Elia menikah dengan Dave karena perjodohan, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Di malam pertama, Dave membuat perjanjian pernikahan yang menegaskan bahwa Elia hanyalah istri di atas kertas. Hari-hari Elia dipenuhi kesepian, sementara Dave perlahan menyadari bahwa hatinya mulai goyah. Saat penyesalan datang dan kata “I’m sorry, my wife” terucap, akankah cinta masih bisa diselamatkan, atau semuanya sudah terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nouna Vianny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir Saja
Nick kemudian berlalu dari hadapan Dave, ia harus menemui HRD untuk meninjau kembali berkas lamaran yang di titipkan oleh pelamar wanita tersebut.
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk!" seru suara dari dalam.
Nick masuk sambil menjelaskan sedikit tentang biografi pelamar. Ia juga menekankan bahwa Dave sendiri yang meminta HRD untuk langsung mewawancarai pelamar tersebut.
"Baik, Tuan Nick. Saya akan hubungi pelamar tersebut sekarang juga".
Terima kasih. Kabari saya secepatnya jika sudah selesai," ucap Nick, lalu keluar dari ruangan.
Sementara itu, di ruangan lain, Dave tampak risau. Pikiran dan perasaannya terusik, bukan karena Bianca yang baru saja memamerkan kemolekan tubuhnya saat panggilan video, melainkan oleh permintaan Elia. Kata-kata istrinya itu seperti nyamuk yang terus berdengung di telinga, mengganggu tanpa henti.
"Sial!" umpatnya kesal. Apalagi saat melihat angka-angka penjualan produk kosmetik dan kecantikan nya yang kian hari, kian menurun.
Pintu kembali terdengar di ketuk, Dave mempersilahkan orang di luar masuk.
"Selamat Pagi, Tuan". Ucap seorang pria yang merupakan general manager marketing pada bidang kosmetik di perusahaan tersebut.
"Jangan bilang, kau ingin melaporkan tentang penjualan yang sedang menurun". Tebak Dave seakan tahu isi dan tujuan yang akan di sampaikan orang tersebut.
"I-iya, Tuan". Ucap nya dengan terbata-bata dan menundukkan kepala. Ia tidak berani menatap Dave secara langsung.
"Saya sudah menekan semua tim marketing untuk meninjau kembali penjualan di pasar. Memastikan tidak ada kecurangan atau apapun". Ungkap GM itu, memberanikan diri.
Dave memijat kening nya yang mulai terasa pusing. "Bukan hanya meninjau mengenai penjualan, tapi cara kalian mempromosikan produk tersebut". ucapnya sempat terjeda kemudian menghembuskan nafas kasar.
"Coba lihat ini, campaign yang kalian buat terkesan murahan!" . Amarah Dave akhirnya meluap. Ia sampai membuat ruangan nya itu berserakan, karena membuang semua barang di atas meja nya.
"B-Baik, Tuan. Kami akan memperbaiki secepatnya" ujarnya. Kemudian Dave menyuruh nya untuk keluar.
Di ruangan HRD, seorang wanita kandidat pelamar posisi sekretaris telah tiba. Ia mengenakan blus hitam senada dengan rok di atas lutut, sepatu heels merah, serta riasan sederhana yang membuat penampilannya tampak elegan.
Kedua tangannya bertaut untuk melakukan sesi wawancara. "Tenangkan dirimu, Lea" ucapnya pada diri sendiri sambil menarik nafas panjang.
Pintu ruangan HRD dibuka, dan Lea dipersilakan masuk. Rasa gugup menyelimutinya, namun ia berusaha tetap tenang dan fokus.
"Silahkan duduk, Nona" ucap HRD.
Sesi wawancara pun dimulai. Sederet pertanyaan dilontarkan, menuntut Lea menjawabnya dengan tepat. Ia juga diberikan beberapa lembar kertas berisi soal tes. Dengan penuh keyakinan, Lea mengisinya satu per satu tanpa ada yang terlewat.
Setelah melewati kedua sesi tersebut, pihak HRD meminta Lea menunggu kabar melalui telepon atau pesan singkat.
"Terima kasih, Nona Lea. Saya akan mengabari Anda secepatnya," ujar HRD.
"Baik, terima kasih," jawab Lea sopan.
Lea pun pamit undur diri dan keluar dari ruangan HRD. Saat hendak melangkah masuk ke dalam lift, suara seorang pria menghentikan langkahnya.
"Nona, tunggu sebentar."
Lea menoleh sambil tersenyum. "Anda memanggil saya?" tanyanya, sembari menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, siapa lagi? Memangnya ada orang lain di sini selainmu?" ucap Nick, terdengar ketus namun tetap tegas.
"M-maaf, ada apa, Tuan?"
"Kau yang baru saja selesai mengikuti sesi wawancara, bukan?"
Lea mengangguk pelan. "Ya, benar."
"Baiklah. Semoga beruntung. Mudah-mudahan kau diterima dan bisa segera bergabung di perusahaan ini."
"Terima kasih," ucap Lea sambil tersenyum.
Nick kemudian berlalu tepat saat pintu lift terbuka. Lea melangkah masuk, berpikir bahwa kini ia hanya bisa menunggu kabar selanjutnya. Dan berharap hasil terbaik menantinya.
Elia merasa sedih saat Sarah mengatakan akan pulang saat itu juga. Itu berarti ia akan kehilangan momen-momen indah bersama Dave, dan kembali tidur di kamarnya semula.
"Kenapa Mom tidak menginap lagi di sini? Tinggal selamanya juga boleh," ujar Elia setengah bercanda, namun sarat harap.
Sarah tersenyum sambil merangkul menantunya. "Mom harus pergi ke luar kota lusa nanti. Ada hotel baru yang sedang dalam proses pembangunan dan perlu Mom tinjau langsung," ujarnya lembut.
Sebagai pemilik beberapa hotel berbintang di negeri ini, Sarah memang terbiasa turun langsung ke lapangan, memastikan semuanya berjalan dengan baik.
Elia sebenarnya ingin ikut menemani Sarah. Namun, jika ia pergi, siapa yang akan mengurus Dave di rumah? Meski status mereka sebagai suami-istri hanyalah sebuah perjanjian, Elia tak sanggup bersikap acuh seolah tak peduli.
"Selalu kabari kami ya, Mom. Dan yang paling penting, jaga kesehatan," pesan Elia tulus.
"Pasti, Sayang. Kalau begitu, Mom pulang dulu ya. Kamu baik-baik di rumah," balas Sarah.
Elia mengantar mertuanya hingga masuk ke dalam mobil. Sopir pribadi Sarah telah diberi kabar satu jam sebelumnya untuk menjemput. Elia melambaikan tangan sampai mobil itu benar-benar keluar dari halaman rumah.
Kini rumah kembali sepi. Tak ada lagi teman berbagi cerita. Elia pun memilih kembali menyelesaikan pekerjaannya sebagai pembuat campaign.
"Apakah Dave akan mengusirku saat tahu Mom sudah pulang?" gumamnya pelan dalam hati.
Selama di perjalanan Sarah mengabari Dave melalui pesan singkat. Ia mengatakan jika dirinya sudah dalam perjalan pulang ke rumah nya. Sarah juga tak bosan menasehati anak laki-laki nya itu, untuk menjaga dan memperlakukan Elia dengan baik.
Hati Dave senang bukan main saat mendengar kabar tersebut. Itu tanda nya, ia bisa bertemu dengan Bianca sepulang dari kantor.
Pintu ruangan kembali diketuk. Dave mengizinkan orang di luar untuk masuk.
“Selamat siang, Tuan,” sapa seorang staf HRD yang datang membawa sebuah amplop cokelat.
“Siang, silakan duduk,” titah Dave singkat.
“Saya ingin menyampaikan bahwa saya telah mewawancarai kandidat yang melamar untuk posisi sekretaris. Ini adalah hasil penilaian saya selama sesi wawancara dan tes,” jelasnya sambil menyerahkan amplop tersebut.
Dave menerimanya lalu meneliti isi di dalamnya. Matanya tertuju pada biografi Lea yang tercantum dalam berkas lamaran, disusul hasil tes yang menunjukkan nilai cukup memuaskan.
"Bagus,oke! Saya terima, hubungi dia untuk segera bergabung dengan kita". ucap Dave sambil menandatangani surat persetujuan.
"Baik, Tuan. Saya akan kabari Nona Lea sekarang juga. Terimakasih" pria tersebut undur diri dari hadapan Dave.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua belas tepat. Perut Dave mulai terasa lapar. Pandangannya beralih pada tas bekal yang diberikan Elia tadi pagi. Ia bangkit dari duduknya lalu meraih kotak makan yang tergeletak di atas meja.
Dave membuka tas tersebut dan memperhatikan isinya. Beberapa menu makanan sehat tersusun rapi, tentu saja aman bagi penderita maag.
“Dia bahkan tidak pernah melupakan obat maag dan vitamin,” gumamnya pelan.
Tanpa disadari, senyum tipis terbit di wajah Dave. Ia segera meminum obat maag itu sebelum mulai menyantap makanannya.
Dave memberi jeda lima belas menit setelah meminum obatnya. Ia kemudian memanaskan makanannya di dalam microwave. Di ruang kerjanya terdapat sebuah ruangan lain yang dikhususkan untuk menjamu tamu-tamu penting. Berbagai perangkat elektronik tersedia lengkap di sana, menunjang kenyamanan dan privasi.
Dengan lahap, Dave menyuapkan masakan ala Korea itu ke dalam mulutnya. Elia terinspirasi dari sebuah drama Korea yang pernah ia tonton, lalu menjadikannya sebagai ide bekal untuk sang suami.
Ia menyiapkan bibimbap dan japchae, tak lupa salad sayur, buah potong, serta susu rendah lemak sebagai pelengkap.
Di tengah keasyikannya menyantap makan siang, pintu kembali terdengar diketuk. Nick muncul dengan membawa map berwarna kuning di tangannya.
“M-maaf, Tuan. Saya tidak tahu kalau Anda sedang makan siang,” ucapnya canggung.
Dave mengangkat tangan, memberi isyarat agar Nick tetap masuk. “Tidak apa-apa. Santai saja,”
katanya sambil terus menikmati makanannya.
Melihat Dave menyantap hidangan itu dengan lahap, ada rasa lega menyelinap di hati Nick. Ia berharap hubungan atasannya dengan sang istri benar-benar baik-baik saja.
“Kau sudah makan siang?” tanya Dave dengan mulut masih terisi makanan.
“Belum, Tuan,” jawab Nick singkat.
Dave lalu mendorong sebuah kotak bekal lain ke arah Nick, berisi menu yang sama. “Makanlah.”
Nick tampak sungkan. “Terima kasih, Tuan, tapi saya bisa makan di luar saja. Saya kemari untuk memberikan laporan".
“Tidak baik menolak rezeki dariku. Ayo, makanlah. Tidak perlu sungkan,” ujar Dave tegas.
Nick akhirnya mengalah. Ia meletakkan map di atas meja sebelum membuka kotak bekal itu. Tak lama kemudian, ia mulai menyuap makanan yang masih hangat. Ekspresinya langsung berubah, jelas menunjukkan kelezatan hidangan tersebut.
“Bagaimana, enak?” tanya Dave.
“Sangat enak, Tuan. Ini buatan Nyonya?” tanyanya balik.
Dave mengangguk. “Ya. Siapa lagi? Hanya dia yang selalu menyiapkan ku bekal makan siang,” jelasnya.
“Tuan benar-benar beruntung memiliki istri seperti Nyonya Elia. Pintar memasak,” ujar Nick singkat. Kalimat sederhana itu justru terasa menekan sesuatu di dada Dave.
“Ya, aku akui dia memiliki banyak keahlian,” sahut Dave. “Dan kau tahu? Dia juga pandai membuat campaign. Semalam aku melihatnya bekerja. Yang lebih mencengangkan, Elia masuk ke dalam peringkat ketiga sebagai salah satu pembuat campaign terbaik.”
“Benarkah? Wah, itu luar biasa sekali, Tuan,” kata Nick kagum.
“Dia juga bekerja sama dengan perusahaan kosmetik dan kecantikan yang namanya sudah terkenal di dunia,” lanjut Dave.
Nick terdiam. Ia teringat laporan penurunan penjualan produk kosmetik perusahaan mereka. “Kenapa Tuan tidak meminta bantuan Nyonya untuk membuat campaign di sini?” tanyanya hati-hati.
Dave terdiam sejenak, mengunyah pelan makanannya. “Aku akan mempertimbangkannya lagi,” jawabnya akhirnya, tanpa mengungkap imbalan yang diminta Elia.
Suara notifikasi pesan masuk terdengar. Dave meraih ponselnya untuk melihat siapa yang mengirim pesan.
Pesan dari Elia:
Selamat menikmati makan siang, Oppa.
Dave hanya membalas dengan reaksi tanda jempol. Namun bagi Elia, balasan singkat itu sudah cukup. Setidaknya Dave merespons pesannya, meski hanya lewat sebuah emotikon.
Baru saja Dave hendak meletakkan ponselnya, notifikasi kembali masuk. Kali ini dari Bianca.
Wanita itu tengah menikmati makan siang di salah satu restoran. Foto yang dikirimkannya menampilkan pose Bianca yang cantik dan elegan. Tanpa disadari, senyum kecil terbit di wajah Dave saat menatap layar ponselnya. Ia membalas dengan stiker berbentuk hati, disertai ucapan selamat makan siang.
Melihat Elia yang tengah menikmati makan siang sambil tersenyum menatap layar ponselnya, Lisa pun menaruh perhatian.
Lisa berdeham pelan. “Hmm, tumben Nyonya senyum-senyum sendiri,” godanya.
Elia tersenyum malu-malu. “Dave baru saja membalas pesanku saat aku mengingatkannya makan siang. Ya, meski hanya tanda jempol, tapi itu sudah cukup. Artinya Dave membaca pesanku dan memakan bekalnya,” ucapnya riang.
Senyum yang semula terbit di wajah Lisa perlahan memudar, berganti rasa kasihan. Dalam hatinya ia bergumam kesal, "Argh! Dasar suami tidak tahu diuntung. Setidaknya beri balasan yang romantis, bukan cuma emot jempol. Memangnya jarinya cuma jempol saja, apa?".
Sore menjelang, selesai dengan pekerjaan kantor nya Dave segera bersiap untuk pulang. Tapi sebelumnya ia akan mampir ke sebuah toko perhiasan.
Dave keluar dari ruangannya lalu menaiki lift khusus para petinggi. Setibanya di area lobi, Nick sudah menunggu.
Usai makan siang tadi, Dave memang memintanya untuk mengantar pergi. Sebenarnya, Nick ingin menolak. Ada perasaan tidak nyaman menyelinap di hatinya, seolah ia ikut andil dalam perselingkuhan atasannya sendiri. Namun apa daya, ia hanyalah seorang bawahan yang tak memiliki banyak pilihan.
Para karyawan yang berpapasan dengan Dave menundukkan kepala saat pemilik perusahaan itu melangkah menuju mobil. Seorang petugas keamanan dengan sigap membukakan pintu untuknya.
Nick masuk ke kursi pengemudi setelah Dave duduk di bangku penumpang. Dave kemudian meminta Nick mengantarnya ke sebuah toko perhiasan sambil menyebutkan nama tempatnya.
Sesampainya di toko perhiasan, Dave segera turun dan masuk ke dalam. Seorang staff membukakan pintu dan menyambut nya dengan ramah.
"Aku minta perhiasan koleksi terbaru". Katanya saat telah berdiri di depan sebuah etalase.
"Baik Tuan, mohon di tunggu sebentar" ucapnya.
Beberapa menit kemudian, staf toko kembali muncul sambil membawa sebuah kotak perhiasan. Ia menampilkan beberapa koleksi terbaru. Tanpa ragu, Dave memilih yang paling mahal. Sebuah kalung dengan liontin berlian merah yang tampak indah dan mencolok.
"Totalnya jadi dua juta baht, Tuan".
Dave segera mengeluarkan kartu hitam dan menempelkan pada mesin Edc. Beberapa detik kemudian selembar struk keluar tanda pembayaran berhasil. Staff tersebut kemudian membungkus kotak berisi perhiasan tersebut dengan hati-hati , ke dalam paper bag dengan nama brand dari toko perhiasan itu sendiri.
Saat hendak keluar dari toko, Dave melihat Billy yang baru saja turun dari mobil. Pria itu tampak panik dan berusaha pura-pura tidak melihatnya dengan segera memalingkan wajah ke arah lain.
Billy lalu masuk ke dalam toko dengan penampilan kasual. Sama seperti Dave sebelumnya, ia meminta staf toko untuk menunjukkan koleksi perhiasan terbaru.
Sambil menunggu pesanannya disiapkan, Billy mengamati perhiasan lain di dalam etalase. Di saat yang sama, Dave melangkah pelan menuju pintu keluar. Ketika perhatian Billy teralihkan, Dave segera bergegas meninggalkan toko.
Billy mengerutkan kening, lalu mengedarkan pandangannya ke luar melalui balik kaca. Namun ia tak melihat sosok yang dikenalnya. Hanya pejalan kaki yang lalu-lalang di trotoar.
Napas Dave menderu saat ia masuk ke dalam mobil.
“Ada apa, Tuan?” tanya Nick heran.
Dave menghela napas sejenak sebelum menjawab. “Hampir saja Billy melihatku.”
Nick hanya terdiam. Ia pun sempat melihat mobil Billy terparkir di belakang mereka. Namun tampaknya pria itu tidak mengenali mobil di depannya, karena kendaraan yang digunakan Dave adalah mobil kantor.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit, Dave tiba di depan lobi apartemen. Seperti biasa, Nick diperbolehkan pulang. Demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Dave tidak pernah memarkir mobilnya di area parkir apartemen.
Tak lama kemudian, pintu terdengar diketuk. Bianca mengintip dari balik celah pintu. Begitu mengetahui siapa yang datang, ia segera membukanya.
Bianca seperti harimau yang kelaparan. Ia langsung menerkam Dave saat pria itu melangkah masuk.
"Aku merindukan mu, Sayang" ucap Bianca. Lalu menautkan bibir mereka masing-masing.
"Aku juga, Sayang".
Paper bag itu di simpan ke atas meja. Dave menggendong Bianca lalu merebahkan nya ke atas tempat tidur. Dengan pakaian minim nya membuat Dave mudah untuk menikmati setiap inci tubuhnya.
"Ah!". Desahan nikmat mulai keluar dari mulut Bianca.
"Kau membuat ku gila, Sayang" ucap Dave sambil melepas habis pakaian nya, kemudian kembali menautkan bibir. Sentuhan itu terus turun hingga ke leher dan dua tumpukan benda kenyal milik Bianca.
"Ah,Dave". suara nakal itu kembali keluar. Apalagi saat Dave memainkan indra perasa pada benda kembar miliknya.
Permainan keduanya semakin panas hingga Dave tak tahan untuk mengeluarkan nya yang sejak tadi tertahan.
Napas keduanya masih terengah dalam balutan selimut. Dave menarik Bianca ke dalam pelukannya, membiarkan keheningan menyelimuti tubuh mereka yang saling bersentuhan. Sesaat, dunia terasa berhenti. Hanya ada hangat, detak jantung yang perlahan menenangkan diri, dan rahasia yang kembali terikat di antara mereka.
“Aku sangat mencintaimu, Sayang,” kata Dave sambil mengecup puncak kepala Bianca.
“Aku juga, Sayang.”
Dave perlahan melepaskan pelukannya, lalu melangkah ke bilik mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, ia meraih kaus putih dan celana pendek yang tergeletak di lantai, kemudian mengenakannya.
“Sayang, kemarilah,” panggil Dave.
Bianca bangkit dari tempat tidur dan meraih jubah tipis yang tersampir di sofa, lalu melangkah mendekat.
“Angkat rambutmu,” ujar Dave lembut.
Dengan hati-hati, Dave mengalungkan sebuah kalung berliontin merah ke leher jenjang Bianca.
“Whoa, Sayang… ini indah sekali,” ucap Bianca sambil menatap bayangan dirinya di cermin. Matanya berkaca-kaca.
Ia memeluk Dave erat, lalu mengecup bibir pria itu dan beberapa saat terhanyut dalam permainan bibir.
“Kau suka, Sayang?” tanya Dave.
“Suka sekali. Ini perhiasan edisi terbaru, bukan? Pasti mahal,” balas Bianca lirih.
Dave mengangguk sambil tersenyum. “Tidak ada kata mahal jika untuk kekasihku.”
Bianca melepas anting-anting yang sebelumnya ia kenakan, lalu menggantinya dengan satu set perhiasan pemberian Dave. Senyum bahagia jelas terpancar di wajahnya.
Setelah puas menghabiskan waktu bersama kekasihnya, Dave memutuskan untuk pulang. Ia menghubungi Nick dan memintanya menjemput kembali.
“Sayang, terima kasih banyak untuk waktumu dan hadiahnya. Aku semakin mencintaimu,” ucap Bianca sebelum Dave melangkah pergi.
Dave mengangguk sambil tersenyum. “Baiklah, aku pulang dulu. Jaga dirimu baik-baik.”
Bianca kembali masuk ke dalam apartemennya. Senyum di wajahnya belum juga pudar. Ia merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia.
“Dave, kau harus menjadi milikku sepenuhnya,” bisiknya pelan, dengan senyum penuh arti.
Dave karakter sangat kuat sdngkn istri melohoyyy apa dia bias marah
kalau bisa Weh luar biasa lain ini Thor
kenal mama Reni ga
uhhh istri sah dapat Otong sisa 🤭
semoga berbeda ini cerita