Zafira Amara, belajar bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan indah. Ditinggal Anggara tanpa kabar setelah janji melamar, ia membangun benteng tinggi di hatinya.
Hingga akhirnya datang Aditya Pranata, pengagum rahasia yang mengisi kekosongan itu. Dari teman, menjadi hubungan tanpa status, hingga akhirnya resmi berpacaran.
Namun ironi terjadi, saat status sudah jelas, mereka justru kehilangan esensi. Trauma masa lalu Zafira bertabrakan dengan ketakutan komitmen Aditya.
Di tengah hiruk pikuk Yogyakarta, mereka belajar bahwa tidak semua yang dicintai bisa bertahan. Tidak semua janji bisa ditepati. Dan terkadang, melepaskan adalah bentuk cinta paling tulus meski itu menyakitkan. Sebuah kisah tentang kehilangan, trauma, dan keberanian untuk move on.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aditya yang Terlambat
Jam empat sore, Ditya udah siap. Dia mandi berkali kali, ganti baju tiga kali, semprot parfum sampe kebanyakan terus harus mandi lagi. Dia gugup banget, gugup yang nggak pernah dia rasakan sebelumnya, bahkan waktu presentasi di depan bos pun nggak segugup ini.
Di tangannya ada sebuah buket bunga mawar pink, dua belas tangkai. Bukan merah, karena Fira pernah bilang, dia lebih suka mawar pink.
Ditya naik motor dengan jantungnya yang berdetak lebih kencang. Jalanan Yogyakarta sore itu macet, tapi Ditya nggak peduli. Dia malah seneng jalan pelan, karena bisa memikirkan kata-kata yang mau dia bilang nanti.
"Fir, maafkan aku yang terlambat sadar. Tapi sekarang aku tau, aku cinta sama kamu. Beneran cinta. Dan aku mau kita pacaran. Aku siap."
Ditya membayangkan reaksi Fira, mungkin Fira bakal menangis, atau mungki bakal langsung peluk dia.
Apapun reaksinya, Ditya siap. Yang penting dia udah bilang, dan udah jujur sama perasaannya.
***
Jam setengah lima, Ditya udah sampe deket Tugu. Dia parkirkan motornya di pinggir jalan, pegang buket bunga sambil ngecek penampilan di spion motor. Rambut oke, baju rapi, wajah lelah sih, tapi at least dia usaha.
Dia jalan ke taman Tugu dengan perasaan yang mulai nggak karuan, matanya mencari keberadaan Fira.
Dan Ditya menemukan Fira, yang sedang duduk di bangku yang sama, seperti kemarin. Tempat di mana Ditya melihatnya saat bersama Anggara.
Tapi kali Fira nggak sendirian, Anggara ada di sana. Mereka duduk berhadapan, ngobrol serius. Tapi ada yang berbeda dari kemarin.
Fira tersenyum. Bukan senyum sedih seperti kemarin, tapi senyum yang lebih lega. Senyum orang yang udah memutuskan sesuatu.
Ditya berhenti jalan, kakinya seperti terkena paku di aspal. Lalu dia ngeliat sesuatu, yang bikin dunianya berhenti berputar.
Sebuah cincin tersemat di jari manis Fira, cincin berlian yang berkilau saat terkena cahaya sore. Ditya merasa dadanya mulai sesak, tangannya yang memegang buket terlihat gemetar.
Nggak.. nggak mungkin.
Ini salah paham, mungkin Fira cuma mencoba cincinnya, dan belum memutuskan sesuatu.
Tapi kenapa dia senyum kayak gitu?
Kenapa dia duduk seakrab itu sama Anggara?
Ditya mencoba jalan maju, tapi kaki nya nggak bisa, seperti ada sesuatu yang menahannya.
Anggara bicara sesuatu sambil menggenggam tangan Fira, yang m terdapat cincinnya. Fira ketawa kecil, mengelap matanya yang berkaca-kaca. Ketawa sambil nangis, seperti orang yang lega, dan bahagia.
Lalu Anggara berdiri, menarik Fira kedalam pelukannya. Dan Fira sama sekali nggak menolak, Fira malah membalas pelukan Anggara dengan erat.
Ditya mundur selangkah, buket bunga di tangannya jatuh ke aspal. Mawar pinknya jatuh berantakan, bahkan beberapa kelopak lepas saat terkena angin.
***
Saat Fira tengah berpelukan, Fira melihat seoarang cowok dengan jaket hitam yang familiar. Cowok yang lagi jalan pergi dengan langkah terburu-buru.
"Ditya," bisiknya pelan.
Anggara melepas pelukannya, lalu melihat Fira dengan tatapan bingung.
"Kamu kenapa, Fira?"
"Tadi, kayaknya aku melihat Ditya."
"Ditya? Siapa dia?"
Fira nggak menjawab, dia hanya menengok ke arah tadi, tapi cowok itu udah nggak keliatan. Cuma ada buket bunga mawar pink, yang tergeletak di pinggir jalan, kelopaknya terlihat berserakan.
Jantung Fira langsung berdetak nggak karuan, bunga mawar pink. Ditya tau dia suka bunga pink. Berarti, tadi itu beneran Ditya? Dan dia melihat semuanya.
"Ya Allah," gumam Fira sambil berdiri, tangannya gemetar. "Dia sudah salah paham."
"Fira, kamu kenapa?" tanya Anggara sambil berdiri juga.
"Anggara, maaf. Tapi aku harus pergi."
"Loh, kamu mau pergi kemana? Kita kan belum selesai bicara."
"Nanti aku jelaskan, sekarang aku harus cari dia dulu."
Fira langsung lari ke arah bunga yang jatuh tadi, dia mengambil buket itu dengan tangan gemetar. Bungkus plastiknya masih baru, pitanya rapi, kartunya ucapannya masih ada.
Fira membuka kartunya dengan air mata yang mulai turun.
"Untuk Fira. Maaf aku terlambat datang, tapi sekarang aku tau. Aku sangat mencintai kamu. Ditya."
Air mata Fira mengalir, dia menggenggam kartu itu erat. Ditya mau menyatakan perasaan cinta, dan dia udah siap. Bahkan Ditya membawa sebuah buket bunga mawar pink.
Tapi Ditya sudah salah paham, Ditya mungkin melihat cincin di jari manisnya, dan mungkin melihat saat berpelukan dengan Anggara. Padahal itu nggak seperti yang dia pikirkan.
"Fira!" Anggara menghampirinya. "Kamu kenapa sih? Bunga siapa itu?"
"Dari Ditya, dia sudah salah paham. Mungkin dia pikir, aku menerima lamaran dari kamu. Padahal..."
"Padahal kamu belum memutuskannya sesuatu, iya kan? Kamu bilang kamu butuh waktu lagi."
Fira mengangguk sambil masih menangis. Anggara menghela nafas panjang, tangannya meraih bahu Fira pelan.
"Fira, kamu beneran sayang sama dia?"
Fira nggak menjawab, tapi air matanya mengalir semakin deras. Dan itu udah jadi jawabannya
"Kalau kamu sayang sama dia, kenapa kamu nggak kejar dia sekarang? Kenapa malah di sini sama aku?"
"Karena aku sendiri bingung, aku sayang sama dia, tapi kamu juga cinta pertama aku. Kamu yang ngajarin aku arti cinta, dan sekarang kamu kembi dengan meminta maaf, membawa cincin. Aku nggak tau harus pilih siapa."
Angga diem lama, melihat Fira yang masih nangis sambil pegang buket bunga itu.
"Fira," panggilnya pelan. "Cincin yang kamu pake itu, cuma buat dicoba kan? Aku belum resmi ngasih sama kamu, dan kamu juga belum menerima aku. Jadi, kamu masih bebas."
"Tapi..."
"Kejar dia Fira, kejar Ditya, dan jangan sampai kamu menyesel nantinya."
"Tapi kamu gimana?"
Anggara senyum, senyum yang tulus tapi terasa begitu sakit.
"Aku bakal ikhlas, karena aku udah pernah nyakitin kamu. Dan sekarang, aku nggak mau egois lagi, kalau kamu lebih bahagia sama dia, ya udah. Aku ikhlaskan kamu."
"Anggara."
"Aku cuma mau kamu bahagia, Fira. Ya... meskipun bukan sama aku."
Fira memeluk Anggara sebentar, pelukan terima kasih, terus langsung lari ke arah parkiran. Lari sambil membawa buket bunga.
Dia harus cari Ditya, dan harus menjelaskan semuanya. Bahwa ini hanya salah paham, tapi saat Fira sampai di parkiran, Ditya udah nggak ada.
Fira berdiri sendirian, sambil melihat jalanan yang ramai. Ditya udah pergi dengan pikiran yang salah. Dengan hati yang pasti sangat hancur.
"Ditya, maafkan aku." bisik Fira sambil menangis. "Maafkan aku, kamu salah paham, Ditya."
Tapi Ditya nggak ada di sana, dia udah pergi dengan hati dan perasaan yang hancur. Dan Fira berdiri sendirian, sambil pegang buket bunga, yang seharusnya jadi awal kebahagiaan. Tapi malah jadi awal kesalahpahaman, yang mungkin bakal menghancurkan semuanya.
bab ini kita full karokean...😅😅😅😅
bener gak sih nadanya gini....😅😅😅