NovelToon NovelToon
Identitas Tersembunyi Suamiku

Identitas Tersembunyi Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Komedi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:75
Nilai: 5
Nama Author: Elrey

Safa, wanita dari keluarga sederhana, memberikan makanan pada seorang pria yang dia anggap pengemis – ternyata adalah Riki, CEO perusahaan besar. Terharu dengan kebaikan Safa, Riki menyembunyikan statusnya, mereka jatuh cinta dan menikah.

Ketika Safa bekerja di kantor Riki, dia bertemu "Raka" – teknisi yang ternyata adalah Riki yang berpura-pura. Setelah menemukan kebenaran, Safa merasa kecewa, tapi Riki membuktikan cintanya tulus dengan memperkenalkannya pada keluarga aslinya. Mereka akhirnya memperpublikasikan pernikahan mereka dan hidup bahagia dengan cinta yang sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Temui Teman Safa

Pada malam kedelapan kunjungannya ke Waroeng Mak Ina, Riki datang dengan sedikit lebih awal dari biasanya – tepat pukul sembilan tiga puluh malam.

Dia membawa sebuah tas kecil berisi beberapa buku catatan yang dia gunakan untuk berpura-pura sebagai pekerja kantoran yang sedang mengerjakan tugas akhir pekan.

Ketika memasuki warung, dia melihat Safa sedang berbincang riang dengan seorang wanita lain yang juga mengenakan seragam warung yang sama.

Wanita itu memiliki rambut coklat pirang yang diikat ke belakang dan wajah yang ceria dengan bibir tebal yang selalu tersenyum.

Ketika melihat Riki masuk, dia segera menarik lengan Safa dan menganggukkan kepalanya ke arahnya dengan ekspresi yang penuh rasa ingin tahu.

"Siapa orang itu Saf? Kamu kenal ya?" tanya wanita itu dengan suara yang cukup keras sehingga bisa terdengar oleh Riki.

Safa sedikit tersipu dan segera menepis tangannya. "Iya lah Maya, dia pelanggan tetap kita yang selalu datang setiap malam. Jangan terlalu banyak omong ya!"

Riki terdengar bicara mereka dan tersenyum lembut. Dia memilih meja pojoknya seperti biasa dan mulai membuka buku catatannya seolah sedang sibuk bekerja.

Tak lama kemudian, Safa datang mendekatinya dengan senyumannya yang khas, tapi kali ini wajahnya sedikit merah karena masih merasa sungkan dengan omongan temannya.

"Halo Pak! Maaf ya kalau teman saya terlalu banyak omong. Dia memang begitu, suka mengoceh tentang segala hal," ucap Safa dengan rasa malu.

"Tidak apa-apa kok," jawab Riki dengan tersenyum. "Teman kamu terlihat orang yang baik hati dan ceria. Bolehkah aku tahu nama dia?"

"Nama dia Maya. Dia sudah bekerja di sini lebih lama dari saya, sekitar dua tahunan. Dia sangat membantu saya ketika saya pertama kali mulai bekerja di sini," ucap Safa dengan suara yang penuh rasa terima kasih. "Kalau kamu tidak keberatan, bolehkah saya mengajaknya untuk duduk bersama sebentar? Dia sudah sangat penasaran denganmu lho."

Riki merasa sedikit terkejut tapi segera menyetujui usulan Safa. "Tentu saja boleh. Aku juga senang bisa bertemu teman kamu."

Safa segera memanggil Maya yang langsung datang dengan wajah yang penuh semangat. Dia duduk di depan Riki dengan percaya diri dan memberikan jempol untuk bersalaman. "Halo! Nama saya Maya. Senang bertemu denganmu! Safa sering cerita tentangmu lho – bilang kamu pelanggan yang baik hati dan selalu datang setiap malam."

Riki bersalaman dengan Maya dan tersenyum lembut. "Nama saya Riki. Senang bertemu denganmu juga. Maaf ya kalau sering mengganggumu dan Safa dengan kedatanganku yang terus-menerus."

"Tidak apa-apa kok Pak Riki! Justru kami senang punya pelanggan tetap seperti kamu. Selain itu, kamu juga sangat baik hati selalu mengantar Safa pulang setiap malam. Banyak cowok yang tidak mau melakukan hal itu untuk pacarnya sendiri lho!" ucap Maya dengan nada yang sedikit bercanda, membuat Safa semakin merah dan segera menutupi mulut Maya dengan tangannya.

"Maya jangan begitu dong! Kamu terlalu banyak omong aja," ucap Safa dengan suara yang sedikit terengah-engah karena merasa sungkan.

Maya tertawa lepas dan menarik tangan Safa jauh dari mulutnya. "Baiklah baiklah, saya tidak akan berkata apa-apa lagi. Tapi setidaknya kamu harus memperkenalkan kami dengan benar kan?"

Setelah kejadian lucu itu, mereka mulai berbincang dengan lebih santai. Maya cerita tentang bagaimana dia pertama kali mulai bekerja di warung setelah menyelesaikan pendidikannya hingga tingkat SMA, bagaimana dia harus membantu orang tuanya yang tinggal di luar kota dengan mengirim uang setiap bulan, dan bagaimana dia bertemu Safa yang kemudian menjadi sahabat karibnya.

"Safa itu anak yang sangat baik hati dan pekerja keras banget," ucap Maya dengan ekspresi yang penuh penghargaan. "Ketika dia pertama kali datang ke sini, dia tidak tahu banyak tentang cara bekerja di warung. Tapi dia belajar dengan sangat cepat dan sekarang sudah bisa mengelola hampir semua hal di sini sendiri. Saya sangat bangga bisa memiliki teman seperti dia."

Riki mendengarkan dengan seksama dan melihat Safa yang sedang menunduk dengan wajah yang sedikit merah karena dipuji oleh temannya.

Dia merasa sangat senang bisa melihat sisi lain dari Safa melalui cerita teman sekaryawannya.

"Aku benar-benar setuju denganmu," ucap Riki dengan suara yang tulus. "Safa memang orang yang luar biasa. Dia selalu bersedia membantu orang lain dan tidak pernah mengeluh tentang pekerjaannya yang berat."

Safa merasa sangat terharu mendengar kata-kata pujian dari Riki dan Maya. Dia mengangkat kepalanya dengan sedikit malu dan tersenyum lembut. "Terima kasih ya keduanya. Kalau tidak ada bantuan dari Maya dan Bu Yanti, saya tidak mungkin bisa bertahan bekerja di sini sampai sekarang."

Mereka mulai berbicara tentang berbagai hal – dari cerita lucu yang terjadi di warung hingga rencana masa depan yang ingin mereka capai.

Maya cerita tentang keinginannya untuk bisa membuka usaha kecil sendiri suatu hari nanti, sebuah kedai kopi kecil yang bisa menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang ingin bersantai dan berbagi cerita.

"Saya sudah menyimpan uang sedikit demi sedikit untuk mewujudkan impian itu," ucap Maya dengan mata yang bersinar. "Meskipun butuh waktu yang lama, saya yakin suatu hari nanti impian saya akan terwujud."

Riki merasa sangat kagum dengan semangat dan tekad Maya. Dia cerita tentang keinginannya untuk bisa memiliki usaha kecil yang bisa membantu orang lain seperti Safa dan Maya, sebuah usaha yang tidak hanya mencari keuntungan materi tapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

"Aku selalu merasa bahwa kita harus memberikan kontribusi positif bagi masyarakat sekitar kita," ucap Riki dengan suara yang penuh keyakinan. "Kekayaan dan kesuksesan tidak akan berarti apa-apa kalau kita tidak bisa membantu orang lain yang membutuhkan."

Maya melihatnya dengan ekspresi yang sedikit heran. Ada sesuatu dari cara bicara Riki dan sikapnya yang membuatnya merasa bahwa Riki bukanlah orang biasa seperti yang dia pikirkan.

Dia mulai mengajukan pertanyaan tentang pekerjaannya dengan cara yang tidak terlalu langsung.

"Pak Riki bekerja di bidang apa ya? Kamu bilang kamu bekerja sebagai karyawan kantoran kan?" tanya Maya dengan rasa ingin tahu.

Riki sedikit terkejut dengan pertanyaan tersebut tapi segera bisa berpikir cepat. "Ya, saya bekerja sebagai karyawan administrasi di sebuah perusahaan kecil yang bergerak di bidang perdagangan barang dagangan. Bekerjanya cukup menyenangkan meskipun terkadang cukup melelahkan."

Maya mengangguk tapi masih merasa ada sesuatu yang tidak beres. Dia terus mengajukan pertanyaan tentang pekerjaan Riki – seperti di mana lokasi kantornya, berapa banyak karyawan yang bekerja di sana, dan apa saja tugas utamanya sehari-hari.

Riki harus berpikir keras untuk menjawab semua pertanyaan tersebut dengan benar agar tidak terbongkar kebohongannya.

"Saya bekerja di bagian administrasi jadi tugas saya cukup beragam – mulai dari mengurus surat menyurat, membuat laporan harian, hingga membantu mengelola keuangan perusahaan secara sederhana," ucap Riki dengan suara yang tenang meskipun hatinya sedang berdebar kencang.

Maya terdengar penjelasannya dengan seksama dan akhirnya mengangguk setuju. Meskipun masih merasa ada sesuatu yang tidak beres, dia memutuskan untuk tidak menekannya lebih jauh karena melihat bahwa Safa sangat mempercayai Riki.

"Saya rasa pekerjaan kamu cukup menantang ya Pak Riki," ucap Maya dengan senyuman. "Tapi saya yakin kamu bisa menjalankannya dengan baik karena kamu terlihat orang yang sangat cerdas dan bertanggung jawab."

Riki tersenyum lembut. "Terima kasih atas pujiannya. Saya hanya berusaha yang terbaik saja."

Setelah itu, mereka kembali berbicara tentang hal-hal lain yang lebih ringan. Safa cerita tentang acara khusus yang akan diadakan di warung minggu depan untuk merayakan ulang tahun Bu Yanti, sementara Riki cerita tentang rencananya untuk pergi ke luar kota akhir pekan depan untuk mengunjungi orang tuanya yang tinggal di sana.

Waktu berlalu dengan sangat cepat dan sudah menunjukkan pukul sebelas lewat. Maya berdiri dan mengatakan bahwa dia harus pulang sekarang karena harus bangun pagi untuk membantu mempersiapkan bahan makanan untuk hari esok. "Saya pamit ya Pak Riki. Senang sekali bisa bertemu denganmu. Semoga kita bisa bertemu lagi ya!"

"Senang bertemu denganmu juga Maya. Semoga impianmu untuk membuka kedai kopi bisa segera terwujud," jawab Riki dengan senyuman.

Setelah Maya pergi, Safa melihat Riki dengan ekspresi yang sedikit malu. "Maaf ya Pak kalau Maya terlalu banyak bertanya. Dia memang begitu, suka mencari tahu tentang orang baru yang dia temui."

"Tidak apa-apa kok," jawab Riki dengan tersenyum. "Sebenarnya aku senang bisa bertemu dengan teman kamu. Dia orang yang baik hati dan memiliki semangat yang luar biasa. Aku sangat kagum dengannya."

Safa tersenyum bangga mendengar kata-kata tersebut. "Maya memang teman yang sangat baik. Dia selalu membantu saya ketika saya mengalami kesulitan dan tidak pernah menyalahkan saya ketika saya membuat kesalahan."

Setelah Safa membersihkan diri dan mengambil tas kerjanya, mereka berjalan keluar dari warung bersama-sama seperti biasa.

Kali ini, mereka tidak naik angkot karena Safa bilang bahwa dia ingin berjalan kaki sebentar untuk menghirup udara malam yang segar.

Di jalan, Safa mulai berbicara tentang perasaan nya terhadap Riki. "Aku sangat bersyukur bisa bertemu denganmu Pak Riki. Kamu adalah orang yang sangat baik hati dan selalu peduli dengan orang lain. Tidak banyak orang yang mau melakukan hal yang kamu lakukan untuk saya – mengantar saya pulang setiap malam dan mau berbincang dengan saya seperti teman."

Riki merasa sangat terharu mendengar kata-kata tersebut. Dia berhenti berjalan dan melihat Safa dengan ekspresi yang sangat tulus. "Safa, kamu adalah orang yang sangat spesial. Aku tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata betapa berharganya pertemuan kita bagi saya. Kamu telah mengajari saya banyak hal tentang kehidupan dan arti dari kebaikan hati yang tulus."

Safa merasa sedikit tersipu mendengar kata-kata tersebut. Dia melihat Riki dengan mata yang penuh perhatian dan rasa hormat. "Terima kasih banyak Pak Riki. Kamu juga telah memberikan banyak hal berharga bagi saya – perhatian, teman bicara, dan rasa aman yang saya rasakan setiap malam ketika kamu mengantar saya pulang."

Mereka melanjutkan perjalanan sampai akhirnya sampai di depan rumah Safa. Sebelum memasuki rumahnya, Safa berbalik dan melihat Riki dengan senyuman hangat. "Aku berharap kita bisa terus bertemu seperti ini Pak Riki. Kamu sudah menjadi teman yang sangat berarti bagi saya."

Riki tersenyum balik. "Aku juga berharap begitu Safa. Aku akan selalu datang ke warung setiap malam untuk melihatmu dan berbincang denganmu. Janji ya?"

"Janji," jawab Safa dengan tersenyum lebar sebelum memasuki rumahnya.

Setelah Safa masuk, Riki tetap berdiri di depan pintu untuk beberapa saat. Dia melihat cahaya lampu yang menyala dari dalam rumah dan merasa hati nya menjadi sangat penuh dan bahagia.

Pertemuan dengan Maya telah membuatnya melihat sisi lain dari Safa dan semakin yakin bahwa Safa adalah orang yang benar-benar spesial dalam hidupnya.

Namun di balik rasa bahagia itu, rasa bersalah mulai muncul lagi di dalam hatinya. Dia tahu bahwa Maya sudah mulai curiga dengan identitasnya dan mungkin tidak akan lama lagi sebelum Safa juga mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Tapi dia memutuskan untuk tidak memikirkan hal itu untuk saat ini. Yang penting baginya sekarang adalah bisa terus melihat Safa dan berbagi cerita dengan dia setiap malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!