Ini adalah memoar hidup aku. Segala hal yang aku ceritakan di sini adalah kejadian nyata yang pernah aku alami. Nama tokoh aku samarkan untuk melindungi privasi orang-orang yang bersangkutan. Aku menulis ini karena aku pelupa, jadi aku cuma enggak mau suatu saat apa yang aku ceritakan di sini aku lupakan begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lilbonpcs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 - Rumit
Aku akhirnya mengubur dalam-dalam perasaan sayangku ke Vita, meskipun waktu itu aku enggak benar-benar bisa menghilangkan rasa sayang itu. Demi bisa melupakan perasaanku ke Vita, aku berburu lagi, cari cewek baru. Sebagai cowok yang banyak minusnya, standar aku dulu lumayan tinggi. Emang, benar-benar enggak tahu diri banget aku dulu... wkwk.
Aku dikenalin sama teman kelasku. Satu nomor cewek, katanya sih tetangganya. Aku enggak basa-basi, langsung SMS nomor itu. Aku ingat, aku langsung sebut nama teman aku yang ngasih nomornya... hahaha.
Eh, kok dia malah welcome.
Ya sudah, aku lanjut. Dari cara dia ngetik, kok asyik, nyambung pula. Tapi ada satu hal yang sama sekali enggak pernah aku sangka... cewek itu masih SMP.
Astaga.
Namanya, sebut saja Veny.
Aku sih enggak terlalu berharap banyak sama cewek ini, secara aku sama sekali belum pernah ketemu Veny. Tapi aku tetap lanjut SMS-an sama dia seperti biasa. Dari dulu sampai sekarang aku punya prinsip yang sama:
“Pantang jatuh cinta kalau aku belum ketemu.”
Kami ngobrol ngalor-ngidul selama beberapa lama, sampai tiba momen yang enggak terduga. Kebetulan sekolahku ngadain pertandingan bola voli antar sekolah SMP. Nah, anak ini emang suka banget main bola voli, dan SMP dia ikut.
Di momen itulah kami ketemu untuk pertama kalinya...
Ehhh... bukan.
Tepatnya bukan ketemuan. Kami cuma lihat-lihatan doang, dan ngobrolnya tetap pakai handphone... wkwk.
Intinya, pada akhirnya dia tahu aku, dan aku tahu dia. Masalahnya, dia di luar ekspektasiku. Untuk ukuran anak SMP yang jelas belum ngerti yang namanya dandan, wajahnya cukup menarik, senyumannya manis.
Setelah beberapa lama, hubungan kami jadi makin intens. Tapi di sisi lain, aku mulai bingung sama hubungan ini. Sampai akhirnya dia nembak aku... hahaha.
Aku serius, ada cewek yang nyatain cinta ke aku.
Tapi gobloknya aku... aku tolak.
Aku bilang ke dia,
“Maaf, aku enggak bisa pacaran sekarang. Tapi kalau cuma mau dekat, enggak apa-apa. Kita bisa dekat kayak orang pacaran.”
Aku sama dia malah jadi TTM-an... ahhh... goblok banget aku. Ada cewek cakep malah aku tolak.
Kalau aku ingat-ingat lagi, alasannya naif. Karena aku masih sayang sama Vita, dan aku benar-benar berharap bisa jadian sama Vita. Meskipun aku tahu itu enggak mungkin.
Tapi anak itu lumayan tegar. Dia tetap mau SMS-an sama aku.
Sampai di satu titik, Veny jemput aku di sekolah.
Iya... dia masih SMP dan berangkat sekolah naik motor sendiri. Sebenarnya alasannya cukup logis, karena rumahnya beneran jauh dari sekolah.
Waktu itu dia pengin main ke rumahku. Modusnya sih minta tolong supaya aku ngajarin dia main gitar. Astaga... kalau aku ingat-ingat, ini lumayan lucu. Padahal aku tahu, niatnya cuma buat ngerayu orang tuaku.
Orang tuaku cukup kaget, karena aku pulang bareng cewek SMP, dan ceweknya cakep pula. Lalu orang tuaku ngobrol sama Veny. Ngobrol panjang.
Ternyata, Veny ini tetanggaan sama saudara ibu aku.
Ah, sial. Dunia memang sesempit ini rupanya.
Berjalannya waktu, hubungan aku sama Veny memudar...
Karena aku berhubungan baik lagi sama Vita. Aku mulai berpikir agak konyol,
“Enggak apa-apa enggak jadi pacar, asal aku masih bisa tetap ngobrol sama dia.”
Sampai kami berdua punya panggilan sayang...
Aku manggil dia Spongebob, dan dia manggil aku Patrick.
Ini momen di mana aku yakin, sampai akhir, hubungan aku sama Vita cuma akan terjebak di friendzone. Tapi aku enggak apa-apa, karena aku beneran sayang sama dia waktu itu.
Eh, Veny malah mendekat lagi...
Entah gimana, anak ini mulai aneh. Dia jadi sedikit lebih dewasa. Di momen ini, aku mulai ngerasain perasaan aneh ke dia. Kayaknya aku mulai suka sama Veny.
Dan apa yang aku lakuin?
Aku bertaruh.
Karena aku sudah yakin aku enggak akan pernah pacaran sama Vita, aku mutusin buat pacaran sama Veny.
Tapi... Veny nolak aku.
Kocak.
Aku malu.
Aku pikir dia bakal mau sama aku, ternyata enggak.
Ada satu momen lucu. Kami ketemuan. Aku ngasih kalung ke dia. Aku pasangin langsung ke lehernya, dan di momen itu, kami beneran jadi kakak-adek-an doang.
Statusnya beneran cuma kayak kakak-adek, tapi kami tetap mesra-mesraan layaknya pacar.
Di satu sisi, aku sama Vita malah kayak sahabatan. Meski aku sendiri enggak yakin apa arti sahabat, secara hubungan kami dijalin atas dasar aku suka sama dia, tapi dia cuma nyaman sama aku, bukan suka.
Gitu lah pokoknya...
Jadi perjalanan cinta masa SMA aku itu beneran super rumit.
Setelah berjalannya waktu, aku ngerasa Veny mulai berubah. Kayak dia mulai banyak cari alasan buat ngejauh dari aku. Tapi aku yang enggak peka, enggak sadar sama apa yang sedang terjadi.
Sampai Veny mulai banyak cerita masalah cowok.
Di situ aku mulai sadar, anak ini kayaknya beneran sudah punya pacar, cuma dia enggak ngaku sama aku.
Yang jadi pertanyaan...
Kenapa dia masih ngehubungi aku?
Sadar kalau aku cuma dibadutin, aku beneran menjauh.
Di momen menjauh ini, aku merasa kosong. Karena hubungan aku sama Vita juga cuma sebatas sahabat. Dia mulai jarang SMS-an sama aku. Masih ngobrol sih kalau ketemu di sekolah, tapi cuma sebatas itu.
Akhirnya, aku malah menjauh dari keduanya...
Rumit.
Aku saja bingung gimana ngejelasinnya, soalnya ini beneran serumit itu. Ini juga banyak kejadian yang aku skip karena aku lupa. Soalnya aku pikir, kejadian sebenarnya lebih rumit lagi dari ini.
Tapi...
Puncak dari kerumitan kisah cinta masa SMA aku itu bukan ada di mereka, melainkan di satu orang cewek...
Namanya... Vati, sebut saja begitu.
Aku kenal dari teman aku. Waktu itu aku sama teman aku main di warnet. Kebetulan zaman itu Facebook lagi asyik-asyiknya.
Aku sama teman aku kenalan sama satu akun cewek. Kami ngobrol. Eh, ternyata dia juga lagi ada di warnet yang sama, dan dia juga lagi berdua.
Kami akhirnya tukeran nomor handphone...
Eh, bukan kami. Tapi teman aku.
Berjalannya waktu, teman aku SMS-an sama dia. Terus, karena teman aku tahu cewek itu Katolik sama kayak aku, dia mulai malas, karena teman aku ini lumayan taat dalam beragama Islam.
Akhirnya, nomor cewek itu dikasih ke aku.
Aku ngobrol sama dia. Awalnya sekadar basa-basi karena kami sama-sama Katolik. Hari demi hari berlanjut, sampai obrolan kami benar-benar intens.
Nah...
Mulai dari sini, kerumitan yang sebenarnya muncul.
---
Kalau kalian suka, kalian bisa mentraktirku kopi, dengan mengklik link di profilku, atau search link ini di browser kalian https://trakteer.id/lilbonpcs thanks sudah mengapresiasi karya ini...
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰
Tidak ada tujuan akhir disana. Tidak ada hadiah menanti. Tapi justru saat dia menyadari absurditas itu dan tetap memilih untuk mendorong batu, di situlah kebebasannya muncul.
Bahkan dalam penderitaan, Sisyphus bahagia
bukan karena penderitaannya menyenangkan,
melainkan karena penderitaan itu tidak lagi menguasainya🔥