Alya menikah dengan Arga bukan karena harta, melainkan cinta dan harapan akan keluarga yang hangat. Namun sejak hari pertama menjadi menantu, Alya tak pernah benar-benar dianggap sebagai istri. Di mata keluarga suaminya, ia hanyalah perempuan biasa yang pantas diperintah—memasak, membersihkan rumah, melayani tanpa suara. Bukan menantu, apalagi keluarga. Ia diperlakukan layaknya pembantu yang kebetulan menyandang status istri.
Takdir mempertemukan Alya dengan seorang pria yang tak pernah menilainya dari latar belakang—Sultan Rahman, pengusaha besar yang disegani, berwibawa, dan memiliki kekuasaan yang mampu mengubah hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 Jalan yang Digariskan Beraama
Matahari belum mulai menyingsing ketika Alya mendengar suara mesin yang sudah bekerja di luar rumah. Ia berdiri perlahan, menyelinap dari pelukan Satria yang masih terlelap di atas bantal, lalu mendekat ke jendela kamar. Di pekarangan depan rumah Pak Manthov, beberapa warga sudah berkumpul, membawa alat-alat pertanian yang sudah diperbaiki dan kantong benih baru yang masih dibungkus rapi. Udara pagi di Sukamaju masih terasa sejuk dan lembab, membawa aroma daun basah dan tanah yang baru saja dibajak.
Setelah keputusan untuk menerima kerja sama dengan syarat, desa tidak langsung berubah. Namun ada perubahan kecil yang terasa di setiap sudut—wajah warga yang lebih fokus, suara bicara yang lebih tegas ketika membicarakan rencana masa depan, dan semangat yang tampak lebih terarah. Tidak ada lagi keraguan yang mengendap dalam diam; yang ada adalah kesadaran bahwa setiap langkah yang diambil akan menjadi tanggung jawab bersama.
Alya mandi dengan cepat, lalu memasak bubur untuk sarapan. Saat api kompor menyala kecil, Sultan masuk ke dapur dengan secangkir teh hangat. “Sudah ada beberapa warga yang datang ke kebun,” katanya dengan suara yang tenang. “Mereka ingin memulai penanaman tanaman baru sesuai dengan panduan yang diberikan, tapi dengan cara mereka sendiri.”
Alya tersenyum sambil mengaduk bubur. “Itu yang kita inginkan, bukan? Mengambil yang baik dan menyesuaikannya dengan kita.”
Setelah sarapan, mereka berjalan menuju lokasi kebun bersama yang akan menjadi fokus pertama kerja sama. Jalan desa yang biasanya penuh dengan genangan air setelah hujan kini sudah sedikit diperbaiki—beberapa warga telah bekerja bersama-sama untuk membuat saluran drainase sederhana. Di sepanjang jalan, Alya melihat beberapa petak tanah yang sudah disiapkan, dengan tandaan kecil yang menuliskan jenis tanaman yang akan ditanam dan nama warga yang akan merawatnya.
“Pak Manthov sudah membagi lahan sesuai dengan kesepakatan kita,” ujar Sultan ketika mereka tiba di lokasi. “Setiap kelompok menangani 50 are, dengan peran yang jelas—satu orang menangani pemeliharaan, satu orang dokumentasi, dan satu orang untuk koordinasi dengan pihak luar.”
Di tengah kebun, sebuah tenda sederhana sudah dipasang. Di bawah tenda itu, Dimas dan Clara sudah menunggu bersama beberapa teknisi dari pihak kerja sama. Namun kali ini, suasana terasa berbeda—tidak lagi seperti tamu yang datang dengan rencana matang, melainkan seperti mitra yang siap bekerja sama.
“Kita sudah membaca syarat-syarat yang kalian usulkan,” ujar Dimas dengan senyum yang lebih tulus ketimbang sebelumnya. “Kami menyetujuinya. Bahkan, pihak perusahaan merasa bahwa model kerja sama seperti ini bisa menjadi contoh untuk desa-desa lain.”
Alya mengangguk. “Kita tidak ingin menjadi contoh, Pak Dimas. Kita hanya ingin menemukan cara yang cocok untuk kita sendiri.”
Clara mengeluarkan selembar kertas yang berisi jadwal kerja dan daftar pelatihan yang akan diberikan. “Kami telah menyesuaikan materi pelatihan dengan kondisi desa kalian. Ada pelatihan tentang teknik budidaya yang efisien, namun juga ada pelatihan tentang bagaimana mengelola keuangan kelompok dan memasarkan hasil panen secara mandiri.”
Saat itu, Pak Lurah datang bersama beberapa perwakilan warga. “Kita sudah siap,” katanya dengan suara yang mantap. “Mungkin kita tidak akan cepat mencapai target yang kalian harapkan, tapi setiap langkah yang kita ambil akan dilakukan dengan sungguh-sungguh.”
Pembukaan kerja sama tidak dilakukan dengan acara resmi apa pun. Hanya dengan tangan yang saling bergandengan dan janji untuk saling menghormati. Kemudian, semua orang langsung bekerja—beberapa mulai membajak tanah, beberapa menanam bibit, dan beberapa lainnya mendengarkan penjelasan teknisi tentang cara merawat tanaman dengan benar.
Alya bekerja bersama Ratna dan Bu Wening di salah satu petak tanah. Mereka menanam bibit cabai yang sudah diperbaiki jenisnya, dengan jarak tanam yang diatur sesuai dengan anjuran teknisi namun dengan cara yang sudah mereka kenal dari lama.
“Kamu tahu tidak, Alya?” ujar Bu Wening sambil menanam bibit. “Sebelumnya aku selalu takut dengan perubahan. Takut kalau kita berubah, kita akan kehilangan jati diri kita sebagai petani.”
“Kita tidak akan kehilangan apa pun jika kita memilih dengan sadar,” jawab Alya dengan lembut. “Yang penting, kita tidak menyerah pada sesuatu yang tidak kita mengerti.”
Ratna menambahkan, “Aku dulu berpikir bahwa kerja sama dengan pihak luar hanya akan membuat kita jadi budak dalam negeri. Tapi sekarang aku menyadari bahwa kita bisa mengambil yang baik dan meninggalkan yang tidak cocok.”
Seharian mereka bekerja di kebun. Matahari mulai terik pada tengah hari, namun tidak ada yang mengeluh. Bahkan beberapa pemuda yang biasanya lebih suka menghabiskan waktu di warung kopi kini ikut membantu dengan semangat yang tinggi. Mereka belajar cara menggunakan alat baru, cara mengatur sistem irigasi yang lebih efisien, dan cara mengidentifikasi hama yang mungkin menyerang tanaman.
Namun tidak semua berjalan mulus. Ketika teknisi menunjukkan cara menggunakan pupuk kimia yang diklaim lebih efektif, beberapa warga merasa ragu. Pak Suroto, seorang petani yang sudah berpengalaman puluhan tahun, mengangkat suara.
“Kita sudah lama menggunakan pupuk organik dari kompos yang kita buat sendiri,” katanya dengan nada yang tegas namun sopan. “Apakah benar-benar perlu kita ganti dengan pupuk kimia?”
Dimas mendekat dengan senyum pemahaman. “Tidak ada yang salah dengan pupuk organik, Pak Suroto. Bahkan perusahaan juga mendukung penggunaan pupuk organik jika bisa memberikan hasil yang baik. Pupuk kimia yang kami tawarkan hanya sebagai pilihan jika kalian merasa perlu meningkatkan produksi dalam waktu tertentu.”
Ia kemudian menjelaskan bahwa pihak perusahaan juga akan memberikan pelatihan tentang cara membuat pupuk organik yang lebih efektif dan cara menggabungkannya dengan pupuk kimia jika diperlukan. “Kita tidak ingin memaksakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kebiasaan dan keyakinan kalian,” ujarnya. “Kerja sama ini harus bermanfaat bagi semua pihak.”
Pak Suroto mengangguk perlahan. “Kalau begitu, kita bisa mencoba sedikit demi sedikit. Lihat hasilnya dulu sebelum memutuskan.”
Itulah cara kerja sama berjalan di Sukamaju—perlahan, hati-hati, dengan banyak diskusi dan kompromi. Tidak ada yang dipaksakan, tidak ada yang dianggap lebih benar dari yang lain. Setiap keputusan diambil setelah melalui proses musyawarah yang panjang namun penting.
Pada sore hari, ketika matahari mulai mereda, mereka beristirahat di bawah tenda sederhana yang telah dipasang. Clara membawa beberapa buku tentang pertanian modern dan pengelolaan usaha kecil. “Ini untuk kalian,” ujarnya dengan senyum. “Bisa dibaca bersama atau dibawa pulang untuk dipelajari secara mandiri. Jika ada hal yang tidak dimengerti, kami siap menjelaskannya kapan saja.”
Alya membuka salah satu buku. Di dalamnya ada penjelasan yang jelas tentang teknik budidaya, gambar yang mudah dipahami, dan contoh kasus dari desa-desa lain yang telah menjalankan program serupa. Namun yang paling membuatnya senang adalah bagian akhir buku yang membahas tentang pentingnya menjaga nilai-nilai lokal dan budaya desa dalam menjalankan kerja sama dengan pihak luar.
“Kita sering lupa bahwa kemajuan tidak harus datang dengan mengorbankan identitas kita,” ujar Clara ketika melihat Alya sedang membaca bagian itu. “Perusahaan saya juga belajar banyak dari pengalaman kerja sama dengan desa-desa seperti Sukamaju. Kita menyadari bahwa setiap desa memiliki keunikan sendiri yang perlu dihargai.”
Setelah semua orang pulang, Alya dan Sultan tetap tinggal sebentar di kebun. Mereka duduk di tepi saluran irigasi yang baru saja dibuat, melihat matahari yang mulai terbenam di balik bukit. Langit berubah warna menjadi oranye kemerahan, memberikan sentuhan keindahan pada pemandangan sawah dan kebun yang tersusun rapi.
“Kamu merasa sudah benar dengan keputusan yang diambil desa?” tanya Sultan dengan suara yang lembut.
Alya mengangguk. “Tidak ada keputusan yang sempurna, tapi saya merasa ini adalah pilihan terbaik yang bisa kita buat saat ini. Yang penting, kita tidak lagi berdiri di persimpangan jalan dengan rasa takut. Kita sudah memilih jalan dan siap menghadapi segala konsekuensinya.”
Sultan meraih tangannya dengan lembut. “Kamu tahu tidak, Alya? Sejak kamu datang ke Sukamaju, banyak hal yang berubah. Tidak hanya tentang pertanian atau ekonomi desa, tapi tentang cara kita melihat diri sendiri dan masa depan kita.”
Alya tersenyum, menyandarkan kepalanya pada bahu Sultan. “Saya tidak melakukan apa-apa besar, Sayang. Saya hanya membantu mengingatkan mereka bahwa mereka memiliki kekuatan sendiri untuk mengubah hidup mereka.”
Malam itu, Alya tidak bisa tidur dengan tenang. Ia merasa ada energi yang mengalir di dalam dirinya—energi yang penuh dengan harapan namun juga dengan kesadaran akan tanggung jawab yang besar. Ia membuka buku catatannya dan menulis beberapa kalimat:
“Kita sering berpikir bahwa kemajuan harus datang dengan kecepatan tinggi dan perubahan yang drastis. Tapi di Sukamaju, saya belajar bahwa kemajuan bisa datang dengan langkah kecil yang stabil, dengan keputusan yang diambil bersama, dan dengan rasa hormat terhadap apa yang sudah ada. Kerja sama bukan tentang menyerahkan kendali, tapi tentang menemukan cara untuk tumbuh bersama tanpa kehilangan diri sendiri.”
Ia menutup buku catatannya dan melihat ke arah jendela. Di luar, lampu-lampu rumah warga mulai menyala satu per satu, seperti titik-titik cahaya yang membentuk peta jalan menuju masa depan. Alya tahu bahwa perjalanan berikutnya tidak akan mudah—ada banyak tantangan yang akan datang, ada kemungkinan kegagalan yang harus dihadapi, dan ada pilihan yang harus terus dibuat. Namun ia juga tahu bahwa ia tidak sendirian.
Di Sukamaju, ada komunitas yang telah belajar untuk berdiri dengan kaki sendiri, untuk berbicara dengan suara mereka sendiri, dan untuk memilih jalan mereka sendiri. Dan Alya merasa bersyukur bisa menjadi bagian dari perubahan itu—bukan sebagai pemimpin yang mengarahkan arah, melainkan sebagai teman yang menemani setiap langkah yang diambil.
Esok pagi, matahari akan kembali menyinari desa dengan cahaya baru. Dan mereka semua akan bangkit lagi, bekerja bersama, belajar bersama, dan tumbuh bersama di jalan yang telah mereka gariskan dengan tangan sendiri.