NovelToon NovelToon
GLOW UP : SAYONARA GADIS CUPU! (MISI MEMBUATMU MENYESAL)

GLOW UP : SAYONARA GADIS CUPU! (MISI MEMBUATMU MENYESAL)

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Aplikasi Ajaib
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Kde_Noirsz

Hancurnya Dunia Aluna Aluna Seraphine, atau yang akrab dipanggil Luna, hanyalah seorang siswi SMA yang ingin hidup tenang. Namun, fisiknya yang dianggap "di bawah standar", rambut kusut, kacamata tebal, dan tubuh berisi, menjadikannya target empuk perundungan. Puncaknya adalah saat Luna memberanikan diri menyatakan cinta pada Reihan Dirgantara, sang kapten basket idola sekolah. Di depan ratusan siswa, Reihan membuang kado Luna ke tempat sampah dan tertawa sinis. "Sadar diri, Luna. Pacaran sama kamu itu aib buat reputasiku," ucapnya telak. Hari itu, Luna dipermalukan dengan siraman tepung dan air, sementara videonya viral dengan judul "Si Cupu yang Gak Tahu Diri." Luna hancur, dan ia bersumpah tidak akan pernah kembali menjadi orang yang sama.

Akankah Luna bisa membalaskan semua dendam itu? Nantikan keseruan Luna...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kde_Noirsz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 : JANTUNG SALJU DI ZURICH

Kereta api TGV Lyria melesat membelah kegelapan malam dari perbatasan Prancis menuju jantung Swiss. Di dalam gerbong kelas satu yang hampir kosong, Aluna duduk bersandar pada jendela yang mulai tertutup embun es. Di luar sana, pegunungan Alpen tampak seperti raksasa hitam yang diam di bawah siraman cahaya bulan. Udara di dalam gerbong terasa kering dan berbau kopi mahal, namun Luna merasakannya sebagai suasana yang mencekam.

Ia mengenakan mantel wol hitam panjang dengan syal kasmir yang menutupi separuh wajahnya. Tidak ada lagi sisa-sisa "Luna si Cupu" atau "Luna si CEO". Ia kini adalah sosok misterius yang sedang menyusup ke sarang serigala.

"Minumlah, Anda butuh ini untuk menenangkan saraf," suara Xavier memecah kesunyian. Ia duduk di seberang Luna, mengenakan setelan trench coat yang menyamarkan bentuk senjata api di balik pinggangnya.

Luna menerima cangkir teh hangat itu, jemarinya yang masih sedikit gemetar menyentuh porselen yang panas. "Xavier, aku merasa seolah-olah setiap orang di kereta ini sedang mengawasi kita. Pria yang membaca koran di gerbong belakang, atau wanita yang terus menatap pantulan kita di kaca... apakah aku mulai gila?"

Xavier menatap sekeliling dengan mata yang tajam namun tenang. "Itu bukan kegilaan, Luna. Itu adalah insting bertahan hidup. Di Zurich, pertempuran tidak dilakukan dengan teriakan atau demonstrasi buruh. Di sini, musuh akan tersenyum padamu sambil menaruh racun di minumanmu, atau menjatuhkanmu dari peron kereta tanpa ada satu pun saksi yang melihat."

Xavier mencondongkan tubuhnya, suaranya merendah menjadi bisikan yang sangat serius. "The Council memiliki mata di setiap sudut kota ini. Mereka mengendalikan bank, hotel, bahkan sistem transportasi. Kita masuk ke sini menggunakan paspor palsu yang dibuat Kevin, tapi identitas biologis Anda, darah Anda tetaplah pelacak yang paling akurat jika mereka berhasil mendekat."

Luna menarik napas panjang, menatap pantulan dirinya di jendela. "Lagu itu, Xavier... aku terus memikirkannya. 'Di puncak putih tempat air membeku, rahasia lama menunggu jiwamu.' Ibuku selalu menyanyikannya saat aku menangis karena lapar di Jakarta dulu. Aku pikir itu hanya cara dia menenangkanku agar aku tidak merasa miskin. Ternyata, dia sedang membisikkan kunci dari sebuah kekaisaran."

"Adrian von Hess tahu bahwa memori masa kecil adalah tempat penyimpanan data yang paling aman," sahut Xavier. "Komputer bisa diretas, dokumen bisa dibakar, tapi lagu pengantar tidur yang terpatri di ingatan seorang anak akan bertahan selamanya. Masalahnya, Sophia juga tahu tentang lagu itu. Dia sedang menunggu Anda menyanyikannya di depan brankas."

Tiba-tiba, kereta melambat saat memasuki Stasiun Zürich Hauptbahnhof. Cahaya lampu neon stasiun yang putih bersih memantul di atas salju yang menumpuk di peron.

"Selamat datang di Jantung Salju, Luna," bisik Xavier sambil berdiri dan menyampirkan tas taktisnya. "Mulai detik ini, jangan pernah lepaskan pandanganmu dariku. Dan yang paling penting... jangan pernah percaya pada siapa pun yang menawarkan bantuan, sekecil apa pun itu."

Zurich di musim dingin adalah kota yang indah namun angkuh. Jalanan Bahnhofstrasse dipenuhi oleh butik-butik mewah dan jam-jam dinding emas yang berdetak dengan presisi yang menakutkan. Luna, Xavier, dan Bibi Siti check-in di Hotel Baur au Lac, salah satu hotel tertua dan paling eksklusif di kota itu.

Xavier memilih hotel ini bukan karena kemewahannya, melainkan karena sejarahnya sebagai tempat netral. Di sini, para mata-mata dunia sering bertemu, dan protokol keamanannya sangat ketat sehingga serangan fisik secara terbuka hampir mustahil terjadi tanpa memicu skandal internasional.

"Kevin sudah berada di apartemen aman di pinggiran kota," lapor Xavier setelah mereka masuk ke dalam suite yang luas. "Dia sedang meretas sistem jaringan kamera di sekitar Paradeplatz pusat perbankan Zurich. Kita butuh celah waktu lima menit untuk masuk ke Bank von Hess tanpa terdeteksi oleh unit elit Sophia."

Luna berjalan menuju balkon, menatap Danau Zurich yang tenang. Di kejauhan, ia bisa melihat gedung pencakar langit kuno dengan logo von Hess yang terbuat dari perak murni. Itulah tempat tujuan mereka. Tempat di mana darahnya akan diuji.

"Luna, lihat ini," Kevin muncul di layar laptop yang diletakkan Xavier di meja marmer. Wajah Kevin tampak kuyu, ia sudah tidak tidur selama 48 jam. "The Council tidak hanya menunggu kita. Mereka sedang melakukan pertemuan darurat di markas besar mereka. Sophia mengumpulkan tujuh kepala keluarga Seraphine dari seluruh Eropa. Mereka tahu kamu sudah berada di Swiss."

"Bagaimana mereka tahu?" tanya Luna, jantungnya berdegup kencang.

"Tanda panas," jawab Kevin. "Darah von Hess di tubuhmu memiliki komposisi isotop langka yang bisa dideteksi oleh sensor biometrik jarak jauh milik mereka yang dipasang di seluruh bandara dan stasiun kereta utama. Kamu seperti suar yang menyala di tengah kegelapan bagi mereka."

Xavier segera menutup tirai jendela. "Kita tidak punya banyak waktu. Sophia akan mengirim tim 'penjemput' dalam hitungan jam. Kita harus bergerak ke bank malam ini juga."

Namun, tiba-tiba terdengar ketukan lembut di pintu suite mereka.

Xavier langsung menarik senjatanya, berdiri di depan Luna dengan posisi siap menembak. "Siapa?"

"Layanan kamar, Tuan. Membawa kiriman khusus untuk Nona von Hess," sebuah suara wanita dengan aksen Jerman yang kental terdengar dari balik pintu.

Xavier memberi isyarat agar Luna mundur ke kamar dalam. Ia membuka pintu sedikit dengan moncong senjata tersembunyi. Di sana berdiri seorang wanita muda mengenakan seragam pelayan hotel, memegang nampan perak dengan sebotol anggur dan sebuah amplop hitam.

Wanita itu menatap Xavier dengan tatapan yang sangat tenang, lalu ia membisikkan sesuatu yang membuat Xavier terpaku.

"Elang tidak akan terbang di langit yang penuh gagak. Ikuti jalur bawah tanah jika ingin tetap hidup."

Wanita itu meletakkan nampan dan segera berbalik pergi, menghilang di lorong hotel yang sunyi. Xavier mengambil amplop itu, membukanya, dan menemukan sebuah peta tua menuju jaringan terowongan air di bawah kota Zurich yang dibangun sejak zaman Romawi.

"Siapa dia?" tanya Luna yang keluar dari persembunyiannya.

Xavier menatap peta itu dengan ekspresi campur aduk. "Itu adalah kode dari The Keepers. Kelompok rahasia yang dulu setia pada ayahmu. Ternyata, tidak semua orang di Zurich ingin melihatmu mati atau dimanfaatkan. Adrian von Hess meninggalkan pasukan bayangan yang sudah menunggu kepulanganmu selama sepuluh tahun."

Malam itu, mereka tidak menggunakan lift hotel untuk keluar. Xavier memandu Luna dan Bibi Siti melalui jalur tangga darurat menuju gudang bawah tanah hotel yang terhubung langsung dengan sistem drainase kota. Kevin tetap berada di jaringan komunikasi, memberikan panduan melalui satelit untuk menghindari patroli keamanan The Council yang mulai menyisir jalanan atas.

"Udara di sini sangat dingin," bisik Bibi Siti, merapatkan mantelnya. Ia tampak sangat ketakutan namun berusaha tetap kuat demi Luna.

"Tetap di belakangku, Bi," ucap Luna, memegang tangan wanita tua itu. Sepatu botnya menginjak air yang mengalir di lantai batu terowongan yang licin. Bau lumut dan besi tua menyengat hidungnya.

Terowongan ini adalah labirin kuno yang gelap. Cahaya hanya berasal dari senter taktis di tangan Xavier. Dinding-dinding batu di sekeliling mereka dipenuhi dengan simbol-simbol kuno yang dipahat ratusan tahun lalu.

"Xavier, kenapa ayahku tidak pernah memberitahuku tentang The Keepers?" tanya Luna di sela napasnya yang terengah.

"Karena semakin sedikit Anda tahu, semakin aman hidup Anda di Jakarta dulu," jawab Xavier sambil memeriksa peta di tangannya. "The Keepers bukan tentara. Mereka adalah pustakawan, pengacara, dan teknisi bank yang muak dengan keserakahan The Council. Mereka menjaga akses ke brankas von Hess agar tidak jatuh ke tangan Sophia."

Tiba-tiba, suara langkah kaki berat bergema dari arah depan terowongan. Bukan satu orang, tapi sekumpulan orang dengan peralatan militer lengkap. Sinar laser merah mulai menyapu dinding terowongan.

"Tiaraaap!" Xavier menarik Luna dan Bibi Siti ke balik pilar besar.

Tatatatatata!

Suara tembakan senapan otomatis memecah kesunyian bawah tanah. Peluru-peluru menghantam pilar batu, mengirimkan serpihan tajam ke segala arah.

"Itu The Purifiers!" teriak Xavier di tengah kebisingan tembakan. "Mereka menemukan kita lebih cepat karena sensor biometrik itu! Kevin, matikan sistem lampu di sektor ini!"

Lampu-lampu darurat di terowongan meledak seketika, membuat ruangan menjadi gelap gulita. Di tengah kegelapan, Xavier menggunakan kacamata night vision-nya untuk membalas tembakan. Luna bisa mendengar teriakan kesakitan dari pihak musuh, namun jumlah mereka terlalu banyak.

"Luna, ambil ini!" Xavier menyerahkan sebuah granat asap dan sebuah alat pemancar sinyal. "Jika terjadi sesuatu padaku, lari terus ke arah utara mengikuti tanda salib von Hess di dinding! Temui pria bernama Hans di ujung terowongan!"

"Aku tidak akan meninggalkanmu, Xavier!" Luna berteriak, air mata mulai mengalir di wajahnya.

"Ini bukan tentang aku, Luna! Ini tentang menghentikan mereka!" Xavier mendorong Luna ke arah lorong samping. "Lari! Sekarang!"

Luna terpaksa menarik Bibi Siti untuk berlari menembus kegelapan, sementara di belakangnya, suara pertempuran Xavier semakin menjauh, digantikan oleh suara ledakan dan dentuman logam. Ia berlari dengan sisa tenaganya, mengikuti insting dan memori lagu ibunya, menuju sebuah pintu besi raksasa yang tampak di ujung lorong pintu masuk rahasia menuju Bank von Hess.

Saat ia menyentuh pintu itu, sebuah layar biometrik menyala. Suara mesin yang dingin bergema "Sampel darah diperlukan untuk identifikasi garis keturunan Hess."

Luna menatap telapak tangannya, lalu menatap pintu itu. Di belakangnya, suara langkah kaki pengejar semakin dekat. Ini adalah saatnya.

Suara desingan peluru di terowongan belakang mulai teredam oleh tebalnya pintu baja kromium di depan Aluna. Di sini, di ruang antara yang dingin dan kedap suara, Luna berdiri bersama Bibi Siti yang sesak napas karena ketakutan. Di depannya, sebuah panel kaca hitam muncul dari dinding, memancarkan sinar laser merah yang memindai seluruh tubuh Luna.

"Sampel darah diperlukan untuk identifikasi garis keturunan Hess. Otoritas, Protokol 1945."

Suara mesin itu datar, namun terasa seperti vonis mati. Luna menatap tangannya yang gemetar. Di luar pintu ini, Xavier mungkin sedang meregang nyawa demi memberinya waktu beberapa detik. Ia tidak boleh menyia-nyiakannya.

Luna mengambil belati kecil yang diberikan Xavier. Dengan mata terpejam dan napas tertahan, ia mengiris telapak tangan kirinya. Darah merah segar mengalir, menetes jatuh ke atas sensor berbentuk mangkuk perak kecil yang muncul dari bawah layar. Begitu cairan merah itu menyentuh dasar perak, sistem di dalam dinding mulai menderu.

"Analisis DNA sedang berlangsung... Mengidentifikasi urutan mitokondria... Menghitung kunci kriptografi von Hess... Selamat datang, Aluna von Hess. Otoritas Diterima."

KLAK. KLAK. KLAK.

Rangkaian kunci magnetik raksasa berputar. Pintu setebal satu meter itu bergeser perlahan tanpa suara, mengungkapkan sebuah lorong panjang yang diterangi oleh lampu sensor gerak yang menyala satu per satu. Lorong itu tidak seperti bank pada umumnya, dindingnya dilapisi dengan tembaga murni untuk mencegah segala jenis penyadapan sinyal dari luar.

"Ayo, Bi," bisik Luna sambil membalut lukanya dengan sobekan syal kasmirnya.

Saat mereka melangkah masuk, pintu di belakang mereka tertutup otomatis dengan dentuman keras. Mereka kini terkurung di dalam jantung sistem perbankan paling rahasia di dunia. Luna berjalan menyusuri lorong itu hingga sampai ke sebuah ruang bundar yang di tengahnya terdapat sebuah meja kaca kristal.

Di atas meja itu, sebuah hologram memancarkan gambar ayahnya, Adrian von Hess, dalam versi lebih muda. Wajahnya tampak lelah namun tersenyum lembut, seolah ia tahu bahwa suatu hari nanti putrinya akan berdiri di tempat ini.

"Aluna, jika kamu melihat ini, berarti kamu sudah cukup dewasa untuk memahami bahwa darahmu adalah beban sekaligus kunci. Di hadapanmu bukan hanya uang, tapi kebenaran tentang bagaimana Seraphine dan Von Hess mengendalikan dunia. Lagu yang ibu nyanyikan... itu bukan sekadar melodi. Itu adalah frekuensi yang harus kamu suarakan untuk membuka arsip terakhir."

Luna tertegun. Ia ingat bagian lagu itu. Ia mulai bersenandung pelan, suaranya bergetar di dalam ruangan yang memiliki akustik sempurna tersebut. Saat nadanya mencapai frekuensi tertentu, meja kristal itu bercahaya biru terang, dan ribuan baris data mulai muncul di udara.

Data yang melayang di udara dalam bentuk hologram itu menceritakan sejarah gelap yang tidak pernah ada di buku teks mana pun. Luna melihat daftar transaksi yang menghubungkan keluarga Seraphine dengan rezim-rezim diktator, pembiayaan perang saudara, hingga manipulasi krisis pangan global. Namun, yang paling mengerikan adalah sebuah proyek bernama "The Puppet Master".

Proyek itu adalah rencana jangka panjang untuk menempatkan anggota keluarga Seraphine dan Von Hess di posisi kunci pemerintahan di seluruh dunia melalui pendanaan kampanye rahasia. Sophia, sang Grand Dame di Eropa, adalah otak di balik semua ini.

"Luna... apa ini semua?" tanya Bibi Siti, menatap gambar-gambar yang melayang dengan bingung.

"Ini adalah bukti bahwa semua kemewahan mereka dibangun di atas mayat jutaan orang, Bi," sahut Luna, matanya berkilat penuh amarah. "Ayah mencuri data ini untuk menghentikan mereka. Dia ingin menghancurkan sistem ini dari dalam, tapi mereka menemukannya sebelum dia sempat bertindak."

Tiba-tiba, suara tepuk tangan terdengar dari arah langit-langit. Luna tersentak dan melihat ke arah sudut ruangan di mana sebuah kamera pengawas bergerak mengikuti arah pandangnya.

"Sangat impresif, Aluna. Kamu benar-benar putri Adrian," suara Sophia bergema melalui pengeras suara ruangan. "Kamu sudah membuka kotak pandora itu. Tapi kamu lupa satu hal brankas ini sekarang menjadi peti matimu. Tidak ada jalan keluar dari sana kecuali aku yang membukanya dari pusat kendali."

"Xavier ada bersamaku! Dia akan menemukan cara!" teriak Luna, mencoba menyembunyikan rasa takutnya.

"Asistenmu itu? Dia pejuang yang tangguh, tapi The Purifiers tidak punya belas kasihan. Saat ini dia mungkin sudah menjadi abu di terowongan itu," tawa Sophia terdengar dingin. "Sekarang, Aluna, jadilah gadis baik. Berikan perintah suara untuk mentransfer seluruh enkripsi data itu ke server pusatku di Zurich Utara, atau aku akan mematikan pasokan oksigen di ruangan itu dalam sepuluh menit."

Luna menatap data yang melayang. Jika ia memberikan data itu, Sophia akan memiliki kendali absolut untuk memeras setiap pemimpin dunia. Jika ia menolak, ia dan Bibi Siti akan mati di sini.

"Luna... jangan berikan pada mereka," suara Bibi Siti terdengar lemah namun tegas. "Bibi sudah tua, tidak apa-apa kalau Bibi mati di sini. Tapi jangan biarkan orang-orang jahat itu makin berkuasa."

Luna menggigit bibirnya hingga berdarah. Ia tidak bisa membiarkan Bibinya mati, tapi ia juga tidak bisa membiarkan pengorbanan ayahnya sia-sia. Ia teringat kata-kata ayahnya dalam rekaman tadi "Kunci itu bukan hanya di darahmu, tapi di dalam jiwamu."

Menit-menit berlalu dengan mencekam. Udara di dalam brankas mulai terasa berat dan tipis. Bibi Siti mulai terbatuk-batuk, wajahnya pucat pasi. Luna mencoba memutar otak, mencari celah dalam sistem keamanan yang dibuat oleh ayahnya sendiri.

Ingat, Luna. Ayahmu seorang jenius. Dia tidak mungkin membuat jebakan tanpa jalan keluar bagi putrinya sendiri, batinnya.

Luna kembali meneliti hologram data tersebut. Ia melihat sebuah simbol kecil yang tersembunyi di sudut bawah setiap halaman data simbol bunga teratai kecil, bunga kesukaan ibunya. Ia menyentuh simbol itu.

Seketika, tampilan hologram berubah. Data konspirasi itu menghilang, digantikan oleh sebuah barisan perintah perintah sistem "ERASE ALL DATA & SELF-DESTRUCT PROTOCOL".

"Sophia!" Luna berteriak ke arah kamera. "Kamu ingin data ini? Aku akan menghapusnya selamanya! Jika aku mati, rahasiamu juga akan mati bersamaku!"

"Jangan bodoh, Aluna! Kamu akan membunuh dirimu sendiri!" suara Sophia mulai terdengar panik.

"Aku lebih baik mati sebagai manusia bebas daripada hidup sebagai kuncimu!" Luna meletakkan jarinya di atas tombol virtual penghapusan data.

Tiba-tiba, terdengar suara dentuman keras dari balik dinding sisi kiri brankas. Bukan dari pintu utama, melainkan dari saluran ventilasi raksasa. Sebuah ledakan kecil menghancurkan kisi-kisi besi, dan sesosok tubuh jatuh ke lantai dengan bersimbah darah.

Itu Xavier.

Pakaiannya robek-robek, wajahnya dipenuhi luka bakar, dan ia memegang sebuah detonator di tangannya. "Nona... Luna... lari..." bisiknya dengan suara yang hampir habis.

Xavier tidak datang sendirian. Dari belakangnya muncul sekelompok pria berseragam hitam dengan logo The Keepers. Mereka telah meledakkan jalan masuk dari terowongan utilitas rahasia yang tidak diketahui oleh Sophia.

"Xavier!" Luna berlari memeluknya. "Kamu hidup!"

"Kita tidak punya waktu," ucap salah satu anggota The Keepers, seorang pria tua bernama Hans. "Sophia sudah mengirim pasukan udara. Kita harus menghapus data ini sekarang dan meledakkan brankas ini agar mereka tidak bisa memulihkan apa pun!"

Luna menatap Xavier, lalu menatap Bibi Siti. Ia kemudian menatap tombol penghancur itu. Dengan satu gerakan mantap, ia menekan tombol tersebut.

"Penghapusan data dimulai... Penghancuran diri dalam 60 detik."

Mereka segera menyeret Xavier dan Bibi Siti masuk ke dalam saluran ventilasi darurat saat alarm berbunyi keras di seluruh gedung Bank Von Hess. Brankas yang berisi rahasia gelap dunia itu kini berubah menjadi tungku api yang akan menelan semua dosa masa lalu Seraphine dan Von Hess.

Guncangan hebat merambat dari fondasi terdalam Bank von Hess, membuat tanah di atas Paradeplatz bergetar hebat. Di dalam ruang brankas yang kini dipenuhi cahaya merah darurat, Luna merasakan panas yang mulai menjilat udara. Protokol penghancuran diri yang ia aktifkan bukan sekadar menghapus data digital itu adalah perintah untuk membakar seluruh server fisik menggunakan gas termit yang tersimpan di dinding.

"Cepat! Jangan menoleh!" raung Hans, pemimpin The Keepers, sambil memapah Xavier yang terluka parah.

Luna merangkul Bibi Siti, mendorong wanita tua itu masuk ke dalam saluran ventilasi raksasa yang baru saja diledakkan. Saat Luna merangkak masuk, ia sempat menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Di layar hologram yang mulai distorsi, wajah ayahnya, Adrian, perlahan menghilang tertelan api. Ada kedamaian di wajah hologram itu, seolah beban berat yang ia pikul selama puluhan tahun akhirnya lepas melalui tangan putrinya.

DUAARRR!

Ledakan kedua yang lebih besar menghancurkan pintu utama brankas dari dalam. Tekanan udara melemparkan mereka semua lebih jauh ke dalam lorong ventilasi. Debu beton dan asap hitam pekat mengejar mereka seperti monster kabut.

"Luna... tasnya..." rintih Xavier. Ia mencoba menunjuk ke arah saku mantelnya yang robek.

Luna merogoh saku Xavier dan menemukan sebuah hard drive eksternal kecil yang dilapisi titanium. "Kamu berhasil?"

"Hanya... sebagian kecil..." Xavier terbatuk, darah segar keluar dari sudut bibirnya. "Data... tentang siapa yang membunuh... ibumu."

Darah Luna berdesir. Di tengah kiamat kecil ini, Xavier masih sempat memikirkan satu hal yang paling ingin Luna ketahui. Ia menyimpan drive itu di tempat paling aman di balik bajunya.

Mereka sampai di ujung saluran yang bermuara di sebuah gudang garam tua di pinggiran sungai Limmat. Udara dingin Zurich yang menusuk langsung menghantam kulit Luna yang panas karena api. Di luar, suara sirene pemadam kebakaran dan helikopter militer mulai memekakkan telinga. Zurich bukan lagi kota yang tenang, ia telah menjadi zona perang.

"Dengar, Nona Aluna," Hans mencengkeram bahu Luna, matanya menatap tajam di balik masker taktisnya. "Sophia tidak akan membiarkan kalian keluar hidup-hidup dari Swiss. Ledakan ini telah mempermalukan The Council di mata dunia. Mereka akan menutup seluruh perbatasan. Kalian tidak bisa menggunakan jalur udara atau kereta."

"Lalu bagaimana?" tanya Luna, menatap Xavier yang kini sudah tak sadarkan diri di pelukan dua anggota Keepers lainnya.

"Jalur Alpen," jawab Hans singkat. "Hanya satu orang yang bisa membawa kalian melewati puncak salju tanpa terdeteksi radar. Dia menunggu di stasiun tua distrik industri. Lari sekarang, atau kalian akan berakhir sebagai debu di bawah gedung ini."

Di pusat kendali The Council yang tersembunyi di sebuah puri kuno di Zurich Utara, Sophia von Hess berdiri diam menatap layar monitor yang menampilkan kepulan asap hitam dari gedung bank miliknya. Wajahnya yang biasanya kaku seperti porselen kini tampak mengerikan. Kemarahan yang selama puluhan tahun ia pendam meledak dalam keheningan yang mematikan.

"Dia menghancurkannya," suara Sophia bergetar rendah. "Gadis selokan itu berani membakar warisan seratus tahun keluarga kita."

Di sampingnya, seorang pria muda dengan seragam militer hitam komandan unit elit The Purifiers menunduk hormat. "Nona, sensor biometrik sempat menangkap sinyalnya di pintu keluar saluran drainase sektor 4. Mereka bergerak menuju arah selatan."

"South? Dia pikir dia bisa lari ke Italia lewat pegunungan?" Sophia berbalik, matanya berkilat penuh dendam. "Aktifkan unit pemburu udara. Jangan gunakan peluru karet lagi. Aku ingin kepalanya dibawa ke hadapanku. Siapa pun yang membantunya, bakar bersama mereka."

"Bagaimana dengan data di brankas, Nona? Apakah ada yang bisa diselamatkan?"

Sophia menghantam meja kaca di depannya hingga retak. "Data itu sudah tidak ada! Tapi dia masih memiliki kuncinya dalam darahnya. Jika kita tidak bisa memiliki datanya, maka tidak ada orang lain yang boleh memilikinya. Habisi dia di salju. Biarkan darah von Hess membeku di tempat yang seharusnya."

Sementara itu, di sebuah jip tua yang melaju kencang menembus badai salju yang mulai turun, Luna memeluk tubuh Xavier yang kedinginan. Bibi Siti duduk di samping Kevin yang sedang sibuk meretas jaringan lalu lintas untuk mematikan lampu-lampu jalan di jalur pelarian mereka.

"Luna, mereka sudah meluncurkan drone pemangsa," ucap Kevin, suaranya gemetar. "Aku bisa melihat mereka di radar satelit. Kita hanya punya waktu sepuluh menit sebelum mereka sampai di posisi kita."

Luna menatap Xavier. Wajah pria itu sangat pucat, napasnya pendek dan dangkal. "Bertahanlah, Xavier. Kamu sudah berjanji akan menjagaku sampai akhir. Kamu tidak boleh mati di sini."

Tiba-tiba, suara desingan mesin turbin terdengar dari atas langit. Sebuah drone predator milik The Council menyorotkan lampu pencari raksasa ke arah jip mereka.

"Mereka menemukan kita!" teriak Bibi Siti.

DOR! DOR! DOR!

Tembakan senapan mesin dari udara mulai menghujani jalanan di sekitar jip. Tanah dan salju beterbangan. Xavier tersentak bangun karena guncangan, matanya terbuka sedikit, menatap Luna dengan pandangan yang kabur.

"Luna... ambil senjatanya..." bisik Xavier lemah. "Tembak... sensor di bawah sayapnya..."

Luna melihat sebuah senapan runduk (sniper) di lantai jip. Ia belum pernah menggunakannya, tapi ia telah melihat Xavier melakukannya ribuan kali. Dengan tangan yang gemetar, Luna membuka jendela jip, membiarkan angin es masuk dan membekukan wajahnya. Ia membidik ke arah drone yang melayang di atas mereka.

Dunia seolah melambat bagi Aluna. Suara angin, deru mesin drone, dan detak jantungnya sendiri menyatu menjadi satu ritme yang aneh. Ia teringat latihan singkat di Zurich beberapa bulan lalu saat Xavier memaksanya memegang senjata. 'Jangan melawan senjatanya, Luna. Jadikan dia bagian dari napasmu.'

DORRR!

Tembakan pertama meleset, menghantam ekor drone. Namun tembakan kedua, yang dilepaskan Luna dengan kemarahan murni atas segala penderitaan ibunya, tepat mengenai pusat sensor optik drone tersebut. Pesawat tanpa awak itu kehilangan keseimbangan, berputar liar, dan meledak di tebing batu di samping jalan.

"Kerja bagus, Nona!" teriak Kevin, kembali memacu jip lebih kencang saat mereka mulai menanjak menuju jalur pegunungan yang lebih tinggi.

Mereka sampai di sebuah perbatasan tersembunyi, sebuah terowongan tua yang dulunya digunakan sebagai gudang bunker Perang Dunia II. Di sana, seorang pria berjanggut tebal dengan pakaian musim dingin yang sangat berat sudah menunggu dengan dua buah snowmobile besar.

"Kalian terlambat," ucap pria itu, yang ternyata adalah kontak dari Hans. "Badai salju besar akan datang. Jika kalian tidak lewat sekarang, kalian akan membeku di puncak."

Luna turun dari jip, membantu memindahkan Xavier ke atas snowmobile. Ia menatap ke arah lembah Zurich yang kini terlihat jauh di bawah sana. Kota itu tampak seperti permata yang terbakar.

"Bibi, Kevin... kalian ikut dengan Hans lewat jalur bawah tanah menuju perbatasan Italia yang aman," perintah Luna.

"Lalu kamu, Luna?" Bibi Siti memegang tangan Luna erat-elah.

"Aku akan membawa Xavier lewat jalur puncak. Mereka akan mencariku, bukan kalian. Jika kita bersama, kita semua akan mati," Luna mencium kening Bibi Siti. "Pergilah. Aku janji kita akan bertemu lagi di tempat yang hangat."

Bibi Siti menangis, namun ia tahu tekad Luna tidak bisa diganggu gugat. Setelah perpisahan yang emosional, Luna menaiki snowmobile di mana Xavier sudah diikat dengan aman di kursi belakang.

Luna memutar gas, suara mesin meraung membelah kesunyian gunung. Ia mulai memacu kendaraannya mendaki lereng curam yang tertutup salju tebal. Angin badai mulai membutakan pandangannya, namun ia tidak berhenti. Di belakangnya, ia bisa melihat lampu-lampu helikopter pengejar mulai muncul di cakrawala.

"Kita akan sampai, Xavier," bisik Luna pada dirinya sendiri, meski ia tahu peluangnya sangat kecil. "Kita akan sampai di puncak, dan dari sana... aku akan melihat kehancuran mereka semua."

Di puncak Alpen yang dingin, sang "Ratu yang Terbuang" kini benar-benar sendirian menghadapi takdirnya. Namun kali ini, ia tidak lagi membawa dendam masa kecil. Ia membawa api keadilan yang akan membakar es abadi di jantung Eropa.

Pelarian maut di Pegunungan Alpen dimulai! Luna membawa Xavier yang sekarat menembus badai salju dan kejaran helikopter tempur Sophia. Mampukah Luna melewati "Jalur Kematian" Alpen? Dan rahasia pembunuhan ibunya yang ada di tangan Xavier, benarkah akan mengungkap keterlibatan Madam Celine?

🔥 LIKE jika kalian bangga melihat Luna berhasil menembak jatuh drone musuh!

💬 KOMEN Apakah menurut kalian Luna akan bertemu dengan sekutu baru di puncak gunung, atau dia akan menghadapi Sophia sendirian?

📢 SHARE episode final Bab ini! Petualangan Luna semakin epik dan tak terduga!

1
azka aldric Pratama
hadir
Noirsz: hai kakak
total 1 replies
Noirsz
hihihi maafkan ya kakak🤭🤭
Panda
ada apa dengan nama dirgantara 😄

banyak yang pake ya nama itu di novel indo ..

titip jejak ya thor
Ayu Nur Indah Kusumastuti
😍😍 xavier
Ayu Nur Indah Kusumastuti
semangat author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!