NovelToon NovelToon
My Annoying Step-Brother

My Annoying Step-Brother

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Pernikahan Kilat / Hamil di luar nikah / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama / Tamat
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Araluna, Arsen Sergio adalah kakak tiri paling menyebalkan yang hobi memanggilnya "Bocil". Namun, di balik kejailan Arsen, Luna menyimpan rahasia besar: ia jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Demi menutupi rasa itu, Luna bertingkah menjadi "cegil" yang agresif dan obsesif. Situasi makin gila saat teman-teman Arsen menyangka Luna adalah pacarnya. Luna tidak membantah, ia justru mulai melancarkan taktik untuk menjerat hati sang kakak.
Di antara status saudara dan perasaan yang dilarang, apakah Luna berhasil membuat Arsen berhenti memanggilnya "Bocil" dan berganti menjadi "Sayang"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

Suasana di meja makan rumah besar itu terasa seperti di dalam penjara bawah tanah. Sejak diseret pulang dari Surabaya satu minggu yang lalu, Araluna praktis menjadi tawanan. Papa Arga benar-benar memasang teralis besi di jendela kamarnya, dan ponselnya sudah dihancurkan berkeping-keping di depan matanya sendiri.

Pagi itu, Luna duduk di hadapan piring berisi nasi goreng sosis kesukaannya. Namun, alih-alih merasa lapar, aroma nasi goreng yang biasanya menggugah selera itu mendadak tercium sangat amis dan menusuk indra penciumannya.

Luna mencoba menyuapkan satu sendok kecil ke mulutnya. Baru saja nasi itu menyentuh lidahnya, perutnya terasa seperti diputar-putar dengan kasar. Ada gelombang panas yang naik dari lambung menuju kerongkongannya.

"Hueeek... hueeek!"

Luna membekap mulutnya dengan tangan gemetar. Ia segera bangkit dari kursi, namun rasa pening yang luar biasa menghantam kepalanya. Dunianya seolah berputar 180 derajat.

"Luna? Kamu kenapa, Sayang?" tanya Bunda yang sedang menuangkan air minum, suaranya masih terdengar dingin namun terselip nada khawatir.

Luna tidak menjawab. Ia berlari tertatih menuju wastafel dapur, mengabaikan tatapan tajam Papa Arga yang sedang membaca koran.

"HUEEEK!"

Gadis itu memuntahkan seluruh isi perutnya. Cairan bening dan pahit keluar dari tenggorokannya. Napasnya tersengal-sengal, keringat dingin mulai membanjiri pelipisnya. Perut bagian bawahnya tiba-tiba terasa kram yang sangat hebat, seolah ada sesuatu yang sedang mencengkeram rahimnya dengan kuat.

"Sakit... Bun, perut Luna sakit..." rintih Luna.

Araluna terduduk lemas di lantai dapur yang dingin. Wajahnya pucat pasi, nyaris seputih kertas. Ia memegangi perutnya yang kram, badannya berguncang hebat karena rasa mual yang tidak kunjung hilang.

Bunda mendekat, niat awalnya ingin membantu, namun langkahnya terhenti saat melihat Luna yang terus-menerus memegangi perut bawahnya dengan ekspresi kesakitan yang sangat spesifik. Sebagai seorang wanita, insting Bunda langsung bekerja. Ia teringat kembali "tanda" di leher Luna saat di Surabaya, dan ingatan tentang malam di mana ia melihat Arsen memeluk Luna di kamar.

"Luna... kapan terakhir kali kamu dapet bulan?" tanya Bunda dengan suara yang bergetar hebat, hampir berbisik.

Luna mendongak, matanya yang sayu dipenuhi ketakutan yang murni. Ia mencoba mengingat-ingat. Terakhir kali ia datang bulan adalah sebelum kejadian "malam terakhir" di Jakarta, tepat sebelum Arsen dibuang ke Surabaya. Itu artinya... ia sudah telat hampir dua bulan.

"Luna nggak tau, Bun... Luna lupa," bohong Luna dengan suara bergetar, namun air matanya tidak bisa berbohong.

Papa Arga yang mendengar kegaduhan itu langsung menghampiri mereka. Beliau berdiri di depan Luna yang masih lemas di lantai. "Kenapa dia? Masuk angin?"

Bunda tidak menjawab Papa. Beliau justru menatap Luna dengan pandangan yang sangat hancur. Bunda menyambar tasnya dan mengambil sebuah kunci mobil.

"Mas, aku harus bawa Luna ke dokter sekarang," ucap Bunda dengan nada yang tidak bisa dibantah.

Di dalam mobil menuju klinik, Luna hanya bisa memandang keluar jendela dengan tatapan kosong. Kram di perutnya perlahan mereda, namun mualnya tetap ada. Ia mengusap perutnya yang masih rata itu di balik jaket flanel milik Arsen yang diam-diam ia sembunyikan dari amarah Papa.

Kak Arsen... gue takut, batin Luna menjerit.

Sesampainya di klinik dan setelah melewati serangkaian tes urin yang menegangkan, dokter memanggil Bunda dan Luna masuk ke ruang konsultasi. Suasana di dalam ruangan itu begitu sunyi, hanya ada suara detak jam dinding yang seolah menghitung mundur kehancuran hidup Araluna.

"Selamat, Bu. Putrinya positif hamil. Usianya sudah masuk minggu kedelapan," ucap dokter itu dengan senyum formal yang terasa seperti vonis mati bagi Luna.

DEG.

Jantung Luna serasa berhenti berdetak. Minggu kedelapan. Itu adalah tepat di waktu malam perpisahan mereka di Jakarta. Malam di mana mereka bercinta dengan penuh keputusasaan dan gairah tanpa pelindung apa pun.

Bunda menutup mulutnya, air matanya jatuh tanpa suara. Sementara Luna hanya bisa terpaku, tangannya gemetar hebat menyentuh perutnya. Di sana, di dalam rahimnya, ada benih dari satu-satunya pria yang sangat ia cintai sekaligus pria yang kini dilarang keras untuk ia temui.

"Dokter salah... itu nggak mungkin..." bisik Luna, mencoba menyangkal kenyataan.

"Hasil tes tidak pernah bohong, Dek. Kamu harus banyak istirahat karena tadi kamu bilang ada kram, itu tanda-tanda stres yang bisa membahayakan janinnya," jelas Dokter lembut.

Begitu keluar dari ruang dokter, Bunda langsung menarik tangan Luna menuju parkiran. Begitu sampai di dalam mobil yang tertutup, Bunda meledak. Beliau memukul stir mobil berulang kali sambil menangis histeris.

"APA YANG KALIAN LAKUKAN, LUNA?! APA YANG KALIAN PIKIRKAN?!" teriak Bunda. "Bagaimana Bunda harus bilang ke Papa kamu?! Dia bisa membunuh Arsen kalau tahu soal ini!"

Luna hanya bisa bersimpuh di kursi mobil, menangis sejadi-jadinya. Di tengah ketakutannya yang luar biasa, ada satu hal yang ia tahu pasti: ia harus memberitahu Arsen. Ia harus kembali ke pelukan singa kakunya itu, karena hanya Arsen yang bisa melindunginya dan bayi ini dari kemurkaan dunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!