Arc 1 : Bab 1 — 41 (Dunia Melalui Mata Bayi Ajaib)
Arc 2 : Bab 42 — ... (On-going)
Aku terlahir kembali di dunia kultivasi dengan ingatan utuh dan selera yang sama.
Di sini, kekuatan diukur lewat tingkat kultivasi.
Sedangkan aku? Aku memulainya dari no namun dengan mata yang bisa membaca Qi, meridian, dan potensi wanita sebelum mereka menyadarinya sendiri.
Aku akan membangun kekuatanku, tingkat demi tingkat bersama para wanita yang tak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21 : Biji Cahaya dalam Kegelapan.
[PoV Shen Yu]
Mimpi lagi.
Biasanya mimpiku kabur, seperti kabut yang lewat begitu saja. Tapi kali ini tidak. Kali ini aku sadar.
Gelap.
Bukan gelap malam yang biasa kulihat lewat jendela, tapi gelap yang tebal dan dingin, seperti air yang menelan tubuh kecilku. Aku berdiri di sebuah ruang kosong tanpa batas. Tidak ada lantai, tidak ada langit. Hanya kehampaan.
Udara terasa dingin di kulitku. Dingin sampai membuat dadaku terasa sempit.
Dan suara.
Bukan satu. Banyak.
Bisikan-bisikan itu datang dari segala arah, menempel di telingaku, menyusup ke kepalaku.
“Murni …”
“Berharga …”
“Ambil …”
Aku tidak mengerti kata-kata itu sepenuhnya, tapi tubuh kecilku tahu. Ini bukan sesuatu yang baik.
Aku ingin mundur, tapi kakiku tidak bergerak. Kakiku pendek dan lemah, seperti saat aku terjaga. Aku hanya bisa berdiri di sana, menatap kegelapan yang terus menekan.
Lalu sesuatu muncul.
Sosok itu perlahan terbentuk dari bayangan. Seorang pria berjubah abu-abu. Kerudungnya menutupi wajahnya, tapi aku bisa melihat matanya. Merah redup. Seperti bara yang hampir padam, tapi tetap panas.
Tatapannya menembusku.
“Kau,” bisiknya. Suaranya kasar dan tipis, seperti daun kering digesekkan. “Biji Cahaya. Akan kumakan.”
Dadaku terasa sesak. Aku mencoba berteriak, membuka mulut selebar yang kubisa, tapi tidak ada suara yang keluar. Tenggorokanku kosong.
Tangannya terulur ke arahku. Jari-jarinya panjang, pucat, dan terlihat terlalu banyak untuk sebuah tangan. Ujungnya hampir menyentuh wajahku.
Aku ingin lari.
Aku ingin menangis.
Tubuhku menolak perintahku sendiri.
Lalu, hangat.
Cahaya muncul dari belakangku. Lembut di awal, seperti sinar pagi, lalu semakin terang. Keemasan. Menyelubungi tubuh kecilku, mengusir dingin yang mencengkeram.
Sosok di depanku berhenti bergerak.
Aku tahu cahaya itu.
Ibu.
Aku menoleh, dan melihatnya berdiri di belakangku. Tapi bukan Ibu yang biasa menggendongku, bukan Ibu yang tersenyum lelah setiap pagi. Sosok ini lebih tinggi, lebih besar, seperti gunung cahaya.
Rambutnya melayang pelan, padahal tidak ada angin. Matanya bersinar terang, menyakitkan untuk dilihat, seperti matahari yang langsung menatap dunia.
Wajahnya tenang, tapi amarahnya terasa di udara.
“Jangan sentuh anakku,” katanya.
Suaranya tidak keras, tapi menggema ke seluruh ruang. Kata-katanya menekan dadaku, menekan kegelapan.
Dia mengangkat satu tangan.
Sinar keemasan menyapu ke depan, cepat dan tanpa ragu.
Pria berjubah itu menjerit. Suaranya melengking, bukan suara manusia, seperti sesuatu yang robek dari dalam. Tubuhnya retak, cahaya memakan bayangannya, sampai akhirnya dia hancur menjadi debu yang terseret ketiadaan.
Namun sebelum benar-benar lenyap, tawa terdengar.
Tawa dingin.
“Hahaha … banyak dari kami … yang akan datang …”
Kata-katanya memudar bersama dirinya.
Kegelapan runtuh.
Aku terbangun dengan tersentak.
Dadaku naik turun cepat. Napasku pendek-pendek. Tubuh kecilku basah oleh keringat, kain tipis di bawahku terasa lembap dan dingin.
Mataku masih buram saat melihat sosok di samping boks.
Ibu.
Dia sudah berdiri di sana. Wajahnya dekat, matanya penuh kekhawatiran.
“Mimpi buruk?” tanyanya pelan.
Aku mencoba mengangguk. Leherku kaku, tapi aku menggerakkan kepalaku sedikit.
Ibu langsung mengangkatku. Lengannya hangat, kuat, memelukku erat ke dadanya. Aku mendengar detak jantungnya, cepat, tidak setenang biasanya.
“Tenang, Nak,” bisiknya. “Ibu di sini. Tidak ada yang akan menyakitimu.”
Aku ingin percaya sepenuhnya.
Tapi saat aku menempel di dadanya, aku merasakan sesuatu. Tangannya gemetar sedikit.
Sangat kecil. Hampir tidak terasa.
Lewat jendela, mataku menangkap bayangan cepat melintas di depan bulan. Seperti siluet seseorang yang bergerak di atap, lalu menghilang.
Seseorang sedang berjaga.
Aku menutup mataku lagi, tapi mimpi itu masih menempel di kepalaku.
Apakah itu hanya mimpi?
Atau peringatan?
Dan jika dia benar, jika banyak dari mereka akan datang … apakah Ibu akan selalu tepat waktu?