Senja, seorang Arsitek berbakat dengan karier gemilang di Bali, memilih melepaskan proyektor dan penggarisnya demi sebuah janji suci. Ia jatuh cinta pada Rangga, mantan pengamen jalanan yang ia temui di tikungan parkir kantornya.
Demi "merajakan" sang suami, Senja resign dari firma arsitek, menguras tabungan untuk memodali karier Rangga menjadi DJ, hingga rela belajar memasak demi memanjakan lidah suaminya. Bagi Senja, rumah pribadinya adalah istana tempat ia mengabdi sepenuhnya.
Namun, saat Rangga mulai sukses dan dipuja banyak orang, dia lupa siapa yang membangun panggungnya. Rumah hanya dijadikan tempat "numpang makan" dan ganti baju, sementara hatinya jajan di kamar hotel setiap luar kota.
Senja tidak akan menangis bombay. Jika Rangga hanya butuh pelayanan gratis tanpa kesetiaan, dia salah alamat. Senja siap menendang benalu itu dari rumahnya!
"Aku istrimu, Mas. Bukan Warteg tempatmu numpang makan saat lapar, lalu kau tinggalkan setelah kenyang!"
Jam update:07:00-12:00-20:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Tikungan Takdir di Pulau Dewata
Suasana ruang tunggu keberangkatan Bandara Ahmad Yani, Semarang, terasa begitu menyesakkan bagi Senja.
Bukan karena pendingin ruangan yang mati, melainkan karena beratnya beban di pundak yang harus ia bawa ke tanah perantauan. Di hadapannya, seorang wanita paruh baya dengan kebaya kutubaru sederhana terus menggenggam tangan Senja, seolah jika dilepas sebentar saja, anak tunggalnya itu akan hilang ditelan bumi.
"Nduk, kalau sudah sampai di Bali nanti, langsung telepon Ibu ya? Jangan tunggu sampai malam," suara Ibu Senja bergetar, tapi matanya tetap berusaha menatap Senja dengan tegar.
Senja mengangguk pelan, tenggorokannya terasa kaku. Sejak Ayahnya meninggal dunia karena serangan jantung saat Senja masih berusia sepuluh tahun, dunianya hanya berputar pada Ibunya.
Mereka berjuang bersama; Ibu dengan toko kelontongnya, dan Senja dengan ambisi sekolahnya. Kini, setelah ia berhasil meraih gelar Arsitek dan sempat bekerja beberapa tahun di Semarang, sebuah tawaran emas datang dari firma arsitektur ternama di Bali untuk menangani proyek luxury resort di Uluwatu.
"Ibu jangan khawatir. Senja sudah siapin stok obat darah tinggi Ibu untuk tiga bulan ke depan. Senja juga sudah titip pesan ke Mbak Lastri tetangga depan buat bantu Ibu kalau mau belanja ke pasar," bisik Senja sambil mengusap punggung tangan Ibunya yang mulai keriput.
"Ibu bukan anak kecil, Senja. Kamu yang harus hati-hati di sana. Bali itu jauh, budayanya beda, orang-orangnya datang dari seluruh dunia. Ingat pesan Ibu, jangan gampang percaya sama orang yang bermulut manis. Di dunia ini, banyak orang yang terlihat baik hanya karena ada maunya."
"Tapi jangan juga menutup diri, Nduk."
Pengumuman boarding menggema, membelah keheningan antara ibu dan anak itu. Senja memeluk Ibunya sangat erat, menghirup dalam-dalam aroma bedak dingin yang selalu menjadi penenang jiwanya.
Saat kaki Senja melangkah melewati gerbang keberangkatan, ia tidak berani menoleh. Ia tahu, jika ia melihat satu saja tetes air mata jatuh di pipi Ibunya, ia akan melepaskan tiket pesawat itu dan memilih kembali ke rumah lama mereka di sudut Semarang.
...----------------...
Pesawat mendarat di Bandara Ngurah Rai saat matahari Bali sedang berada tepat di atas kepala. Begitu keluar dari pintu kedatangan, Senja langsung disambut udara lembap yang kental dengan aroma dupa dan garam laut. Baginya, Bali bukan sekadar destinasi wisata, melainkan medan tempur baru untuk kariernya sebagai desainer interior dan arsitek.
Seminggu pertama di Bali terasa seperti ujian mental. Senja menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor firma arsitek di daerah Denpasar, berkutat dengan maket, sketsa ruangan, dan tumpukan material contoh.
Ia adalah seorang perfeksionis. Baginya, setiap sudut ruangan harus punya jiwa, dan setiap fondasi harus kokoh tanpa kompromi. Sifat itulah yang membuatnya sukses, tapi sekaligus membuatnya menjadi pribadi yang sedikit tertutup dan kaku.
"Bali ternyata sangat bising kalau kita tidak punya siapa-siapa untuk berbagi cerita," gumam Senja, sambil menatap pantulan dirinya di cermin kosan.
Pagi itu, Senja sedikit terburu-buru. Ia harus mempresentasikan konsep interior untuk sebuah villa mewah di hadapan direktur firma.
Dengan mobil putih yang ia sewa, Senja membelah jalanan Denpasar yang mulai padat dengan motor para pekerja. Pikirannya melayang pada detail plafon dan pemilihan marmer yang akan ia presentasikan. Ia begitu fokus pada jam di dasbor yang sudah menunjukkan pukul 07.45.
Saat memasuki pelataran parkir kantornya, Senja tidak menyadari ada seorang pria berompi oranye yang sedang sibuk menggeser beberapa motor untuk merapikan barisan. Karena pandangannya terhalang oleh pilar beton dan pikirannya yang sedang semrawut, Senja mengambil tikungan terlalu tajam.
BRAKK!
Suara benturan itu tidak terlalu nyaring, tapi guncangannya cukup untuk membuat jantung Senja hampir melompat keluar. Dari kaca spion, ia melihat seorang pria tersungkur di aspal, sementara sebuah motor matic roboh menimpanya.
"Ya Tuhan! Apa yang aku lakukan?" Senja segera mematikan mesin dan berlari keluar dengan wajah pucat pasi.
Ia menghampiri pria itu yang sedang berusaha duduk sambil memegangi lututnya yang berdarah. Rompi oranye yang ia kenakan tampak sedikit robek di bagian bahu. Senja merasa dunianya runtuh; menabrak orang di tanah rantau adalah mimpi buruk bagi siapa pun.
"Mas! Mas nggak apa-apa? Maaf, maaf banget! Saya benar-benar nggak lihat tadi," Senja berjongkok di samping pria itu, tangannya gemetar hebat. Ia sudah bersiap untuk dimarahi habis-habisan, atau bahkan diteriaki oleh satpam kantor.
Tapi, pria itu justru mendongak pelan. Alih-alih wajah penuh amarah, Senja justru menemukan sepasang mata yang terlihat tenang, meskipun dahinya mengernyit menahan perih.
"Aduh, Mbak... lain kali kalau bawa mobil jangan sambil mikirin utang ya? Kasihan aspalnya, jadi kena darah saya," ucap pria itu sambil terkekeh pelan. Suaranya terdengar renyah, dengan logat yang sangat familiar di telinga Senja—logat Jawa Timur yang kental.
Senja tertegun sejenak. "Mas malah bercanda. Itu lututnya luka parah, Mas. Ayo saya antar ke klinik, atau saya ganti rugi ya? Berapa Mas?"
Pria itu—Rangga—berdiri perlahan dengan bantuan Senja. Ia mengangkat motor yang tadi terjatuh dengan satu tangan seolah itu adalah benda ringan.
"Nggak usah, Mbak. Cuma lecet dikit, biasa ini buat tukang parkir serabutan kayak saya. Mbak mending buru-buru masuk deh, itu bapak-bapak di dalam sudah pada ngintip dari kaca, kayaknya Mbak sudah ditungguin rapat."
"Tapi Mas..."
"Sudah, sana. Nama saya Rangga. Kalau Mbak merasa bersalah banget, nanti sore pas pulang jangan tabrak saya lagi ya? Cukup kasih senyum saja, biar panasnya Bali jadi agak adem," Rangga mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum tulus, memperlihatkan deretan gigi yang rapi.
Senja terpaku di tempatnya berdiri selama beberapa detik. Sebagai arsitek, ia selalu menilai segala sesuatu dari strukturnya. Dan pria di depannya ini punya "struktur" yang aneh. Di tengah kesulitan dan rasa sakit, ia justru memilih untuk menghibur orang lain. Ada kehangatan yang mendadak merayap di hati Senja, sebuah perasaan aman yang sudah lama tidak ia rasakan sejak Ayahnya tiada.
Sepanjang rapat, presentasi Senja berjalan lancar, tapi fokusnya terbagi. Ia terus saja melirik ke arah jendela, membayangkan pria berompi oranye itu masih berdiri di bawah terik matahari dengan lutut yang terluka.
Begitu jam kantor selesai, Senja tidak langsung memacu mobilnya pulang. Ia sengaja mampir ke apotek terdekat untuk membeli plester, cairan pembersih luka, dan beberapa bungkus makanan serta es teh manis. Senja memarkirkan mobilnya agak jauh dan berjalan kaki menghampiri Rangga yang sedang duduk di trotoar, sedang mengipasi lehernya dengan topi kain yang sudah lusuh.
"Mas Rangga," panggil Senja pelan.
Rangga mendongak, matanya membelalak kaget. "Lho, Mbak Arsitek? Belum pulang? Mau nabrak saya lagi ya?"
Senja tertawa kecil, rasa canggungnya perlahan mencair. "Enggak, Mas. Ini... saya bawa obat buat lutut Mas, sama ada nasi kotak buat makan sore. Maaf ya, tadi pagi saya benar-benar nggak fokus."
Rangga menatap plastik di tangan Senja, lalu menatap wajah Senja dengan pandangan yang dalam. "Mbak, saya ini cuma tukang parkir. Harusnya saya yang minta maaf kalau posisi motornya tadi agak ke tengah. Mbak nggak perlu repot-repot begini."
"Saya juga perantau di sini, Mas. Saya tahu rasanya luka tapi nggak ada yang ngobatin," sahut Senja sambil ikut duduk di trotoar di samping Rangga, mengabaikan rok kerjanya yang mahal. "Kita makan bareng ya? Saya juga belum makan dari siang."
Rangga terdiam, kemudian tersenyum sangat manis. "Ya sudah kalau Mbak maksa. Tapi makannya jangan di sini, malu saya dilihatin orang kantor Mbak. Kita duduk di balik tembok sana saja, lebih adem."
Sore itu, di balik tembok beton area parkir, Senja menemukan sisi lain dari Bali yang tidak pernah ia lihat di buku desain. Rangga bercerita kalau dia sudah dua tahun merantau, mengerjakan apa saja mulai dari tukang parkir sampai buruh angkut, asalkan halal. Ia punya mimpi besar untuk menjadi pemusik, tapi hidup di jalanan membuatnya harus realistis.
Senja mendengarkan dengan saksama. Baginya, Rangga seperti sebuah ruangan kosong yang luas namun belum ditata—punya potensi besar untuk menjadi sesuatu yang indah jika diberikan sentuhan yang benar. Di antara debu jalanan dan aroma knalpot, Senja merasakan sebuah koneksi yang tidak pernah ia temukan pada pria-pria mapan yang pernah mendekatinya.
Ia tidak tahu, bahwa keraguannya pada pesan Ibunya pagi itu di bandara adalah awal dari sebuah desain hidup yang salah. Ia sedang mulai membangun sebuah "rumah" di atas tanah yang labil, menggunakan bahan-bahan perasaan yang ia kira kokoh, tanpa menyadari bahwa pondasi yang ia bangun hanya akan menjadi tempat bagi benalu untuk tumbuh subur.
awas jangan smpai nyesel iya
rangga udah keterlaluan
bawa semua bukti" nya kalau rangga itu ga baik biar segera diproses