NovelToon NovelToon
Serpihan Yang Patah

Serpihan Yang Patah

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat
Popularitas:964
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Markus terpaku sejenak, namun seringai licik kembali muncul di wajahnya.

Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan seikat uang pecahan seratus ribu yang cukup tebal.

Kemudian ia menyodorkannya ke arah Ariel dengan gerakan merendah yang dibuat-buat.

"Dokter, ayolah. Kita sama-sama laki-laki. Anggap saja ini uang lelah karena sudah merawat adik saya yang 'sakit' itu. Saya hanya ingin membawanya pulang agar tidak merepotkan rumah sakit ini. Dokter bisa tutup mata soal luka-lukanya, dan masalah ini selesai di sini. Tidak perlu melibatkan polisi, kan?"

Ariel menatap tumpukan uang itu dengan tatapan datar, lalu perlahan ia tertawa kecil dimana sebuah tawa yang terdengar sangat meremehkan hingga membuat nyali Markus sedikit menciut.

"Uang?" Ariel bertanya sambil tetap tersenyum sinis.

Tanpa mengalihkan pandangan dari Markus, Ariel merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah dompet kulit mewah merk Hermes.

Dengan gerakan perlahan, ia membuka dompetnya dan memperlihatkan jajaran black Card serta tumpukan uang Dollar Amerika yang nilainya jauh melampaui apa yang disodorkan Markus.

Ariel kemudian mengambil sebuah kartu nama dari selipan dompetnya dan menjepitnya di antara jari telunjuk dan jari tengah.

Ia tidak memberikan kartu itu pada Markus, melainkan hanya menunjukkannya tepat di depan mata pria itu.

Dr. Ariel Arkatama, Sp.KJ. Chief Executive Officer (CEO). Arkatama Medical Group

"Tuan Markus, Anda sedang mencoba menyogok pemilik dari seluruh jaringan rumah sakit ini dengan uang receh?"

Wajah Markus seketika berubah pucat pasi saat mendengar perkataan dari Ariel.

Tangannya yang memegang uang mulai gemetar saat melihat kartu atas nama 'Arkatama' yang bukan nama asing di kota ini

Arkatama adalah nama keluarga konglomerat yang menguasai sektor kesehatan dan properti.

"Arkatama..." gumam Markus tertahan.

"Tepat sekali. Saya tidak butuh uang Anda. Yang saya butuhkan adalah Anda menjauh dari pasien saya sebelum saya menggunakan seluruh kekuatan hukum dan finansial saya untuk memastikan Anda mendekam di penjara seumur hidup," ucap Ariel sambil tangannya menunjuk ke arah Markus.

"Sekarang, bawa uang kotor Anda dan keluar dari gedung saya. Jika dalam lima menit saya masih melihat wajah Anda di area parkir, saya pastikan tim legal saya akan mengirimkan berkas laporan pemerkosaan dan penganiayaan berat ke kepolisian pusat."

Markus menelan salivanya saat mendengar perkataan dari Ariel.

Ia melihat ke arah petugas keamanan yang kini sudah bersiaga di belakang Ariel.

Dengan rasa malu dan kemarahan yang tertahan, ia memasukkan kembali uangnya dan berbalik pergi dengan langkah seribu, hampir tersandung kakinya sendiri.

Ariel menghela nafas panjang dan kembali ke kamar 302 dengan napas yang lebih tenang, meski amarahnya masih tersisa.

Saat ia membuka pintu, ia melihat Relia masih meringkuk di bawah ranjang dengan tubuh gemetar karena takut Markus akan menerobos masuk.

Ariel mendekat dan meminta Relia keliar dari bawang ranjang.

"Dia sudah pergi, Relia. Dia tidak akan pernah berani kembali lagi ke sini," ucap Ariel lembut.

"Dia, tidak akan membawaku pulang?"

"Tidak. Selama kamu di sini, kamu berada di bawah perlindungan saya secara pribadi. Bukan hanya sebagai doktermu, tapi sebagai pemilik tempat ini," Ariel memberikan senyum tipis yang tulus untuk pertama kalinya.

Relia keluar dari tempat tidur, tetapi serangan paniknya belum sepenuhnya hilang.

Ia mulai menarik-narik rambutnya sendiri, sebuah mekanisme pertahanan diri yang menyakitkan.

"Dia akan membunuhku, dia bilang dia akan membunuhku kalau aku lari..." racun ancaman Markus masih bekerja kuat di kepala Relia.

Melihat kondisi Relia yang semakin tidak stabil dan ketakutan hebat akan kejaran Markus di luar sana.

Ariel menyadari bahwa pengobatan medis saja tidak akan cukup untuk membuat Relia merasa aman.

Ia butuh status hukum yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun.

"Relia, dengarkan Aku baik-baik,"

Ariel memegang tangan Relia yang sedang menjambak rambutnya sendiri, menghentikan tindakan menyakiti diri itu.

"Hanya ada satu cara agar dia benar-benar tidak bisa menyentuhmu lagi secara hukum, bahkan jika dia mengaku sebagai keluargamu."

"S-satu cara?"

Ariel menatap mata Relia yang sedang ketakutan. Ia mempunyai sebuah keputusan yang gila namun logis demi keselamatan pasiennya melintas di benaknya.

"Iya, Relia. Menikahlah dengan saya."

Relia yang mendengarnya langsung terkejut dengan ajakan Dokter Ariel.

Mata Relia membelalak sempurna, napasnya seolah tertahan di kerongkongan.

Ia menatap Ariel dengan tatapan tidak percaya, seolah pria di depannya baru saja mengucapkan mantra yang mustahil.

"M-menikah?" suara Relia bergetar hebat.

"D-dokter, jangan bercanda. Saya ini rusak. Saya kotor. Dan Dokter..."

Relia tiba-tiba mencengkeram lengan jas putih Ariel dengan sangat kuat, kuku-kukunya memutih.

Ketakutan baru yang lebih besar kini menyelimuti wajahnya.

"Tidak, Dokter! Jangan! Anda tidak tahu siapa Markus!" teriak Relia tertahan, air matanya kembali tumpah.

"Dia monster. Dia tidak punya hati! Kalau dia tahu Dokter melindungiku seperti ini, dia akan membunuh Dokter! Dia tidak akan segan-segan menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Saya tidak mau, Dokter mati karena saya!"

Bayangan Markus yang menyabetkan ikat pinggang dengan mata merah menyala melintas di benak Relia.

Ia membayangkan pria sebaik Ariel harus bersimbah darah karena mencoba menyelamatkannya.

Pikiran itu jauh lebih mengerikan bagi Relia daripada rasa sakitnya sendiri.

"Pergilah, Dok. Tolong, lupakan saja saya. Biarkan saya pergi jauh atau biarkan saya mati saja. Jangan libatkan diri Dokter dalam neraka ini," isak Relia sambil mencoba mendorong Ariel menjauh, seolah dengan menjauhkan diri, ia bisa menyelamatkan nyawa psikiater itu.

Ariel tidak bergeming dan justru menangkap kedua tangan Relia yang gemetar.

Ia menggenggamnya dengan mantap, menyalurkan kehangatan yang belum pernah Relia rasakan sebelumnya.

"Relia, lihat saya! Markus mungkin monster bagi kamu, tapi bagi saya, dia hanyalah serangga kecil yang sedang mencoba melawan badai. Dia tidak akan bisa menyentuh saya. Dia tidak punya kekuatan untuk itu."

"Tapi dia punya pistol, dia punya senjata, dia..."

"Dan saya punya hukum, kekuasaan, dan seluruh sumber daya untuk menghapusnya dari muka bumi ini jika dia berani melangkah satu senti pun ke arahmu," potong Ariel tanpa keraguan sedikit pun.

Ariel mengusap punggung tangan Relia dengan ibu jarinya, mencoba menurunkan frekuensi serangan panik gadis itu.

"Dengarkan aku, Relia. Jika kita menikah, secara hukum saya adalah wali sahmu. Kakakmu Sarah dan suaminya tidak akan punya hak lagi untuk membawamu pulang atau mengklaim bahwa kamu gila. Kamu akan berada di bawah nama Arkatama. Itu adalah perisai yang paling kuat di negeri ini."

Relia masih terguncang, namun genggaman Ariel terasa seperti jangkar di tengah badai.

"Kenapa Dokter mau melakukan ini? Dokter bahkan tidak mengenal saya..."

Ariel terdiam sejenak sambil menatap luka-luka di wajah Relia, lalu kembali ke mata gadis itu yang penuh penderitaan.

Sebagai seorang psikiater, ia sering melihat jiwa yang hancur, namun sesuatu dalam diri Relia dan mungkin tekadnya untuk berlari menembus hujan dengan punggung terkoyak, telah menyentuh sisi kemanusiaan Ariel yang paling dalam.

"Karena saya tidak bisa membiarkan keheningan ini membunuhmu, Relia," jawab Ariel pelan.

"Saya ingin memberimu suara kembali. Saya ingin memberimu hidup yang pantas."

Di luar ruangan perawatan hujan kembali turun dengan deras, namun kali ini suaranya tidak lagi terdengar seperti rentetan peluru bagi Relia.

"Apakah dokter yakin akan aman?" tanya Relia dengan suara lirih.

Relia sangat mengkhawatirkan keselamatan Ariel jika menikah dengan Relia.

Ariel tersenyum tipis ke arah wajah Relia yang mulai tenang.

"Saya yakin dan saya berjanji, Relia. Kita akan hadapi monster itu bersama. Kamu tidak akan pernah sendirian lagi di pukul dua pagi."

1
Uthie
Awal cerita yg sudah sangat mengerikan 😰
Mundri Astuti
lagi napa ngga diborgol si, kan dah bahaya banget ...dari kemarin nafsu banget mau bunuh relia juga ..
Mundri Astuti
si Markus bener" ya, masih belum jera..miskinin sekalian dia biar ngga bnyk gaya ma ga berkutik
Mundri Astuti
usut sampe tuntas Ariel, siapa" aja dibelakang Markus yg ngebantu melrikan diri ..ringkus juga si Sarah.
mudah"an relia selamat
Herdian Arya
mungkin itu lebih baik, kalaupun lahir juga akan menderita punya bapak kelainan mental seperti Markus.
Mundri Astuti
lah relia kan belum nikah sama Markus, jatuhnya anak diluar nikah calon bayi relia, dan itu nasabnya pada ibu
my name is pho: iya kak.
total 1 replies
Herdian Arya
saking bencinya dengan Markus dan sarah pengen tak kremasi hidup hidup tuh 2 manusia iblis.
my name is pho: sabar kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!