Bagi Zayden Abbey, dunia adalah medan tempur yang bising dan penuh amarah, sampai suatu siang di perempatan kota, ia dipaksa berhenti oleh lampu merah. Di tengah deru mesin motor yang memekakkan telinga dan kepulan asap knalpot yang menyesakkan, Zayden melihatnya—Anastasia Amy.
Gadis itu berdiri tenang di trotoar, seolah memiliki dunianya sendiri yang kedap suara. Saat Amy menoleh dan menatap Zayden dengan pandangan dingin namun tajam, jantung Zayden yang biasanya berdegup karena adrenalin tawuran, tiba-tiba berhenti sesaat. Di mata Zayden, Amy bukan sekadar gadis cantik; dia adalah "hening yang paling indah." Dalam satu detik itu, harga diri Zayden sebagai penguasa jalanan runtuh. Pemuda yang tak pernah bisa disentuh oleh senjata lawan ini justru tumbang tanpa perlawanan hanya karena satu tatapan datar dari Amy. Zayden menyadari satu hal: ia tidak sedang kehilangan kendali motornya, ia sedang kehilangan kendali atas hatinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Interogasi di Meja Makan
Malam itu, Tuan Pratama berdiri di balkon lantai dua, mengamati gerbang mansionnya yang dijaga ketat. Ia memutar ulang rekaman CCTV dari pos satpam. Ada sesuatu yang menurut nya janggal, sebuah motor sport hitam yang sering terlihat melintas pelan di jam-jam yang sama, tepat saat lampu kamar Amy baru saja dimatikan.
"Siapa anak itu?" gumamnya dengan nada yang sangat rendah, namun penuh ancaman.
Ia juga menyadari perubahan pada Amy. Putrinya yang biasanya pasif dan diam, kini sering terlihat melamun di dekat jendela sambil memegang sebuah gantungan kunci matahari yang terlihat murah dan tidak sesuai dengan standar barang-barang mewah di kamarnya.
"Cek riwayat telepon dan pesan singkat Anastasia," perintah Tuan Pratama kepada orang kepercayaannya melalui telepon. "Dan cari tahu siapa pemilik motor sport hitam dengan plat nomor B 1204 ZDN yang sering berkeliaran di sini."
Suasana makan malam kali ini terasa lebih mencekam dari biasanya. Tidak ada suara denting sendok. Ibu Amy hanya menunduk, sementara Tuan Pratama menatap Amy dengan mata tajam yang seolah bisa menembus tengkorak.
"Anastasia," panggil Ayahnya. Suaranya datar, namun Amy tahu itu adalah awal dari badai.
"Ya, Pa?"
"Papa dengar dari Chyntia, kamu sering terlihat bersama seorang laki-laki berandal di sekolah. Namanya... Zayden?"
Amy membeku. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar. Ia mencoba tetap tenang, mempertahankan wajah satu Derajat Celcius-nya.
" Oh Zayden adalah teman sekolah, Pa. Dia... dia hanya ketua kelas yang membantu saya beradaptasi."
"Ketua kelas?" Tuan Pratama meletakkan garpunya dengan keras. Duk! "Sejak kapan ketua kelas memakai jaket kulit penuh oli dan memimpin tawuran di jalanan? Sejak kapan ketua kelas memberikan puisi-puisi sampah di balik buku pelajaran?"
Amy tersentak. Ayahnya sudah tahu terlalu banyak.
"Jangan coba-coba membohongi Papa, Amy. Kamu tahu apa yang terjadi pada Sarah? Dia mulai dengan kebohongan kecil seperti ini!" Suara Tuan Pratama mulai meninggi.
"Papa tidak akan membiarkan sampah jalanan itu menyentuhmu, apalagi menghancurkan masa depanmu."
"Zayden bukan sampah, Pa!" Amy akhirnya membalas, suaranya bergetar karena emosi yang selama ini ia tekan.
"Dia satu-satunya orang yang membuat aku merasa hidup, bukan cuma sekadar pajangan di rumah ini!"
PLAK!
Tamparan itu tidak keras, tapi cukup untuk membuat dunia Amy runtuh. Ibunya menutup mulut karena terkejut.
"Masuk ke kamarmu. Mulai besok, kamu tidak akan pergi ke sekolah tanpa pengawalan ketat. Dan ponselmu... berikan pada Papa sekarang."
Di kamarnya yang terkunci dari luar, Amy menangis sesenggukan. Ia merasa sesak. Penjara itu kini benar-benar memiliki jeruji besi yang nyata. Namun, sebelum ponselnya disita, ia sempat mengirimkan satu pesan terakhir ke Zayden.
Amy:
"Zayden, jangan ke sini. Papa sudah tahu segalanya. Tolong, jaga diri kamu. Jangan lakukan hal bodoh. Maafkan aku."
Di apartemennya, Zayden membaca pesan itu dengan tangan gemetar. Amarahnya memuncak, mode Panglima dalam dirinya seolah ingin meledak. Ia mengambil kunci motornya, namun ia teringat janji pada Amy, Jangan lakukan kekerasan.
Zayden duduk di lantai, bersandar pada tembok, menatap pesan itu dengan mata merah. "Gue nggak akan biarin lo sendirian di sana, Amy. Kalau bokap lo mau perang, gue bakal kasih dia perang yang paling puitis yang pernah ada."
Zayden segera menelpon Dio. "Yo, kumpulin anak-anak. Tapi bukan buat tawuran. Kita butuh rencana yang lebih gila dari sekadar berantem."
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 🥰