NovelToon NovelToon
Mahar Satu Miliar Dari Pria Impoten

Mahar Satu Miliar Dari Pria Impoten

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Pengantin Pengganti / Terpaksa Menikahi Suami Cacat / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Arum Mustika Ratu menikah bukan karena cinta, melainkan demi melunasi hutang budi.
Reghan Argantara, pewaris kaya yang dulu sempurna, kini duduk di kursi roda dan dicap impoten setelah kecelakaan. Baginya, Arum hanyalah wanita yang menjual diri demi uang. Bagi Arum, pernikahan ini adalah jalan untuk menebus masa lalu.

Reghan punya masa lalu yang buruk tentang cinta, akankah, dia bisa bertahan bersama Arum untuk menemukan cinta yang baru? Atau malah sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

07. Cinta mulai tumbuh masa lalu mulai memperbarui memorinya

Malam turun perlahan di rumah besar keluarga Argantara. Hujan baru saja reda, menyisakan aroma tanah basah yang samar masuk lewat jendela taman belakang. Lampu-lampu taman memantulkan cahaya kekuningan di permukaan kaca, menciptakan bayangan panjang yang bergerak lembut di dinding kamar Reghan.

Oma Hartati duduk di kursi rotan di dekat tempat tidur cucunya, mengenakan syal abu tua di bahunya. Arum baru saja keluar setelah membantu Reghan berpindah dari kursi roda ke tempat tidur. Keheningan menyelimuti ruangan, hanya suara detak jam dinding yang terdengar, perlahan tapi pasti.

“Masih marah pada ayahmu?” tanya Oma pelan, tanpa menatap Reghan.

Reghan menatap langit-langit kamar yang remang. “Bukan cuma marah, Oma. Aku kecewa.”

Suara itu berat, serak, seperti menyimpan bara yang terlalu lama dipendam.

Oma menarik napas panjang.

“Kau terlalu keras pada dirimu, Re. Luka itu belum sembuh … tapi kau malah menutupinya dengan kebencian.”

Reghan tertawa hambar. “Luka ini bukan hanya di tubuhku, Oma. Tapi di sini,” ia menepuk dada pelan.

“Semuanya dimulai sejak malam itu.”

Oma Hartati menunduk, menatap jari-jarinya sendiri.

“Kecelakaan itu…” ucapnya lirih. “Aku masih ingat malam ketika polisi datang membawa kabar. Mobilmu terbalik di tanjakan dekat vila keluarga. Kau koma berbulan-bulan dan begitu sadar, hidupmu berubah.”

Reghan menoleh perlahan, sorot matanya mulai redup.

“Bukan hanya hidupku, Oma. Tapi juga semua yang kuanggap nyata, termasuk dia.”

Oma menatap cucunya, penuh iba.

“Alena?”

Nama itu membuat udara kamar seolah membeku. Reghan memejamkan mata, seperti menahan perih yang lama mengendap.

“Dia janji akan menungguku. Bahkan sebelum operasi, dia berbisik kalau apa pun yang terjadi, dia akan tetap jadi istriku,” suaranya retak di ujung kalimat.

“Tapi ketika aku membuka mata dan mendengar dokter bilang aku tak akan berjalan lagi … dia tak pernah datang. Tak satu pun pesan dan tahu apa yang kudengar beberapa minggu kemudian?”

Oma menatapnya tanpa suara.

“Dia bertunangan dengan Elion.”

Keheningan menyusul kalimat itu. Hanya suara angin yang masuk lewat celah jendela, menggoyang tirai perlahan.

Reghan mengusap wajahnya kasar. “Aku pikir aku bisa memaafkannya, Oma. Tapi malam demi malam, bayangannya selalu datang. Tatapan iba, janji yang hancur, dan senyum yang kini bukan untukku lagi.”

Dia menatap tangannya sendiri yang lemah, lalu menambahkan dengan suara lebih lirih, “Dia tahu kondisiku, dia tahu tubuh ini … sudah rusak. Dan dia pergi bahkan sebelum aku benar-benar bisa belajar menerima semuanya.”

Air mata pelan-pelan menetes di pipi Oma Hartati. Ia menggenggam tangan cucunya dengan lembut.

“Reghan … bukan kau yang rusak. Hanya orang-orang di sekelilingmu yang tidak tahu arti kesetiaan.”

Reghan menatap neneknya lama. Di mata tuanya, ia melihat kasih sayang yang masih bertahan di tengah reruntuhan harga diri yang tersisa.

“Kadang aku berpikir,” ujarnya pelan, “andai malam itu aku tidak selamat … mungkin akan lebih mudah. Aku tidak perlu menanggung semua ini, pengkhianatan, hinaan, bahkan tatapan kasihan dari semua orang di rumah ini.”

Oma menggeleng pelan. “Jangan bicara seperti itu, Re. Tuhan masih punya rencana. Kau masih diberi napas, berarti masih ada sesuatu yang menunggumu.”

Reghan tertawa kecil, getir. “Sesuatu? Atau seseorang?”

Oma hanya diam, tapi pandangannya melirik ke arah pintu kamar yang belum sepenuhnya tertutup. Di balik celah sempit itu, bayangan Arum terlihat samar, dia berdiri diam, menunduk dalam hening. Ia mendengar segalanya tentang luka, tentang pengkhianatan, tentang alasan mengapa Reghan menjadi sedingin itu.

Keesokan paginya, aroma jahe dan bubur ayam hangat memenuhi dapur besar rumah Argantara. Pelayan-pelayan yang biasanya bekerja dengan raut kaku, kali ini tampak sedikit heran melihat Arum berdiri di sana, mengenakan apron sederhana berwarna krem.

Tangannya cekatan mengaduk panci, sementara uap tipis naik, menghangatkan udara yang masih dingin oleh sisa hujan malam tadi.

“Biarkan saya saja, Nyonya Arum,” kata salah satu pelayan, mencoba mengambil alih.

Namun Arum hanya tersenyum lembut. “Tidak apa, aku hanya ingin membuatkan sarapan untuk Tuan Reghan. Kalian bantu siapkan teh hangat saja.”

Semua saling pandang, tapi menuruti perintah itu. Sejak kejadian di meja makan kemarin, kabar tentang nyonya muda yang berani menenangkan Tuan Reghan sudah menyebar ke seluruh rumah. Sebagian kagum, sebagian tak percaya, tapi semua tahu, Arum adalah wanita yang berbeda.

Setengah jam kemudian, Arum mendorong perlahan kursi roda Reghan keluar dari kamarnya. Pria itu tampak baru selesai mandi, mengenakan kemeja putih longgar, rambutnya masih sedikit basah. Tatapannya, seperti biasa, dingin dan menahan jarak.

“Kenapa kau repot-repot?” gumam Reghan pelan, melihat nampan di pangkuan Arum.

“Karena aku ingin,” jawab Arum singkat, namun suaranya lembut. Ia meletakkan mangkuk bubur di meja kecil di teras belakang.

“Ini hangat, bisa membantu melancarkan peredaran darah.”

Reghan tidak langsung menjawab. Ia menatap mangkuk itu lama, lalu menatap wanita di depannya.

“Semua orang di rumah ini ingin sesuatu dariku,” katanya akhirnya. “Apa yang kau inginkan, Arum?”

Pertanyaan itu membuat Arum terdiam beberapa saat. Angin pagi berembus lembut, menggoyang ujung selendang yang menutupi bahunya.

“Aku hanya ingin menepati tugasku,” katanya perlahan. “Menjadi istri yang baik, dan … mungkin sedikit membuatmu percaya, bahwa tidak semua orang di rumah ini ingin melihatmu jatuh.”

Untuk pertama kalinya, Reghan tidak langsung membalas dengan nada tajam. Ia hanya menunduk, mengambil sendok perlahan, mencoba menelan sesendok bubur yang masih mengepul. Hening mengisi ruang di antara mereka. Tapi hening itu tidak lagi setajam kemarin. Dari balik jendela ruang tengah, sepasang mata memperhatikan mereka.

Wajah cantik Alena menegang saat melihat pemandangan itu. Arum yang berdiri dengan tatapan penuh ketulusan, dan Reghan yang diam-diam membiarkan dirinya dilayani. Alena menggigit bibir bawah, matanya memanas oleh rasa yang tak bisa dijelaskan. Mungkin cemburu, mungkin bersalah, mungkin keduanya. Namun yang jelas, ada bara kecil yang mulai tumbuh di dalam dadanya.

Beberapa menit kemudian, suara langkah kaki terdengar mendekat. Alena melangkah masuk ke teras, menyapa dengan senyum tipis yang dipaksakan.

“Selamat pagi, Reghan.”

Pria itu hanya menoleh sekilas.

“Pagi.”

Tatapan itu datar, tapi suaranya tidak sekeras dulu. Alena menunduk sedikit, pura-pura memperhatikan makanan di meja. “Aku hanya ingin melihat keadaanmu … kupikir kau masih marah soal kemarin.”

“Tidak perlu,” jawab Reghan dingin. “Kemarahan tidak mengubah apa pun.”

Arum yang berdiri di belakang kursi roda merasa dadanya mengencang tanpa sebab. Saat Alena menunduk lebih dekat, jemarinya hampir menyentuh tangan Reghan, refleks Arum melangkah ke depan, mengambil cangkir teh dari meja.

“Maaf, aku rapikan dulu, takut tumpah.”

Alena menatapnya, senyumnya menipis. “Kau cepat beradaptasi rupanya, Nyonya Reghan.”

Nada itu lembut, tapi dinginnya menusuk seperti pisau. Reghan hanya diam, dia tidak menegur, tidak juga membela. Tapi dalam tatapan matanya yang redup, ada sesuatu yang lain ketegangan yang halus namun nyata.

Ketika Alena akhirnya melangkah pergi, Arum menarik napas panjang. Ia tahu sejak hari itu, hidup di rumah besar itu tak akan mudah. Karena di balik setiap senyum manis dan sapaan lembut, ada dendam, penyesalan, dan cinta lama yang belum mati.

'Rasa cemburu perlahan menyebar, jika sampai nanti aku lelah. Maka tuntun aku jalan untuk pulang pada diriku sendiri, Tuan Reghan.' Bisik Arum dalam hatinya sembari menatap tatapan Reghan yang tak pernah lepas menghapus bayangan Alena yang sudah pergi beberapa detik yang lalu.

1
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Reghan terlalu ceroboh mempertaruhkan keselamatan Arum dan Revan tanpa pengawalan padahal tau bahaya mengintai..aneh
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
apa Reghan mau melamar ulang Arum ya, tp malesnya pasti ada para siluman kumpul di sana.🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
syutingnya ceritanya lagi musim hujan apa gimana thor, perasaan hujan mulu.🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎: hihihihiii... terbawa suasana sambil makan yg anget² selebihnya inget apa yaa...jangan sampe ingetnya kenangan. 🤣🤣🫣
total 2 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
thor ga kedengaran lagi kabar para siluman Maya dan antek²nya juga keluarga yg dulu membesarkan Arum gimana tuh... sudah dapet kartu merah belum.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
hebatnya Dr Gavin dia dewasa pemikirandan tindakannya juga bijak ga egois..
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
resiko besar yg harus kamu merasakan Reghan kalau ankmu harus memanggil pria lain papahnya jd cobalah lapang dada karna Dr Gavin punya peran besar dalam kehidupan Arum sama Revan
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Dr Gavin salut dengan kedewasaan dan kelapangan hatimu...👏👏👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
ikutan berat banget jadi Arum.🤭🤭
kembali lg ke author yg punya sekenario mereka, mau gimana lagi Reghan masih mencintai Arum dan begitupun sebaliknya meskipun rasanya ga rela mereka balikan tp alasa Revan butuh ayah kandungnya selalu jd alasan utama padahal aku dukungnya Arum sama Dr. Gavin.🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
heehhh pada telaaaattt bertindaakkk.. setelah kesakitan Arum yg kalian lakukan di rumah itu
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
kenapa baru sekarang kamu tegasnya Reghan, ternyata harus kehilangan dulu baru bertindak
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
kekuasaan di atas segalanya yg kecil makin tertindas sedangkan yg berkuasa hidup bahagia... tp kalau bener endingnya Arum balikan sama Reghan waaahh di luar prediksi aku yg baca...
logika saja dari awal Arum di buat menderita di rumah Argantara dan segitu mudahnya minta maaf trs balikan.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
thor jangan di buat balikan tapi kalaupun di buat balikan lg jangan sampai di kasih gampang, enak saja Arum berjuang sendiri tanpa Reghan atau siapa pun... apa lg mereka sudah membuat luka pd Arum.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
jangan sampe Arum di bikin balikan lagi sama Lelaki plin plan seperti Reghan thor sudah cukup Arum menderita tapi malah di tambah lagi penderitaannya dengan Revan yg sakit parah... trs apa kabar dengan orang² yg buat dia menderita... kasihan Arum
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
aneh masa iya di rumah sebesar itu ga ada cctv maen nuduh sembarangan dan Reghan ga berubah sama sekali yrs Arum dengan b0d0hnya mudah percaya dengan Reghan dan omanya
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
syukurlah Arum pergi buat kewarasan diri dari pada bertahan di sana tp ga di anggap
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
hadeuuhh Arum kamu mah manut bae sudah tau mereka manfaatin kamu, kamu di rumah itu bukan untuk di jadikan pesuruh suman tapi fokus pd Reghan.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
kasian Arum, bukan hanya tekanan dan beban fisiknya saja yang dia tanggung tapi juga mentalnya...
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
dr Samuel aneh emangnya dia psikolog atau dokter umum kok seolah² keadaan Arum ga penting buat dia.. aneh, dia di bayar buat mengobati kalaupun bukan bidangnya tp penyampaianmu ga yg seharusnya
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Reghan ga ada harga dirinya sama sekali dengan mantan sendiri saja lemah..
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
sudah tau tanggung jawabmu diperusahaan membutuhkan kamu tp kamu tetap terpuruk dengan orang yg sudah meninggalkan kamu demi harta Reghan dan yg mirisnya kamu ga mau sembuh dan move on dari siluman Alena..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!