Kisah Shen Xiao Han dan Colly Shen adalah kelanjutan dari Luka dari Suami, Cinta dari Mafia, yang menyoroti perjalanan orang tua mereka, Holdes Shen dan Janetta Lee.
***
Shen Xiao Han dan Colly Shen, putra-putri Holdes Shen dan Janetta Lee, mewarisi dunia penuh kekuasaan dan bahaya dari orang tua mereka, Holdes dan Janetta.
Shen Xiao Han, alias Little Tiger, menjadi mafia termuda yang memimpin kelompok ayahnya yang sudah pensiun—keberanian dan kekejamannya melebihi siapa pun. Colly Shen, mahasiswi tangguh, terus menghadapi rintangan dengan keteguhan hati yang tak tergoyahkan.
Di dunia di mana kekuasaan, pengkhianatan, dan ancaman mengintai setiap langkah, apakah mereka akan bertahan atau terperangkap oleh bayangan keluarga mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
“Bersihkan tempat ini,” perintah Xiao Han dingin. “Dan jasad Yohanes langsung dibakar. Tanpa upacara apa pun.”
Perintah itu membuat para tetua terkejut.
“Xiao Han,” Tetua Lu berdiri, suaranya tertahan. “Walau dia melakukan kesalahan besar, dia sudah tewas di tanganmu. Kenapa kita tidak memakamkannya dengan layak? Bagaimanapun, ayahnya masih satu kubu dengan kita.”
Xiao Han berhenti melangkah. Ia menoleh setengah badan, sorot matanya tajam dan tak berperasaan.
“Paman,” katanya tegas, “orang yang mengkhianati kita tidak pantas diperlakukan seperti manusia.”
Ia melanjutkan dengan suara rendah namun menusuk,
“Aku ingin seluruh dunia bawah tanah—dari lapisan mana pun—tahu satu hal. Menentang Little Tiger hanya berakhir dengan satu cara.”
“Kematian yang memalukan.”
Tanpa menunggu jawaban, Xiao Han melangkah pergi meninggalkan aula. Para tetua hanya bisa saling memandang, lalu menghela napas panjang.
“Aku tidak pernah menyangka,” gumam Tetua Fu lirih, “anak lima tahun yang dulu kita lihat begitu polos… kini berubah menjadi seperti ini.”
“Dia sama seperti ayahnya,” sahut Tetua Lu berat. “Tidak pernah ragu membunuh, bahkan orang sendiri.”
Tak butuh waktu lama.
Berita kematian Yohanes menyebar cepat ke seluruh jaringan mafia.
Nama Shen Xiao Han kembali mengguncang dunia bawah tanah—kali ini dengan cara yang jauh lebih kejam.
Di sebuah gedung tinggi, Profesor Zhou berdiri di depan jendela kaca. Tangannya memegang tablet, layar menampilkan berita: Yohanes tewas di tangan Shen Xiao Han. Jasad dibakar tanpa upacara.
Di sisi lain, di gedung kampus yang sama, Michael Lin duduk di ruang kelas. Ponselnya bergetar. Satu notifikasi muncul—berita yang sama.
Michael membaca dengan alis berkerut. Ia menutup layar ponsel perlahan.
“Shen Xiao Han bertindak semakin tanpa batas,” gumamnya. “Dan itu hanya akan membuat semakin banyak orang waspada… bahkan bersiap menghadapinya.”
***
Di sebuah tempat hiburan remang-remang, Boby duduk santai di sudut ruangan. Gelas minuman di tangannya terangkat pelan sebelum diteguk tanpa ekspresi. Lampu temaram memantulkan bayangan dingin di wajahnya.
Seorang anak buah mendekat dengan langkah hati-hati.
“Bos, berita itu sudah tersebar luas,” katanya sambil menyerahkan ponsel.
Boby melirik layar sekilas, lalu tersenyum sinis.
“Bocah tidak berguna itu memang bukan lawannya,” ujarnya meremehkan. “Yohanes mati tanpa perlawanan. Bahkan anak buahnya pun direbut dan kini menjadi kaki tangan Shen Xiao Han.”
“Masalahnya, Bos,” anak buah itu melanjutkan dengan nada waspada, “pembunuhan ini mengguncang dunia bawah. Nama Shen Xiao Han menjadi topik utama di seluruh jaringan mafia. Membunuh orang sendiri lalu membakar jasadnya secara terbuka… itu akan memicu konflik besar.”
“Biarkan saja,” potong Boby ringan. “Shen Xiao Han selalu bertindak sesuka hati.”
Ia kembali meneguk minumannya.
“Kali ini aku justru ingin melihat,” lanjutnya dingin, “apa lagi yang akan dia lakukan. Apakah dia benar-benar bisa menemukan orang yang berniat membunuh adiknya.”
Anak buah itu terdiam sejenak, lalu bertanya lirih,
“Orang itu… sudah dikirim ke Jing Yang, Bos?”
“Sudah,” jawab Boby tanpa ragu. “Sekarang hanya tinggal menunggu waktu yang tepat.”
Ia menyipitkan mata.
“Gadis itu dijaga dua puluh empat jam. Mendekatinya memang tidak mudah.”
Boby tersenyum samar—senyum penuh perhitungan.
“Dosen, teman kelas, siapa pun… tetap ada batasnya. Dan setiap batas selalu punya celah.”
Ia mengangkat gelasnya sekali lagi.
“Shen Xiao Han boleh merasa menang sekarang,” gumamnya pelan. “Tapi permainan ini belum selesai.”
***
Mansion Holdes
Di ruang keluarga yang luas dan tenang, Holdes duduk berdampingan dengan istrinya. Tablet di tangannya menampilkan berita yang baru saja dikirim Roy—judulnya mencolok, isinya menggetarkan dunia bawah tanah.
Holdes menghela napas pelan.
“Anak kita membunuh Yohanes di hadapan para tetua,” katanya lirih namun berat. “Dan dia sengaja menyebarkannya. Dunia bawah tanah pasti akan bergejolak hebat.”
Janetta menyesap tehnya dengan tenang, sorot matanya tajam.
“Holdes,” ujarnya kemudian, “kau sudah pensiun, tapi sepertinya kita tetap tidak akan bisa hidup tenang.”
Ia menoleh, senyum tipis tersungging.
“Bagaimana kalau kita menunda perjalanan kita?”
Holdes melirik istrinya sambil tersenyum kecil.
“Bukankah kau ingin liburan?”
“Aku ingin,” jawab Janetta jujur. “Tapi kali ini aku lebih tertarik melihat keramaian.”
Ia meletakkan cangkirnya perlahan. “Aku penasaran dengan orang di balik Alan Zhang.”
Holdes terdiam sejenak, lalu mengangguk.
“Baiklah,” katanya akhirnya. “Kalau begitu kita tunggu dan lihat.”
Janetta menyilangkan kakinya, ekspresinya penuh perhitungan.
“Para tetua pasti mulai gelisah sekarang,” katanya pelan. “Mereka ingin menantang Xiao Han… tapi juga takut.”
“Itu wajar,” sahut Holdes. “Xiao Han membunuh pengkhianat di depan mata mereka sendiri.”
Ia menatap layar sekali lagi, matanya mengeras.
“Itu bukan sekadar eksekusi. Itu peringatan bagi seluruh dunia mafia.”
Holdes berdiri, suaranya mantap.
“Agar mereka tahu—keluarga Shen bukan keluarga yang bisa diremehkan.”
Janetta tersenyum samar.
“Dan badai ini,” katanya lirih, “baru saja dimulai.”