Di usianya yang sudah 26 tahun, Arya masih betah menganggur. Cita-citanya bekerja di kantor besar bahkan menjadi CEO, tidak menjadi kenyataan. Bukan itu saja, tiga kali pula pria itu gagal mendaftar sebagai CPNS.
Ketika di kampungnya diadakan pemilihan Kepala Dusun baru, dengan penuh percaya diri, Arya mencalonkan diri. Tidak disangka, pria itu terpilih secara aklamasi.
Kehidupan Arya berubah drastis semenjak menjabat sebagai Kadus. Pria itu kerap dibuat pusing dengan ulah warganya sendiri yang terkadang membuatnya darah tinggi sampai turun bero.
Selain pusing mengurus warga, Arya juga dibuat pusing ketika harus memilih tiga wanita muda yang tiba-tiba masuk ke dalam kehidupannya.
Ada Arini, dokter muda yang menjadi alasan Arya menjadi Kadus. Lalu ada Azizah, gadis manis dan Solehah anak Haji Somad. Terakhir ada Arum, janda beranak satu yang cantik dan seksi.
Yang mau follow akun sosmed ku
IG : Ichageul956
FB : Khairunnisa (Ichageul)
TikTok : Ichageul21
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kuliah 4 SKS
“Sebentar-sebentar. Ini sebenarnya masalahnya apa? Ibu punya masalah sama siapa? Sama tetangga?”
“Lain, Pak Kadus. Abi mah keuheul ka caroge (Saya kesal sama suami). Geus teu kuat abi mah. Pokona hoyong cere (Saya udah ngga kuat, pokoknya mau cerai).”
Arya hanya terbengong saja. Tanpa sadar dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Apa mengurus masalah rumah tangga juga menjadi bagian tugasnya sebagai Kadus? Tapi sepertinya dia tidak pernah membaca tentang hal itu.
“Bu.. maaf ya, punten pisan. Tapi masalah Ibu teh ngga ada hubungannya sama saya. Kalau masalah Ibu sama suami, ya diselesaikan saja secara baik-baik secara internal.”
“Justru karena sudah tidak bisa diselesaikan secara internal, abi mawa masalah ieu ka Pak Kadus. Pak RW sauna teu sanggem (katanya ngga sanggup). Miwarang (nyuruh) ngobrol ka Pak Kadus. Pak Kadus pan Kepala Dusun, tugasna menampung aspirasi para warganya. Salah satunya abi, emangna salah Pak kadus?”
Ya tapi bukan masalah rumah tangga juga, Saeblah. Tentu saja Arya hanya berani mengatakan dalam hati saja. Dia takut dipiting oleh Jubaidah.
Tubuh wanita itu cukup gempal. Bisa kehabisan nafas dia kalau sampai dipiting di bawah ketiaknya yang belum tentu wangi.
“Sebenarnya masalah Ibu dengan suami apa sih?”
“Caroge abi teh gawena ngan hees we (suami saya kerjanya tiap hari tidur aja). Dihudangkeun mah hudang (dibangunin sih bangun), ngan molor deui na korsi (tapi tidur lagi di kursi). Sok bayangkeun ku Pak Kadus, kumaha mun boga salaki gawena ngan molor, dahar jeung modol! (bagaimana kalau punya suami kerjanya Cuma tidur, makan sama BAB).”
Perkataan Jubaedah yang menceritakan suaminya seakan tengah menyindir dirinya. Sebelum menjabat jadi Kadus, Amih juga sering mengatakan kalau pekerjaannya hanya makan dan tidur saja.
“Jadi Ibu maunya gimana? Emangnya suami Ibu udah ngga bisa diajak bicara?”
“Puguhan teu bisa (udah jelas ngga bisa). Matakna Abi rek minta tulung (makanya saya mau minta tolong) ka Pak Kadus. Cik bejaan salaki abi, jadi salaki teh ulah kedul (tolong bilangin ke suami saya, jadi suami jangan malas). Kesel abi mah.”
Dalam hati Arya merutuki Sulaiman yang membawa Jubaedah ke sini. Pantas saja pria itu langsung pergi tadi.
Sepertinya dia sudah pusing menanggapi cerocosan Jubaedah yang hampir sama dengan materi kuliah 4 SKS.
“Jadi masalah Ibu dengan suami hanya karena suami malas aja?”
“Iya. Abi tos teu kuat, Pak Kadus. Pokona abi hoyong cere (mau cerai).”
“Begini Bu Jubaedah. Ini tuh bale dusun, bukan KUA. Kalau Ibu mau menceraikan suami, datangnya bukan ke sini, tapi ke pengadilan agama,” sebisa mungkin Arya menahan kekesalan yang mulai menggerogoti otak dan hatinya.
“Abi teh belum mau cerai, Pak Kadus!”
“Lah tadi Ibu bilangnya mau cerai.”
“Saya teh ke sini mau minta nasehat Pak Kadus. Bagaimana caranya menghadapi suami saya. Apa ada solusi lebih baik dari cerai? Pak Kadus tuh dipilih warga desa untuk menyelesaikan masalah warga. Buat apa jadi Kadus kalau ngga bisa kasih solusi sama warganya.”
Arya menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Seketika rongga paru-parunya terasa kosong. Jika di film kartun, mungkin sudah terlihat kepulan asap di atas kepalanya.
“Sekarang saya tanya, selain malas, apa suami Ibu sering melakukan hal-hal yang membuat hati Ibu sakit atau kesal?”
“Kaya gimana?”
“Misalnya Bapak sering pulang malam, atau mancing ngga ingat waktu. Kan banyak tuh suami yang kaya gitu.”
“Boro-boro mancing. Udah dibilang dia mah kedul. Kerjanya diam aja di rumah. Saya minta tolong buang sampah, ngomongnya pagi, dibuangnya sore. Teu kesel kumaha tah.”
Astaga, ya itu salah Ibu. Mau-maunya nikah sama laki-laki malas kaya gitu. Lagi-lagi Arya hanya mengatakannya dalam hati saja seperti judul lagu grup Warna.
“Suami Ibu punya pekerjaan ngga? Kok perasaan di rumah terus.”
“Dia mah diam di rumah juga, duit terus ngalir. Kan punya kontrakan dua puluh pintu di kota. Paling ngecek sesekali aja.”
“Jadi uang belanja aman dong.”
“Aman.”
“Maaf nih, apa suami Ibu pernah selingkuh di belakang Ibu?”
“Ngga pernah. Mana berani dia. Mau saya sunat burungnya?”
“Ya kalau gitu Ibu tuh harus bersyukur, suami itu kekurangannya cuma malas. Tapi tetap bertanggung jawab menafkahi Ibu, setia juga dan ngga pernah main perempuan. Lalu masalahnya di mana?”
“Masalahna kedul, Pak Kadus.”
“Ya cuma malas aja, Bu. Ibu nih jadi orang ngga bersyukur banget. Biar malas, setidaknya Ibu sudah punya pasangan. Coba Ibu lihat di luar sana, masih banyak yang jomblo. Saya juga jomblo, Bu. Emangnya enak jadi jomblo? Ngga, Bu. Lihat orang lain punya pasangan, kita yang jomblo cuma bisa gigit jari. Apalagi kalau ditanya kapan nikah. Itu tuh sakitnya di sini, Bu,” Arya menunjuk dadanya.
“Har.. naha (kenapa) jadi Pak kadus anu curhat?” tanya Jubaedah bingung.
“Bukan curhat, Bu. saya cuma membandingkan kehidupan Ibu yang sudah punya pasangan dengan saya yang jomblo.”
“Jadi kumaha Pak Kadus? Saya cere ulah? (saya cere jangan?).”
“Ya terserah Ibu mau cerai atau ngga. Ngga ada pengaruhnya juga buat saya atau warga kampung. Pengaruhnya cuma sama Ibu aja. Kalau cerai, Ibu ngga akan dapat nafkah lagi dari suami Ibu. Emangnya Ibu mau lihat perempuan lain yang menikmati uang kontrakan dua puluh pintu? Ditambah lagi suami Ibu itu setia walau malas.”
Kali ini Jubaedah yang dibuat terbengong. Ternyata Arya juga bisa mengatakan itu semua dengan kecepatan 80 km/jam.
Dan yang terpenting apa yang dikatakannya benar. Wanita itu tentu saja tidak rela kalau ada perempuan lain yang menikmati uang suaminya.
“Ya sudah Pak Kadus, terima kasih buat nasehatnya. Saya permisi dulu.”
Sepeninggal Jubaedah, Arya menyandarkan punggungnya ke kursi. Beberapa kali dia memijat pelipisnya yang terasa pening akibat percakapannya dengan Jubaedah.
Baru saja lima menit Arya beristirahat dengan tenang, tiba-tiba muncul sambil berlari. Pria itu terdiam sebentar untuk menormalkan nafasnya yang terengah.
“Ar.. gawat Ar..”
“Ada apa?”
“Itu.. Ceu Iroh lagi ribut sama Ceu Edoh.”
“Ribut kenapa?”
Baru saja selesai satu masalah, kini sudah muncul masalah baru.
“Mending ke sana aja langsung.”
Mau tidak mau Arya bangun dari duduknya lalu mengikuti langkah Maman menuju kediaman Ceu Iroh. Rumah wanita itu berhadapan dengan rumah Ceu Edoh.
Begitu sampai di sana, terlihat kedua wanita itu sedang adu mulut.
***
Puyeng kan, Ar?🤣
Warga masih makan, Arya memberi pengumuman tentang sampah yang harus dipilah-pilah menjadi tiga, setiap rumah menyiapkan tiga tempat sampah.
Pinter Arya cara penyampaiannya, hingga semua warga kampung mulai kompak dan bersedia mengikuti aturan.
Ternyata salah Arya bikin channel utube tentang jalan rusak, menyebut dan mention KDM. Pak Kades takut ditegur KDM.
Arya menjelaskan dengan gayanya yang sempat bikin kesal Pak Kades.
Harusnya yang jadi Kades, Arya saja. Pak Kades Wira panikan gara-gara channel utube Arya dia jadi lupa mulai th 2026 pembangunan jalan desa diambil alih sama provinsi.
Pak Kades jadi bangga punya bawahan memiliki ide cemerlang.
Ide Arya ada aja untuk kemajuan kampungnya. Mumpung Pak Kades ada, dia mau pengajuan dana.
Sekalian Pak Kades dia paksa untuk ikut kerja bakti.