"Om Ganteng, kerjanya cuma duduk doang? Kok nggak lari-lari kayak Mami? Om pemalas ya?"
Cayvion Alger, seorang CEO dingin, terkejut saat bocah 4 tahun yang mengatainya "pemalas" ternyata adalah anak kembarnya sendiri—hasil "kesalahan satu malam" empat tahun lalu dengan asisten pribadinya, Hara.
Rahasia ini terbongkar saat Hara terpaksa membawa anak-anaknya ke kantor karena pengasuh sakit.
Demi hak asuh dan citra perusahaan, Cayvion mengajukan pernikahan kontrak dengan syarat dilarang jatuh cinta. Hara menyetujuinya, namun menegaskan bahwa kekuasaan Cayvion sebagai bos tidak berlaku di rumah.
Kini, Cayvion harus menghadapi tantangan baru: mengurus kekacauan anak-anak dan menahan hatinya yang perlahan luluh pada istri kontraknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Nasihat Bu Marta
"Krak."
Bunyi gigitan pada roti tawar yang sudah agak keras itu terdengar menyedihkan di dapur Mansion Alger yang luas dan mewah.
Cayvion duduk sendirian di kursi island dapur, ditemani secangkir air putih dari dispenser. Tidak ada selai, tidak ada mentega, apalagi keju truffle. Hara benar-benar melakukan embargo ekonomi total di rumah ini.
"Seret," keluh Cayvion pelan, memegangi lehernya. Roti itu susah sekali ditelan, sama susahnya dengan menelan kenyataan kalau dia baru saja ditolak mentah-mentah oleh anak kandungnya sendiri.
"Tuan belum makan malam?"
Suara berat dan berwibawa muncul dari arah pintu ruang servis. Bu Marta berdiri di sana dengan seragam hitam-putihnya yang selalu rapi, meski hari sudah malam. Tangannya melipat serbet dapur dengan presisi militer.
Cayvion menoleh, lalu mendengus kasar. "Kelihatannya bagaimana, Bu? Saya nggak ada selera buat makan masakan orang lain. Tapi, istri saya mogok masak. Anak saya mogok bicara. Saya cuma bisa makan roti sisa yang dibeli istri saya ini. Nasib."
Bu Marta berjalan mendekat. Wajahnya yang biasanya kaku dan sinis—terutama pada Hara di awal kedatangan mereka—kini terlihat berbeda. Lebih lunak. Ada sorot simpati di mata wanita tua itu.
Selama seminggu terakhir, Bu Marta diam-diam mengamati. Dia melihat bagaimana Hara bangun subuh menyiapkan bekal, bagaimana Hara sabar menghadapi Elia yang rewel, dan bagaimana Hara mendidik Elio yang kritis tanpa membentak. Hara bukan wanita penggoda pengincar harta seperti yang Bu Marta tuduhkan dulu. Hara adalah ibu yang hebat. Jauh lebih hebat daripada ibu kandung Cayvion yang sosialita itu.
"Saya bisa buatkan nasi goreng kalau Tuan mau. Atau steak?" tawar Bu Marta.
"Tidak usah," tolak Cayvion, meletakkan sisa rotinya. Nafsu makannya hilang. "Percuma perut kenyang kalau hati saya panas. Bu, saya mau tanya. Ibu kan wanita, Ibu juga sudah tua..."
"Senior, Tuan. Bukan tua," koreksi Bu Marta tajam.
"Iya, senior. Ibu pasti paham psikologi wanita," Cayvion memutar kursi putarnya menghadap Bu Marta. "Kenapa Hara mendiamkan saya? Saya sudah minta maaf. Saya sudah belikan mainan mahal buat anak-anak. Kenapa mereka malah makin marah? Elio bilang saya tidak memprioritaskan mereka. Padahal saya kerja keras buat mereka juga."
Bu Marta meletakkan serbetnya di meja. Dia menatap tuannya—bayi laki-laki yang dulu dia gendong, yang kini tumbuh menjadi pria dewasa yang cerdas dalam bisnis tapi bodoh dalam perasaan.
"Tuan Cayvion," suara Bu Marta merendah. "Maaf kalau saya lancang. Tapi Tuan pikir mainan robot itu bisa memutar waktu?"
Cayvion terdiam.
"Tuan, wanita kalau marah, teriak-teriak, banting piring... itu gampang dibujuk. Tuan tinggal peluk, minta maaf, belikan tas, selesai. Kenapa? Karena saat dia teriak, dia masih peduli. Dia masih ingin didengar."
Bu Marta mencondongkan tubuhnya sedikit, menatap mata Cayvion lekat-lekat.
"Tapi kalau Nyonya Hara sudah diam... kalau dia sudah menatap Tuan tembus pandang seolah Tuan tidak ada... itu bahaya, Tuan. Itu artinya hatinya bukan marah lagi. Tapi patah."
"Patah?" ulang Cayvion, keningnya berkerut.
"Kecewa berat, Tuan. Rasa percaya Nyonya sudah hilang. Tuan janji, Tuan ingkar. Bagi seorang ibu, melihat anaknya menangis di pinggir jalan karena ayahnya lupa... itu sakitnya tidak ada obatnya di apotek."
Cayvion menunduk, menatap lantai marmer. Bayangan foto topi ulang tahun yang kotor di genangan air kembali menghantuinya.
"Jadi saya harus apa?" tanya Cayvion putus asa. Suaranya serak. "Saya tidak bisa memutar waktu. Saya tidak bisa membatalkan hujan kemarin. Saya buntu, Bu. Logika bisnis saya tidak jalan di sini."
"Ya jangan pakai logika bisnis, Tuan!" gemas Bu Marta. "Jangan hitung untung rugi. Jangan sogok pakai barang. Pakai hati Tuan."
"Caranya?"
"Tuan tanya caranya?" Bu Marta menggeleng-gelengkan kepala. "Tuan selalu melihat Nyonya Hara sebagai asisten yang serba bisa, atau istri yang mengurus rumah, dan seorang ibu yang mengurus anaknya. Tuan terima beres. Tuan tidak pernah tahu rasanya jadi Nyonya."
Bu Marta menunjuk ke arah tangga, ke kamar tempat Hara dan anak-anak tidur.
"Gantikan perannya, Tuan."
Cayvion mendongak. "Maksud Ibu?"
"Ambil alih tugas Nyonya. Rasakan apa yang Nyonya rasakan setiap hari. Bangunkan anak-anak, mandikan, suapi, ajak main, bereskan kekacauan mereka, dengarkan celoteh mereka tanpa pegang HP sedetik pun," jelas Bu Marta panjang lebar.
"Tunjukkan pada Den Elio dan Nyonya Hara, kalau Tuan bisa menjadi 'Ayah' dan 'Suami' yang hadir. Bukan cuma mesin ATM yang pulang malam."
Cayvion tertegun. Gantikan peran Hara? Mengurus dua bocah chaos itu seharian penuh? Tanpa bantuan?
"Hanya itu?" tanya Cayvion, nada arogansinya muncul sedikit. "Kedengarannya... teknis sekali. Manajemen operasional rumah tangga. Harusnya mudah. Saya biasa mengelola ribuan karyawan."
Bu Marta tersenyum miring. Senyum yang menyiratkan: Lihat saja nanti, Bos Muda.
"Silakan dicoba, Tuan. Kalau Tuan berhasil bertahan satu hari saja tanpa memanggil nama saya atau nama Nyonya Hara buat minta tolong... saya akui Tuan hebat."
Cayvion berdiri dari kursinya. Tantangan diterima. Dia butuh cara untuk menebus dosanya, dan kalau menjadi "bapak rumah tangga" sehari adalah kuncinya, dia akan melakukannya dengan sempurna.
Dia melonggarkan dasi bebek kuning yang masih miring di lehernya itu.
"Oke," kata Cayvion mantap. Dia melihat jam dinding. Sudah hampir tengah malam.
"Besok hari Minggu. Hari libur. Pas sekali."
Cayvion menatap Bu Marta dengan tatapan seorang jenderal yang siap perang.
"Besok, Ibu jangan bantu saya sedikitpun. Kunci pintu kamar Ibu kalau perlu. Dan pastikan Hara tidak turun tangan. Saya akan ambil alih tugas Hara seharian penuh. Dari mereka bangun tidur sampai tidur lagi."
"Tuan yakin?" tanya Bu Marta sangsi.
"Sangat yakin," jawab Cayvion sambil berjalan menuju kamarnya. "Seberapa susah sih mengurus dua anak TK? Paling cuma butuh strategi dan delegasi tugas yang tepat."
Cayvion menutup pintu dapur, meninggalkan Bu Marta yang terkekeh pelan di kegelapan.
"Semoga Tuan masih hidup besok sore," gumam Bu Marta sambil mematikan lampu.
aku juga suka wanita yg tegas dia tidak ningalin suaminya. tapi memberi pelajaran suaminya.
sukurinn kau cayvion di benci anakan mu sendiri