Katya dan Donny dipertemukan bukan oleh cinta, melainkan oleh keputusan orang dewasa, norma, dan takdir yang berjalan terlalu cepat. Mereka datang dari dua dunia berbeda—usia, cara pandang, dan luka—namun dipaksa berbagi ruang paling intim: pernikahan.
Novel ini bukan sekadar kisah beda usia.
Ia adalah cerita tentang pertumbuhan, batas, rasa bersalah, dan kemungkinan cinta yang datang paling tidak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Labirin Kebenaran
Angin sore di Jakarta terasa membawa debu dan kegelisahan saat Katya menghentikan mobilnya di sebuah kafe remang-remang di sudut jalan Menteng. Jantungnya bertalu-talu, seirama dengan keraguan yang menyiksa batinnya. Di dalam tasnya, surat biru milik mendiang Marina seolah membakar kulitnya. Ia tahu, langkah yang ia ambil hari ini adalah pengkhianatan kecil terhadap kepercayaan Donny, namun ia tidak bisa hidup dalam pernikahan yang dibangun di atas fondasi misteri yang gelap.
Sandra sudah duduk di sana, menyesap espresso dengan gaya angkuh yang tidak pernah berubah. Saat Katya mendekat, wanita itu menyunggingkan senyum kemenangan.
"Akhirnya kau datang, Nyonyah Adiwangsa," sapa Sandra, menekankan kata "Nyonya" dengan nada mengejek. "Bagaimana rasanya tidur di ranjang bekas kakakku? Apakah kau bisa mencium bau ketakutannya di sana?"
Katya duduk di hadapan Sandra, berusaha keras menstabilkan suaranya. "Cukup omong kosongnya, Tante Sandra. Katakan apa yang ingin Anda katakan. Apa maksud Anda soal rem mobil itu?"
Sandra mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menyipit penuh kebencian. "Marina bukan tipe pengemudi yang ceroboh. Malam itu, dia ingin melarikan diri dari Donny setelah dia tahu bahwa suaminya yang hebat itu menolak memberikan bantuan keuangan terakhir untuk keluarga kami. Tapi yang tidak banyak orang tahu adalah, sore harinya, Donny masuk ke garasi. Dia memeriksa mobil itu. Dan beberapa jam kemudian, Marina tewas karena rem yang blong di tikungan Puncak."
Katya merasa oksigen di sekitarnya mendadak hilang. "Itu tidak mungkin. Mas Donny mencintai Marina. Dia sedih bertahun-tahun karena kematiannya!"
"Sedih? Atau merasa bersalah?" Sandra tertawa sinis. "Donny tahu jika Marina terus hidup, hartanya akan habis diperas oleh kami melalui Marina. Dengan kematian Marina, Donny mendapatkan segalanya: perusahaan, ketenangan, dan status duda yang malang. Dan sekarang, dia mendapatkanmu—gadis muda yang bisa dia bentuk sesuka hatinya agar sejarah tidak terulang."
Sandra mengeluarkan sebuah flasdisk dari tasnya dan meletakkannya di meja. "Ini rekaman CCTV garasi rumah lama kalian yang berhasil diselamatkan sopir pribadi kami sebelum Donny memecatnya. Lihat sendiri apa yang dilakukan suamimu tercinta di sana."
Katya meraih flasdisk itu dengan tangan gemetar. "Kenapa Anda memberikan ini sekarang? Kenapa tidak ke polisi?"
"Karena aku ingin kamu yang menghancurkannya, Katya. Aku ingin kamu merasakan bagaimana rasanya dikhianati oleh pria yang kamu anggap pahlawan. Lagipula, Donny terlalu kuat untuk hukum. Tapi dia tidak akan kuat jika kamu yang meninggalkannya."
---
Katya pulang ke rumah besar itu dengan jiwa yang terasa kosong. Rumah itu kini tampak seperti penjara megah yang menyimpan ribuan rahasia di balik dinding marmernya. Ia langsung masuk ke ruang kerja Donny, menyalakan laptop, dan memasukkan flasdisk itu.
Video hitam putih itu muncul. Tanggalnya sesuai dengan hari kecelakaan Marina. Di sana, terlihat Donny masuk ke garasi, ia membuka kap mesin mobil Marina, dan tampak melakukan sesuatu pada bagian bawah mobil dengan kunci Inggris selama hampir dua puluh menit. Wajah Donny terlihat tegang dan berkali-kali menoleh ke arah pintu garasi.
Katya menutup mulutnya, air matanya tumpah tak terbendung. "Kenapa, Mas? Kenapa kamu setega itu?"
"Katya?"
Suara berat itu membuat Katya tersentak hingga laptopnya hampir terjatuh. Donny berdiri di ambang pintu, masih mengenakan kemeja kantornya yang sudah kusut. Wajahnya tampak pucat dan penuh kecemasan.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Zaky bilang kamu pergi tanpa izin," Donny melangkah mendekat, namun Katya mundur dengan cepat hingga menabrak rak buku.
"Jangan mendekat!" teriak Katya histeris. "Jangan sentuh aku dengan tangan yang merusak mobil Marina!"
Donny terpaku di tempatnya. Matanya tertuju pada layar laptop yang masih menampilkan cuplikan video garasi. Seketika, bahu Donny meluruh. Ia tampak seperti pria yang baru saja dijatuhi hukuman gantung.
"Sandra memberikan itu padamu?" tanya Donny dengan suara serak, hampir berbisik.
"Jadi itu benar? Mas yang merusak mobilnya? Mas yang membunuh istri Mas sendiri demi harta?" Katya meraung, rasa sakitnya meluap menjadi kemarahan yang membabi buta. "Dan Mas menamai aku Katyamarsha agar aku tetap murni? Mas yang tidak murni! Mas pembunuh!"
Donny berjalan perlahan, mengabaikan teriakan Katya, dan duduk di kursi kerjanya dengan lemas. "Duduklah, Katya. Saya akan menceritakan segalanya. Setelah itu, jika kamu ingin saya masuk penjara atau kamu ingin pergi, saya tidak akan menahanmu."
Katya terisak, namun rasa penasarannya mengalahkan keinginannya untuk lari. Ia duduk di sofa yang paling jauh dari Donny.
"Malam itu," Donny memulai dengan mata menerawang ke langit-langit, "Marina sedang dalam kondisi depresi berat. Dia mengonsumsi obat penenang dalam dosis tinggi. Dia mengancam akan menabrakkan dirinya jika saya tidak memberikan sisa saham Adiwangsa kepada kakaknya, suaminya Sandra. Saya masuk ke garasi bukan untuk merusak remnya agar dia celaka."
Donny menatap Katya dengan mata yang memerah. "Saya merusak kabel pengapiannya agar mobil itu tidak bisa menyala. Saya ingin dia tetap di rumah, agar saya bisa membawanya ke rumah sakit jiwa malam itu juga. Saya ingin melindunginya dari dirinya sendiri."
Katya terdiam, napasnya tersengal. "Tapi... tapi remnya blong."
"Itu karena saya salah memotong kabel dalam keadaan panik dan gelap," suara Donny pecah. "Saya bukan mekanik, Katya. Saya hanya ingin dia tidak pergi. Tapi yang saya potong ternyata kabel sensor rem elektronik. Marina berhasil menyalakan mobil itu karena kabel pengapian yang saya potong ternyata bukan kabel utama. Dia pergi dalam keadaan marah, dan saya tidak tahu bahwa saya telah mengirimnya menuju kematian."
Donny menunduk, menyembunyikan wajah di kedua telapak tangannya. "Sandra tahu itu. Dia tahu itu kecelakaan karena kebodohan saya, tapi dia memelintirnya menjadi pembunuhan berencana untuk memeras saya selama bertahun-tahun. Saya menanggung rasa bersalah ini sendirian, Katya. Saya memberikan nama itu padamu karena saya ingin ada satu hal di hidup saya yang benar-benar bersih, yang tidak tercemar oleh darah dan kebodohan saya."
Katya terpaku. Penjelasan Donny masuk akal, namun tetap meninggalkan luka yang dalam. Donny bukanlah pembunuh berdarah dingin, tapi dia adalah pria yang hancur oleh kesalahannya sendiri.
"Kenapa Mas tidak cerita sejak awal? Kenapa membiarkan aku tahu dari wanita seperti Sandra?" tanya Katya lirih.
"Karena saya takut kehilanganmu, Katya. Saya takut kamu melihat saya sebagai pria pembawa sial. Saya sudah kehilangan Marina karena kebodohan saya, saya tidak sanggup kehilanganmu karena masa lalu saya."
Katya berdiri, ia mendekati Donny yang masih tertunduk. Ia melihat pria perkasa ini hancur berkeping-keping. Rasa cintanya yang besar mulai berperang dengan kenyataan pahit ini. Ia menyentuh bahu Donny, membuat pria itu mendongak dengan wajah yang basah oleh air mata.
"Mas harus bicara pada Ayah," ujar Katya tegas. "Dan kita harus menghadapi Sandra bersama-sama. Tidak boleh ada lagi pemerasan. Mas tidak sengaja, dan Tuhan tahu itu. Tapi Mas tidak bisa membangun kebahagiaan kita di atas tumpukan rahasia ini."
Donny meraih tangan Katya, menciumnya dengan penuh penyesalan. "Kamu masih mau bersamaku, Katyamarsha?"
Katya mengusap air mata suaminya. "Aku istrimu, Mas. Nama yang Mas berikan itu artinya aku kuat. Aku akan cukup kuat untuk menanggung beban ini bersamamu, asalkan jangan pernah bohongi aku lagi."
Malam itu, mereka tidak tidur. Mereka menghabiskan waktu dengan berbicara, mengurai benang kusut yang selama ini mencekik Donny. Namun di luar sana, Sandra yang menyadari rencananya gagal total karena Katya justru memilih mendukung Donny, mulai merencanakan langkah terakhir yang lebih nekat: melaporkan rekaman itu ke polisi dengan tuduhan pembunuhan berencana, tepat di saat perusahaan Donny akan melakukan merger besar.