NovelToon NovelToon
Maximilien

Maximilien

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dikelilingi wanita cantik / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Kisah Pencinta Yang Asing

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sang Penyelamat Tak Terduga

Malam The Manhattan Gala for Education tiba dengan segala kemegahannya. Lampu-lampu kristal di Grand Ballroom hotel berbintang itu bersinar seperti jutaan bintang, memantul di atas lantai marmer dan gelas-gelas sampanye.

Namun, bagi Guzzel, malam ini terasa seperti berjalan di atas tali tipis yang siap putus kapan saja.

​Guzzel tampil memukau dengan gaun couture berwarna perak yang menjuntai indah, memeluk lekuk tubuhnya dengan anggun. Rambutnya disanggul modern, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang tampak sedikit pucat.

Di sudut ruangan, Max berdiri dengan tuksedo hitam yang dijahit sempurna. Dia tampak seperti dewa Yunani yang dingin, memegang gelas wiski tanpa meminumnya, matanya tajam mengawasi setiap gerak-gerik Guzzel dari kejauhan.

Dilain sisi,​ Kitty Valencia tidak pernah merasa se-iri ini seumur hidupnya. Dia melihat bagaimana mata Max tidak pernah benar-benar lepas dari Guzzel. Meskipun Max terlihat dingin, Kitty tahu ada sesuatu yang berbeda. Dia tahu tentang surat-surat itu, dan dia tahu rahasia "Lia" kini telah menjadi duri di antara mereka.

​"Dia tidak pantas mendapatkanmu, Max," bisik Kitty dalam hati sambil menyesap minumannya.

​Kitty memperhatikan Guzzel yang sedang berdiri di dekat tangga besar, menunggu giliran untuk memberikan sambutan pembukaan.

Di sana juga ada Justine, yang terus mencoba mencuri perhatian Guzzel dengan tawa kerasnya yang menyebalkan.

​Kitty melihat sebuah kesempatan. Di meja saji, terdapat seorang pelayan yang membawa nampan berisi red wine.

Dengan gerakan yang sangat halus dan terencana, Kitty berjalan mendekat. Saat melewati Guzzel, Kitty berpura-pura tersandung sepatunya sendiri, menyenggol lengan pelayan itu dengan keras.

​Pyarr!

​Gelas-gelas itu terjatuh. Cairan merah pekat menyiram bagian belakang gaun perak Guzzel yang indah, meninggalkan noda besar yang tampak seperti luka berdarah di atas kain mahal itu.

​"Oh my God! Guzzel! Aku minta maaf banget!" seru Kitty dengan nada yang dibuat sangat panik, padahal matanya berkilat puas. "Aku benar-benar tidak sengaja,! Duh, gaunmu rusak parah!"

​Kerumunan orang mulai berbisik. Guzzel mematung, wajahnya memerah karena malu. Sambutannya akan dimulai dalam lima menit, dan dia tidak mungkin naik ke panggung dengan noda sebesar itu.

Justine, bukannya membantu, justru terlihat bingung dan hanya mengomeli pelayan tersebut.

​"Kau bodoh sekali! Lihat apa yang kau lakukan pada gadisku!" bentak Justine pada pelayan itu.

​Guzzel nyaris menangis, dia hendak berlari menuju toilet saat sebuah tangan besar dan hangat menggenggam jemarinya. Guzzel tersentak. Dia menoleh dan menemukan Max sudah berdiri di belakangnya.

​Tanpa sepatah kata pun, Max melepaskan jas tuksedonya yang mahal. Dengan gerakan yang sangat protektif dan posesif, dia menyampirkan jas hitam besar itu ke bahu Guzzel, menutupi seluruh noda merah di punggung gadis itu.

​Aroma maskulin Max, campuran kayu cendana dan dinginnya malam, seketika mengepung indra Guzzel, memberikan rasa aman yang luar biasa.

​"Max..." bisik Guzzel tak percaya.

​Max tidak menatap Guzzel. Dia justru menatap tajam ke arah Kitty, sebuah tatapan yang membuat Kitty seketika gemetar ketakutan. Max tahu. Dia tahu itu bukan kecelakaan.

​"Danesh, bawa Miss Valencia keluar dari sini. Dia sepertinya terlalu mabuk hingga tidak bisa berjalan dengan benar," perintah Max dengan nada yang tidak menerima bantahan.

​Kitty pucat pasi saat Danesh mendekat dan dengan sopan namun tegas menggiringnya menjauh dari kerumunan. Max kemudian beralih pada Justine yang masih berdiri mematung.

​"Tugasmu selesai, Beaufort. Sekarang menyingkir dari jalanku," kata Max dingin.

​Justine hendak membalas, tapi melihat kilatan amarah di mata Max, dia memilih untuk mundur dan menghilang di antara tamu-tamu lainnya.

​Musik melambat. Alunan piano yang lembut memenuhi ruangan, lagu yang sangat dikenal oleh Max dan Guzzel. Itu adalah lagu yang pernah dikirimkan Max kepada Lia di aplikasi Veloce, lagu yang menurut Max menggambarkan perasaan kesepiannya.

​Max menatap Guzzel. Jasnya masih tersampir di bahu gadis itu, membuatnya terlihat kecil dan rapuh. Kebencian yang Max pelihara selama beberapa hari terakhir seolah menguap, digantikan oleh kerinduan yang tak tertahankan.

​"Max, sambutannya..."

​"Lupakan sambutannya. Biar ayahmu yang melakukannya," potong Max. Dia mengulurkan tangannya di depan Guzzel. "Berdansa lah denganku."

​Guzzel ragu sejenak, namun dia meletakkan tangannya di atas telapak tangan Max. Max menariknya menuju tengah lantai dansa.

Orang-orang mulai berbisik, kamera-kamera ponsel mulai mengarah pada mereka, dua anak dari keluarga paling berpengaruh di New York, yang biasanya tidak pernah terlihat berinteraksi, kini berdansa dengan sangat dekat.

​Max meletakkan tangannya di pinggang Guzzel, menariknya hingga tidak ada jarak di antara mereka. Guzzel menyandarkan kepalanya di bahu Max, menghirup aroma pria itu dalam-dalam.

​"Kenapa kau membantuku, Max? Bukankah kau membenciku?" tanya Guzzel pelan.

​Max terdiam cukup lama. Dia memutar tubuh Guzzel mengikuti irama musik. "Aku mencoba, Guzzel. Sumpah, aku mencoba membencimu setiap detik sejak aku tahu yang sebenarnya. Tapi setiap kali aku melihatmu terluka, 'V' di dalam diriku seolah ingin membunuh siapapun yang menyakitimu."

​Max merendahkan suaranya, berbisik tepat di telinga Guzzel. "Aku membenci kebohonganmu, tapi aku lebih membenci kenyataan bahwa aku tidak bisa bernapas tanpamu. Lia atau Guzzel... ternyata mereka adalah orang yang sama-sama membuatku gila."

​Guzzel mendongak, matanya berkaca-kaca. "Lalu sekarang bagaimana?"

​Max berhenti berdansa tepat di tengah lagu. Dia menatap mata Guzzel dengan intensitas yang bisa melelehkan es manapun. Dia tidak peduli lagi pada tamu-tamu penting, pada ayahnya yang menonton dengan kening berkerut, atau pada reputasi dinginnya.

​"Sekarang," kata Max, "aku akan melakukan apa yang seharusnya aku lakukan di Central Park dalam fantasiku."

​Max menunduk dan mencium Guzzel. Bukan ciuman yang lembut, melainkan ciuman yang penuh dengan tuntutan, rasa sakit, dan kerinduan yang meledak-ledak.

Di bawah lampu kristal Manhattan, di depan seluruh elit New York, Max secara resmi mengumumkan pada dunia bahwa dia telah menyerah pada hatinya.

​Dia tidak lagi mencintai bayangan di balik layar. Dia mencintai wanita di pelukannya.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy Reading 🥰😍😍

1
ren_iren
pliss jangan rusak aurelia dgn dendam ke saudaranya kak....
iluh asrini
cerita yang sangat menarik terimakasih thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!