Ferdy Wicaksono, fotografer muda yang hidup pas-pasan di Jakarta, tak pernah menyangka darah yang mengalir di tubuhnya akan membangunkan cinta yang tertidur selama lima ratus tahun. Dasima, jin wanita cantik dengan aroma bunga yang tak pernah pudar, jatuh cinta padanya karena Ferdy adalah reinkarnasi pria yang dulu ia cintai—dan kehilangan karena pengkhianatan. Di antara mimpi aneh, perlindungan tak kasatmata, dan kehadiran wanita misterius yang membawa darah masa lalu, Ferdy terjebak dalam cinta lintas dunia yang tak pernah benar-benar selesai. Kali ini, akankah Dasima mencintai… atau kembali kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Energi Keberuntungan
Kamar Kos Ferdy, Pukul 18.47
Pertemuan di Kopi Tetangga berakhir dengan rencana yang solid. Timeline dibuat, tugas dibagi, target ditetapkan. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, Ferdy merasa ada sedikit momentum positif.
Semangat itu masih menyala ketika dia memacu motornya ke perpustakaan pusat kampus, bertekad menuntaskan satu hal yang sudah terlalu lama tertunda: bertemu Mbak Yuli.
Mbak Yuli, sang pustakawati yang menjadi kunci referensi langka untuk skripsinya, ternyata ada di belakang meja sirkulasi. Perempuan paruh baya berkacamata itu tersenyum ramah melihat Ferdy yang tampak sedikit grogi.
"Ferdy, kan? Akhirnya datang juga. Bukunya sudah saya siapkan," ujarnya sambil mengeluarkan sebuah buku tebal berjudul Visual Storytelling: From Cave Paintings to Digital Media dari laci di bawah meja.
"Ini edisi terbatas, hanya boleh dibaca di sini, tidak boleh difotokopi halaman penuh, dan harus dikembalikan sebelum jam tutup."
Ferdy mengangguk cepat, rasa haru campur lega menyelimutinya. "Terima kasih banyak, Mbak. Ini benar-benar penyelamat."
"Jangan cuma disimpan. Dibaca. Dan cepat selesaikan skripsinya, saya ingin lihat kamu wisuda tahun ini," ucap Mbak Yuli dengan nada iba namun tegas.
Dengan buku berharga itu dalam genggaman,
Ferdy menghabiskan dua jam berikutnya di ruang baca yang sunyi, menelusuri bab-bab yang relevan. Dasima duduk di sebelahnya, sesekali melirik isi buku dengan rasa takjub.
"Manusia menceritakan kisah melalui gambar sejak zaman batu. Dan kau, Raden, melanjutkan tradisi itu dengan caramu sendiri," gumamnya bangga.
---
Kamar Kos, Pukul 21.15
Kembali di kamar kosnya, momentum positif tadi sedikit menguap digantikan oleh realita yang akrab: perut keroncongan dan dompet yang menipis.
Ferdy berdiri di depan 'dapur' kecilnya—hanya sebuah meja lipat dengan kompor portabel satu tungku dan beberapa bumbu dasar. Matanya kosong menatap rak berisi tiga bungkus indomie rasa soto, sekaleng sarden, dan sebungkus telur yang tinggal dua butir.
"Ah, makan apa lagi ya… Mie lagi? Eneg. Telor sama sarden? Itu buat besok pagi. Duit buat beli nasi padang atau ayam geprek mentok cuma bisa satu kali makan, ntar besok bangun pagi gak ada modal lagi," gerutunya sendirian, sambil menggaruk kepala.
Kelelahan dan sedikit keputusasaan mulai merayap. Hasil project foto belum tentu laku, uang dari job freelance belum masuk, hidup seperti berjalan di atas tali tipis.
Dasima menyaksikan kegalauan ini dari sudut
kamar. Hatinya terasa perih. Di kehidupan sebelumnya, Raden Wijaya tak pernah memikirkan makanan. Hidup Ferdy yang penuh ketidakpastian ini adalah penderitaan yang tak pernah ia bayangkan. Keinginan untuk membantu, untuk berbuat sesuatu, membuncah begitu kuat.
Sebagai jin, Dasima memiliki kemampuan terbatas untuk berinteraksi dengan dunia fisik. Dia tak bisa mengubah uang kertas atau materialisasi makanan dari udara.
Tapi ada hal-hal lain. Jin-jin tua sepertinya sering kali terhubung dengan aliran energi alam, termasuk energi rejeki—sebuah konsep yang abstrak bagi manusia, tetapi bagi mereka, bisa jadi seperti arus yang bisa sedikit dialirkan atau dihambat.
"Dulu, para petapa bisa menarik keberuntungan bagi desa mereka. Mungkin… mungkin aku bisa mencoba," bisik Dasima pada dirinya sendiri, melihat Ferdy yang lesu membuka bungkus indomie, niatnya bulat.
Selain mewarisi kemampuan pengobatan seperti ayahnya yang seorang tabib, ia juga mampu sedikit dalam mendayagunakan menarik energi kerejekian, namun tidak berlebihan seperti pelaku pesugihan.
Dia melayang ke tengah kamar, duduk bersila di udara. Wujudnya yang semi-transparan memancarkan cahaya keemasan samar. Dia memusatkan pikiran, mengingat ajaran-ajaran spiritual yang pernah didengarnya dulu.
Tangannya yang halus membuat gerakan-gerakan lambat, seolah menarik benang-benang halus dari udara. Dia fokus pada niat tulus: Tolong, datangkanlah kemudahan untuknya. Bukan harta berlimpah, tapi cukup untuk hari ini. Untuk mengenyangkan perutnya dan menenangkan pikirannya.
Energi di dalam kamar berubah. Udara terasa lebih tenang, lebih padat. Bukan seperti dinginnya perlindungan atau kebencian, melainkan seperti hangatnya harapan.
Dasima mengerahkan segenap kesadarannya, mengalirkan energi niat baiknya ke dalam ruang kosong kamar itu, memancarkannya seperti sebuah suar yang hanya bisa ditangkap oleh hukum alam semesta yang tak kasatmata.
Lima belas menit kemudian, saat Ferdy baru saja menuangkan air panas ke dalam gelas untuk mie-nya, ada ketukan di pintu.
"Ferdy, nak?"
Suara Ibu Kos. Ferdy menoleh, bingung. Ibu Kos jarang sekali datang ke kamar anak-anak kosnya di malam hari. Dia membuka pintu.
Di depan pintu berdiri Ibu Kos—wanita setengah baya dengan kebaya sederhana dan senyum hangat—dengan membawa sebuah bungkusan besar dari daun pisang yang diikat dengan benang, dan sebuah kantong plastik kresek.
"Ini tadi ada acara pengajian di RT, dapat berkat. Kebetulan masaknya banyak, keluarga Ibu di rumah sudah pada kenyang. Ibu ingat kamu, sering pulang malem, kayaknya anak kos yang sibuk. Nih, dibagi-bagi," ujar Ibu Kos sambil menyodorkan bungkusan dan kantong plastik.
Ferdy tertegun. "Bu… ini… terima kasih banyak, Bu."
"Iya, diterima ya. Jangan cuma makan mie instant terus, nanti sakit. Di sini ada nasi, lauk pauk lengkap—rendang, sayur nangka, tempe orek—sama ada buah jeruk juga di plastik.
Habiskan ya, nak." Ibu Kos mengangguk lalu berbalik pergi, meninggalkan Ferdy yang masih berdiri di pintu dengan mulut agak menganga.
Dia membawa bungkusan itu ke mejanya, membukanya dengan hati-hati. Aroma rendang yang harum dan rempah pekat langsung memenuhi kamar. Nasinya masih hangat. Ada juga kerupuk merah kecil. Di kantong plastik, benar ada tiga buah jeruk manis.
"Astaga… ini… rejeki nomplok," gumam Ferdy, rasa haru tak tertahankan menyergapnya. Dia hampir menangis. Di saat paling membutuhkan, datang bantuan tanpa diminta. Mungkin doanya selama ini didengar, pikirnya.
Dasima, yang kini duduk di tepi tempat tidur dengan wajah bahagia, tersenyum lebar. Usahanya berhasil. Tapi yang lebih penting, dia melihat kebahagiaan dan kelegaan di wajah Ferdy. Itu adalah ganjaran terbaik.
Ferdy duduk, mengambil nasi dan rendang dengan lahap. Rasanya luar biasa. Bukan hanya enak, tapi terasa seperti makanan yang penuh berkah. Dalam kenikmatan itu, kamar terasa sangat damai. Wangi melati yang selalu samar-samar hadir, kali ini terasa lebih kuat, lebih lembut, dan mengiringi aroma rendang.
Dan sesuatu yang aneh terjadi. Ferdy, yang biasanya merinding atau merasa aneh setiap wangi melati muncul, kali ini justru merasakan ketenangan yang mendalam.
Seperti aroma itu adalah bagian dari kehangatan yang datang bersama nasi berkat ini. Dia berhenti makan, menatap ruangan kamarnya yang remang-remang.
"Terima kasih," ucapnya pelan, suaranya jujur dan penuh rasa syukur. Lalu, seolah berbicara pada kehadiran tak kasatmata yang semakin sering dia rasakan, dia menambahkan, "Udah nemenin. Apa… nasi kotak berkat ini kamu yang usahain?"
Dia tersenyum sendiri. Itu hanya canda. Tapi di lubuk hatinya, ada bagian kecil yang mulai menerima kemungkinan bahwa ada "sesuatu" atau "seseorang" di sana.
Dasima terkejut, lalu senyumnya semakin lembut. Ferdy tidak takut. Tidak merinding. Dia berterima kasih, bahkan becanda. Ini kemajuan yang luar biasa. Dia menggerakkan energinya, sengaja memperkuat aroma melati murninya sebagai jawaban.
Ferdy mengendus-endus. "Wangi melati lagi. Tapi kok enak ya. Kaya lagi di kebun." Dia melanjutkan makannya, lalu tiba-tiba matanya tertuju pada laptop yang masih terbuka dengan galeri foto project mereka.
"Dengan rejeki nasi berkat begini, jadi semangat," katanya seolah melanjutkan percakapan. "Bisa gak project foto kami tembus di pasaran? Biar gak makan mie terus." Kali ini nada candanya lebih jelas, seperti sedang mengadu pada seorang teman khayalan.
Dasima mendengarkan dengan serius. Ini bukan sekadar canda. Ini adalah harapan yang diucapkan dengan nada ringan. Dia ingin membantu. Tapi "tembus di pasaran" adalah hal yang kompleks.
Itu bukan hanya soal menarik energi rejeki, tapi juga tentang kerja keras, keberuntungan, timing, dan kualitas. Dia bisa membantu di bagian "keberuntungan" dan mungkin membuka jalan, tapi hasil akhir tetap di tangan Ferdy dan timnya.
Tapi Dasima punya ide.
Dia ingat, dulu Raden Wijaya sangat menghormati leluhur dan kekuatan pusaka. Barang-barang yang memiliki sejarah panjang sering kali menyimpan energi atau "pamor" yang bisa mempengaruhi lingkungan.
Foto-foto dari museum itu—terutama foto keris dan benda pusaka—mungkin menyimpan sisa energi itu. Jika energi itu bisa "diaktifkan" atau diselaraskan dengan niat baik, mungkin bisa memberikan "blessing" tersendiri pada project mereka.
Esok harinya, ketika Ferdy kembali membuka file-file foto untuk proses kurasi akhir, Dasima memusatkan perhatiannya pada beberapa foto pilihan: foto keris dengan refleksi, foto guci tua retak, foto kain tenun usang.
Dia melayang mendekati layar laptop, seolah-olah bisa menyentuh gambar-gambar digital itu. Tangannya yang dari energi membentuk gerakan-gerakan halus, seperti seorang konservator yang merawat benda museum.
Dia memusatkan sisa energi positifnya, energi harapan dan doa, ke dalam gambar-gambar itu. Bukan untuk mengubah pixel, tetapi untuk meng-charge file digital itu dengan niat tulus: Semoga karya ini menemukan jalannya ke mata yang tepat, ke hati yang menghargai.
Itu upaya kecil, mungkin sia-sia. Tapi Dasima percaya pada kekuatan niat dan interkoneksi segala sesuatu. Alam jin dan alam manusia mungkin terpisah, tetapi mereka berbagi alam semesta yang sama.
Beberapa hari kemudian, ketika Ferdy, Andika, dan Roni akhirnya meluncurkan seri foto bertajuk "PAMOR: Jejak yang Tertinggal" di platform digital dan media sosial, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Seorang kurator seni kontemporer ternama di Jakarta, yang kebetulan sedang mengerjakan proyek tentang "Memory and Materiality in Southeast Asian Art", secara tidak sengaja melihat unggahan Roni di Instagram. Dia tertarik dengan komposisi dan narasi di balik foto-foto itu. Dia menghubungi akun bisnis yang mereka buat.
Di sisi lain, sebuah majalah budaya ternama meminta izin untuk memuat satu foto keris mereka (dengan credit tentunya) sebagai ilustrasi artikel tentang pelestarian benda pusaka. Mereka menawarkan fee yang bagi Ferdy dan kawan-kawan terbilang sangat layak.
Penjualan limited print digital di platform niche juga mulai ada yang membeli, satu dua, lalu bertambah. Bukan viral, tetapi stabil. Uangnya cukup untuk menutup biaya produksi dan menyisakan sedikit keuntungan.
Ferdy, Andika, dan Roni bersorak kecil di grup WhatsApp mereka. Mereka tidak kaya mendadak, tetapi ini bukti pertama bahwa jerih payah mereka membuahkan hasil. Ada jalan.
Malam itu, Ferdy pulang ke kosan dengan membeli nasi padang bungkus (bukan mie!) dan sebotol teh botol kecil untuk merayakan. Di kamarnya, dia menatap langit-langit dengan senyum lebar.
"Wangi melati lagi nih," ucapnya, sambil membuka bungkusan nasi padang. "Kayaknya akhir-akhir ini sering banget. Tapi… gak serem lagi. Malah kayak… ada yang lagi jagain."
Dia menatap ruangan kosong. "Siapa pun kamu, makasih ya. Project-nya mulai jalan. Nasi padang ini buat kamu juga, deh. Cuma… gimana caranya ya?" Dia tertawa kecil pada dirinya sendiri, lalu menaruh sedikit nasi dan sepotong rendang di atas tutup gelas bekas, menaruhnya di sudut meja. Itu mungkin konyol, tapi hatinya tergerak untuk berbagi rasa syukur.
Di sudut kamar, Dasima tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Air mata energi keemasan menitik lagi. Raden-nya tidak hanya menerima kehadirannya, tetapi mulai berinteraksi. Dia bahkan berbagi makanan. Tindakan simbolis sederhana itu terasa lebih berharga daripada pujian mana pun.
Dia melayang mendekati tutup gelas itu. Tidak mungkin baginya untuk menyentuh makanan fisik. Tapi dia bisa menghirup sari atau esensi dari persembahan itu.
Dia membungkuk, menarik napas panjang, dan energi dari niat tulus Ferdy itu mengalir ke dirinya, menyegarkan dan menguatkannya.
"Ini lebih dari cukup, Raden," bisiknya, suara penuh rasa terima kasih.
"Aku di sini. Dan selama kau masih mau berbagi nasi padangmu, aku akan tetap di sini, menjagamu, membukakan jalan-jalan kecil, dan… membuat kamarmu selalu wangi melati."
Malam itu, di kamar kos 3x4 meter yang penuh dengan cetakan foto baru yang siap dikirim, dua dunia yang berbeda tidak hanya beririsan, tetapi mulai belajar berdampingan dengan damai. Ferdy tertidur dengan perut kenyang dan hati penuh harapan.
Dasima berjaga di sampingnya, dengan energi yang kini terasa lebih utuh dan terhubung, menyadari bahwa kadang-kadang, rejeki terbesar bukanlah harta, tetapi keberadaan dan saling pengertian antara dua jiwa yang telah menempuh perjalanan panjang untuk kembali bertemu.