Season 2 dari Novel Sang Penakluk.
Hi Cesss, Novel Sang Penakluk kembali lagi ni. Semoga klean suka dengan alur ceritanya Cesss.
Jangan Lupa Like, Komen dan Supportnya Cesss. Karena setiap like, komen dan support dari kalian akan sangat berguna bagiku yang pemula ini.
Selamat Membaca...,,,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RantauL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18. Huang Shen
Gorblac mengamati dari kejauhan dengan ekspresi datar.
“Disiplin mereka tinggi,” gumamnya. “Tidak ada gelagat ceroboh.”
Akhirnya, komandan gerbang memberi isyarat.
“Gerbang dibuka!”
Suara roda besi bergemuruh saat gerbang besar perlahan terbuka. Rombongan Kekaisaran Awan Kuning pun melanjutkan perjalanan memasuki ibu kota.
Begitu melewati gerbang, suasana berubah drastis.
Jalan-jalan kota sudah mulai ramai. Pedagang membuka kios, warga berlalu-lalang, dan bisikan langsung terdengar begitu mereka melihat rombongan asing itu.
“Itu… bendera Kekaisaran Awan Kuning?”
“Kenapa mereka datang dengan pasukan sebanyak itu?”
“Didalam kereta kuda itu… pasti orang penting.”
Para prajurit Kekaisaran Awan Putih segera mengatur lalu lintas, memastikan rombongan bisa lewat tanpa gangguan. Rombongan Kekaisaran Awan Kuning tetap berjalan dengan formasi rapi, dan dengan sikap arogan, seolah merendahkan para penduduk yang melihat mereka. Selain itu, mereka juga tidak menyembunyikan kekuatan.
Dari balik tirai kereta, sebuah suara serak namun tegas terdengar.
“Jadi ini… Kekaisaran Awan Putih.”
Seorang pria duduk tenang di dalam kereta. Rambutnya hitam panjang, wajahnya cukup tampan, dan matanya tajam penuh kecerdasan. Ia mengenakan pakaian bangsawan berwarna kuning pucat dengan hiasan giok di lehernya.
“Pangeran,” ujar salah satu pengawal berkuda di depan, “kita sudah hampir tiba di istana Kekaisaran Awan Putih.”
Pria itu tersenyum tipis. “Menarik. Kekaisaran ini terasa… hidup.”
Tak lama kemudian, rombongan itu tiba di depan gerbang Istana Kekaisaran Awan Putih.
Begitu rombongan berhenti, para prajurit penjaga istana segera maju. Mereka mengangkat tombak dan perisai, membentuk barisan penghalang yang tegas namun teratur.
“Berhenti!” seru salah satu penjaga dengan suara lantang. “Rombongan asing dilarang masuk tanpa izin resmi!”
Kereta kuda berhenti sepenuhnya. Dua penunggang kuda putih di barisan depan saling berpandangan sekilas. Salah satu dari mereka—seorang pria berperawakan tinggi dengan zirah emas dan lambang awan kuning di dadanya—mendorong kudanya maju setengah langkah.
“Biarkan kami masuk,” katanya lantang, suaranya menggema di depan gerbang istana. “Kami datang untuk bertemu Kaisar Jack Zen, Kaisar Kekaisaran Awan Putih.”
Nada bicaranya tegas, penuh wibawa, namun bagi para penjaga istana, itu terdengar lebih seperti perintah daripada permohonan.
Namun para penjaga tidak goyah.
“Maaf,” jawab komandan penjaga dengan nada dingin namun sopan. “Siapa pun yang ingin bertemu Yang Mulia Kaisar harus menunggu izin terlebih dahulu. Silakan menunggu di sini.”
Ekspresi kedua Jendral Kekaisaran Awan Kuning itu sedikit mengeras. Beberapa prajurit di belakang mereka tampak bergerak gelisah, seolah tidak terbiasa ditahan seperti ini. Aura mereka sedikit menguat, membuat udara di sekitar gerbang terasa lebih berat.
Dari dalam kereta, terdengar suara pelan namun jelas.
“Tenang,” ucap suara itu. “Kita adalah tamu. Hormati aturan tuan rumah.” tambahnya.
Tirai kereta sedikit terbuka, memperlihatkan wajah pria bangsawan berusia sekitar tiga puluh tahun itu. Tatapannya tajam namun tenang, seolah situasi ini sudah ia perkirakan sejak awal.
Kedua Jendral itu menundukkan kepala sedikit. “Seperti perintah Anda, Pangeran.”
Komandan penjaga memberi isyarat pada salah satu prajurit. “Pergi laporkan kepada Kaisar.”
Prajurit itu segera berbalik dan berlari cepat memasuki kompleks istana.
Sementara itu, rombongan Kekaisaran Awan Kuning terpaksa menunggu. Beberapa warga yang berada cukup jauh memperhatikan dengan rasa ingin tahu bercampur tegang. Tidak setiap hari rombongan sebesar dan sekuat ini tertahan di depan gerbang istana.
Tak sampai seperempat jam kemudian, prajurit yang tadi dikirim kembali dengan langkah cepat. Wajahnya terlihat lebih serius dari sebelumnya.
Komandan penjaga menegakkan tubuh. “Atas perintah Yang Mulia Kaisar Jack Zen,” katanya lantang, “rombongan Kekaisaran Awan Kuning dipersilakan masuk.”
Gerbang istana perlahan terbuka.
Akan tetapi sebelum rombongan bergerak, komandan penjaga kembali berbicara, kali ini dengan nada tegas. “Hanya kedua Jendral dan tamu utama yang boleh masuk ke dalam aula utama. Pasukan lainnya diminta menunggu di luar.”
Kedua Jendral itu hendak berbicara, namun kembali suara dari dalam kereta terdengar.
“Kita ikuti saja,” ucap pria itu tenang. “Tidak perlu menimbulkan kesan buruk.”
Tirai kereta terbuka sepenuhnya. Pria bangsawan itu turun dengan langkah mantap. Rambut hitam panjangnya terurai rapi, pakaian bangsawan kuning pucatnya jelas menunjukkan status tinggi. Aura kepemimpinannya terasa kuat, bahkan tanpa ia sengaja menunjukkannya.
“Silakan,” ujar komandan penjaga dengan hormat.
Rombongan kecil itu—Pria bangsawan yang disebut pangeran dan dua jendralnya—melangkah memasuki kompleks istana, sementara ratusan prajurit Awan Kuning tetap berjaga di luar dengan wajah serius.
Mereka berjalan melewati koridor istana yang luas dan megah. Setiap langkah bergema pelan di lantai marmer putih. Pelayan-pelayan istana menundukkan kepala, sementara para pejabat yang kebetulan melintas menghentikan langkah mereka, menatap rombongan asing itu dengan penuh kewaspadaan.
Akhirnya, mereka tiba di depan pintu besar Aula Utama Kekaisaran Awan Putih.
Pintu itu perlahan terbuka.
Di dalam aula, suasana terasa khidmat dan berat oleh aura kekuasaan. Di singgasana utama duduk Kaisar Jack Zen—sosok berwibawa dengan tatapan tajam dan tenang. Di sampingnya duduk Permaisuri Mei Ling yang anggun dan lembut, Permaisuri Mue Che yang tersenyum tipis namun penuh perhitungan, serta Permaisuri Lou Yi dengan sorot mata cerdas dan dingin.
Di bawah singgasana, berdiri Jendral Utama Gan Che dengan tubuh tegap dan wajah keras, serta beberapa pejabat tinggi kekaisaran yang ekspresinya berubah-ubah antara penasaran dan waspada.
Begitu rombongan masuk, dua Jendral Awan Kuning langsung berlutut dengan satu lutut di lantai.
“Kami memberi hormat kepada Yang Mulia Kaisar Jack Zen,” ucap mereka serempak.
Putra Mahkota Kekaisaran Awan Kuning melangkah maju dan membungkukkan badan dengan sopan. “Salam hormat untuk Yang Mulia Kaisar dan para Permaisuri Kekaisaran Awan Putih.”
Kaisar Jack Zen mengamati mereka sejenak sebelum berbicara. Suaranya dalam dan berwibawa.
“Bangkitlah,” katanya singkat. “Hal penting apa yang membuat rombongan Kekaisaran Awan Kuning datang kemari?”
Kedua Jendral bangkit dan mundur setengah langkah, memberi ruang bagi pria bangsawan itu.
Putra Mahkota itu mengangkat kepala, menatap langsung ke arah singgasana. “Perkenankan Aku memperkenalkan diri. Aku adalah Huang Shen,” katanya dengan suara mantap, “Putra Mahkota Kekaisaran Awan Kuning.”
Beberapa pejabat tinggi tampak terkejut. Bisik-bisik pelan langsung terdengar di dalam aula.
“Putra Mahkota sendiri yang datang…”
“Ini bukan kunjungan biasa…”
Huang Shen melanjutkan, “Tujuan kedatangan kami ke Kekaisaran Awan Putih adalah untuk menyampaikan niat resmi.”
Ia memberi isyarat kecil. Kedua Jendral di belakangnya melangkah maju lalu mengeluarkan dua peti besar dari cincin penyimpanan mereka. Mereka kemudian membuka kedua peti besar itu.
Saat peti itu terbuka, cahaya keemasan langsung memantul ke seluruh aula.
Emas batangan, perhiasan bertatahkan batu langka, giok berkualitas tinggi, dan artefak berharga tersusun rapi di dalam peti. Jumlahnya begitu banyak hingga membuat beberapa pejabat tanpa sadar menahan napas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan Lupa Like dan Komennya Cesss.....
Selamat Membaca.....
Lanjut Terussss.....
reader yg setia masih menanti update yg terbaru