NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Dokter Buangan

Kebangkitan Sang Dokter Buangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Mafia
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Velyqor

Kayra Ardeane mengasingkan diri ke desa sunyi bernama Elara demi mengubur trauma masa lalunya sebagai ahli bedah. Namun, ketenangannya hancur saat seorang pria bersimbah darah menerjang masuk dengan peluru di dada. Demi sumpah medis, Kayra melakukan tindakan gila: merogoh rongga dada pria itu dan memijat jantungnya agar tetap berdenyut.

Nyawa yang ia selamatkan ternyata milik Harry, seorang predator yang tidak mengenal rasa terima kasih, melainkan kepemilikan. Di bawah kepungan musuh dan kobaran api, Harry memberikan ultimatum yang mengunci takdir Kayra.

"Pilihannya sederhana, Dokter. Mereka selamat dan kau ikut denganku, atau kita semua tetap di sini sampai musuh mengepung. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat di mana aku tidak bisa melihatmu."

Terjebak dalam pelarian maut, Kayra menyadari satu hal yang terlambat, ia memang berhasil menyelamatkan jantung Harry, namun kini pria itu datang untuk mengincar jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Labuhan Terakhir

Guncangan helikopter perlahan memudar, berganti dengan ayunan stabil saat burung besi itu membelah cakrawala yang mulai menyala oleh semburat oranye fajar. Di bawah mereka, hamparan samudra yang luas memantulkan cahaya matahari, berkilau seperti ribuan permata yang berserakan.

Pulau itu akhirnya terlihat di kejauhan, sebuah titik hijau yang rimbun di tengah birunya laut. Isla de Sombra. Namun bagi Kayra, tempat itu bukan lagi pulau bayangan yang misterius, itu adalah satu-satunya tempat aman yang tersisa di bumi.

Kayra masih bersandar di bahu Harry, jemarinya bertautan erat dengan tangan pria itu. Di hadapan mereka, Thomas Ardeane terbaring tenang di bawah monitor medis portabel. Dada ayahnya naik turun dengan teratur, sebuah pemandangan yang hingga beberapa jam lalu hanyalah sebuah kemustahilan yang menyakitkan.

"Kita hampir sampai," bisik Harry, suaranya terdengar letih namun mengandung kepuasan yang mendalam.

Ia melirik luka di perutnya sendiri yang mulai terasa kaku karena darah yang mengering, namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan kelegaan yang ia rasakan.

Begitu helikopter mendarat di landasan pacu rahasia di puncak bukit pulau, tim medis yang dipimpin oleh perawat kepercayaan Enzo sudah menunggu dengan tandu. Pintu helikopter terbuka, membawa masuk aroma garam laut dan hutan tropis yang segar, sebuah kontras tajam dari bau kimia Sektor Nol yang menyesakkan.

"Bawa Tuan Ardeane ke unit perawatan intensif lantai empat. Pastikan Profesor Elena sudah siap di sana!" perintah Harry dengan otoritas yang kembali pulih.

Kayra ikut berlari di samping tandu ayahnya, tangannya tidak pernah lepas dari sisi Thomas sampai mereka mencapai koridor rumah sakit bawah tanah yang canggih itu. Di ujung lorong, sosok yang familiar sudah menunggu di atas kursi rodanya.

"Profesor Elena!" seru Kayra.

Profesor Elena Valeska tampak lebih sehat dari terakhir kali Kayra melihatnya. Wajahnya yang pucat kini memiliki rona kehidupan, dan matanya membelalak lebar saat melihat siapa yang berada di atas tandu tersebut.

"Thomas ...?" suara Elena bergetar. Ia menatap rekan sejawatnya yang telah hilang selama dua puluh tahun dengan tatapan yang tidak percaya. "Kau membawanya pulang, Kayra? Kau benar-benar melakukannya?"

"Harry yang melakukannya, Profesor," jawab Kayra sambil menoleh ke arah Harry yang berdiri beberapa langkah di belakangnya, menyandar pada dinding koridor untuk menopang tubuhnya yang mulai goyah. "Dia menjemput ayahku dari neraka Aris."

Elena menatap Harry dengan rasa hormat yang baru. Pria yang dulu dianggapnya sebagai monster mafia yang berbahaya, kini berdiri sebagai penyelamat bagi keluarga Ardeane.

"Terima kasih, Tuan Marcello. Kau telah melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh hukum dunia ini."

Harry hanya mengangguk tipis. "Lakukan apa yang harus Anda lakukan, Profesor. Kembalikan kesadaran Thomas sepenuhnya. Dunia butuh kesaksiannya."

Beberapa jam kemudian, ketenangan kembali menyelimuti fasilitas tersebut. Thomas sudah ditempatkan di ruangan yang sama dengan Elena, di bawah pengawasan ketat sistem medis tercanggih. Kayra baru saja menyelesaikan pembersihan luka Harry, kali ini dengan lebih tenang dan telaten di dalam ruang pribadi pria itu.

Harry duduk di tepi tempat tidur, tubuh bagian atasnya polos, menampakkan balutan perban baru yang melingkari perutnya. Ia memperhatikan Kayra yang sedang merapikan peralatan medisnya dengan gerakan yang sedikit lunglai.

"Kau harus istirahat, Kayra," ujar Harry lembut. "Kau sudah terjaga selama lebih dari tiga puluh jam."

Kayra menghentikan gerakannya, lalu berbalik dan duduk di samping Harry. Ia menyandarkan kepalanya di bahu pria itu, membiarkan keheningan pulau menyelimuti mereka.

"Aku masih merasa ini semua mimpi, Harry. Ayahku ... dia hidup. Selama dua puluh tahun aku berpikir ayahku meninggal dalam kecelakaan, tanpa tahu bahwa kenyataannya jauh lebih buruk. Aris menggunakannya sebagai pabrik biologis."

Harry merangkul bahu Kayra, menariknya lebih dekat. "Aris dan Luca sudah kehilangan segalanya sekarang. Dengan hancurnya Sektor Nol, bukti-bukti keterlibatan mereka dalam riset ilegal dan penculikan sudah berada di tangan Enzo.”

“Kami akan menyebarkannya ke jaringan intelijen internasional malam ini. Tidak akan ada tempat bagi mereka untuk bersembunyi,” lanjutnya.

Kayra mendongak, menatap mata Harry yang kini terlihat tenang. "Lalu bagaimana denganmu? Marcello adalah nama yang besar. Menjatuhkan Luca berarti kau juga menghancurkan sebagian dari duniamu sendiri."

Harry tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat tulus dan bebas dari beban. "Aku sudah muak dengan dunia itu sejak lama, Kayra. Kekuasaan tanpa jiwa hanyalah penjara yang mewah. Aku lebih suka menjadi monster yang dijinakkan di pulau terpencil ini bersamamu, daripada menjadi raja di kota yang penuh dengan pengkhianat."

Ia meraih dagu Kayra, mengangkat wajah wanita itu agar menatapnya langsung. "Apakah kau bersedia tetap di sini? Setidaknya sampai ayahmu pulih sepenuhnya? Aku sudah menyiapkan sayap barat vila untuk kalian. Itu rumahmu sekarang."

"Hanya jika kau berjanji untuk tidak pernah lagi menyembunyikan luka dariku," jawab Kayra dengan nada mengancam yang manis. "Sebagai dokternya, aku punya hak penuh atas setiap senti tubuhmu."

Harry terkekeh, suara yang jarang terdengar namun selalu membuat hati Kayra berdesir. "Aku sepenuhnya milikmu, Dokter Ardeane. Lakukan apa pun yang kau mau."

Harry merunduk, mengecup bibir Kayra dengan kelembutan yang memabukkan. Ciuman itu tidak lagi terasa seperti pelarian atau keputusasaan, melainkan seperti sebuah janji yang baru saja dimulai.

Di luar jendela, matahari mulai terbenam di cakrawala laut, memberikan warna keemasan yang hangat pada ruangan itu.

Tiba-tiba, suara ketukan pintu memecah momen mereka. Enzo muncul dengan wajah yang sedikit lebih rileks dari biasanya.

"Tuan, Profesor Elena melaporkan bahwa Tuan Ardeane mulai menunjukkan respon terhadap stimulasi suara. Dia menyebut nama Dokter Kayra berkali-kali," lapor Enzo.

Kayra langsung berdiri, matanya berbinar bahagia. Ia menatap Harry, seolah meminta izin.

"Pergilah," ujar Harry sambil tersenyum. "Aku akan menyusul setelah aku memakai kemeja yang pantas untuk bertemu mertuaku."

Kayra tertawa kecil, lalu mengecup pipi Harry sebelum berlari keluar kamar menuju unit medis. Harry menatap punggung Kayra yang menjauh dengan tatapan yang penuh cinta. Ia kemudian berdiri, berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke laut lepas.

Dulu, ia mengira hidupnya akan berakhir dengan peluru di kepala di suatu tempat yang dingin dan sepi. Namun kini, ia memiliki alasan untuk bertahan. Ia memiliki Kayra, ia memiliki keluarga baru, dan ia memiliki sebuah pulau yang bukan lagi sekadar benteng, melainkan sebuah labuhan.

Enzo berdiri di sampingnya, ikut menatap laut. "Apa langkah kita selanjutnya, Tuan?"

Harry mengembuskan napas panjang, merasa beban berat di pundaknya telah luruh. "Siapkan tim hukum kita. Kita akan menghancurkan Aris dan Luca lewat jalur yang tidak pernah mereka duga. Dan Enzo ... siapkan vila ini untuk perayaan kecil. Aku ingin menyambut kepulangan keluarga Ardeane dengan layak."

"Baik, Tuan."

Harry tersenyum tipis. Baginya, badai telah berlalu. Di Isla de Sombra, di bawah naungan pohon-pohon hijau dan deburan ombak, ia akhirnya menemukan apa yang selama ini ia cari tanpa ia sadari. Ia menemukan kemanusiaannya kembali dalam dekapan seorang dokter yang telah menjahit hatinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!