NovelToon NovelToon
Trapped In My Lover’S Embrace

Trapped In My Lover’S Embrace

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Trauma masa lalu / TKP / Horror Thriller-Horror / Cintamanis / Kekasih misterius
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Achromicsea

Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"

Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hadiah Dari Masa Lalu.

Arven tidak langsung menjawab. Tatapannya berpindah dari layar laptop ke wajahku, lalu ke tanganku yang gemetar di atas meja.

"Ren," katanya pelan, hati-hati, "boleh aku lihat chatnya?"

Aku ragu sesaat. Bukan karena tidak percaya padanya, tapi karena membuka chat itu terasa seperti membuka luka yang belum kering. Namun akhirnya aku mengangguk kecil.

Aku meraih ponsel dari meja, jariku sedikit gemetar saat membuka aplikasi pesan. Nama Maya muncul di layar. Ikonnya masih sama. Tidak ada yang berubah. Justru itu yang membuat dadaku sesak.

"Nih," kataku lirih, menyodorkan ponsel ke Arven.

Ia menerima ponselku dengan hati-hati, seolah benda itu rapuh. Ia tidak langsung menggulir. Ia membaca pelan, baris demi baris.

Pesan pertama muncul tidak bisa dibaca dengan jelas, Kalimatnya acak, aku berpikir saat itu maya setengah tidur mengetiknya. Ada penjelasan, ada permintaan maaf juga.

Arven mengangguk kecil. "ini terdengar kayak dia."

Aku ikut menatap layar, ingatanku terasa berdenyut. "Iya. Itu kenapa aku nggak curiga apa-apa."

Arven menggulir ke bawah.

Tidak ada balasan dariku.

Dan kemudian

04.28

Pesan kedua, Arven berhenti di sana. dia menatap layar ponselku lama.

"Ren," katanya perlahan, "kamu perhatiin jamnya?"

Aku mengangguk. "Jam dua, terus jam empat."

Ia menghela napas, lalu meletakkan ponsel itu di antara kami, seolah ingin aku ikut melihat sesuatu yang sama.

"Sekarang kita cocokin sama berita."

Ia menggeser laptop, menunjuk bagian kecil di bawah kronologi.

"Polisi memperkirakan waktu kematian," katanya lirih, "sekitar malam minggu, antara jam satu sampai jam dua pagi."

Aku membeku, Arven menatapku, kali ini lebih serius.

"Artinya," lanjutnya pelan, "chat jam dua itu masih mungkin dari Maya. Masih masuk rentang waktu."

Dadaku berdebar keras.

"Tapi chat jam empat," aku berbisik.

Arven mengangguk pelan. "Kalau perkataan polisi benar, Maya sudah tidak hidup di jam itu."

Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa kering.

"Jadi," kataku nyaris tak bersuara, "yang chat aku jam empat siapa?"

Ia tidak langsung mengucapkan kalimat itu. Tapi matanya menjawab lebih dulu.

"Bukan Maya," katanya pelan dan tegas.

Ruangan terasa seperti menyempit. Udara di sekitarku mendadak berat. Aku menatap ponselku lagi, pesan-pesan itu sekarang terlihat asing. Kalimat yang tadi terasa akrab, tiba-tiba berubah menjadi asing

"Tapi bahasanya," suaraku bergetar. "Mirip banget. Gaya Maya."

"Itu justru yang bikin merinding," jawab Arven lirih. "Berarti orang ini kenal Maya. Atau setidaknya, dia tahu caranya meniru dia."

Tanganku refleks mencengkeram ujung sofa.

"Kenapa?" tanyaku. "Apa mungkin itu Mas Gio? tapi mereka keliatan baik baik aja Ven, terus kenapa orang itu ngechat aku?"

Arven terdiam. Ia berpikir lama sebelum menjawab.

"Mungkin," katanya hati-hati, "Aku juga enggak tau, tapi mungkin buat memastikan kamu tetap tenang. Atau buat nutup jejak. Atau buat ngecek sesuatu."

Aku menarik napas, pelan. Kepalaku agak nyut-nyutan, rasanya semua hal bertabrakan di dalam kepalaku.

"Ven," suaraku keluar pelan, ragu. "Ini kayaknya bukan soal ngecek apa-apa."

Arven menoleh ke aku. "Maksud kamu?"

Aku mengusap wajahku sebentar, mencoba nyusun pikiran yang masih berantakan.

"Mungkin," aku berhenti sejenak, nyari kata yang pas. "Mungkin ini buat bikin orang percaya dia masih ada."

Arven diam. Dia cuma mendengarkan perkataanku

"Orang tuh sering gitu," lanjutku pelan. "Kalau mau nutupin sesuatu, mereka bikin semuanya kelihatan normal dulu."

Aku menatap layar lagi, dadaku terasa aneh.

"Kalau Maya masih sempat chat, masih bilang ‘lagi ada urusan’, orang-orang nggak bakal langsung mikir yang aneh-aneh. Mereka bakal mikir oh, paling dia lagi sibuk."

Aku menghela napas.

"Jadi nggak ada yang nyari. Nggak ada yang curiga. Nggak ada yang mikir dia kenapa-kenapa."

Kata-kataku berhenti sebentar di situ.

"Dan kalau nggak ada yang curiga," suaraku mengecil, "ya wajar aja kalau semuanya jadi telat."

Ruangan terasa lebih sunyi dari sebelumnya.

Arven akhirnya bicara, nadanya rendah. "Kayak sengaja ditahan waktunya."

Aku mengangguk pelan. "Iya."

Aku menunduk, memeluk lenganku sendiri.

"Yang bikin aku yakin dia masih hidup," aku tersenyum kecil, pahit, "justru itu yang bikin semuanya ketunda."

Arven tidak langsung menjawab. Tangannya bergeser, dia menyentuh tanganku pelan, seolah mencoba menenangkanku aku di situ.

"Kamu kepikiran seperti itu?" tanyanya pelan.

"Iya," jawabku jujur. "Soalnya Maya mungkin nggak pernah ngilang tanpa alasan. Aku yakin dia orang seperti itu, meskipun aku bener-bener enggak ingat"

Aku mengangkat wajahku lagi.

"Chat jam empat itu bukan dia," kataku pelan. "Itu pasti orang lain, dan orang itu sengaja biar semua orang mikir, ‘oh, dia baik-baik aja’."

Arven menatapku lama.

"Berarti," katanya pelan, "ada orang yang pengen Maya kelihatan masih hidup."

Aku mengangguk.

"Padahal sebenarnya," suaraku hampir jatuh, "dia udah nggak ada."

"Ren," katanya pelan.

Aku menatap layar ponsel sekali lagi. Jam 04.52 terasa seperti cap waktu yang terkutuk.

Arven tidak langsung membuka laptop lagi. Ia justru mendekat, duduk di depanku, lututnya menyentuh lututku. Tangannya hangat saat menutup jemariku yang dingin.

"Ren," katanya pelan, nada suaranya diturunkan, bukan memerintah. "Kamu sudah kepikiran dari tadi. Otak kamu capek."

"Aku nggak mau berhenti," jawabku cepat, hampir memotong. "Kalau aku berhenti sekarang, nanti semuanya keburu kabur lagi. Aku takut."

Arven menghela napas.

"Aku ngerti kamu takut," katanya. "Tapi caramu ini nyiksa diri sendiri. Kita bisa lanjut nanti."

"Nanti itu kapan?" Aku menatapnya tajam. "Maya nggak punya nanti, Ven. Kalaupun dia enggak ada setidaknya kita bisa cari keadilan buat dia."

Kalimat itu menggantung di udara. Arven terdiam sesaat, rahangnya mengeras.

"Kamu nggak sendirian," katanya. "Aku di sini. Tapi kamu juga harus-"

Bell apartemen berbunyi.

Kami sama-sama terkejut. Arven menoleh ke arah pintu, aku ikut refleks berdiri. Bell itu berbunyi sekali lagi, lebih panjang.

"Aku buka," kata Arven.

Begitu pintu terbuka, sosok di depannya membuat dadaku langsung menegang.

Gio.

Aku tidak memberi waktu pada siapa pun untuk berbicara. Langkahku cepat, dan tergesa-gesa. Sebelum Arven sempat berkata apa-apa, tanganku sudah mendarat di bahu Gio, mencengkeram keras seolah kalau kulepas dia akan menghilang.

"Mas Gio!" suaraku pecah, napasku memburu. "Aku yakin, Mas. Maya nggak bunuh diri. Aku yakin banget."

Gio membeku. Matanya melebar, jelas tidak menyangka. Tubuhnya kaku di ambang pintu.

Arven juga terkejut, tapi ia bergerak cepat. Tangannya langsung meraih lenganku dari belakang, menarikku sedikit menjauh, nada suaranya menjadi lebih pelan.

"Ren, pelan. Pelan," katanya, menahan bahuku. Lalu ia menatap Gio. "Maaf ya, Mas. Dia lagi emosinya belum stabil. Masuk dulu, silakan."

Gio mengangguk pelan, masih tampak bingung, tapi tidak menolak. Arven menuntunnya masuk, aku ikut, jantungku masih berdetak tidak karuan.

Begitu pintu tertutup, Arven menuntunku duduk. Tangannya tetap di bahuku, menahanku supaya tidak meloncat lagi.

"Tarik napas," bisiknya. "Aku di sini."

Aku menurut, meski dadaku masih sesak.

Arven lalu menoleh ke Gio. "Ada perlu apa ya, Mas, sampai datang ke sini?"

Gio terdiam sebentar. Ia menurunkan pandangannya, lalu baru menyadari paper bag cokelat yang sedari tadi ia pegang. Tangannya mengencang di pegangan tas itu.

"Saya-" suaranya tertahan sebentar. "Saya ingat waktu Mbak Seren ketemu Maya. Setelah itu, Maya senang banget."

Aku mendongak.

"Dia nggak berhenti cerita," lanjut Gio. "Tentang teman dekatnya. Tentang Mbak Seren."

Dadaku mengencang lagi.

"Terus," katanya sambil mengangkat paper bag itu sedikit, "dia sempat nunjukin ini ke saya. Katanya album lama. Foto-foto waktu SMA. Maya bilang, dia pengen nunjukin ini ke Mbak."

"Kebetulan saya lagi bantu orang tua maya buat beresin barang-barang Maya, saya yakin Maya juga pasti setuju kalau album ini dikasih ke mbak,"

Gio menatapku, matanya redup.

"Dia khawatir Mbak lupa banyak hal," katanya pelan. "Dia pengen bantu Mbak ingat lagi."

Tanganku gemetar. Arven merasakannya, dan genggamannya di bahuku menguat, diam-diam menahanku tetap di tempat. Paper bag itu masih tertutup. Tapi rasanya seperti ada masa lalu di dalamnya, menunggu untuk dibuka.

1
humei
coba cari tau seren , jgn terlalu percaya arven
humei
iya . kemana arven 🙃
SarSari_
Semoga Arven jadi alasan kamu sembuh, bukan cuma ingatan yang kembali tapi juga bahagianya.💪
Kim Umai
sebenarnya dia perhatian kali sih, tapi kek penasaran woy kejadian selama setahun lalu itu
❀ ⃟⃟ˢᵏkasychan
kebanyakan nanya🤭
Ria Irawati
Mulai mencurigakan nihh
Ria Irawati
waduhh kenapa di batasi?? gk bisa toktokan dong🤣
Ria Irawati
perhatian sekali🤭
Tulisan_nic
Jangan² dia punya 1000 lot di Astra🤣🤣🤣
Tulisan_nic
Apa di kamar ini, semuanya akan terungkap?
j_ryuka
nanya mulu bisa diem dulu gak sih 🤣
ininellya
nah kan bau" mencurigakan nih arven
Panda%Sya🐼
Mau curiga sama Arven. Tapi dia terlalu baik juga, jadi confuse
Suo: Hayolohhh
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Uhh apakah dulu Seren kabur kerana stress sama sikap Arven? Jangan-jangan mereka ini udah pisah cuma Arven belum rela /Yawn/
Suo: Liat aja nanti kelanjutannya kak/Chuckle/
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Kerana itu kasih tau semuanya aja. Masa harus kurung Seren di rumah terus. Kasian diaa 🤧
Panda%Sya🐼
Positive thinking aja. Mungkin Arven sebenarnya baik. 😌
only siskaa
ortunya kemanaa sii😤
Suo: Nanti dijelasin kok/Chuckle/
total 1 replies
Blueberry Solenne
Kok bisa kenapa tu?
Blueberry Solenne
Ada yang kelaparan malam-malam ceritanya?
Suo: btul bgt/Proud/
total 1 replies
Suo
dia di temenin kok nantinya 😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!