Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.
Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.
Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.
Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.
Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?
"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Belenggu Tak Kasat Mata
Kehancuran itu tidak selalu datang dengan suara ledakan yang keras. Kadang, ia datang dalam bentuk kesunyian yang amat sangat dingin.
Sejak insiden pagi itu, rumah besar milik Daviko terasa seperti kuburan. Tidak ada lagi suara tawa kecil atau obrolan ringan dengan Bi Tita di dapur. Saliha telah menutup seluruh akses bagi Daviko untuk menyentuh kehidupannya, kecuali yang berkaitan dengan kebutuhan Kaffara.
Saliha menghabiskan sebagian besar waktunya di kamar bawah. Ia merasa kamar pengasuh yang sempit itu jauh lebih terhormat dan aman daripada ranjang mewah di kamar atas yang justru mendatangkan fitnah keji. Setiap kali ia memejamkan mata, suara melengking Bu Ratna yang menyebutnya "wanita jalang" terus terngiang, seolah-olah kata-kata itu telah terpatri di dinding otaknya.
Sore itu, Daviko pulang dari kantor lebih awal. Ia membawakan sebuah kotak besar berisi perlengkapan bayi terbaru dan beberapa set pakaian untuk Saliha. Ia berharap, dengan pemberian ini, sikap dingin Saliha sedikit mencair. Namun, ia salah besar.
Saat Daviko mengetuk pintu kamar bawah, Saliha membukanya dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Ada apa lagi, Pak?" tanya Saliha. Suaranya datar, tanpa nada, namun terasa sangat menusuk.
"Saliha, aku... aku membawakan ini untukmu dan Kaffara. Aku tahu kamu mungkin butuh baju baru untuk di rumah," ujar Daviko sambil menyodorkan kotak itu.
Saliha tidak meraihnya. Ia justru menatap kotak itu dengan tatapan datar. "Simpan saja untuk calon istri Bapak nanti. Saya tidak butuh barang-barang mewah untuk menjalankan tugas saya sebagai pengasuh. Bapak pikir, dengan membelikan saya barang, saya akan lupa bagaimana mantan mertua Bapak menghina saya pagi tadi?"
"Aku sudah mengusir mereka, Saliha! Aku berada di pihakmu." Daviko mulai frustrasi.
"Membela saya?" Saliha tertawa getir, sebuah tawa yang mengandung luka mendalam. "Bapak membela saya dengan cara mengakui di depan mereka bahwa 'mau saya ngapa-ngapain di ranjang itu adalah urusan Bapak'. Tahukah Bapak, kalimat itu justru membenarkan tuduhan mereka bahwa saya adalah wanita murah? Bapak tidak melindungi saya, Pak. Bapak justru memamerkan kekuasaan Bapak atas diri saya seolah saya ini barang milik Bapak!"
Daviko tertegun. Ia tidak menyangka kalimat yang ia maksudkan sebagai bentuk perlindungan justru ditangkap sebagai penghinaan baru bagi Saliha. "Maksudku bukan begitu, Saliha. Aku hanya ingin mereka tahu bahwa mereka tidak punya hak mengaturnya."
"Hak?" Saliha melangkah maju satu langkah, menatap mata Daviko dengan keberanian yang luar biasa. "Satu-satunya orang yang punya hak atas hidup saya adalah saya sendiri. Dan saya katakan sekarang, jangan pernah lagi mencoba membawa saya ke dunia Bapak. Biarkan saya di sini, di kamar bawah ini, sebagai pengasuh. Itu posisi yang paling aman agar saya tidak kembali dihina oleh orang-orang dari masa lalu Bapak."
Saliha menutup pintu kamar dengan perlahan namun pasti, tepat di depan wajah Daviko. Suara kunci yang diputar terdengar begitu nyaring di telinga Daviko, seolah-olah itu adalah suara hatinya yang kembali dikunci mati oleh Saliha.
Daviko bersandar di pintu kayu itu, ia merosot duduk di lantai lorong yang dingin. Seorang perwira tangguh yang ditakuti di medan latihan, kini terduduk lesu di depan pintu kamar seorang wanita. Ia merasa sangat bodoh. Ia merasa sumpah yang pernah ia ucapkan dulu benar-benar telah menjadi jerat yang mencekik lehernya sendiri.
Keesokan harinya, Saliha menyadari ruang geraknya semakin terbatas. Saat ia hendak mengajak Kaffara berjemur di taman depan, langkahnya terhenti di ambang pintu besar. Seorang penjaga yang biasanya hanya bersiaga di gerbang, kini berdiri di depan teras.
"Maaf, Mbak Saliha. Perintah Kapten, Mbak hanya diperbolehkan mengajak Kaffara di taman belakang. Tidak diizinkan keluar dari area rumah tanpa seizin beliau," ujar salah satu penjaga dengan sopan namun tegas.
Saliha hanya bisa tersenyum pahit. Ia tahu ini adalah babak baru dari kegilaan Daviko. Di dalam rumah pun, Daviko semakin sering muncul tiba-tiba di dekatnya. Saat Saliha sedang di dapur untuk menyiapkan botol susu, Daviko akan berdiri di sana, bersandar pada meja pantry hanya untuk mengawasinya dalam diam.
Saat Saliha sedang menidurkan Kaffara, Daviko akan duduk di kursi dekat ranjang bayi, menatapnya tanpa bicara selama berjam-jam.
Tatapan Daviko bukan lagi tatapan dingin yang dulu, melainkan tatapan yang sarat akan rasa lapar akan kasih sayang dan keinginan untuk mendominasi. Saliha merasa seperti mangsa yang sedang diawasi oleh singa yang terluka.
"Bapak tidak perlu mengawasi saya seperti ini. Saya tidak akan lari, setidaknya belum sekarang," ujar Saliha suatu sore saat Daviko kembali mengikutinya ke ruang tengah.
"Aku hanya ingin memastikan kamu aman," jawab Daviko datar sambil memperbaiki letak duduknya di sofa, matanya tak lepas dari gerak-gerik Saliha yang sedang melipat pakaian kecil Kaffara.
"Aman dari siapa? Dari Bapak?" sindir Saliha tanpa menoleh.
Daviko bangkit, mendekati Saliha hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti. Aroma parfum maskulinnya yang kuat mengepung indra penciuman Saliha. "Aman dari dunia luar yang tidak akan pernah menghargaimu seperti aku menghargaimu. Di sini, kamu berharga, Saliha. Meski kamu tidak mengakuinya."
Saliha mendengus pelan, ia berbalik untuk membawa tumpukan pakaian itu kembali ke kamar. Namun, Daviko menahan lengannya.
"Lepas, Pak. Nanti ada orang yang lihat," bisik Saliha tegas.
"Biar saja. Biar semua orang di rumah ini tahu kalau kamu milikku," ujar Daviko dengan nada posesif yang sangat kental. Ia menarik Saliha sedikit lebih dekat, matanya menatap tajam ke arah mata Saliha. "Aku bisa memberikanmu apa saja, Saliha. Apa saja. Asal kamu berhenti menatapku dengan mata sedingin itu."
Saliha menepis tangan Daviko dengan sekuat tenaga. "Bapak tidak memberikan saya apa-apa selain penderitaan batin. Sekarang, biarkan saya menjalankan tugas saya. Permisi."
Saliha melangkah pergi menuju kamar bawah dengan kepala tegak. Di dalam hatinya, ia merasa sangat terhimpit. Ia menyadari bahwa Daviko kini benar-benar terobsesi padanya. Rasa bersalah pria itu telah berpindah menjadi rasa ingin memiliki yang tidak sehat.
Saliha takut jika suatu saat pertahanannya runtuh bukan karena cinta, tapi karena ia tidak sanggup lagi menahan gempuran posesif Daviko yang semakin hari semakin gila.
Sementara itu, Daviko yang berdiri di ruang tengah mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Dua tahun, Saliha... dalam dua tahun ini, aku akan membuatmu tidak punya pilihan selain tetap tinggal di sampingku selamanya. Aku tidak peduli jika harus menjadi antagonis dalam hidupmu, asalkan kamu tetap di sini."
kalo mau bulan madu ke Bali dan Lombok.. sekalian bawa bi tita dan kaffra ..biar sekalian jalan2 keluarga 😊
Ayo..... kondangan. Jangan lupa amplopnya🤭🤭🤭🤭