NovelToon NovelToon
Algoritma Jodoh Di Ruang Sidang

Algoritma Jodoh Di Ruang Sidang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:20
Nilai: 5
Nama Author: Fatin fatin

"Mencintai Pak Alkan itu ibarat looping tanpa break condition. Melelahkan, tapi nggak bisa berhenti"
Sasya tahu, secara statistik, peluang mahasiswi "random" sepertinya untuk bersanding dengan Alkan Malik Al-Azhar—dosen jenius dengan standar moral setinggi menara BTS—adalah mendekati nol. Aris adalah definisi green flag berjalan yang terbungkus kemeja rapi dan bahasa yang sangat formal. Bagi Aris, cinta itu harus logis; dan jatuh cinta pada mahasiswa sendiri sama sekali tidak logis.
Tapi, bagaimana jika "jalur langit" mulai mengintervensi logika?
Akankah hubungan ini berakhir di pelaminan, atau justru terhenti di meja sidang sebagai skandal kampus paling memilukan? Saat doa dua pertiga malam beradu dengan aturan dunia nyata, siapa yang akan menang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatin fatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 18

Memasuki bulan kedua kehamilan, kondisi Sasya benar-benar menjadi tantangan bagi "algoritma" kesabaran Alkan. Sasya mengalami Hyperemesis Gravidarum ringan—mual berlebih yang membuatnya tak bisa menelan makanan apa pun kecuali potongan buah dingin dan air zam-zam.

Di sisi lain, Alkan sedang berada di titik nadir kelelahannya. Sebagai Kepala Lab Riset baru, ia harus menghadapi tekanan dari jajaran dekanat untuk segera mempatenkan algoritma keamanan data yang sedang ia kembangkan.

Pukul 02.00 WIB. Kamar yang biasanya menjadi tempat paling tenang, kini riuh dengan suara napas Sasya yang payah. Ia baru saja kembali dari kamar mandi untuk kesekian kalinya.

"Mas... maaf," bisik Sasya lemas, wajahnya pucat pasi di bawah temaram lampu tidur. "Mas harusnya tidur, besok ada presentasi penting di hadapan investor kementerian, kan?"

Alkan mengusap keringat di dahi Sasya dengan handuk kecil yang basah. Ia tersenyum tipis, meski lingkaran hitam di bawah matanya tak bisa berbohong. "Sya, presentasi itu bisa diulang, tapi kesehatan kamu dan bayi kita nggak ada cadangannya. Tidurlah, biar saya yang jaga."

Alkan membantu Sasya berbaring, menarik selimut hingga ke dada istrinya. Ia duduk di tepi tempat tidur, memijat lembut kaki Sasya yang mulai sering kram. Dalam diam, Alkan merapal doa. Ia merasa dunianya sedang di-overload oleh beban tanggung jawab, namun ia tak boleh menunjukkan retakan sedikit pun.

Pagi harinya, Alkan tiba di kampus dengan sisa tenaga yang minim. Baru saja ia membuka pintu laboratorium, asisten risetnya, Danu, berlari menghampiri dengan wajah cemas.

"Pak Alkan! Ada upaya peretasan semalam. Seseorang mencoba menembus server utama kita untuk mengambil draf kode enkripsi yang baru saja Bapak selesaikan," lapor Danu.

Alkan langsung duduk di depan terminal pusat. Jemarinya bergerak lincah melakukan traceback. "IP address-nya terenkripsi melalui VPN berlapis, tapi pola serangannya familiar."

Tiba-tiba, pintu lab terbuka. Bu Sarah masuk dengan langkah yang penuh percaya diri. Ia tidak lagi terlihat agresif seperti dulu, tapi tatapannya jauh lebih misterius.

"Alkan, saya baru saja dari ruangan Dekan. Ada tawaran dari konsorsium teknologi swasta. Mereka ingin membeli lisensi risetmu dengan angka yang... yah, cukup untuk membuatmu pensiun dini dan hidup mewah bersama Sasya," ujar Sarah tanpa basa-basi.

Alkan tidak mengalihkan pandangan dari monitor. "Riset ini milik negara dan universitas, Sarah. Dan lebih dari itu, riset ini soal kedaulatan data. Saya tidak akan menjualnya pada pihak swasta yang orientasinya hanya profit."

"Pikirkan lagi, Alkan. Istrimu sedang hamil. Kamu butuh waktu dan uang lebih banyak sekarang. Jangan jadi pahlawan di saat sistemmu sendiri sedang low battery," sindir Sarah sebelum berbalik pergi.

Sore itu, Alkan pulang lebih awal. Ia membawakan mangga muda pesanan Sasya. Namun, ia mendapati Sasya sudah merasa sedikit lebih baik. Sasya tampak sudah bisa berdandan tipis dan mengenakan daster sutra yang lembut.

"Mas... kerjaan di kampus gimana?" tanya Sasya sambil memeluk Alkan dari belakang saat suaminya baru saja melepas kemeja.

Alkan berbalik, menatap wajah istrinya yang mulai kembali merona. Ketegangan soal peretasan dan tawaran Sarah seolah menguap saat ia merasakan kehangatan pelukan Sasya.

"Hanya gangguan kecil. Yang penting kamu dan little entity ini sehat," jawab Alkan, tangannya melingkar di pinggang Sasya.

Malam itu, meski raga mereka lelah, keinginan untuk saling menguatkan justru memuncak. Alkan membimbing Sasya ke tempat tidur. Sentuhannya malam ini tidak penuh ledakan seperti di Lombok, melainkan sangat intim, penuh kehati-hatian, dan sarat akan perlindungan.

Alkan menciumi setiap inci wajah Sasya, berbisik tentang betapa ia sangat menghargai perjuangan Sasya membawa buah hati mereka. Di tengah remang cahaya, mereka menyatu dalam gerakan yang sinkron dan penuh perasaan. Sebuah pelarian indah dari penatnya dunia luar. Panas yang mereka ciptakan bukan sekadar nafsu, melainkan cara Alkan memberikan "daya" tambahan bagi Sasya untuk terus berjuang melawan mualnya, dan cara Sasya memberikan ketenangan bagi Alkan untuk menghadapi badai di laboratorium.

Keesokan harinya, Alkan menemukan sebuah amplop cokelat di bawah pintu kantornya. Isinya adalah foto-foto Sasya saat sedang berada di klinik kandungan kemarin.

Di balik foto itu tertulis:

"Sistem yang paling kuat sekalipun punya titik lemah. Titik lemahmu ada di foto ini. Jual risetnya, atau kami yang akan melakukan 'force shutdown' pada kebahagiaanmu."

Alkan meremas kertas itu. Rahangnya mengeras. Ini bukan lagi soal persaingan akademik. Ini adalah perang terbuka. Alkan segera menghubungi tim keamanan siber kepolisian yang merupakan rekanan risetnya.

"Halo, saya butuh pengawalan tertutup untuk istri saya. Dan siapkan operasi honeypot. Saya akan memancing mereka keluar malam ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!