Kaburnya Alana dari rumah justru menyeretnya ke dunia Arka, lelaki berkuasa yang menjadikannya pelayan sebagai ganti rugi sebuah insiden. Kedekatan yang terlarang tumbuh diam-diam, lalu hancur oleh fitnah dan kebencian.
Tanpa penjelasan, Arka mengusir Alana. Saat ia kembali dengan kehamilan di rahimnya, hinaan menjadi balasan, anak itu dituduh milik Rafael, abang iparnya Arka, mafia berdarah dingin.
Alana memutuskan selamnya pergi dari hidup Arka. Akhirnya dia kembali ke rumah Rafael, pria paling berbahaya yang justru menjadi pelindungnya.
Di antara cinta dan pengkhianatan, siapa yang akan menghancurkan Alana lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga Puluh Dua
Cukup lama Alana terdiam setelah nama Revan disebut. Walau baru beberapa bulan bersama, dia sangat menyayangi bocah itu.
Nama itu seperti mengetuk bagian paling lembut di hatinya, bocah bermata jernih yang selalu memanggilnya dengan suara setengah manja, setengah butuh. Yang suka menarik ujung bajunya saat takut. Yang pernah diam-diam menyelipkan biskuit ke tangannya sambil berbisik, “Ini rahasia kita.”
Ruangan itu sunyi, tapi bukan sunyi tenang, sunyi yang menekan. Semua seperti sedang menunggu jawabannya. Bahkan Bu Sari menahan napas, seolah suara sekecil apa pun bisa merusak momen keputusan.
Alana menarik napas pelan. Jemarinya saling menggenggam seolah ingin saling menguatkan.
“Tuan Arka .…” Suara Alana keluar pelan tapi utuh. “Aku ini hanyalah pengasuh Revan.”
Arka mengernyit tipis. Menunggu kalimat Alana selanjutnya.
“Paling hanya dua atau tiga hari dia sedih. Setelah itu akan biasa saja,” lanjut Alana. Matanya basah, tapi nadanya dipaksa stabil. “Aku juga baru sebentar menjaganya. Anak-anak cepat beradaptasi.”
Kalimat itu terasa seperti pisau yang ia tekan ke dadanya sendiri. Semua orang di ruangan tahu, termasuk Rafael, bahwa ia tidak sepenuhnya percaya ucapannya.
Rahang Arka mengeras. “Jadi,” ujarnya pelan, berat, “Kau lebih mau tinggal di sini daripada ikut denganku?”
Alana mengangkat wajah. Untuk pertama kalinya sejak Arka datang, tatapannya tidak lari.
“Ya.” Satu kata yang jelas dan tegas. “Aku tetap di sini," ucap Alana.
Bu Sari refleks menutup mulut. Rafael tidak bergerak, tapi sorot matanya berubah, lebih tajam, lebih siaga. Ia tahu, jawaban jujur seperti itu selalu ada harganya.
Arka mengembuskan napas lewat hidung. Bukan lega, lebih seperti bara yang disiram bensin.
“Ingat hutangmu!" ucap Arka tajam.
Bahu Alana menegang. Sebelum ia sempat bicara, Rafael sudah mendahului.
“Aku yang akan membayar hutang Alana.”
Semua kepala menoleh. Nada Rafael datar tapi final.
“Berapa jumlahnya? Sebutkan nominalnya saja!”
Arka tertawa pendek tanpa senyum. “Kau pikir semua selesai dengan uang.”
“Sebagian besar memang begitu,” balas Rafael tenang.
“Ini bukan soal uang.”
“Awalnya justru soal uang,” kata Rafael. “Kerusakan mobilmu.”
Hening sepersekian detik.
Mata Arka menyipit. “Dia sudah cerita rupanya.”
Rafael menoleh ke Alana. “Ceritakan dari awal.”
Alana ragu. Napasnya naik turun. Tapi kali ini ia tidak mundur.
“Malam itu hujan,” katanya pelan. “Saya menyeberang tergesa karena kabur dari rumah." Kilasan itu hidup lagi di matanya.
“Lampu jalan redup. Saya tidak lihat mobil Tuan Arka datang cepat. Tiba-tiba klakson keras. Saya kaget. Diam di tengah jalan.”
Tangannya gemetar saat mengingat. “Tuan Arka membanting setir untuk menghindari saya. Mobilnya menabrak pembatas. Bagian depan ringsek.”
Bu Sari terkejut pelan. Rafael tetap diam, menyimak penuh.
“Saya lari ke sana. Saya pikir … saya pikir beliau terluka.” Suara Alana menipis. “Ternyata selamat. Tapi mobilnya rusak parah.”
“Dan kamu memohon,” potong Arka dingin.
Alana mengangguk kecil. “Saya tahu kalau biaya ke bengkelnya pasti besar dan mahal."
“Lalu aku beri solusi,” kata Arka. “Kerja di rumahku. Kontrak satu tahun. Ganti rugi lunas.”
“Sebagai pelayan,” bisik Alana.
“Sebagai pekerja rumah,” koreksi Arka. “Dengan tanda tangan sadar.”
Alana menatap meja. “Saya tanda tangan karena takut dilaporkan. Saya tidak punya uang. Saya tidak punya pilihan.”
“Kamu punya pilihan untuk menolak,” ucap Arka.
“Pilihan di atas kertas bukan selalu pilihan nyata,” ujar Rafael tenang.
Arka menoleh tajam. “Jangan mulai berdebat lagi!”
“Sudah mulai sejak kamu mengikat orang dengan kontrak berbasis rasa takut,” jawab Rafael.
Ketegangan kembali terasa. Keduanya sama-sama keras.
“Di surat perjanjian,” ucap Arka tegas, “Dia setuju menjadi pelayan selama satu tahun. Semua tugas rumah. Tanpa pengecualian.”
Alana menelan ludah. Kata itu tetap terasa menghina saat diucapkan keras.
Rafael duduk perlahan. Sikapnya santai, tapi justru memberi penuh tekanan. “Baik,” ucapnya. “Nilai kerusakan mobil setelah potongan masa kerja, berapa sisa hutangnya?”
“Tidak relevan.”
“Sangat relevan.”
“Aku tidak mau uangmu.”
“Itu bukan keputusan satu pihak,” balas Rafael. “Kontrak dua pihak. Bisa ditebus.”
“Dia belum menyelesaikan masa kerjanya,” ucap Arka. “Itu intinya.”
“Berapa lama sudah berjalan?” tanya Rafael.
“Baru tiga bulan.”
“Berarti perhitungannya jelas.”
Arka menggeleng. “Kau masih tidak paham. Aku tidak bicara angka. Aku bicara kewajiban.”
“Lalu apa yang kau mau?” tanya Rafael.
Ruangan kembali sunyi. Tatapan Arka jatuh ke Alana tajam, mengklaim.
“Kembali ke rumahku,” ucap Arka dengan penuh penekanan.
Alana mundur setengah langkah. “Aku tidak akan kembali,” ucapnya lirih tapi tegas.
“Kau terikat kontrak.”
“Aku terikat karena kecelakaan, bukan karena menyerahkan hidupku,” jawab Alana.
“Karena mamaku kau pergi dan kau tak ingin kembali?” tanya Arka dengan menekan.
Alana terdiam. Jawaban itu terlihat jelas di wajahnya.
Rafael bersuara, rendah dan mantap. “Kalau lingkungan kerja tidak aman, kontrak gugur.”
“Kau seperti pengacara sekarang?”
“Tidak. Aku hanya empati pada Alana.”
Arka terkekeh pendek. “Empati? Sejak kapan kau memiliki empati? Dengan istrimu saja kau tak ada rasa kasihan dan iba sedikitpun!
Rafael mengepalkan tangannya menahan amarah. Dia masih menghargai Arka sebagai adik iparnya
"Ini tak ada hubungannya dengan almarhum istriku!" ujar Rafael dengan suara sedikit parau karena menahan amarah.
"Tentu saja ada hubungannya. Orang seperti kau tak punya perasaan jangan bicara empati!"
"Pergilah kau dari rumahku! Jangan memancing aku melakukan hal yang tak diinginkan!"
"Kau mengancam ku?" tanya Arka dengan suara yang cukup tinggi.
"Terserah kau menilai apa. Yang pasti, pergilah!"
Wajah Arka memerah. Mungkin menahan amarahnya. Jika saja tidak menjemput Alana, tak sudi dia bertemu Rafael.
Semangaaat Alana,,semogah selamatdan sehat kalian ber dua,,,,setelah ITU balas Dendam Sama Arka,,,,,gimana sakit nya di pangil om sama anak sendiri....
enyah saja kau arka
😡