Tiga kali mengalami kehilangan calon bayinya saat usia kandungan hampir melewati trimester pertama, membuat Ainur, calon ibu muda itu nyaris depresi.
Jika didunia medis, katanya Ainur hamil palsu, tapi dia tidak lantas langsung percaya begitu saja. Sebab, merasa memiliki ikatan batin dengan ketiga calon buah hatinya yang tiba-tiba hilang, perut kembali datar.
Apa benar Ainur hamil palsu, atau ada rahasia tersembunyi dibalik kempesnya perut yang sudah mulai membuncit itu ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10 : Terasa janggal
Aryo mengulas senyum lembut, lalu terkekeh geli, merasa lucu dengan ekspresi bingung istrinya. Ia mendekati Ainur dengan menggenggam tangkai cangkir yang masih mengepulkan uap.
“Satu-satu nggeh nanya nya. Kamu kelamaan tidurnya, kata pelayan – dari hampir tengah hari sampai sekarang pukul lima sore baru bangun.”
“Ini diminum dulu teh pegagannya, biar ndak seperti orang linglung.” Cangkir teh dia majukan.
Ainur mengerjapkan mata. Hidungnya seperti mencium aroma berbeda dari teh yang katanya berkhasiat menenangkan pikiran, merilekskan otot-otot badan itu. ‘Warnanya sama, tapi kenapa baunya lebih menyengat atau memang seperti ini sebelumnya?’
“Mas, bisa minta tolong bawakan kue putu bambu ndak? Seingetku sebelum tidur, ada minta tolong ke mba Neng membelikan kue itu.” Ainur menatap polos.
“Nggeh.” Daryo mengusap pelan pucuk kepala istrinya. “Tunggu sebentar ya, mas ambilkan dulu.”
Pria itu pergi keluar dari dalam kamar, langkahnya seperti biasa, tenang. Ekspresi ramah, dia membalas sapaan dua pelan yang kebetulan berpapasan.
Daryo masuk lagi ke dalam kamar sambil membawa baki, di atasnya ada piring transparan berisi tiga buah kue putu bambu.
“Tehnya enak, mas. Lebih segar di tenggorokan, apa ada tambahan tanaman herbal?” Inur mengelap sudut bibirnya yang basah menggunakan punggung tangan. Bila didepan keluarga, diwajibkan memakai sapu tangan.
“Kata ibu ada campuran daun mint, biar segar,” jawabnya lancar. Mengambil gelas telah kosong.
“Oh … nanti aku mau bilang terima kasih.” Ainur mengambil piring, menjumput parutan kelapa diatas kue. Sangat anggun gerakannya merasai.
“Mas ndak mau mencoba? Enak rasanya, manis gurih.”
Daryo menolak halus, tidak begitu suka makanan manis. “Habis ini mas bantuin mandi, mau? Biar ndak ketinggalan makan malam bersama. Ada Kamila juga, dia menginap disini.”
Ainur tidak menanggapi berlebihan, karena memang sudah bukan hal aneh. Namun ada tanda tanda besar dalam benaknya, yang sebelumnya dirasa biasa saja, mengapa sekarang terkesan janggal?
"Mas, kalau aku boleh tahu … sebenarnya suaminya mbak Kamila itu kerja apa, dan dimana?” tanyanya dengan nada pelan.
Daryo mengambil piring di atas pangkuan Ainur. Meletakkan di atas tilam jauh dari jangkauan, lalu dia duduk di samping istrinya, berkata lembut. “Dulu kamu sudah diberitahu, kenapa sekarang nanya lagi?”
Ainur juga menjawab sama pelannya, ekspresi acuh tak acuh. “Cuma pengen tahu saja, selama kita menikah. Belum pernah aku ketemu suaminya mbak Kamila. Cuma dengar dari mas dan ibu kalau beliau bekerja di ibukota provinsi.”
Kamila, Daryo, sebaya. Hanya beda bulan lahir saja. Lebih mudah dua tahun dari Citra, dan Dayanti.
Yang Ainur dengar – wanita cantik itu sudah menikah empat tahun lalu dengan pria berprofesi sebagai staf pemerintahan berkantor di kota provinsi.
"Dek, terkadang kita perlu tahu diri, batasan. Ada kalanya diam itu menenangkan, memilih menutup mata serta telinga adalah senjata ampuh menghindari datangnya marabahaya. Sekiranya cuma sampai situ yang kamu tahu, ya cukup jangan diteruskan. Setiap orang memiliki kisahnya sendiri, berhak mengumbar atau menutup tentang kehidupannya,” ia menasehati Ainur.
'Ya, seperti aku yang lebih banyak mendengarkan daripada mengutarakan. Semua sudah disediakan tinggal mengenakan, menjalani hari-hari seperti kalian inginkan. Bahkan terkadang, aku merasa layaknya boneka porselen, dijaga, dilindungi secara berlebihan,’ Ainur mengangguk tanda setuju, tapi hatinya mengatakan sebaliknya.
“Aku mandi dulu ya, mas. Ndak enak kalau sampai ditungguin, seharusnya kita yang menunggu orang lebih tua.” Dia beranjak, masih sempat menyuguhkan senyum manis.
Daryo menatap punggung berbaju kebesaran itu. Tidak ada yang bisa menebak dari ekspresi wajah terlihat tenang di permukaan.
Ainur mengunci pintu kamar mandi. Bergegas dia melucuti seluruh pakaiannya sampai tampil polos.
‘Kok ndak ada bekasnya? Apa tadi aku juga mimpi?’ Mata lelah itu melihat telapak dan punggung tangan. Seingatnya tadi tergores ilalang.
Belum juga puas, Ainur memeriksa telapak kaki, mulus. Tidak ada luka. Pun, punggung jari tangan kiri yang sebelumnya memar efek dijilati anak perempuan, sekarang warna kulitnya merata.
‘Aku mimpi? Benarkah?’ Tangannya meraba perut, bokongnya dikencangkan. ‘Rasa nyeri dan perih juga sirna dalam waktu singkat, biasanya bertahan sampai beberapa hari. Ada apa ini sebenarnya?’
Perut dan area kewanitaannya seperti sedia kala, tak terasa sakit. Badannya jauh lebih ringan, kepala tidak berdenyut-denyut.
“Sayang, cepetan mandinya. Nanti kamu masuk angin kalau kelamaan ndak pakai baju!”
“Iya mas.”
‘Aku ndak boleh bertanya apalagi bercerita ke mas Aryo maupun lainnya. Semua ini masih membingungkan, aneh. Seperti tidak nyata, tapi tampak sungguhan. Aku bisa merasakannya.’ Ainur mengambil gayung lalu menciduk air, mengguyur kepalanya.
“Untung saja aku belum sempat bertanya ke mas Daryo tentang hutan pinus,” gumamnya di sela-sela menyiram badan.
Ainur mandi seraya berpikir keras. Banyak sekali kejanggalan mulai muncul dipermukaan. Yang sebelumnya dia anggap wajar kini terkesan tak lazim.
***
Di meja makan besar, terhidang makanan lezat lebih banyak menu bervariasinya.
Ainur baru saja tiba, dia duduk dikursi yang tadi ditarik suaminya. Posisinya berseberangan dengan Kamila.
Kamila memakai dress sifon vintage bermotif bunga, lengan sedikit mengembang. Dia terlihat jauh lebih cantik, segar, wajahnya sumringah.
“Terima kasih, bu,” ucapnya bernada lemah lembut.
“Wanita hamil bagus makan brokoli dan kacang mete untuk penguat kandungan. Nanti kalau dihunian Jayadi, minta pelayan memasak seperti ini ya, nduk? Perbanyak makan kacang-kacangan.” Ia baru saja menyendok sayur capcay ke piring Kamila.
“Nggeh, bu.” Kamila mengangguk senang, sedari kecil dia memang memanggil ibu ke Mamik serta Warti.
‘Kenapa dia bisa memanggil ibu ke para wanita lebih tua, dan bapak, bahkan ayah kandungku sendiri juga dipanggil demikian. Mengapa ndak berlaku ke aku?’ sembari memandangi menu diatas meja, batin Ainur bertanya-tanya.
"Nanti kalau anak kamu dan Citra sudah lahir, ibu masakan olahan makanan menggunakan rempah adas manis. Bayi suka makanan terpapar rasa tersebut, lebih kuat minum ASI nya, dan juga bagus untuk pertumbuhan.”
“Baik, bu,” jawab Citranti dan Kamila bersamaan.
Sesudahnya suasana hening, mereka mulai makan dalam diam, tapi saling perhatian.
Dari luar, keluarga Tukiran, Jayadi, Sugianto – terlihat harmonis. Para lelakinya romantis, meratukan istri mereka, dan sangat menyayangi buah hatinya. Tidak ada cela bagi seseorang untuk mengkritik, lebih condong mencontoh sikap terpuji itu.
“Mas, aku ndak ikut bersantai di ruang keluarga ya, kepalaku sedikit pusing. Ngantuk juga.” Ainur beranjak. Yang lainnya sudah melangkah ke lebih dulu.
Daryo yang memegangi sisi kursi sang istri langsung perhatian, memeriksa kening Ainur. “Mas temani tidur. Mas juga sudah mengantuk.”
Ainur mengiyakan, berjalan bersisian saling bergandengan tangan.
***
Sebuah kecupan lembut mendarat di kening yang pembuluh darahnya menonjol. Disebabkan stress, kekurangan berat badan.
Mata yang tadi terpejam layaknya orang tertidur pulas, tiba-tiba terbuka. Ainur hanya berpura-pura.
Ainur memandang jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Biasanya dia sudah dibuai mimpi, merasa nyaman dalam dekapan hangat. Itu yang diyakininya selama ini.
Dia beranjak, berdiri di sisi ranjang, lalu berjongkok, tangannya menarik sesuatu yang disembunyikan di kolong tempat tidur ….
.
.
Bersambung.
ainur gak di bawa jalan jalan ke desanya dwipa lagi ya kak,,,biar dia lihat aktivitas warga di sana juga
menghanguskan mu si paling pintar.