NovelToon NovelToon
Penguasa Terakhir

Penguasa Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Dunia Lain / Romansa Fantasi / Epik Petualangan / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:172
Nilai: 5
Nama Author: Kon Aja

Zoran Shihai adalah pemuda 19 tahun dari Bumi yang hidup sebagai perampok jalanan. Ia mencuri bukan karena rakus, melainkan demi bertahan hidup. Namun satu kesalahan fatal yakni merampok keluarga kaya yang terhubung dengan dunia gelap membuat hidupnya berubah selamanya.

Dikejar para pembunuh bayaran, Zoran terjebak dalam pelarian putus asa yang berakhir pada sebuah retakan ruang misterius. Ketika ia membuka mata, ia tidak lagi berada di Bumi, melainkan di Dunia Pendekar, sebuah dunia kejam tempat kekuatan menentukan segalanya.

Terlempar ke Hutan Angin dan Salju, Zoran harus bertahan dari cuaca ekstrem, binatang buas, manusia berkuasa, dan kelaparan tanpa ampun. Di dunia ini, uang Bumi tak berarti, belas kasihan adalah kelemahan, dan bahkan seorang pemilik kedai tua bisa memiliki kekuatan mengerikan.

Tanpa bakat luar biasa, tanpa guru, dan tanpa sistem,

Ini adalah kisah tentang bertahan hidup, ironi, dan kebangkitan seorang manusia biasa di dunia yang tidak memberi ampun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kon Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anakmu akan kubunuh! Mau marah tidak? Mau pukul aku tidak?

Beberapa hari kemudian, Zoran mulai menggali informasi tentang satu hal yang terus mengusiknya, kenapa penduduk desa ini tidak pernah marah, dan selalu memaafkan apa pun yang terjadi.

Bagi Zoran, mustahil rasanya satu desa tidak memiliki rasa iri, dendam, atau sekadar kesal.

Tidak mungkin semua orang selalu tersenyum, menyapa dengan ramah, dan bergotong royong tanpa ada satu pun yang menyimpan ketidaksukaan.

Memang, itu adalah hal yang baik.

Bahkan terlalu baik.

Namun... Biasanya, bahkan di desa kecil sekalipun, selalu ada orang yang tidak menyukai orang lain, meski hanya diam-diam. Ekspresi wajah, nada bicara, atau sikap kecil pasti akan membocorkan sesuatu.

Namun di desa ini… semuanya tampak tulus. Terlalu tulus.

Setelah berkeliling tanpa tujuan yang jelas, Zoran akhirnya mengetahui bahwa penduduk desa menjunjung tinggi kedamaian. Mereka percaya bahwa memaafkan adalah kunci segalanya, baik kesalahan kecil maupun besar.

Namun Zoran tidak puas dengan jawaban itu.

Ia ingin tahu… apakah mereka memaafkan sampai batas ekstrem, atau hanya menjadikannya pedoman kosong.

Di salah satu rumah penduduk, Zoran bertanya pelan kepada seorang pria paruh baya yang duduk tenang di depannya.

“Apa desa ini pernah memiliki orang jahat?”

Pria itu tersenyum tipis. “Tidak pernah.”

“Kalau nanti ada bagaimana?” tanya Zoran lagi.

“Maka kami akan menasihatinya.”

Zoran menatapnya lebih lama. “Kalau orang itu tidak bisa dinasihati?”

Pria itu terdiam sejenak, lalu menjawab dengan suara yang tenang, setenang aliran sungai tanpa riak. “Berarti dia belum siap mendengar.”

“Lalu bagaimana cara kalian menghentikannya?” tanya Zoran lagi.

Pria itu tetap tersenyum, menatap cangkir tehnya, seolah pertanyaan itu tidak diarahkan padanya. “Kami tidak menghentikannya.”

Zoran terdiam.

Pria itu melanjutkan, nadanya tetap tenang, seolah sedang membicarakan cuaca. “Jika dia belum siap mendengar, maka menghentikannya hanya akan melukai lebih banyak hati. Kami… lebih memilih menunggu sampai dia siap.”

“Bagaimana kalau selama menunggu ada yang terluka karenanya?” tanya Zoran pelan, tapi nadanya mulai bergetar.

Pria itu mengangguk perlahan. “Itu berarti mereka belum cukup beruntung.”

Alis Zoran berkerut. “Kalau orang itu membunuh keluargamu bagaimana?”

Pria itu terdiam sejenak. Hanya sejenak. Lalu jawabannya keluar, tetap tenang. “Maka keluargaku sudah selesai dengan hidupnya.”

Zoran membeku.

Hanya itu?

Tidak ada amarah.

Tidak ada penyesalan.

Tidak ada dendam.

Yang dibicarakan adalah kematian keluarga sendiri, namun pria di hadapannya masih setenang seseorang yang membicarakan daun gugur.

Pria itu menambahkan, dengan senyum yang sama seperti sebelumnya. “Membalasnya tidak akan menghidupkan mereka. Dan membencinya hanya akan menambah satu kesalahan lagi.”

Brak!

Zoran menggebrak meja dengan keras. “Jadi kau tidak akan melakukan apa pun?!”

Pria itu tersentak, matanya melebar sesaat. Namun hanya sesaat. Beberapa detik kemudian, senyum lembut itu kembali terpasang. “Kami akan mengubur yang mati,” katanya pelan, “lalu melanjutkan hidup.”

“Dasar gila,” umpat Zoran keras sambil bangkit berdiri. “Kalau begitu, apa gunanya berkeluarga kalau kau tidak berniat melindungi mereka?”

Dadanya naik turun.

Bukan karena marah semata, melainkan jijik.

Zoran benar-benar tidak habis pikir. Ia sempat mengira penduduk desa ini ramah karena saling peduli. Karena mereka menjaga satu sama lain.

Tapi pria di depannya ini… Bahkan dalam pertanyaan sesederhana melindungi keluarga, jawabannya hanya kepasrahan yang dibungkus kata-kata indah.

Menunggu.

Menerima.

Melanjutkan hidup.

Bagi Zoran, itu bukan kedamaian. Itu adalah pembusukan yang rapi.

Apa itu keluarga?

Bagi Zoran, keluarga adalah tempat pulang. Tempat di mana seseorang menunggumu dengan hangat. Dan jika ada yang mencoba merusaknya, maka orang itu harus disingkirkan, apa pun caranya.

Ia memang belum memiliki keluarga.

Namun justru karena itu, ia tahu betul satu hal. Di masa depan, jika seseorang berani menyentuh ketenangan yang ia bangun, maka ia akan menghancurkan mereka sampai tidak tersisa.

Orang yang hanya diam saat rumahnya dihancurkan… bahkan lebih rendah daripada anjing yang menggonggong saat bahaya datang.

Dengan gerakan kasar, Zoran mengibaskan jubahnya. Tanpa menoleh lagi, ia pergi meninggalkan rumah itu.

\*\*\*

Prang!

Brak!

Piring terlempar dan pecah berkeping-keping di lantai. Lalu Zoran menendang kursi hingga patah dan menghantam dinding saat makan malam bersama keluarga Ruian.

Tindakan yang tidak tahu diri memang. Tindakan menjijikkan, dilakukan di rumah orang yang memberinya tempat tinggal, makanan, dan kehangatan.

Namun Zoran melakukannya dengan sadar. Ia harus memastikan satu hal. Apakah mereka akan marah? Mengusirnya? Memukulinya? Atau… memaafkannya lagi.

Apakah seluruh desa ini benar-benar seperti pria gila yang ia temui tadi, atau hanya satu orang saja yang rusak pikirannya?

Zoran ingin memastikan.

Ruian dan kedua orang tuanya menoleh serentak.

“Ada apa, Nak?” tanya ibu Ruian dengan nada khawatir. “Apa kamu tidak menyukai makanannya?”

Wajah Zoran berkedut mendengar itu.

Brak!

Ia kembali menendang kursi lain hingga hancur dan membentur tembok.

Ruian buru-buru mendekat, wajahnya penuh kecemasan. “Ada apa denganmu, Tuan?” tanyanya lembut. “Apa kami melakukan kesalahan padamu?”

Bruk!

Saat Ruian sudah cukup dekat, Zoran mendorongnya hingga jatuh ke lantai.

“Ruian!” seru ibu Ruian panik.

Ayah Ruian mengerutkan kening. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Zoran.

Zoran menatapnya. Di dalam dadanya, muncul rasa puas yang aneh.

Bagus.

Jika pria ini memukulnya, jika pria ini mengusirnya, jika pria ini marah, Maka berarti hanya pria tadi yang gila.

Desa ini masih normal.

Masih manusia.

Zoran berdiri dengan tubuh menegang, tatapannya liar dan penuh amarah. Ia sudah siap dipukul. Siap diusir. Bahkan, jika itu terjadi, ia merasa akan lega.

Puk.

Bukan tinju yang datang. Bukan tamparan.

Ayah Ruian memeluknya. Pelukan hangat. Tenang. Terlalu dekat.

“Capek, ya?” ucap pria itu pelan. “Kalau marahmu sudah selesai, kamu boleh duduk dan minum dulu.” katanya “Di sini… tidak ada yang perlu dipukul agar tetap tinggal.”

Tubuh Zoran bergetar.

Bukan karena takut.

Tapi karena jawaban itu salah.

Ini bukan yang seharusnya terjadi.

Zoran mendorong pria itu hingga terhuyung, matanya merah menyala. “Kenapa kalian tidak marah?!” teriaknya.

Ruian dan kedua orang tuanya hanya tersenyum,

bukan mengejek, bukan meremehkan, tapi seolah… memahami.

Itu membuat Zoran meledak. Ia berbalik, masuk ke kamarnya, dan meraih pedangnya.

Beberapa detik kemudian, Zoran sudah berdiri di belakang Ruian. Mata pedang menempel di leher gadis itu. “Anakmu akan kubunuh!” teriaknya keras. “Mau marah tidak?! Mau pukul aku tidak?!”

Ia menatap kedua orang tua Ruian dengan sorot penuh kepuasan. Sekarang. Sekarang pasti mereka marah.

“Tarik pedangmu sedikit.” Suara ayah Ruian tenang.

Zoran tertawa kasar. “Kenapa? Kenapa tidak kamu maju ke sini dan menghajarku saja?!”

Pria itu menatapnya, masih tanpa amarah. “Kalau terlalu dekat,” katanya lembut, “kau tidak akan melihat wajahnya… saat kau ragu.”

Zoran tertegun. “Apa-apaan omong kosong itu?!” bentaknya.

Ayah Ruian tersenyum, bukan senyum orang kalah, tapi senyum orang yang tidak sedang bertarung.

“Kalau kau membunuhnya,”

“kami akan menguburnya.”

“Kami akan menangis.”

“Dan besok pagi… matahari tetap terbit.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!