mengisahkan perjalanan Liu Wei, seorang pemuda yang kehilangan desa dan keluarga karena serangan kelompok jahat Pasukan Bayangan Hitam. Setelah bertemu Chen Mei dari Sekte Bintang Penyusun, ia mengetahui bahwa dirinya adalah salah satu dari enam Pendekar Bintang terpilih yang bertugas menjaga keseimbangan alam semesta.
Dengan membawa Pedang Angin Biru pusaka keluarga dan Kalung Panduan Bintang, Liu Wei harus mencari Pendekar lainnya sebelum Pasukan Bayangan Hitam yang dipimpin oleh Zhang Feng menangkap mereka semua dan mendapatkan Lima Batu Kekuatan yang bisa menghancurkan dunia. Perjalanan penuh bahaya menantinya, di mana ia harus menguasai kekuatan batinnya dan menyatukan kekuatan rekan-rekannya untuk menghadapi ancaman kegelapan yang semakin besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Api Dan Air
Sementara Liu Wei dan Su Yin berhasil mendapatkan Batu Penjaga Cahaya di Pulau Cahaya, di wilayah utara Huang Rong dan Wu Jing menghadapi tantangan di Gunung Api Abadi. Gunung itu terus mengeluarkan asap tebal dan lahar yang mengalir ke lereng, membuat suhu di sekitarnya sangat tinggi.
“Kita harus bergerak cepat,” ucap Huang Rong dengan napas tersengal-sengal, menyelubungi tubuhnya dengan selimut energi Api untuk melindungi dari panas. “Batu Penjaga Api berada di kawah gunung yang aktif. Kita harus melewati lahar dan nyala api untuk mencapainya.”
Wu Jing mengangguk, mengendalikan energi Api Muda untuk menciptakan saluran di tengah lahar. “Ayo, mari kita lanjut. Setiap detik yang terlewat berarti bahaya semakin besar.”
Mereka memasuki kawah yang penuh dengan nyala api merah menyala. Dari balik api, sosok raksasa berwujud api muncul dengan suara yang menggema. “Hanya yang mampu mengendalikan kekuatan Api dengan bijak yang bisa mengambil Batu Penjaga!”
Raksasa itu menyerang dengan genggaman api yang membara. Huang Rong dan Wu Jing bekerja sama—Huang Rong mengeluarkan Api Kuno yang tenang namun mematikan, sedangkan Wu Jing mengeluarkan Api Muda yang cepat dan gesit. Mereka tidak menyerang, melainkan membungkus raksasa dengan lapisan api yang terkendali, menunjukkan bahwa mereka bisa menguasai kekuatan tanpa menyebarkan kehancuran.
Setelah raksasa itu lenyap, Batu Penjaga Api berbentuk bola api muncul di tengah kawah. Ia terbang ke arah Huang Rong dan menanam diri di gelang besi yang dia kenakan. “Kekuatan ini adalah milikmu—gunakan untuk kebaikan,” suara terdengar di udara.
Sementara itu, di wilayah selatan Chen Long dan Zhou Yu menghadapi ujian di Lautan Dalam. Arus laut sangat kuat, dan makhluk laut raksasa berusaha menghalangi mereka.
“Batu Penjaga Air berada di gua bawah laut,” kata Chen Long, bernapas di bawah air dengan kekuatan Air Tua. “Kita harus melewati gerbang air yang terkunci.”
Zhou Yu mengendalikan aliran air untuk membuka jalur. Mereka memasuki gua yang dipenuhi dengan cahaya biru dari mutiara laut. Sebuah ular laut raksasa muncul, memblokir jalan. “Hanya yang memahami kelembutan dan kekuatan air yang bisa lulus!”
Chen Long dan Zhou Yu menunjukkan bahwa air bisa menjadi pelindung dan penyembuh. Mereka mengelilingi ular dengan aliran air yang hangat, membuatnya menenang dan mundur. Batu Penjaga Air berbentuk butiran air muncul, menanam diri di gelang Zhou Yu.
Setelah mendapatkan batu-batu itu, kedua pasangan segera bergerak menuju Kuil Bintang untuk bertemu dengan Liu Wei dan Su Yin. Di jalan, mereka melihat bahwa bencana alam semakin parah—gunung meletus, sungai meluap, tanah retak. Waktu semakin singkat.
Ketika mereka tiba di Kuil Bintang, Liu Wei dan Su Yin sudah menunggu. Mereka menampakkan Batu Penjaga Cahaya, Api, dan Air yang bersinar dengan cahaya masing-masing.
“Kita sudah mendapatkan tiga batu,” ucap Liu Wei dengan tekad. “Masih enam lagi yang harus ditemukan. Kita harus membagi tugas kembali dan bergerak secepat mungkin sebelum gerbang Dunia Gelap terbuka sepenuhnya.”
Semua orang mengangguk, menyadari bahwa perjuangan terbesar masih menanti. Bintang Penyusun di langit bersinar dengan terang, seolah memberikan dukungan pada mereka yang akan melanjutkan perjalanan mencari Batu Penjaga yang tersisa.
Sementara tiga pasangan Pendekar telah mendapatkan Batu Penjaga Cahaya, Api, dan Air, di wilayah tengah Xie Lan memasuki Guwa Tanah Dalam—ruang bawah tanah yang luas dengan tembok batu rapat dan gua yang saling terhubung. Tanah di dalamnya bergetar lembut, seolah merespons keberadaannya.
“Batu Penjaga Tanah berada di pusat gua, di bawah tumpukan batu besar yang tidak tergoyahkan,” bisik Xie Lan, menyentuh dinding gua dengan jemari. Dia merasakan energi tanah yang kuat mengalir melalui tubuhnya. Tiba-tiba, tanah di bawah kakinya melorot, membentuk jurang lebar. Dari balik kegelapan, sosok raksasa tanah muncul dengan suara seperti guntur.
“Hanya yang memahami kesetiaan dan kesuburan tanah yang bisa mengambil batu ini!” raksasa itu menyerang dengan gempuran tangan yang terbuat dari batu.
Xie Lan tidak menyerang balik. Dia mengangkat tangannya, mengendalikan energi tanah untuk menciptakan tembok pelindung, lalu menyebarkan nutrisi ke tanah agar tumbuhan cepat tumbuh dan menutupi jurang. Dia menunjukkan bahwa tanah adalah tempat tinggal, bukan alat kekerasan. Raksasa itu tersentuh, lalu lenyap menjadi debu yang menyatu dengan tanah. Batu Penjaga Tanah berbentuk gundukan tanah muncul, menanam diri di gelang kayu Xie Lan.
Sementara itu, di wilayah barat Yang Fei dan Chen Mei mendaki Puncak Angin Kencang—tempat di mana angin bertiup dengan kekuatan yang cukup untuk melenyapkan segala sesuatu. Angin berteriak seperti makhluk marah, mencoba menjatuhkan mereka.
“Batu Penjaga Angin berada di puncak, di tengah badai yang abadi,” kata Yang Fei, mengendalikan energi Angin untuk menstabilkan tubuhnya dan Chen Mei. Mereka melangkah dengan hati-hati, menghindari angin puting beliung yang muncul tiba-tiba.
Sebuah sosok berwujud angin muncul, menyebarkan angin kencang. “Hanya yang mampu mengarahkan angin ke arah yang benar yang bisa mendapatkan batu ini!”
Yang Fei dan Chen Mei bekerja sama—Yang Fei mengarahkan angin untuk menciptakan saluran aman, sedangkan Chen Mei menggunakan peluru kristalnya untuk menandai jalur. Mereka menunjukkan bahwa angin bisa menjadi pembawa pesan dan harapan, bukan kehancuran. Sosok angin menenang, lalu lenyap. Batu Penjaga Angin berbentuk angin pudar muncul, menanam diri di gelang sutra Yang Fei.
Kedua pasangan segera bergerak ke Kuil Bintang, bergabung dengan yang lain. Sekarang mereka telah mendapatkan lima Batu Penjaga—Cahaya, Api, Air, Tanah, dan Angin. Liu Wei melihat ke arah gelang masing-masing yang bersinar dengan cahaya berbeda.
“Masih empat batu lagi yang harus ditemukan,” ucapnya dengan tekad. “Gerbang Dunia Gelap semakin terbuka—kita tidak bisa berhenti.”
Semua orang mengangguk, menyadari bahwa tantangan yang tersisa akan lebih berat. Bintang Penyusun di langit bersinar lebih terang, seolah mendesak mereka untuk cepat bertindak.