu tidak panjang, tapi setiap rakaat terasa penuh. Dalam sujudnya, Alea menempelkan dahi lebih lama dari biasanya. Dadanya naik turun pelan.

“Ya Allah…” suaranya hampir tak terdengar. “Aku capek.” Tidak ada kalimat indah. Tidak ada doa yang disusun rapi. Hanya kejujuran yang keluar begitu saja. “Aku nggak minta hidup yang mudah,” lanjutnya lirih. “Aku cuma minta dikuatkan… tanpa harus terus-terusan disakiti.”

Air matanya jatuh ke sajadah, diam-diam.

Ia bangkit, melanjutkan sholatnya dengan tenang. Setelah itu, Alea mengambil Al-Qur’an kecil dari laci meja. Tangannya menyentuh sampulnya dengan hati-hati, seperti menyentuh sesuatu yang sakral dan pribadi.

Ayat demi ayat ia baca pelan. Tidak semua ia pahami maknanya malam itu, tapi iramanya menenangkan. Seperti ada yang sedang berkata, aku mendengarmu. Selesai membaca, Alea menutup mushaf, menghembuskan napas panjang. Tubuhnya terasa lebih ringan, meski masalahnya belum hilang.

Ia duduk di lantai, bersandar pada pinggiran kasur, masih di atas sajadah. Mukena belum dilepas. Tangannya meraih ponsel yang ia letakkan di samping bantal. Layar menyala. Banyak notifikasi. Alis Alea berkerut. Ia mengusap mata sebentar, lalu membuka ponselnya.

Grup pabrik gaun pengantin. Pesan demi pesan memenuhi layar, waktu pengiriman semuanya setelah ia keluar dari sana.

[Staff Line Group]

Mr. Han officially terminated. Immediate decision. Alea membeku. Jarinya menggeser layar perlahan.

“Pemecatan tidak terhormat.”

“Audit internal masuk.”

“HR turun tangan.”

“Semua karyawan diminta cek psikologi & kesehatan mental.” Dadanya mengencang. Pesan lain masuk.

“Ternyata bukan cuma kita yang ditekan.”

“Banyak yang selama ini diam.”

“Ada yang sampai pingsan waktu dicek.” Alea menutup mulutnya dengan tangan. Matanya panas. Bukan karena sedih semata—tapi karena kenyataan itu akhirnya terungkap. Ia membaca satu pesan yang membuatnya terdiam lama.

“Kita terlalu lama menunduk. Alea satu-satunya yang berani bicara.” 

Alea menurunkan ponsel ke pangkuannya.

Ruangan terasa sangat hening.

Ia teringat hari itu—hari ketika ia berdiri di depan semua orang, suaranya bergetar tapi tegas. Ketika ia ditatap seolah-olah ia adalah masalah. Ketika ia membanting name tag, seragam, dan harga dirinya di lantai, lalu pergi dengan kepala tegak meski lututnya gemetar.

Saat itu ia pikir dirinya gegabah. Ia pikir ia kalah. Ternyata tidak.

“Aku… nggak salah,” gumamnya pelan. Alea menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Untuk pertama kalinya sejak keluar dari pabrik itu, dadanya tidak terasa sesak.

Ia tidak menang karena bertahan lebih lama. Ia menang karena memilih berhenti saat harga dirinya diinjak. Banyak orang tumbang karena diam. Ia hampir tumbang—tapi memilih meledak.

Dan ledakan itu tidak menghancurkannya.

Ia menatap ponsel di tangannya. Jemarinya menggenggamnya erat, lalu perlahan mengendur. “Aku masih belajar,” bisiknya pada diri sendiri. “Tapi aku tumbuh.”

Alea menoleh ke sajadahnya, ke mukena yang masih ia kenakan. Hatinya terasa penuh—bukan bahagia berlebihan, tapi tenang.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah waktu yang sangat panjang, Alea merasa didengar.

Bukan oleh dunia. Bukan oleh manusia.

Tapi oleh Allah.

☀️☀️

1
mama Al
seperti lingkungan alea baik semua
Skngwr20: Terima kasih sudah berkunjung kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!