Mirea dikenal sebagai pembunuh bayaran yang paling ditakuti. Setelah bertahun-tahun menelusuri jejak masa lalunya, ia akhirnya pulang dan menemukan kenyataan bahwa orang tuanya masih hidup, dan ia memiliki tiga kakak laki-laki.
Takut jati dirinya akan membuat mereka takut dan menjauh, Mirea menyembunyikan masa lalunya dan berpura-pura menjadi gadis manis, lembut, dan penurut di hadapan keluarganya. Namun rahasia itu mulai retak ketika Kaelion, pria yang kelak akan menjadi tunangannya, tanpa sengaja mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cari Mati!
Tak lama berselang, Kaelion Blackwood tiba.
Langkahnya tenang, nyaris malas, saat ia berjalan masuk ke area Stone At Black bersama Farel. Setelan jas hitamnya jatuh sempurna di tubuh tinggi itu, aura dingin dan berkuasa menguar tanpa perlu ia pamerkan. Tatapannya datar, seolah tempat ini yang bagi banyak orang adalah dunia terlarang hanyalah lorong biasa.
Namun baru beberapa langkah masuk, dua penjaga menghadang.
Salah satunya mengangkat tangan.
“Maaf, tamu tanpa tiket—”
Belum sempat kalimat itu selesai
“Berani banget.”
Farel sudah melangkah setengah ke depan, menatap penjaga itu tajam dari ujung rambut sampai ujung kaki. Senyumnya tipis, tapi matanya dingin.
“Kalian yakin mau menghalangi Tuan Kaelion Blackwood?” tegasnya. Nada suaranya tenang, tapi mengandung ancaman yang jelas.
Penjaga wanita itu terdiam. Ia menatap wajah Kael sekali lagi dan seketika ekspresinya berubah.
“Oh—!”
Matanya membelalak kecil.
“Ah… ternyata Tuan Kaelion.”
Wajahnya langsung pucat.
Ia menunduk cepat. “Maaf atas kelancangannya.”
Lalu ia berbalik tajam.
“Pelayan!” teriaknya.
Tak lama, seorang perempuan berbaju hitam ketat dengan belahan tinggi dan hak menjulang datang bergegas. Rambutnya terurai rapi, senyumnya profesional.
“Tuan Kaelion,” katanya lembut sambil menunduk, “ruangan VIP sudah disiapkan. Silakan.”
“Hm.”
Kael hanya mengangguk singkat.
Ia berjalan mengikuti wanita itu tanpa sepatah kata, langkahnya stabil dan penuh kendali. Farel mengikuti di sampingnya, tangan di saku, ekspresi santai seolah ini hanya kunjungan biasa.
Begitu mereka berlalu, penjaga wanita dan penjaga pria saling berpandangan.
“Ada apa ini?” gumam si pria pelan.
“Bos mafia… dan putra konglomerat Blackwood…” Penjaga wanita menelan ludah. “Muncul di pesta yang sama?”
“Tempat ini bakal panas malam ini,” bisiknya.
......................
Di dalam Stone At Black
Tak perlu ditanya lagi.
Seperti apa tempat itu.
Lampu-lampu neon berwarna merah, ungu, dan emas berkelip di antara asap tipis dan dentuman musik berat. Wanita-wanita berpakaian minim menari di atas meja, di tiang, bahkan di pundak pria-pria kaya yang tertawa keras. Uang kertas beterbangan, dilempar seenaknya ke udara.
Di sudut lain, meja judi penuh. Taruhan panco. Taruhan kartu. Taruhan nyawa.
Minuman keras mengalir tanpa henti. Tawa, teriakan, dan bisikan gelap bercampur menjadi satu simfoni dosa.
Di balik kaca khusus, barang-barang langka dipajang: berlian hitam, permata merah darah, jam tangan edisi terbatas, pakaian desainer yang bahkan belum dirilis ke publik.
Ini bukan sekadar klub.
Ini pasar kekuasaan.
Noel yang baru melangkah masuk sontak terpaku.
Matanya membelalak, kepalanya menoleh ke segala arah. Tangannya refleks menggenggam tangan Mirea lebih erat, seolah takut ia akan terseret arus liar di tempat ini.
“Gila…” gumamnya pelan. “Tempat apa ini…”
“Eh, lihat yang itu,” ujarnya lagi, menunjuk ke arah sekelompok pria yang sedang berkerumun. “Mereka taruhan panco?”
Mirea mengikuti arah pandang Noel.
Matanya berbinar.
Bukan karena terkejut, melainkan karena familiar.
Ini memang dunianya.
“Kita lihat ke sana,” kata Noel antusias, menarik Mirea mendekat.
Namun langkah mereka justru membawa mereka ke area lain tempat seorang wanita di tengah kerumunan mulai membuka pakaiannya, sorakan makin keras, uang makin berjatuhan.
Noel langsung panik.
“Oh—!”
Ia refleks memutar tubuh, menutup mata Mirea dengan telapak tangannya. “Mirea, jangan lihat! Jangan—!”
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Mirea bukan menunduk.
Ia malah melebarkan mata.
Bibirnya terbuka sedikit.
Bukan terkejut, melainkan penasaran.
“Wow…” gumamnya tanpa sadar.
“No, no, no—!” Noel makin gugup. “Jangan lihat, Mirea!”
Namun Mirea justru melangkah maju.
Satu langkah.
Dua langkah.
Sampai...
Bruk.
Ia tak sengaja menyenggol seseorang.
Tubuh itu besar. Keras. Beraroma alkohol dan asap.
Orang itu berbalik.
Tatapannya bengis.
“Heh,” ujarnya sambil menyeringai. “Putra keluarga kaya… dan nona cantik dari mana ini?”
Matanya menjelajah tubuh Mirea tanpa malu, penuh nafsu.
Seketika Noel menarik Mirea ke belakang tubuhnya.
“Maaf,” katanya cepat, waspada. “Kami hanya lewat.”
Namun Mirea justru menatap pria itu dengan dingin.
Ia tahu siapa dia.
Neza Yugala.
Adik kandung Fang Yugala.
Sampah kelas atas di dunia bawah.
“Kenapa bisa datang main ke sini?” tanya Neza sambil melangkah mendekat. Senyumnya melebar, berbahaya.
Noel mundur setengah langkah, tubuhnya tegang.
Sementara di balik punggungnya, Mirea tersenyum tipis.
Matanya berkilat tajam.
Menarik, pikirnya.
Ikan kecil berani muncul di kolamku sendiri.